Expedisi Bengalon Karst (gua Tewet, Batu Aji)

Posted in catatan perjalanan on September 3, 2008 by suyanto hadimihardjo

  

 

 
 link foto by Taufik M.R pada flickr.com dapat dilihat di alamat http://www.flickr.com/photos/mrtaufik/sets/72157605928088376/with/2666470591/

Dengan memanfaatkan libur 3 hari pada tgl 7 s/d 9 Maret 2008 kami mencoba untuk menelusuri gua-gua yang ada di perbukitan kapur wilayah Kutai Timur Kalimantan timur.

Kalau dari awal pembicaraan dengan teman2, rencana sudah di seting hampir 1 tahun sebelumnya, hanya saja selalu saja ada kendala waktu dan kegiatan sehingga terus tertunda. Terakhir rencana lebih dimantapkan dan di lebih siapkan 1 bulan sebelumnya. Semua peralatan dan perbekalan di usahakan selengkap mungkin. Pembagian tugas dan tanggung jawab masing2 anggota juga sudah disepakati agar beban dan tanggung jawab masing2 anggota berimbang. sayangnya informasi yang kami dapatkan waktu survey lapangan dan tentang kondisi dan keadaan sasaran sangat minim sekali.

MENYATUKAN KEPENTINGAN YANG BERBEDA

Sebetulnya kegiatan ini belum pernah kami lakukan secara bersama. Saya sendiri lebih suka Video Hunting dan offroad. Dulu pernah sempat memasuki beberapa gua disekitaran Bontang dan Tanah Grogot Kaltim. Kalau Offroad saya ikutan group B4WDS (Badak Four wheel Drive Society) yang semua anggotanya adalah teman2 se-Perusahaan juga. Sementara pak Roy P. lebih banyak Diving dan juga sebagai Hasher. Taufik & Irwansyah penggemar Fotography, tapi juga suka diving bersama Roy. Mereka anggota BDC (Badak Diving Club).

Kebetulan kami satu seksi di Perusahaan PT. Badak NGL yang mengurusi Aplikasi IT Perusahaan.

Satu lagi Didi W. yang kebetulan tidak satu Perusahaan. Didi W jebolan Geologi kerja di Banpu Indominco Batubara. Dia adalah anggota termuda, dimana usia nya sekitar 28 tahun.

Terus terang, ide awalnya muncul dari Roy. yang terrnyata gayung bersambut. Saya sendiri sudah lama tidak mblusuk2 hutan dan masuk gua. Apalagi Irwan dan Taufik. Walau sepertinya kami mempunyai kepentingan berbeda, saya mau mengabadikan keindahan alam dengan video, Taufik dan Irwan yang hobi dan punya peralatan kamera yang cukup canggih juga ingin mencari object lain. Roy sendiri penasaran. kenapa justru Orang bule yang lebih dahulu melakukan expedisi dan mempromosikan dan explorasi gua2 alam yang indah di Kutim baik di internet maupun majalah2 bertaraf Internasional, sedangkan kita yang sudah lama berdomisili di Kaltim justru kalah cepat oleh mereka2. Kami memang kebetulan suka dengan jalan seperti itu, tapi di sisi lain kami tidak punya ilmu apa tentang per Gua-an, atau ilmu2 kepurbakala-an, Ilmu panjat tebing, tali-temali. Ilmu2 pramuka yang pernah dapat waktu di bangku sekolah dulu sudah lupa. Bagi kami jalan2 ke Gua di sekitaran Kutai Timur Bengalon adalah tantangan yang jangan sampai dilewatkan begitu saja.

 BONTANG – HAMBUR BATU

Dari Bontang sampai “Base camp” desa Hambur Batu menghabiskan waktu hampir 6 jam lebih perjalanan darat. Jalan yang kami lalui sebagian rusak parah. Banyak lobang besar, licin dan berlumpur coklat.

Kami mencarter Kijang Krista diesel. Awalnya transpotasi akan di handle oleh Didi dengan meminjam mobil pick-up double cabin dari kantornya. Tapi hari terakhir menjelang ke berangkatan ternyata mobilnya tidak dapat. Waktu sudah sekitar jam 17:00 sore hari ketika informasi ketiadaan transpotasi kami dapatkan dari Didi. Padahal besok pagi sudah harus berangkat. Walau agak sedikit bingung cari mobil pengganti, akhirnya kami medapatkan juga mobil lain yang mau kami carter, yaitu Kijang diesel.

Perjalanan Bontang Sanggata memakan waktu 2 jam lebih. Jalan darat yang kami lalui lebih parah dari Bontang – Samarinda.

Lepas dari Sanggata kami terus melanjutkan kearah Muara Wahau. Akhirnya kami sampai di desa Hambur batu dengan total waktu tempuh sekitar hampir 7 jam. Setelah isitrahat diwarung setempat, ternyata waktu masih cukup siang. Target kami ke Gua sekitaran sungai bengalon baru akan dimulai besok pagi. Oleh karena masih ada waktu cukup, akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Gua Kongbeng, +/- 1.5 jam perjalanan darat dari Base Camp Hambur batu. Target ke Gua Kombeng sebetulnya option saja karena mobil carteran kami tidak menjadwalkan ke sana.

Waktu istirahat di warung kami bertemu dengan rombongan lain yang juga akan naik (Istilah setempat bila hendak masuk ke hutan). Mereka itu adalah para surveyor Batu bara yang akan dihutan selama +/- 10 hari.

KE GUA KONGBENG.

Estimasi waktu tempuh ke Kongbeng yang kami dapat ternyata jauh dari ke-akurasian. Selain jalan darat yang tambah parah, waktu tempuhnya sekitar 2 jam 15 menit.

Tiba di persimpangan jalan besar kami harus masuk lagi ke jalan perkebunan sawit sepanjang +/- 5 Km berupa jalan tanah. Untung saja kondisi jalan dalam keadaan kering. Akhirnya kami sampai di lokasi gua sekitar jam 5 sore.

Terus terang kami akhirnya harus kejar2an dengan waktu, dimana tersisa hanya 1 jam menjelang senja.

Sungguh sayang, karena ini perjalanan extra yang tidak dijadwalkan dan sedikit ter-buru2, kami sampai lupa membawa alat penerangan (lampu). Hasilnnya tentu kami tidak dapat meng-explorasi isi gua sampai dalam.

Kongbeng adalah sebuah kecamantan di Kutai Timur. Sebagian lahan ditanami kelapa sawit.

Gua Kongbeng terdapat di sebuah bukit kapur yang berdiri sendiri. Menjulang tinggi diantara dataran rendah yang ada. Sungguh indah pemandangannya walau tebing2 nya terjal dan sulit didaki.

 

Kalau kita ingat ada gunung batu “Ayers Rock” di Australia tengah (Alice spring) yang menjulang sendirian di tengah gurun pasir, kira2 mirip lah dengan bukit batu kapur Kongbeng. Atau seperti bukit kapur Ci Se’eng di Parung. Tapi bukit Kapur Kongbeng lebih besar, tinggi,terjal dan lebih indah dari Bukit kapur Ci Se’eng Parung Bogor.

Diantara dinding2 terjal, terdapat beberapa lobang  gua tapi ber-ukuran kecil.

Sungguh rasanya kaki ini ingin memanjat dan merayap di tebing2 batu nan terjal, bak zaman SMA atau kuliah dulu.

Gua Kongbeng yang pernah saya ketahui, mempunyai legenda sejarah. Konon juga terdapat beberapa arca2. peninggalan jaman dahulu. Hanya saja, sebagian sudah dirusak tangan2 jahil. tapi semua itu tidak sempat kami temui.

Akhirnya kami tidak ber-lama2 di dalam Gua. Setelah melakukan rekaman reportase dan foto2. Kami meninggalkan Kongbeng seitar jam 5:30 sore.

Memang sangat disayangkan Vandalisme atau aksi corat coret tak luput merusak keindahan gua Kongbeng. Yang seharusnya tetap di jaga dan dilestarikan sebagai tempat wisata.

ISTIRAHAT DAN BERMALAM.

Tiba kembali di Base camp Desa Hambur batu waktu sudah menunjukan jam 21:00. Badan terasa cukup lelah karena seharian kami ada di jalan.

Sampai di Base Camp, Bu Laos, istri pemilik warung sekaligus penginapan sederhana sudah menyiapkan makan malam. Padahal Nasi Timbel, Rendang dan Teri blado yang kami bawa masih cukup untuk 1 kali makan lagi, dimana siangnya kami santap saat beristirahat di kampung transmigrasi “Tepian Baru”.

Setelah mandi dengan air yang berwarna coklat, kami makan malam. Sangat nikmat rasanya makan malam itu walau dengan menu yang apa adanya.

PENUNJUK JALAN MENGHILANG.

Selesai makan malam, kami di antar oleh pak Laos untuk di pertemukan oleh pemilik perahu/ces yang tinggalnya ternyata di pinggir sungai tidak jauh di belakang warung makan nya.

Singkatnya kami utarakan untuk melihat sebuah gua yang ada lukisan tangan peninggalan orang purba.

Ternyata pemilik perahu yang sudah lama bermukim di desa itu, tidak mengetahui ada gua yang kami maksud, otomatis pembicaraan belum menjurus ke harga sewa perahu/Ces karena tidak tahu jauh dekatnya perjalanan tsb.

Kami katakan bahwa minggu lalu waktu tim survey datang kami dikenalkan dengan pemuda bernama Yayan yang tahu lokasi gua tsb. Namun Yayan pada malam itu tidak dapat ditemukan. Ada sedikit kekecewaan dihati kami kalau saja perjalanan ini bisa saja batal karena tidak ada penunjuk jalan.

Beberapa pemuda yang dipanggil oleh pemilik perahu, tetapi semua menggelengkan kepala ketika ditanya tentang gua yang ada lukisan cap tangan.

Akhirnya seorang pemuda bernama Aris muncul dan dia bilang mengetahui lokasi gua yang dimaksud. Lega juga mendengarnya. dan selanjutnya kami mengatur skenario perjalan pergi pulang selama 2 hari.

Ada hal yang lucu waktu kami bertemu pemilih perahu. Waktu saya sodorkan tangan untuk berjabatan, pemilik perahu tidak bereaksi. Saya sempat bingung, akhirnya anaknya bilang kalau saya mau bersalaman. Barulah dia menjulurkan tangannya hanya saja arah tangan tidak se arah dengan tangan saya. Akhirnya saya baru paham kalau pemilih perahu itu kena penyakit rabun senja.

Kami sepakat untuk menyewa 2 perahu/ces seharga 2 juta tapi tidak termasuk tips untuk penunjuk jalan dan pengemudi nya. Entahlah apakah itu mahal atau tidak. Karena kami tidak tau referensi harga.

2 kamar penginapan yang kami pesan ternyata hanya bisa ditempati 1 kamar. Itupun ukurannya kecil. kamar yang satu sore nya baru selesai di cat dan baunya masih cukup menyengat, terpaksa Taufik, Irwan dan pak Mardi tidur di Mushola kecil yang berada di depan kamar kami.

karena penginapan berupa rumah panggung pinggir jalan Sanggata – Muara Wahau, maka kalau ada kendaraan besar lewat rasanya seperti gempa bumi, karena lantai dan ranjang tidur bergetar.

AWAL PERJALANAN YANG KURANG NYAMAN.

Subuh, kami sudah terbangun. Badan terasa masih kurang fresh. selesai mandi dan sarapan pagi, kami langsung menuju pinggir sungai dengan membawa semua ransel dan kebutuhan logistik ke tempat pemilik perahu,  dimana 2 perahu sudah menunggu.

Air sungai waktu itu sedang meluap. Ada rasa ciut juga melihat kondisi sungai dan perahu yang akan kami tumpangi. Se-umur2 kami belum pernah melakukan perjalanan dengan perahu kecil di sungai apalagi konon sungai tsb. masih cukup banyak buayanya. Dulu pernah naik perahu besar malam hari menuju danau Jempang dari Samarinda.

Setelah menata dan membagi muatan orang dan barang, Kami berdoa sejenak agar perjalanan kami selamat.

Kondisi perahu sangat sederhana. Tidak ada tanki BBM yang ada hanya beberapa jerigen bensin dan  1 jerigen plastik berkapasitas 5 liter yang digantung dekat mesin serta dihubungkan slang plastik kecil untuk mengalirkan BBM ke mesin.

Baru saja kami lepas dari dermaga kecil pinggir sungai yang juga sebagai Jamban terapung, tiba2 mesin perahu yang saya tumpangi mati dan perahu sempat terhanyut ketepian seberang sungai yang masih rimbun.

Saya sendiri sempat rebahan karena perahu menerobos dahan dan pohon pinggir sungai. Akhirnya kami menepi kembali ke dermaga dengan mendayung. Ternyata baling2 perahu patah akibat terkena kayu yang hanyut di sungai. Benar2 uji nyali nih.

Bagaimana jika hal itu terjadi jauh didalam hutan?.

Mudah2 Allah selalu melindungi kami dalam perjalanan ini. Beruntung saya melihat di ujung perahu ada tergeletak 2 buah kipas cadangan. Aman lah.

Belum lagi kami meluncur, ternyata perahu pengangkut perbekalan terlalu sarat muatan. Didi Wenas yang berada di perahu barang terpaksa pindah ke perahu utama. Komposisi perahu berubah. Perahu perbekalan hanya di isi 2 orang. Di depan Irwansyah, ditengah adalah ransel dan perbekalan logisitik yang ditutupi terpal plastic. sedangkan dibelakang Aris sang Juru mudi seklaigus pemandu jalan.

USIA TIDAK BISA DIPUNGKIRI.

Pada awalnya perjalanan menyusuri sungai Bengalon sangatlah menarik. Saya berada di perahu utama  duduk paling depan sambil memegang Video Camera tua untuk meliput perjalanan.

Dibelakang ber turut2 adalah Roy, Didi Wenas, Taufik dan Mas Sigit si pengemudi perahu.

Perjalanan masuk ke dalam ini adalah perjalanan yang melawan arus,dengan estimasi waktu tempuhnya sekitar 4 jam. Dalam hati bertanya apa benar 4 jam?, mengingat kemarin waktu ke Kongbeng estimasi yang diberikan jauh dari akurat.

Baru saja sekitar 100 Meter kami berjalan menyusuri sisi sungai, dan melintasi dahan2 pohon yang menjorok ke sungai. Mata ini seperti melihat sesuatu. Benar juga diantara dahan2 yang ada di atas perahu kami, se ekor anak ular Phyton kira2 sebesar lengan saya sedang asyik melingkar di dahan. Tentu saja saya cukup kaget, untungnya teman dibelakang tidak ada yang melihat ular itu. Kalau saja mereka ikutan kaget bareng dan secara reflek menghindar, perahu oleng dan bisa terbalik.

Batas bibir perahu dan air sangatlah tipis. Kalau saja tangan memegang bibir perahu maka sudah dipastikan akan langsung menyentuh air sungai.

Sungguh kami sangat mengagumi pemandangan yang kami lihat sepanjang perjalanan di sungai, seperti pohon2, burung elang, tebing2 batu dan burung yang warnanya sangat indah.

Tapi ternyata kami juga harus mewaspadai permukaan sungai. Terutama saya yang berada paling depan. Beberapa kali saya secara reflek memberikan aba2 perahu ke kiri maupun ke kanan agar perahu  terhindar kemungkinan menabrak potongan kayu yang hanyut. Saya tidak tahu apakah Sigit sang jurumudi dapat juga melihat dengan jelas kondisi permukaan sungai yang kadang dipenuhi potongan2 kayu.

Sesekali juga perahu kami berpapasan dengan perahu lain yang sejenis.

Diperjalanan kami juga melihat ada beberapa kayu2 balok yang di ikat dan dihanyutkan dan entah akan dibawa kemana. Ada yang sudah di gergaji menjadi balok2. Ada juga yang masih berupa kayu bulat walau tidak besar diameternya. Di desa Hambur Batu saya melihat ada saw mill. Tapi saya tidak melihat adanya aktivitas dan tidak ada kayu2 yang bertumpuk disekitarnya, hanya bubuk kayu hasil gerjgajian yang menggunung di terpian sungai.

Lama kelamaan duduk di papan kayu,pinggang terasa semakin pegal saja. di perahu kami duduk berjejer ber alaskan papan kayu. Kami hanya bisa duduk sila atau selonjoran. Kadang kami terpaksa duduk beradu punggung. Itupun dengan kehati2an waktu kami berpindah posisi. Sungguh usia dan kekuatan fisik berjalan seiring. Semangat kami memang cukup besar, tapi kami tidak dapat memungkiri usia kami yang kian lanjut juga mempengaruhi phisik.

PESONA SEPANJANG SUNGAI.

Jarum Jam terus berputar seiring dengan manuver2 perahu mengikuti arah sungai yang ber kelok2. Panas matahari kian terasa mulai menyengat kulit. Namun tanda2 akan sampai di tujuan belum juga tampak.

Beberapa kali kami temui beberapa pondok2 kecil sederhana. Ada pondok yang berada di tepi bukit kapur yang tak lain adalah pondok penjaga sarang burung wallet. Ada juga pondok2 dari para penebang pohon. Ada satu yang menarik perhatian saya, yaitu ada yang mendirikan tenda/pondok tempere diatas balok2 kayu bulat yang sudah ter potong2 dan dihanyutkan. Kami tidak mengetahui apakah itu para penebang liar/Ilegal logging?.

Yang pasti kami secara reflek selalu berusaha menyapa mereka dengan melambaikan tangan agar kami dapat diterima dan tidak dicurigai dari tim Gabungan inspeksi pembalakan yang pernah membuat panik para penebang disepanjang sungai bengalon beberapa waktu lalu. Dimana akhirnya para penebang kayu tsb. mencari jurumudi perahu yang sebelumnya sudah kabur dari dusun Hambur Batu, takut dikeroyok akibat ulahnya. Padahal menurut cerita Aris. Pengemudi perahu itu tidak tahu apa2 kalau waktu itu yang menyewa perahu adalah Petugas Gabungan.

Sebetulnya ada keinginan dihati mungkin juga teman2 agar dengan mata kepala sendiri dapat melihat buaya yang sedang berjemur di pinggir sungai atau paling tidak nongol lah beberasa saat di tepi sungai. Sayangnya apa yang diceritakan orang setempat tentang masih banyaknya buaya di sungai itu tidak dapat kami buktikan.

Hanya sekali saja mata saya mehat kepala kura2 yang muncul tiba2 di depan perahu dan kemudian tenggelam kembali.

Beberapa kali kami harus menepi sebentar untuk beristirahat sejenak sambil menunggu perahu perbekalan yang selalu tertinggal jauh karena mesin motor yang lebih kecil dan muatan perbekalan yang cukup berat.

Pada Awalnya sebetulnya Aris sebagai penunjuk jalan harusnyas berada di depan. Tapi kenyataanya perahu nya selalu tertinggal cukup jauh.

Diatara tempat yang kami singgahi untuk beristirahat, ada tempat dimana terdapat 2 ekor payau/kijang hasil jeratan yang cukup jinak. Namanya si Unyil.

Kebetulan hanya saya dan Didi W.yang naik ke pondok. saya dengar Roy sempat kecebur di sungai waktu salah injak papan penghubung ketepian sungai, aya aya wae…

PERAHU PERBEKALAN BERMASALAH.

Perjalanan sungai yang awalnya menyenangkan namum akhirnya melelahkan juga. Perjalanan sudah memakan waktu hampir 3 jam setengah.

Kami memutuskan untuk sekali lagi ber istirahat di tepian sungai yang ada dermaga kecil sederhana. Sudah 5 menit kami beristirahat namun perahu perbekalan belum juga muncul. tidak lama berselang munculah perahu perbekalan yang langsung merapat di perahu kami.

Saya kebetulan ingin naik ke atas bibir sungai karena pinggang dan kaki sudah cukup pegal. Namun ternyata untuk naik ke atas bibir sungai pun perlu perjuangan, karena tebing cukup licin dan hanya ada 1 batang pohon yang ternyata tak mudah juga untuk kami gunakan sebagai tangga.

Secara tidak sadar, air sungai yang tadinya meluap kini sepertinya mulai menyusut. Hal ini terlihat antara permukaan air dan tebing pinggiran sungai yang tadinya dekat kini agak jauh jaraknya.

Oleh karena perkiraan waktu tempuh ke target tinggal 30 menit, maka kami tidak berlama2 berisitrahat. Mesin perahu utama sudah kembali menderu di tengah hutan yang sunyi. Waktu sudah menunjukan sekitar jam 11:42 menit.

Tali tambat perahu sudah dilepas. Perahu kami hanyut sejenak sebelum mesin di hidupkan, namun perahu perbekalan yang sudah hanyut mesinnya beberapa kali gagal hidup dan terus terhanyut yang akhirnya terdampar sekitar 50 meter dari tempat kami istirahat.itupun juga dengan terpaksa menyambar dan memegang pohon2 kecil yang tumbuh di pinggiran sungai. Ada sekitar 20 menit si Aris, pengemudi perahu perbekalan mencoba untuk  menghidupkan kembali mesin namun selalu gagal. Beberapa kali saya lihat dia membuka busi dan membersihkan dengan amplas.

Sengatan matahari semakit terasa panas saja di kulit. Air mineral yang kami bawa masing2 kian menipis. Sedangkan cadangan air minum yang kami beli 1 dus berada di perahu perbekalan. Tanda2 mesin perahu perbekalan akan hidup belum juga nampak. akhinrya beberapa kali dicoba dihidupkan, mesin pun dapat hidup. Lega rasanya. sayangnya kelegaan itu hanya se-saat saja manakala perahu perbekalan yang berada sekitar 20 meter dibelakang kami yang sudah ambil ancang2 untuk bergerak maju, tiba2 mesin nya mengeluarkan suatu ledakan kecil seperti bunyi mercon, dan selanjutnya mesin kembali mati. Kami terpaksa merapat lagi ketepian dengan hanya memegang pohonan kecil agar tidak hanyut. Cukup lama kami menunggu mas Aris untuk mencoba menghidupkan mesin di bantu Mas Sigit, namun selalu gagal. Akhirnya kami yang memutuskan untuk menarik perahu perbekalan dengan tali yang kami bawa. Resikonya sudah pasti perahu utama akan berjalan lebih lambat karena ketambahan beban. Tapi itulah keputusan terbaik buat kami.

HAMPIR FATAL

Sebelumya ada suatu kejadian yang hampir fatal kami alami ketika kami sedang menyusuri sungai. Ketika itu perahu kami berada di sebuah kelokan sungai dan berada di sisi kanan, tiba2 saja dari arah depan muncul perahu lain kecepatan yang lebih cepat dari perahu kami.

Saya sendiri sudah mendengar deru mesin dari perahu itu sebelum muncul didepan. Hanya saja tidak tahu posisinya dimana karena memang pinggiran sungai tertutup rimbunya pohon2. Ternyata perahu itu hanya ditumpangi oleh sang juru mudi. Saya sempat panik ketika perahu itu muncul tiba2 di depan perahu kami. Saya sendiri hanya sempat mengangkat tangan untuk memberikan aba2 agar perahu tsb. menjauh kekiri, namun sepertinya pengemudi perahu tsb. Cuek saja dan tetap melintas sekitar setengah meter di sisi kiri perahu kami. Cipratan air dari kipas perahu serta hempasan ombak akhirnya membasahi sebagian tubuh kami juga kamera yang dipegang Taufik.

Perahu kami sempat diam sejenak agar riak ombak yang ditimbulkan tidak membuat perahu kami kian oleng. Mas Sigit, jurumudi perahu kami terlihat wajahnya sedikit marah dan terus saja memandangi perahu tsb. menjauh dari kami.

Andai saja terjadi tabrakan, maka saya lah yang duduk paling depan yang akan merasakan moncong perahu nekad itu. Allah ternyata masih melindungi kami semua. perasaan perjalanan ini semakin jauh semakin tegang saja. karena tidak tahu apa yang akan terjadi didepan.

PENDARATAN YANG TAK DIDUGA.

Terus terang kami tidak tahu dimana tempat titik pendaratan atau akhir perjalanan ini. Waktu tempuh sudah hampir mendekati 4 jam.

Disisi lain tiba2 batere kamera video yang saya bawa mengindikasikan bahwa batere harus diganti. Saya mencoba mengambil batere cadangan yang durasi nya 2 kali lebih lama. Namun saya kaget karena setelah terpasang Kamera video tidak bisa di hidupkan. Beberapa kali upaya saya coba tetap saja video camera tidak bisa ON. Saya men duga jangan2 waktu selesai di charge di rumah switch tidak dalam kondisi sempurna ke status OFF, tapi ke fungsi lain yang akhirnya menyedot habis tenaga batere tsb Sungguh sangat kecewa sekali saya

 Padahal batere itu adalah tumpuan harapan terakhir untuk dapat meliput target utama. Akhirnya kamera video tua pinjaman segera saya matikan dan saya mencopot kembali batere yang bermasalah tsb. Saya berharap batere standard yang hampir habis powernya masih dapat di gunakan walau hanya beberapa menit saya.

Waktu terus berjalan, kaki kami pun kadang kesemutan dan seperti mati rasa.

Tidak berapa lama tiba2 saja mesin perahu mati dan perahu menepi di sisi kanan sungai. “Sudah sampai” teriak Mas Sigit. Saya masih belum yakin apakah memang lokasi itu yang menjadi titik pendaratan terakhir, tidak ada dermaga kecil. Betul2 pinggir sungai yang masih apa adanya. Bukan nya si Aris yang hanya tahu lokasi gua dan pendaratannya.

Sebelum turun saya memperhatikan kondisi sekitaranya. tanahnya lembek berlumpur dan licin. Tidak ada tanda2 jalan setapak. Benar2 diluar dugaan kami. Dengan ber susah payah kami berhasil turun serta menurunkan ransel2 kami. Kembali lagi tali digunakan sebagai pegangan kami ke tepi sungai.

Sungguh kami tidak mau beranjak dahulu sebelum Aris benar2 menapakan kakinya di tanah yang lembek yang nyaris menenggelamkan sepatu kami.

Diantara ransel yang kami bawa, ternyata ransel saya lah yang paling berat sekitar 20 Kg. Saya sendiri sempat mengingat2 apa saja isi ransel saya. Sepertinya isinya sama dengan teman2. Hanya ada tambahan Tripod, batere cadangan lampu senter, 2 pisau belati selain baju dan mie serta kopi instant dan teropong.

RAGU SAMA PENUNJUK JALAN

Setelah selesai menurunkan perbekalan, kami mulai berjalan menembus hutan yang tanahnya berlumpur. Rasa kecewa akan batere kamera video yang tidak dapat digunakan masih saja menyelimuti hati. Betapa tidak. Justru momen2 inilah yang layak untuk di rekam, tapi justru pada momen2 tsb. Video tidak dapat dipergunakan.

Aris si penunjuk jalan mulai menebas pohon2 kecil sementara kami mengikuti dari belakang. Sepatu kiri saya yang baru ketahuan terkupas alasnya di perahu, kini giliran sepatu kanan yang ikut2an terkupas.

Akhirnya saya akali dengan mengikat tali sepatu secara menyilang kearah bawah.

Tentu saja hal ini membuat perjalanan menjadi kian tidak nyaman.

Beberapa kali si Aris berhenti dan menengok kanan kiri atau kadang berbalik arah. Hal ini membuat hati saya jadi ragu apakah dia memang mengetahui jalur ke gua tsb. atau tidak?. Yang saya tahu memang tidak ada tanda2 lokasi tsb. pernah di injak manusia, kecuali beberapa batang/pokok pohon yang sudah lapuk di tancapkan ditanah entah oleh siapa, dan untuk apa.

Keraguan saya bertambah, karena apa yang pernah di ceritakan oleh Aris tentang adanya sebuah pondok di pinggir sungai yang akan dipakai sebagai base camp untuk bermalam ternyata tidak ada sama sekali, bahkan bekasnya sekalipun.

Bagi kami rasanya sangat tidak mungkin juga untuk mendirikan tenda diatas tanah yang becek berlumpur. Selain itu harus sedikit bekerja keras menebas pohon kecil yang lumayan rimbun. Sinar Matahari tidak sepenuhnya dapat menembus pepohonan yang lumayan lebat.

PENDAKIAN YANG BERAT

Akhinya kami tetap mengikuti mas Aris yang terus berjalan menebas pepohonan.

Sekitar 25 meter dari tepi sungai, jalan mulai memasuki bebatuan kapur dan sedikit berlumut serta menanjak. Oleh karena merasa tidak nyaman dengan jaket pelampung yang  masih menempel di tubuh, akhirnya seluruh jaket pelampung kami letakan begitu saja di tengah hutan.

Rasa dongkol tidak bisa merekam situasi ditambah beban ransel yang berat,akhirnya membuat saya lebih sering duduk istirahat di bebatuan. Roy beberapa kali terus memberikan semangat untuk terus lanjut.

Perjalanan semakin mendaki dan lebih banyak memanjat tebing. Beberapa kali kami terpaksa secara estafet memindahkan ransel2/tas kamera foto kami satu per satu ke atas karena memang medan yang cukup terjal dan sempit.

Pada suatu titik saya memutuskan untuk meninggalkan saja ransel saya ditengah perjalanan, tapi tidak untuk video kamera. Begitu pula Roy, Taufik, dan Irwansyah. Tapi tidak untuk Aris, mas Sigit dan Didi yang mungkin memang tidak terlalu berat untuk dibawa.

 Saya mengira tingkat kemiringan dinding bukit kapur itu lebih dari 70 derajat. Kadang kami merayap dan mengandalkan celah2 batu atau batang2 pohon kecil yang tumbuh di diantara bebatuan kapur untuk pegangan dan pijakan.

Jalan kadang diatur zig-zag agar didapat jalur yang ringan untuk di daki, kadang pula tegak lurus dengan cara di panjat.

Tali yang kami bawa yang hanya sepanjang +/5 mter ternyata sangat membantu kami dalam pendakian yang tidak kami perhitungkan dan bayangkan sebelumnya.

Beberapa kali saya harus mengikat kembali tali sepatu yang kendor dan lepas.

Nafas sudah mulai cepat, satu sama lain tidak banyak bicara. Mungkin juga untuk menghemat nafas dan tenaga yang benar2 terkuras.

Untung saja bebatuan kapur yang kami pijak dan panjat tidak berlumut dan banyak ber rongga, sehingga kami cukup mudah untuk menjejakan kaki dan juga peganggan tangan. Tapi kami juga harus waspada dan teliti bahwa batu yang kami pijak atau pegang tidak rapuh atau bergerak. Di sisi lain, seharusnya pisau belati yang saya bawa sudah harus terselip di pinggang, untuk jaga2 jika saja diperlukan. Tapi sayangnya justru 2 buah belati itu berada di ransel yang sudah di tinggalkan dibawah.

Nafas seperti kian cepat saja berhembus. Beberapa kali saya, Irwan dan Taufik harus mengatur tas kamera agar tidak mengganggu pemanjatan dan juga tidak rusak karena bergesekan dengan batu cadas yang runcing ataupun tersangkut di dahan2 pohon. Sementara Aris sang penunjuk jalan, bak spiderman saja memanjatnya dan cukup jauh berada di atas walau tetap sabar menunggu kami yang mulai ter tatih2.

Mata benar2 harus awas melihat kondisi sekitar. Terutama celah2 batu cadas yang kadang ber lobang2. Siapa tahu ada binatang keluar dari lobang pada saat tubuh membutuhkan topangan  tangan saat memanjat.

Beberapa kali saya harus terpaksa berhenti dan  ter-bungkuk2 untuk menahan rasa sakit di pinggang juga mencoba menarik nafas panjang. Benar2 pendakian yang menguras tenaga.

MENYERAH KALAH.

Kira pada ketinggian sekitar 170 Meter, akhirnya saya tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Benar2 tenaga sudah habis.. untung saja ada sebidang tanah yang sedikit datar dan lebar untuk istirahat.

Pada saat itu sepertinya semua aktivitas pendakian juga berhenti sejenak. Jujur saja kami tidak pernah membayangkan akan mendaki seperti ini untuk mencapai gua yang dimaksud.

Saya, Irwan dan Roy serta mas Sigit memutuskan tidak meneruskan pendakian. Sementara sekitar 10 meter diatas ada Taufik, Didi dan Aris si penunjuk jalan yang masih tetap berusaha meneruskan perjalanan yang katanya tinggal 5 meter lagi.

Akhirnya Taufik pun tidak sanggup meneruskan pendakian hanya Didi Wenas yang termuda usianya dan Aris yang akhinrya sampai ke gua yang dimaksud.

Sebetulnya posisi Taufik tinggal sekitar 5 meter dari lobang gua saja. hanya saja 5 meter itu kemiringan tebing adalah 90 derajat. Alias tegak lurus tanpa ada celah batu untuk pijakan dan pegangan. Entahlah Aris sepertinya sangat lihai sekali memanjatnya. Didi pun sampai ke puncak dibantu dengan tali yang di ikatkan di sebatang pohon.

Melihat keberhasilan Didi dan Aris, beberapa kali Irwansyah sepertinye terpancing ingin mencoba memanjat paling tidak sampai di mana Taufik berada, namun selalu gagal. Bahkan percobaan terakhir gagal dan tiba2 Irwansyah melorot dari pohon yang membuat Roy dibawahnya terhentak kaget.

Tentu saja kejadian lucu itu akhirnya menjadi bahan tertawaan dikala tenaga sudah terkuras habis.

Ada keinginan kuat saya mau mencoba meneruskan pemanjatan, namum sepatu yang sudah tidak lagi sempurna membuat saya harus berfikir jernih untuk tidak memenangkan ego daripada berfikir tentang keselamatan diri.

Inilah sebagian hasil foto cap tangan. gua tersebut yang ternyata bersih dari vandalism ataupun coretan2 lain dari tangan2 jahil. Gambar2 tsb. diabadikan oleh Didi W dan Aris dengan menggunakan camera canggih kepunyaan Taufik.

Ada untungnya tidak semua penduduk tahu lokasi gua tsb. Siapa tau ada yang iseng nulis2 di gua atau corat-coret.

Kecewa dan senang menjadi satu. Kecewa karena saya tidak sampai target. Senang karena salah satu tim berhasil mencapai target dan sempat foto2.

Selama menunggu Didi memotret isi Gua, kami hanya duduk ngobol sambil sesekali mencari rumah2 keong.

 

PERJALANAN TURUN YANG TIDAK MUDAH

Dengan sisa batere kamera video yang ada saya mencoba membuat reportasi terakhir dari sesi pendakian. Untung saja masih tersisa sekitar 3 menit saja. pengambilan gambar pun tidak mulus. Hampir 3 kali kami mengulang pengambilan gambar, seperti layaknya para profesional saja.

Setelah Aris, Didi dan Taufik kembali turun dari posisinya masing2, kami tetap harus ber istirahat sejenak.

Sebelum turun ke sungai, saya menanyakan kembali ke Mas Aris tentang pondok yang pernah di ceritakan sebagai tempat alternatif bermalam. Dia tidak bisa menjawab. Walau tempat istirahat kami saat itu cukup untuk mendirikan tenda, namun semua peralatan dan perbekalan berada jauh dibawah. Tentu kami tak sanggup untuk membawa ke ke tempat dimana kami beristirahat saat itu. Sedangkan untuk mendirikan tenda di tepi sungai, bukan pilihan terbaik dari yang terburuk.

Soalnya bukan mustahil juga kalau di sekitar lokasi itu ada sarang buaya nya. Lokasinya benar2 rimbun dan berlumut. Sinar matahari saja sepertinya cukup bersusah payah untuk bisa menembus sampai ke tanah yang becek dan sedikit berlumpur. Belum lagi jika terjadi banjir. saya yakin sekali tenda kami pasti akan tenggelam. Soalnya bekas ketinggian air terlihat jelas di daun2 / batang pohon yang berwarna coklat bekas lumpur.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke perahu dan mencoba bermalam di sebuah pondok penjaga sarang burung wallet dimana kami sebelumnya sempat mampir. Kebetulan penjaga pondok tsb. adalah kawan dari Aris. Itupun jika di ijinkan.

Jika tidak diijinkan, tidak ada alternatif lain dan kami terpaksa harus kembali ke desa Hambur Batu tempat base camp yang pasti kami akan juga menghadapi kegelapan senja pada perjalanan pulang.

Turun kembali menuju ke tepi sungai ternyata tidak kalah susahnya dengan mendaki. Bahkan dalam beberapa kondisi saya sempat turun dengan pantat yang terus menempel di batu2an. Salah ambil pijakan kaki beresiko tergelincir dan terpelanting jatuh. Bahkan Taufik pun sempat salah injak dan tergantung erat di tali sebelum dibantu turun oleh Irwansyah.

BERMALAM DI PONDOK

Bukanlah sesuatu yang mudah untuk menerima tamu di pondok penjaga burung walet. Para penjaga pondok sarang burung walet pada umumnya selalu curiga terhadap tamu2 asing yang singgah. Itu wajar saja karena yang mereka jaga adalah emas lembut yang berharga jutaan rupiah per kilo nya.

Kami cukup beruntung diterima untuk bermalam di pondok tsb.

Nama penjaga sarang burung itu adalah Blasius, asli dari Timor. Sungguh lega rasa hati ini bisa menginjakan kaki di pondok kecil berbentuk panggung, kalau tidak maka sudah dibayangkan perjalanan di perahu akan panjang dan membosankan.

Dihadapan pondok mungil terbentang bukit batu kapur yang tegak lurus dan cukup indah dipandang mata. Tapi sulit untuk di panjat, kecuali yang biasa.

Sementara itu sepertinya penjaga Pondok, Blasius  tetap terlihat waspada terhadap gerak gerik kami. Dia terlihat tetap menjaga jarak dengan kami mungkin bila terjadi sesuatu masih bisa ada ruang untuk ber reaksi.(saya dibisikin Roy).

Hari sudah menjelang senja ketika kami tiba di Pondok tsb. Tenaga yang sudah terkuras habis dan belum makan siang, membuat kami langsung mengeluarkan perbekalan mie Instant serta sisa rendang yang masih ada.

Sepatu saya yang sudah tidak mungkin di pakai lagi, langsung dibungkus plastik dan masuk ransel. Setelah itu hanya mengandalkan sandal jepit saja kemana mana.

Pada awalnya suasana masih terlihat agak kaku. Tapi lama kelamaan akhirnya cair juga. Blasius yang orang timor itu mau berbagi cerita walau tetap selektif dengan informasi yang diberikan.

Hari itu kami terpaksa tidak mandi. Bagaimana mungkin selain hari sudah senja, untuk naik dan turun ke sungai saja perlu trik dan tenaga. siapa tau juga sang buaya juga sudah siap menemani kami mandi.

Karena sangat kelelahan sebelumnya maka sekitar jam 20:00 kami sudah tertidur pulas. Saya, Roy dan Didi tidur didalam. Sementara Taufik dan Irwansyah tidur di pelataran luar dengan menggunakan sleeping bag masing2.

Entah kenapa, sepertinya kami tidak diganggu oleh nyamuk2 malam padahal kami tidak mandi. Memang kami semua memakai lotion anti nyamuk. Saya sendiri tidur dengan menggunakan celana pendek tanpa selimut. Biasanya kuping selalu diganggu suara kepak sayap nyamuk. tapi malam itu sepertinya tidak ada gangguan suara nyamuk di sekitar kuping.

Malam sekitar jam 01:00 kami terjaga hampir bersamaan. Perut terasa lapar kembali. Kami pun kembali masak mie Instant dan ngopi serta ngobrol sampai sekitar jam 4 subuh dan tertidur lagi karena memang terserang rasa ngantuk kembali.

Kita2 seperti pekerja Shift saja. ketika Aris,Sigit dan Blasius ngobol sampai malam, kami tertidur, tapi ketika mereka tertidur gantian kami yang bangun dan mengobrol.

Sekitar pukul 02:00 subuh kami mendengar suara gemuruh seperti ada yang jatuh dari atas pohon. Secara serentak senter yang kami pegang langsung menyorot lokasi dimana terdengar suara gemuruh itu. Aneh juga tidak ada suara binatang atau suara lainnya dan suasana kembali senyap. Malam itu sangat cerah sekali. Tenang hati ini memandang keindahan bintang2 dilangit. Kami memang cukup beruntung hari itu tidak ada hujan. Padahal saat itu sedang musim hujan.

Sekali lagi, waktu kami begadang, rasanya kami tidak juga di ganggu sama nyamuk yang biasanya kalau dihutan lumayan mengganggu.

Ini pondok yang dimaksud, diambil dari tepi bawah bukit batu kapur dan suasana menejelang senja dan malam hari.

TARGET TAMBAHAN

Subuh saya sudah terbangun, begitu juga teman2 lainnya. Dengan kamera digital saku yang saya bawa, saya segera menuju ke tepi sungai untuk mencoba merekam suasa pagi. Kicauan burung yang bersahut2an serta sesekali sautan uwa-uwa sungguh menjadi sebuah orchestra alam yang sangat indah.

Dengan waktu yang masih ada,saya mencoba untuk menuju tepian bukit kapur untuk melihat lebih dekat gua2 sarang burung walet.

Dengan sisa memori yang ada di kamera saku, saya maksakan diri untuk merekam dengan mode video. Soalnya camera video sudah tidak punya power lagi. Paling tidak rekaman dari kamera saku digital ini untuk melengkapi rekaman yang ada.

Jalan menuju tepian bukit kapur harus melintasi tanaman pakis yang ber-air. sehingga celana pendek yang saya pakai pun basah separuh. Untung saja sandal jepit sebagai alas kaki satu2anya tidak putus dan tidak terjepit diantara akar2 yang tumbuh di tanah. Saya sempat merekam beberapa lubang gua yang ternyata ditutup rapat dengan kayu2 dan bambu.

Saya sempat menanyakan tentang suara gemuruh dimalam hari kepada penjaga gua itu. Dia bilang biasanya itu adalah bongkahan batu kapur yang mungkin sudah rapuh dan akhirnya runtuh. Saya juga sempat melihat dengan teropong yang saya bawa ada sedikit koloni monyet2 diantara rimbunya pohon2 yang tumbuh di bukit terjal itu. Ah mungkin saja tadi malam itu karena ulah monyet2 yang juga lagi begadang.

Sekitar jam 09:00 kami sudah bersiap untuk meninggalkan pondok kecil. Tak lupa saya berikan uang sekedarnya kepada blasius atas kemurahan hati untuk menampung kami bermalam.

Oleh karena waktu tempuh ke base camp Hambur batu lebih cepat karena perahu mengikuti arus sungai, kami mencoba untuk mampir di beberapa gua lain pada perjalanan pulangnya. Untungnya Aris dan Sigit menyetujui usul kami itu.

Setelah waktu tempuh perjalanan pulang sudah hampir 2 jam, akhirnya kami mampir di sebuah gua yang dinamakan “watu aji’.

Sekali lagi, kami tidak langsung dapat menuju gua yang dimaksud. Karena memang tergantung ijin dari penjaga gua yang akhirnya kami di ijinkan juga. Gua tsb. Sangat besar dan indah sekali.

 Lorong2nya sangat bervariasi. Ada lorong menuju ke atas dan ada juga lorong menuju ke bawah tanah.

Sayangnya gua Watu Aji yang sangat indah itu tak luput juga dari tangan jahil yang sempat mencorat coret beberapa dinding gua tsb. dengan cat / goresan2.

Ada hal yang menarik dari orang2 yang kami temui disana. Baik si Aris, Sigit dan beberapa penunggu gua maupun penebang kayu. Secara sekilas saya melihat rata2 mereka itu mempunyai tattoo di tubuhnya. Terutama di lengan.

MENGUATKAN TEORI ?

Melihat beberapa kondisi gua tsb. Konon menurut teori bahwa dataran rendah Kalimantan dahulu itu masih berupa lautan.

Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kulit kerang dan rumah keong yang biasa ditemui di pinggir pantai berpasir ada

 juga di tebing2 tinggi bahkan di Gua yang ada Cap tangan. Apakah memang demikian ?. apakah manusia yang pernah menghuni gua tsb. Memilih lobang gua yang jauh diatas dan susah didaki karena dahulu dibawahnya masih berupa lautan?. Masih perlu diteliti lagi.

Namun dari semua itu, perjalanan kali ini memang sangat mengasyikan. Hampir masing2 personel yang ikut mempunyai pengalaman yang tidak mudah untuk dilupakan. Saya sendiri sempat muntah di hutan karena pusing akibat kelelahan, Roy sempat kecebur di sungai karena salah injak papan kayu yang dipakai sebagai jembatan, Irwan yang merosot dipohon dan Taufik sempat terpeleset dan tergantung di tali.

Ada keinginan untuk mencoba menelusuri  gua2 lain di daerah Sangkulirang Kutim yang konon tidak kalah cantiknya dengan gua yang kami temui di sepanjang sungai Bengalon. Insya Allah.

Kalau di hitung2 biaya perjalanan tsb. Sebetulnya tidaklah terlalu mahal karena semua biaya ditanggung bersama. Dan tentu saja nilai uang itu tidak seberapa dibanding dengan hasil foto2 yang indah dan exotic hasil bidikan Taufik, Irwansyah,Didi W, dan saya sendiri.

Sudah barang tentu tidak semua foto2 tsb. Dapat dimasukan dalam tulisan ini, berhubung jumlahnya yang lumayan banyak.

Sampai di Hambur batu, ternyata driver kami, pak Mardi sudah lama menunggu.

Pulang ke Rumah masing2 ternyata waktu sudah malam sekitar 08:30. Jalan Sanggata – Bontang tidak bisa lebih cepat daripada saat pergi. Maklum waktunya sudah malam dan jalan banyak berlobang serta antrian kendaraan yang habis pulang long Week-end dari Balikpapan dan Samarinda menuju Sanggata.

Masih ada rasa penasaran saya tentang Gua2 yang kami sambangi dalam perjalanan kemarin. Akhirnya saya mencoba membuka situs web nyak Pemerintahan Kutai Timur. Wah benar saja. ternyata di didalam Gua Kombeng itu tertulis ada beberapa arca sisa peninggalan kerajaan Hindu Kutai. Sayang sekali kami tidak sempat melihat dimana arca itu berada. Dan sangat disayangkan pula tidak ada Informasi apa2 di lokasi Gua Kongbeng yang seperti biasanya suka ada papan informasi pada lokasi wisata alam di Jawa.

EXPEDISI OLEH PERANCIS

Setelah di kantor, ternyata Roy dan Taufik memberikan data tentang peta dan expedisi yang pernah dilakukan oleh tim dari Perancis. Kalau tidak salah tahun 2003 lalu.

dari peta yang di release oleh National Geographic ternyata banyak sekali jejeran gua2 sepanjang perbukitan kapur Bengalon.

Ternyata gua yang ada cap tangan yang sempat dipotret oleh rekan Didi adalah gua “Keboboh” atau gua “Tewet” entah mana yang benar.

Kembali lagi ke situsnya Pemda Kutim, ditulis ada sekitar ratusan Gua di sekitar Sangkulirang, namun belum semua nya di teliti atau pun di jelajahi oleh tim Expedisi dari Luar. Tapi saya yakin sudah ada beberapa Expedisi yang pernah dilakukan disana.

Keinginan untuk ke Sangkulirang kian menguat saja. yang saya baca di beberapa situs Web, peneliti dari LIPI dan Negara lain seperti Perancis sudah pernah melakukan expedisi penelitian disana. Belum lagi expedisi dari kelompok2 lain yang mungkin belum banyak diketahui.

Syukurlah, paling tidak kawasan Karst di Sangkulirang tetap terjaga dari kemungkinan kerusakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Hampir 3 hari saya menyunting hasil rekaman video. Hasilnya lumayan. Semua anggota dapat 1 keping DVD. 1 keping lagi saya kirimkan ke TV lokal untuk dapat di tayangkan.

Terima kasih juga saya sampaikan ke Dr. Zainnudin F. Dokter rumah sakit perusahaan yang telah memberikan obat2an, Terutama obat Malaria, dimana harus diminum1 minggu sebelum dan sesudah jalan2 masing2 2 tablet sehari, selama 2 hari.

 

Anggota Tim:                  

(PT. Badak NGL)

Suyanto, Roy P,M.R. Taufik,Irwansyah

 

(BANPU/Indominco)

Didi Wenas

 

Photo by: M.R. Taufik, Irwansyah, Suyanto, Didi W. 

Bontang, Maret 2008. Syt.

 

 
 
 
 

 

Empu Djiwo Diharjo, sang maestro keris dari Banyusumurup, Imogiri Bantul Yogyakarta

Posted in catatan perjalanan on Juli 16, 2013 by suyanto hadimihardjo

Dalam kesempatan Liburan ke Yogya kali ini, saya sengaja membekali diri dengan sebuah alamat yang saya dapat dari Internet, yaitu tentang seorang empu keris yang cukuk terkenal tidak saja di kalangan penyuka keris tapi juga sampai ke pembesar di negeri ini, juga para ningrat dari negeri tetangga.

Memang tidak mudah untuk mencapai rumah kediaman sekligus workshop & showroomnya.
Bagi saya yang bukan orang Yogya ternyata tidak mudah untuk mencari rumah sang Empu Keris yang lebih dikenak dengan panggilan Empu Djiwo Diharjo. bahkan walau sdh di menggunakan GPS sekalipun kami masih saja harus beberapa kali bertanya kepada penduduk setempat bahkan sampai ke Kantor Polisi pun kami sambangi guna mendapatkan arah jalan yang benar menuju rumah sang Empu keris yang berada di lingkungan desa Banyusumurup.

Memasuki desa Banyusumurup ternyata tidak semudah dugaan kami untuk langsung mendapatkan lokasi rumah sang Empu.
Yang ada didalam bayangan saya, sesuai apa yang saya baca dari Internet dengan foto2 para pengrajin keris sedang bekerja ternyata tidak kami jumpai. yg saya tahu desa Banyusumurup itu adalah sebuah desa sebagai sentra kerajian pembuatan keris, tapi saat itu kami tidak melihat tanda2 adanya pengrajin keris, baik dari suara tempaan besi ataupun pembuatan warangka. Jalan desa lingkungan di sekitar yang menurut saya tidak jauh dari makam raja2 Imogiri tsb. Sangat sepi. Yang kami lihat sebagian warga memelihara sapi. Sekali lagi kami nyasar masuk kedalam area pemakaman keluarga. di sana kami bertanya kepada penjaga makam tetang rumah sang Empu keris Djiwo. Dengan ciri2 lokasi yang diberikan sang penjaga makam barulah kami dapat menemui lokasi rumah sang Empu Keris.

Rumah Mpu Djiwo berada dibawah jalan desa yang kecil dimana untuk menuju rumahnya mobil sewaan terpaksa kami parkir di pinggir jalan dan kami turun kebawah dengan meniti tangga batu yang ada.

Rumah Mbah Djiwo, seperti kebanyakan rumah jawa Yogya pada umumnya berbentuk Joglo dengan ruang tamu yang cukup luas. Di depan rumah tampak sebuah patung orang jawa lengkap dengan beskap dan blangkon duduk bersila. Saya tidak tahu itu patung siapa, tapi bisa saja itu adalah patung bapaknya Mbah Djiwo Dihardjo atau justru patung mbah Djiwo Dihardjo sendiri.

Setelah di persilahkan masuk oleh seorang ibu, yang menurut kami adalah istri dari Mbah Djiwo, nggak lama kemudian Sang Mpu Keris, Mbah Djiwo Dihardjo muncul dan menyambut kami dengan sangat ramah. Diawal pembicaraan kami sempat bertanya kenapa tidak dipasang papan nama agar memudahkan tamu2 dapat menemui rumah kediamannya. Mbah Djiwo mempunyai alasan2 tertentu untuk tidak memasang nya.

Saya memperkenalkan diri bahwa kami ini dari Kalimantan dan mengetahui alamatnya dari sebuah situs di Internet dan berniat melihat workshop serta hasil keris & tombak yang dihasilkan dari bengkel kerjanya Empu Djiwo Dihardjo.
Perlu saya jabarkan bahwa kedatangan saya ke tempat Empu keris Djiwo Dihardjo adalah selain melihat hasil karya nya juga ada keinginan untuk memesan beberapa aksesoris yang berhubungan dengan senjata tombak. Saat ini saya sedang mengerjakan beberapa tombak dengan mata tombak pamor dan batang kayu tombak dari kayu ulin. Hanya saja saya kesulitan didalam membuat beberapa aksesoris (slongsong) tombak sehingga hal itulah yang membuat saya untuk mengunjungi tempat workshopnya Empu Djiwo.

Ruang tamu mbah Djiwo cukup luas dengan beberapa kursi tamu. di dinding tampak ada beberapa foto2 lukisan para raja Jawa, juga banyak sekali tertempel seperti sertifikat, penghargaan2. Juga ada beberapa keris yang terpajang. Di sudut lebih dalam tampak ada seperti eltalase yang berisi keris2 serta tombak2 yang di pajang cukup rapih.

Dari pembicaraan dengan Empu Djiwo yang saya anggap sangat terbuka didalam berbicara soal dunia per Kerisan, baru saya mengetahui bahwa jumlah macam2 pamor untuk keris itu ada sekitar 120 macam pamor. Dari teknik lipatan pembuatan keris, disebutkan bahwa yang paling simple / pendek adalah sekian kali lipatan semetara ada juga yang lipatan dibuat ber ulang2 dalam membentuk sebuah pamor.

Berbicara soal bahan2 metal pembuatan keris, Empu Djiwo mengatakan selain bahan2 baja yang didapat di lokalan, maka salah satu bahan metal untuk pembuatan keris yaitu Nikel, maka bahan Nikel yang didapat dari Jerman.

Sesekali sambil berbicara tentang keris, Empu Djiwo Dihardjo memperlihatkan beberapa senjata yang cukup tua antara lain, tombak Mojopahit ke 3 serta senjata kujang khas jawa barat. Saya sendiri masih tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Majapahit ke 3.

Saya akui sangat mengasyikan mengobrol sama Empu Djiwo Dihardjo. Orangnya sangat terbuka. Ketika saya tanyakan soal keris pesanan Raja, sang Empu menceritakan bahwa memang betul bahwa orang nomer satu di keraton Yogyakarta waktu itu, memang memesan keris kepada Ayahanda nya. Keris tsb. Konon bertaburan dengan batu2 mulia seperti berlian. dan Ayahanda Empu Djiwo juga diberikan gelar kebangsawanan. Sang Empu Djiwo sebagai generasi penerus pun juga mempunyai gelar kebangsawanan, hanya saja di kartu nama yang saya terima, gelar tsb. tidak di cantumkan.

DI AKUI NEGARA TETANGGA.
Bahwa ke Empu an nya soal keris juga di akui oleh Beberapa Bangsawan Negara Tetangga. Bahwa belau menceritakan tentang penguasa Brunei Darussalam. Hanya saja beliau tidak menceritakan tetang berapa dan keris jenis apa saja yang pernah dibuat untuk pesanan2 tersebut. Pernah ada pesanan sebuah senjata. Saya lupa keris atau tombak, dimana tebal senjata bagian bawah sampai mencapai diameter 2 Cm sedangkan di ujung senjata tsb. ketebalannya sampai 1 cm dengan panjang bilah sekitar 30 cm. Empu Djiwo sendiri tidak tahu persis tentang permintaan pesanan dengan spesifikasi seperti itu.
Saya sempat di perlihatkan sebuah keris yang diambil dari sebuah almari. Dengan berbungkus kain beludru merah, keris tsb. Nampak sangat indah sekali dengan warna ke emasan nya. Kalau dari model warangka nya saya mencoba me nebak2 bahwa keris tsb. bukanlah type keris khas Jawa, juga bukan keris Khas Bali. Sang Empu mengatakan bahwa keris tsb. adalah pesanan khusus dari ex RI 2. Warangka dan gagang keris seluruhnya berbahan dasar perak dengan dilapisi emas serta ada beberapa batu2an berwarna merah, baik di warangka maupun di gagang keris tsb. kalau saya melihat bilah kerisnya, sepertinya tidaklah terlalu istimewa di mata saya. Dan hal tsb. sepertinya di iya kan oleh sang Empu. Bahwa keris tsb. lebih kepada dipakai pada saat acara2 khusus saja bagi si pemiliknya. Sepintas saya melihat ada beberapa keris sejenis yang tersimpan di almarinya.
Selain itu saya juga melihat banyak sekali sertifikat penghargaan yang terpajang di salah satu dinding ruang tamu, baik yang diberikan oleh institusi pendidikan juga dari kelompok masyarakat tertetu. Di sisi lain saya juga melihat 2 buah foto dimana sang Empu menerima penghargaan dari orang no satu saat ini yaitu Bpk. Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang kata sang Empu baru di terima nya bulan Januari 2013 yang lalu.

BENAR-BENAR EMPU
Ketika saya berbicara tentang bilah tombak pamor buatan Pakistan yang pernah saya pesan dari seseorang pengerajin pisau di Bandung, beliau pun mengerti betul karakter bilah pamor buatan Pakistan tsb. dimana pamornya hanya pada sisi luarnya saja. Saya benar2 kagum dengan sang Empu.

Di rak eltalase dimana terdapat banyak ber macam2 keris, baik yg warangkanya sdh jadi maupun masih dalam proses penyempurnaan, sang empu mengeluarkan sebuah Mandau yang katanya pemberian dari seorang bupati dari Kalimantan Timur. Sekilas saya melihat bahwa Mandau tsb. adalah Mandau yang biasa saja yang banyak di jual di toko souvenir di Balikpapan maupun samarinda, bahkan lebih sederhana lagi karena tidak ada aksesorins hiasan dari bulu2 yang biasanya kombinasi warna merah serta beberapa tulang / gigi dari babi hutan yang bisanya bergantungan pada sarung mandau. Dugaan saya itu ternyata dibenarkan oleh sang Empu. Menurut Empu Djiwo, pernah ada seorang bupati mengirim beberapa pembuat Mandau di daerahnya untuk belajar membuat bilah Mandau agar kwalitasnya nya lebih bagus lagi. Jadi seperti magang begitulah.

Saya juga bertanya tentang kemungkinan adanya pembuat keris dari negara jiran yang ingin memperdalam ilmunya di bidang perkerisan. Sang Empu tetap terbuka dengan hal tsb. hanya saja tentu tidak semua ilmunya di keluarkan.

Sayang saya tidak bisa ber lama2 mengobrol dengan sang Empu Keris dari desa Banyusumurup. Tapi kesan yang saya terima beliau memang seorang Empu dengan segudang pengalaman dibidang perkerisan yang diturunkan dari ayahanda nya. Pengakuan2 baik nasional maupun internasional sdh diterima nya. Hasil keris buatan nya pun sebagian sudah menjadi koleksi para bangsawan di negara ini maupun negara tetangga.
Saya sendiri tidak sempat bertanya soal harga atau biasanya ada yang menyebut mahar untuk sebilah keris hasil buatannya. Keris2 hasil buatan sang Empu bukanlah keris2 kodian yang banyak dijual di toko Souvenir. Oleh karena keris tsb adalah benda seni yang bernilai tinggi, maka soal harga itu menjadi hal yang bersifat personal antara para kolektor dan sang Empu Keris, khususnya untuk pesanan keris2 tertentu.

Hasil keris buatan bengkel kerja Empu Djiwo juga bisa dilihat dan di cari di pasar seni Gabusan sekaligus sebagai showroom nya selain di rumahnya sendiri. Alamat lengkapnya adalah Pasar seni Gabusan los 15 Kav 3.
Tulisan ini tidak bermaksud sebagai iklan soal hasil keris buatan empu Djiwo Dihardjo, tapi lebih kepada membagi informasi tentang seorang Empu keris dari desa Banyusumurup Bantul Yogyakrta.

Kalau ada yang tertarik mengunjungi nya maka alamat lengkapnya adalah: Empu Keris Djiwo Dihardjo, desa Banyusumurup Girirejo Imogiri, Bantul Yogyakarta. No hp 08122749019.

Bila akan berkunjung ke rumah beliau, maka petunjuk jalan yg perlu diketahui adalah apabila anda sudah memasuki desa Banyusumurup maka +/- 50 meter setelah melewati gapura desa, rumah beliau ada di sisi kanan. Jalan desa nya lebih tinggi dari rumah2 penduduk sekitar jadi kendaraan harus parkir di pinggir jalan dimana ada sebidang tanah tanggul yg bisa dipakai sebagai tempat parkir mobil / motor lalu jalan kaki menuruni tangga batu ke perumahan sekitar. Cari rumah yang ada patung seorang berpakaian jawa lengkap sambil ber sila. Itulah rumah sang empu keris dari desa Banyusumurup, Emp Djiwo Dihardjo.

Akhirnya saya memesan 2 bilah mata tombak dengan spesifikasi khusus. butuh waktu hampir 2 bulan untuk mendapatkan hasil dari sang Empu sebagai bagian dari koleksi pribadi. Pada saat saya kembali ke Balikpapan, saya temui artikel tentang empu Djiwo Dihardjo pada majalah Lion Air.

Untuk biography ataupun data2 tentang empu Djiwo Di hardjo dapat dibaca dibeberapa artikel tentang empu Djiwo Dihardjo di beberapa web seperti National Geographic Indonesia ataupun Jakarta pos.

tulisan ini dibuat dari hasil rekaman video yang saya buat sendiri ketika berkunjung tulisan ini tidak memuat hal2 yang bersifat klenik2 soal per kerisan karena saya sendiri tidak menyukai yang namanya klenik2 didalam dunia perkerisan.

mengutip dari Web nya National Geographic Indonesia:

“Djiwo menjadi empu keris sejak tahun 1952. Kemampuannya ini diturunkan langsung oleh Empu Supondriyo dari Kerajaan Majapahit. Djiwo yang menjadi keturunan ke-19 dari Empu Supondriyo ini, mengatakan bahwa membuat keris merupakan pekerjaan wajib yang harus dilakoni sebagai bentuk menghormati budaya leluhur”
“Keris buatan Djiwo ini digandrungi oleh banyak kalangan. Bahkan, kerisnya pun sudah melalang ke luar negeri seperti Prancis dan Belanda. “Kalau keris buatan saya berbeda dengan keris perajin lain. Di desa keris ini, hanya yang saya yang menjadi keturunan Empu Majapahit. Perajin ain hanya bisa sampai membuat aksesorisnya.”

Yogyakarta 22 May 2013

ngobrol soal keris

ngobrol soal keris

Suasana ruang tamu di rumah Empu Djiwo Dihardjo

Suasana ruang tamu di rumah Empu Djiwo Dihardjo

masih diskusi soal bilah keris

masih diskusi soal bilah keris

memperhatikan sebilah keris

memperhatikan sebilah keris

Empu Djiwo D sedang menerangkan tentang sebuah keris

Empu Djiwo D sedang menerangkan tentang sebuah keris

memperhatikan salah satu bilah keris yang ada di eltalasi

memperhatikan salah satu bilah keris yang ada di eltalasi

keris raksasa yang terpajang di ruang tamu

keris raksasa yang terpajang di ruang tamu

beberapa keris dengan warangka yang belum maupun yang sudah jadi

beberapa keris dengan warangka yang belum maupun yang sudah jadi

koleksi keris yang ada didalam eltalase

koleksi keris yang ada didalam eltalase

beberapa warangka keris yang belum di lengkapi dengan sarung dari kuningan

beberapa warangka keris yang belum di lengkapi dengan sarung dari kuningan

kartu nama yg saya terima ternyata sangat membantu saya

kartu nama yg saya terima ternyata sangat membantu saya

Djiwo-dihardjo-22

Dapur pembuatan kersis. sayang pada saat saya datang tidak ada kegiatan penempaan

Dapur pembuatan kersis. sayang pada saat saya datang tidak ada kegiatan penempaan

suasana ruang tamu dan showromm keris dirumah empu Djiwo D

suasana ruang tamu dan showromm keris dirumah empu Djiwo D

sertifikat & piagam penghargaan tersusun di dinding ruang tamu

sertifikat & piagam penghargaan tersusun di dinding ruang tamu

sang Empu Djiwo Diharjo

sang Empu Djiwo Diharjo

keris pesanan khusus Ex RI-2 warangka perak sepuh emas

keris pesanan khusus Ex RI-2 warangka perak sepuh emas

Mata tombak pesanan khusus

Mata tombak pesanan khusus

2 mata tombak kembar, pesanan khusus

2 mata tombak kembar, pesanan khusus

sisi lain dari bilah tombak pamor pesanan khusus

sisi lain dari bilah tombak pamor pesanan khusus

ada ornamen dari kuningan yang berada di tengah bilah tombak

ada ornamen dari kuningan yang berada di tengah bilah tombak

tombak-Djiwo-dihardjo-5

sisi ujung bilah tombak kembar

sisi ujung bilah tombak kembar

pamor tombak pesanan khusus

pamor tombak pesanan khusus

Flushing minyak rem mobil sendirian, kenapa tidak?

Posted in cerita keluarga on April 22, 2013 by suyanto hadimihardjo

Setiap kendaraan bermotor dimana perangkat master rem nya menggunakan cairan (fluid) maka pada periode tertentu carian (minyak rem) tsb. harusnya di ganti (flushing) dengan cairan yang baru agar unjuk kerja minyak rem tetap prima. Kapan cairan tsb. (mnyak rem) harus di ganti, dapat di lihat dari buku panduan service berkala pada kendaraan masing2.

Bagi para pengendara kendaraan yg tidak suka utak atik kendaraan, maka cara terbaik didalam perawatan perangkat rem adalah dengan membawa kend. tsb. ke bengkel resmi atau ke Bengkel yg sdh di kenal baik dan punya reputasi yang dapat di percaya.

Pada umumnya penggantian minyak rem kendaraan bermotor roda 4 (mobil) ditangani oleh 2 orang montir, yaitu khususnya pada saat membuang angi yang terjebak didalam pipa saluran minyak rem dan perangkat rem yang ada di masing2 ban.  biasa nya motir 1 setelah mengisi kembali minyak rem pada tabung resevoar akan mencoba mebuang angin yg terjebak dengan mengijak pedal rem beberapa kali, sementara montor 1 bertugas membuka tutup nepel yang ada di masing2 ban lihat gambar:

Model rem Tromol / non cakram                                                      

drum brake

   

 

 

 

 

 

                                  Rem Cakram

rem-cakram

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaannya : Apakah penggantian minyak rem mobil bisa dilakukan 1 orang saja ?.

jawabnya               :  Bisa, kenapa tidak?

 Tulisan ini lebih dimaksud kepada orang2 yang suka utak atik atau membetulkan kendaraan sendiri, tetapi bagi yang mau coba silahkan saja asal tetap memperhatikan aspek2  safety dan sudah mengerti sistem kerja rem kendaraan tsb. tulisan ini lebih bersifat sharing atas dasar pengalaman pribadi penulis.

Penggantian minyak rem pada kendaraan roda 4 khususnya bisa dikarena kan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. terjadi kebocoran minyak rem pada master rem atas maupun kebocoran seal pada salah satu perangkat rem yag ada di masing2 ban.
  2. Mengganti minyak rem sesuai anjuran dari buku petunjuk perawatan mobil.
  3. Kegagalan sistem rem yg di akibatkan terjadinya korosi didalam perangkat rem yg terpasang di ban, hal tsb. mengakibatkan rem menjadi terkunci (locked) dan tidak kembali normal pada saat pedal rem kembali di lepas dari ijakan.
  4. Beberapa hal lainnya yang pada inti nya mengharuskan mengganti minyak rem yang ada dengan minyak rem baru.

PEMBUANGAN / FLUSHING:

Ada tips sederhana pada saat mengganti minyak rem agar minyak rem yang akan di buang tidak berceceran di lantai ataupun membasahi ban dan perangkat yg menempel di ban kendaraan.

Sediakanlah selang ukuran kecil sepanjang +/- 50 Cm. biasanya selang ini digunakan oleh tukang bangunan untuk mengukur ketinggian dan banyak dijumpai di toko material bangunan. selain itu sediakan kantong plastik yang biasa digunakan untuk membuat es batu.

masukan salah satu ujung selang kedalam kantong plastik dan di ikat dengan karet gelang. maksud selang & kantong plastik ini adalah untuk menampung minyak rem yang keluar dari nepel perangkat rem yang ada di ban, pada saat nepel tsb. dibuka. (sederhana tapi tidak membuat lantai jadi basah oleh minyak rem yang keluar).

 Untuk selanjutnya maka untuk flushing minyak rem, bukalah nepel pada setiap ban satu per satu secara bergantian, dan tampunglah minyak rem yang keluar dengan menggunakan selang yg ujungnya sdh di masukan kedalam kantong plastik.

 Nepel brake

Yakinkan bahwa semua minyak rem sudah habis dari resevoar (master rem atas) dan sdh tidak ada lagi aliran minyak rem yang keluar dari masing2 perangkat rem di masing2 ban. kemudian kecangkan kembali semua nepel yg ada di masing2 ban.  proses pembuangan minyak rem ini berdasarkan hukum alam saja dimana minyak akan mengalir dari ketinggian menuju ke yang lebih rendah.

Kalau mau lebih cepat bisa saja masing2 perangkat rem di ban, di pasangkan selang dan kantong plastik, sehingga pekerjaan pembuangan minyak rem dilakukan serentak. aktivitas pembuangan ini tidak diperlukan pedal rem untuk di injak. karena kalau di injak/ditekan maka pada saat pedal di lepas kembali, udara akan tersedot keadalam perangkat rem melalui nepel. ingat kita melakukan seorang diri bukan ber 2. 

PENGISIAN MINYAK REM

Sebelum kita akan mengisi kembali resevoar minyak rem, yakinkan bahwa posisi nepel pada masing2 perangkat rem di ban sdh tertutup rapat kembali.

Siapkan minyak rem baru dalam botol besar kemasan 1000 Ml (1 liter) dengan pesifikasi yg sesuai dengan spesifikasi minyak rem yg di rekomendasikan pada kendaraan tsb. misal spek DOT 3 (umumnya). dalam hal ini penulis tdk mengupas soal DOT. soal warna minyak (merah / bening) sama saja. artinya tidak ada spesifikasi khusus kalau warna merah itu bla bla bla, warna bening itu bla bla bla. yang penting spesifikasi DOT nya betul.

Setelah resevoiar master rem atas terisi penuh dengan minyak rem, maka silahkan lakukan satu per satu membuka nepel pada bagian perangkat rem yg ada di ban. silahkan saja di mulai dari ban depan satu per satu. ingat selang & kantong plastik penampung di pasang kembali. silahkan menunggu sampai minyak di resevoar berkurang sekitar 1/3 maka nepel dapat di tutup atau sampai minyak rem keluar dari nepel dan tdk ada gelembung udara yang keluar dari nepel. artinya minyak rem ygn mengalir ke perangkat rem yg di ban tsb. sudah mengalir dan mengisi penuh ruang piston rem.

Isi kembali resevoar master rem dengan minyak rem dan lakukan hal yang sama untuk ke 3 roda berikutnya. yakinkan nepel di tutup / di kencangkan kembali saat aliran minyak yang keluar sdh tdk ada gelembung udara yg muncul.

Setelah selesai semua, maka hidupkan mobil dan coba lah injak pedal rem. bilamana masih tidak sama dengan yg seharusnya, dapat di ulangi lagi membuka nepel pada masing2 ban.

kalau sudah cukup yakin akan posisi pedal rem yg sdh kembali semula. maka sebaiknya di coba kendaraan untuk di jalankan dan di coba perangkat rem nya.

Selang dan kantong plastik sangan membantu menampung minyak rem yang keluar agar tidak ber ceceran di lantai. hal ini dapat di gunakan juga bila di lakukan ber 2. sehingga minyak rem yg menyemprot ke luar pada saat pedal rem di injak, tetap tertampung di wadah plastik.

selamat mencoba.

Pisaunya Kang Tedy Kurniawan (PANDAWA KNIFE)

Posted in cerita keluarga on Maret 15, 2012 by suyanto hadimihardjo

 

Perkenalan dengan Kang Tedy di dunia maya ini sebetulnya diawali adanya komentar soal pisau yang saya tulis di Blog ini.   Saya sendiri sudah cukup lama tidak mengisi blog saya dengan tulisan baru, apalagi soal per pisauan.  Saya tidak tau siapa Tedy Kurniawan yang mengaku juga bisa membuat pisau seperti yang ada pada koleksi pisau saya.

Hmmm… Menarik juga tawarannya. entah kenapa muncul ke inginan saya untuk menambah koleksi pisau. namun dibalik keinginan itu saya bingung sendiri jenis pisau apa yang akan saya pesan. ya akhirnya modelnya pesanan saya adalah seperti yang ada pada foto2 diatas.

Terus terang saya tidak mengenal sosok Tedy Kurniawan yang menurut pengakuannya adalah juga pernah bergabung di salahsatu workshop pembuat pisau ternama di Bandung.  Produknya pisaunya pun baru sekali saya lihat ketika Tedy Kurniawan mengirimkan foto2 pisau buatannya. Ada beberapa hal yang cukup menarik yang membuat saya langsung memesan 2 bilah pisau dengan harga yang cukup kompetitif. baru kali ini ada harga pisau dihitung berdasarkan ukuran panjang nya. Selama ini pisau buatan tangan dihargai dengan apa adanya. kalaupun ada yang menawarkan membuat pisau dengan harga per ukuran panjang (Cm) ya baru kali ini saya dapatkan.

Terus terang ketika pesanan pisau saya terima, dengan masa pengerjaan sekitar 3 – 4 Hari untuk 2 unit pisau, kwalitas pisau yang saya terima tidak berbeda jauh dengan beberapa koleksi pisau saya hasil buatan pembuat pisau ternama di Bandung.  bahan dasar pisau yang paling banyak dipakai saat ini diantaranya adalah jenis D2 dengan kombinasi bahan Duralium atau kuningan dengan gagang kayu maupun tanduk menjangan / rusa.

Pisau buatan Tedy Kurniawan dengan merek dagang PANDAWA KIVES sudah presisi dari sisi kiri dan kanan dari sisi mata pisau. buatannya halus. hal yang menurut saya cukup sulit dalam pembuatan pisau dengan jenis bahan D2 adalah kehalusan sisi mata pisau. keseimbangan kemiringan sisi tajam mata pisau. tidak terlihat adanya goresan2 halus hasil gerinda. Gagang pisau yang ergonomis sehingga cukup nyaman di genggam di tangan. saya juga mencoba memotong sebuah kertas HVS dengan pisau tsb. cres… terpotong seperti dipotong dengan cutter.

Yang saya tahu pembuatan pisau dengan bahan dasar metal D2 tidak banyak diperlukan penempaan karena bahan dasarnya sudah merupakan pelat / bar metal dengan ketebalan tertentu. sehingga tinggal membuat pola, pemotongan, penipisan sisi mata pisau dan finishing. agak beda dengan pisau yang bahan metalnya di tempa (karbon steel atau dari bahan spring leave) ataupun metal campur yang menghasilkan bilah pamor.

Terus terang saya bangga saja dengan buatan pisau2 anak Negeri yang nggak kalah kualitasnya dari pembuat pisau buatan tangan dari luar negeri. Saya berharap produk pisaunya Teddy Kurniawan dengan merek PANDAWA KNIVES dapat lebih di kenal bukan saja bagi pencinta & pengkoleksi pisau dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Tentu saja untuk lebih menarik dan menghasilkan produk pisau buatan tangan yang berbeda satu dan lainnya maka di perlukan sebuah ciri2 khusus yang mudah dan menjadi ciri produknya. Bagi saya Produknya T. Kardin Pisau Indonesia sudah cukup mempunyai ciri. produk pisaunya Kang Dadang Caribou juga punya ciri sendiri.  Saya berharap produknya pisaunya Tedy Kurniawan juga nantinya akan mudah di kenal dengan adanya ciri2 khusus.

Kalau boleh saya beri saran / masukan, maka selain ada Tag / tulisan PANDAWA KNIVES, ada bagusnya di lengkapi dengan misalnya tulisan Hand Made dan tentu ada tulisan Indonesia sebagai ciri produk Anak Bangsa. selain itu ada beberapa detail di bilah pisau yang perlu di perhalus lagi serta kalaupun ada corak / gambar relief, maka relief tsb. menjadi ciri khusus sehingga dengan melihat sekilas corak  / gambar relief orang akan langsung bisa mengenali pisau buatan tangan Tedy Kurniawan. Bagi saya hal tsb. tidaklah terlalu sulit.

Pada akhirnya saya cukup bangga karena Tedy Kurniawan yang menurutnya masih cukup berusia muda ini dapat menambah dan mewarnai dunia perpisauan di Indonesia.

Ayo, siapa yang mau pesan pisaunya. saya bukan promosi lho. soal harga saya yakin cukup kompetitif deh.  silahkan saja kontak langsung saja sama Tedy Kurniawan. Alamatnya : Jl. Akasia 5 no 8B Marga Asih Kab. Bandung Jabar. atau bisa kontak HP nya 085659287797

Sebagai pelengkap info, 2 bilah pisau yang ada di foto tsb. berbahan D2 dan K100 (metal yang biasa dipakai untuk pisau pemotong kertas).

Ayo Kang Tedy Kurniawan, muculkan inovasi2 baru biar tambah banyak model nya.

Bontang, 15-Mar-2012

Goa Halimah, Poros Bontang – Samarinda

Posted in catatan perjalanan on Februari 28, 2012 by suyanto hadimihardjo

Goa Halimah Kutim berpose bersama di depan mulut goa

 

Pak Halimah dan karung kotoran kelelawar sebagai pupuk organik diambil dari goa Halimahrekan sedang mengambil gambar2 / foto didalam goa Halimah

 

Aliran air di parit guacGoa Halimah

 

salah satu lorong di Goa Halimah

 

dinding atas / langit2 Goa halimah

alah satu lorong goa Halimah yang dihuni kelelawar

 

Sang pemilik Goa, Pak Halimah

     

didepan mulut Goa Halimah

 
Goa Halimah ini terletak sekitar KM 27 poros jalan Bontang – Samarinda dan sekitar 2 Km masuk ke kanan dari jalan poros.  Goa Alam ini terletak di bawah perbukitan batu cadas. Untuk menuju ke Goa tsb. tentu saja kita haru melewati sebuah pemukimam penduduk yg sdh cukup lama menempati lokasi ex base camp pt. Hanbo (Korea) yang dahulu adalah kontrtaktor utama pembuatan jalan Bontang – Samarinda. 

Halimah adalah sebuah nama yang kami berikan untuk Goa alam tsb. hal ini dikarenakan ketua RT setempat atau yang di tuakan di pemukiman tsb. bernama pak Halimah dan kebetulan juga  Goa tsb. berada di kawasan kebun nya. ketika kami tanyakan apa nama Goa alam yg berada di kawasan kebun nya pak Halimah, Pak halimah sendiri kebingungan menjawab. dia bilang nggak ada nama nya. akhirnya saya iseng2 nyebut “Kalau gitu saya kasih nama goa Halimah aja ya pak..”. Pak Halimah hanya senyum2 saja.

Penamaan Halimah pada goa alam ini untuk memudahkan kami saja. tidak ada hubungan nya dengan hal2 lain yang bersifat Agama dan hal2 lain. Kalau kami sebut gua Kelelawar, maka banyak gua2 alam di huni oleh kelelawar.

Goa Halimah adalah sebuah goa alam yg terbentuk secara alamiah ribuan tahun lalu. Goa ini berada di sebuah perbukitan batu cadas.  saya tdk tau berapa ketinggian  goa ini dari permukaan laut. Mulut goa ini nyaris tertutup sama pepohonan yang menutupi sebagian dinding bukit batu. Lubang Goa ini menjorok ke bawah. di depan pintu goa terlihat sebongkah batu an yang sangat besar yang menutupi hampir setengah mulut gua. Bongkahan batu tsb. berasal dari bibir atas gua yang runtuh.

Goa Halimah mempunyai beberapa lorong2 yang dihuni oleh kelelawar. Goa ini boleh dikatakan sdh mati karena saya tdk melihat adanya stalaktit dan stalagmit di dalam goa.  diantara lorogn goa terdapat parit air yang mengalir entah dari mana dan alirannya kemana, kami belum banyak tau. Goa Halimah ini tidak dihuni oleh burung walet, tapi dihuni oleh kelelawar. walau demikian Goa Halimah ini telah menghasilkan puluhan karung kotoran kelelawar yg dijual sebagai pupuk organik.

Secara umum, goa Halimah ini hanyalah salah satu goa alam yag biasa2 saja. sejauh ini belum saya dapati sesuatu yang istimewa di dalam goa ini. Goa ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekiatr 1 Km dari pemukiman penduduk dengan menyusuri jalan setapak dan mnyusuri beberapa kebun warga. Goa ini menurut saya cenderung rapuh kalau di lihat dari batu2an yang ada di mulut goa. Sebongkah batu besar yang ada di depan mulut goa ini menandakan bahwa se waktu2 bebatuan bagian atas juga dapat runtuh menutupi Goa. Go ini sejauh yg saya ketahui hanya dihuni oleh kelelawar dan beberapa jenis katak / kodok.

Sayang memang karena waktu terbatas kami belum banyak menyelusuri semua lorong2 gua halimah. target saya akan mem videokan lorong2 goa Halimah.

dibawah ini ada beberapa foto2 hasil bidikan saya dan teman2 ketika pertama kali memasuki goa halimah.

Btg Feb 2012

Goa Halimah Bontang - Smarinda

 
goa Halimah

Goa Halimah

Install MSD 6AL di Jeep CJ 7 tahun 81

Posted in cerita keluarga on Maret 1, 2011 by suyanto hadimihardjo

install MSD 6AL di Jeep CJ7 tahun 81INSTALASI_MSD_6AL

Sekedar sharing saja ketika saya mencoba memasang sendiri perangkat MSD 6 AL untuk menggantikan pengapian modul
CDI standart di mobil CJ-7 saya Keluaran tahun 81. Instalasi tsb. mengacu kepada buku manual MSD 6AL dan beberapa literatur lainntya dan finalnya saya coba sederhanakan dengan membuat gambar yang sebagian saya ambil dari sumber2 di buku manual MSD 6AL,  mudah2an dapat mudah di mengerti.

Pemasangan MSD 6AL ini juga bisa kombinasikan dengan breaker / cut off, khususnya kabel yang menuju ke Battery. jadi sebelum kabel merah dihubungkan dengan kutub (+) di battery dapat di tambahkan “cut off” sehingga dalam kondisi mesin mati, tidak ada aliran listrik ke MSD. Hal ini menurut saya pribadi juga untuk menghindari kemungkinan terjadinya short yg dapat merusak perangkat MSD 6AL.

Saya sangat terbuka dan mengharapkan kritik dan saran ataupun koreksi terhadap denah / wiring diagram tsb. wiring diagram tsb. belum sepenuhnya sempurna karena saya belum mencoba menghubungkan kabel untuk ke Tachometer / RPM serta ke sistem lainnya untuk kabel warna putih.

Salam

foto expedisi bengalon karst Kutim 2008, East Kalimantan

Posted in cerita keluarga on Desember 10, 2010 by suyanto hadimihardjo

Kalau sebelumnya tulisan tentang expedisi Bengalon karst sudah saya tulis 2008 lalu, maka untuk melengkapi cerita tsb. saya masukan juga foto perjalanan tsb.  oleh karena banyaknya foto perjalanan, maka foto ini tidak di susun berdasarkan alur perjalanan.

biarlah foto2 itu sendiri yang bercerita. terima kasih atas kontribusi foto2 dari anggota team, Taufik R, Irwansyah dan Didi W. juga selamat menjalankan Pensiun buat Pak Roy P. semoga foto dan kisah perjalanan ini menjadi kenangan yang indah sepanjang hidup.

 Bagi yang pernah menjelajahi sungai bengalon dan gua tewet dsb. pasti tidak asing lagi dengan lokasi2 yg ada di  foto2 ini, Bahwa keindahan alam di Bengalon Karst tidaklah kalah dengan tempat lain. selain excotic juga dipercaya sebagian puluhan bukit cadas dikawasan tsb. belum semuanya terjamah oleh manusia, kecuali mungkin manusia purba yg pernah mendiami kawasan tsb. ribuan tahun lalu. siapa tahu masih ada gua2 alam lainnya di kawasan bengalon karst yang menyimpan misteri kehidupan jaman purba, Walahualam.

Salam,

Team LNG Badak Adventure 2008

 (Suyanto, M.R Taufik, Roy P, Irwansyah, Didi W (Banpu)).

photo2 by Suyanto, Irwansyah, M.R Taufik. Video by Suyanto for LNG TV Bontang.



men-test kehandalan sang Legenda (katana Sword)

Posted in pendapat pribadi on November 28, 2010 by suyanto hadimihardjo

Siapa yang nggak mengenal nama Samurai atau Katana. benda itu begitu melegenda di dunia senjata tajam. Anak kecil pun akan tahu nama sejata / pedang khas Jepang. karena banyak film kartun jepang di TV yang menggambarkan para pendekar nya membawa pedang sakti nya. sayangnya sudah terlanjur Orang Indonesia pada umumnya menyebutnya sebagai “Samurai”. Padahal samurai bukanlah nama pedang khas Jepang tapi lebih kepada spirit pendekar2 Jepang.

Jenis Pedang khas jepang sendiri banyak punya nama. dalah hal ini sebut saja salah satunya Katana. kalau di Indonesia “Katana” lebih banyak dikenal dari sebutan salah satu jenis kendaraan produksi Suzuki, dimana juga ada jenis Samurai.

Mencoba memesan sebuah pedang katana kepada salah satu ahli pembuat sejata tajam di Bandung yaitu Dadang Karibou, ternyata harus mempunyai kesabaran yang cukup tinggi untuk menunggu. ada beberapa bahan yang biasanya dipakai untuk membuat pisau ataupun pedang. Sebut saja yang paling mudah adalah dari bahan per mobil, selanjutnya bahan standard buat pisau yaitu jenis D2 dan selanjutnya adalah bahan campuran. atau sebut saja yang umum adalah pamor yaitu bahan campuran baja, nikel dan bahan2 metal lainnya yang hasil akhirnya bisa dilihat dimana mata pedang seperti kayu, berserat indah dipandang.

Beda dengan pembuatan pisau2 pamor, maka pedang Jepang atau sebut saja katana juga mempunyai serta pamor atau orang jepang bilang hamon. hanya terlihat pada  setengah sisi mata pedang yang tajam.

Pembuatan pedang pamor lebih sulit daripada membuat sebilah pisau pamor. hal ini dikarenakan pedang tsb. mempunya bilah yang lebih panjang dan melengkung. dibuthkan teknik pembakaran dan penempaan yang tepat serta penempa yang harus mempunyai fisik yang fit. bahan metal itu tentunya di tempa ratusan kali dengan puluhan lipatan2 sehingga menghasilkan pamor / hamon yang sesuai keinginan. proses hardening pun dilakukan secara cermat  dan hati2. kalau sekedar di celup di air dingin maka bisa jadi bentuk lengkung pedang menjadi tidak sesuai yang di inginkan.

Untuk membuat 1 pedang jepang / Katana dari bahan pamor dibutuhkan waktu yang cukup lama. itupun kalau sekali buat langsung jadi. artinya tidak terjadi kegagalan akibat bahan2 metal tidak merekat kuat saat dilakukan penempaan dan pelipatan ygn ber ulang kali.

Siapa bilang katana berkwalitas hanya bisa di buat di jepang. Soal Pisau atau senjata tajam, para pembuat pisau di Indonesia tidak kalah hebatnya dengan pembuat pedang di jepang. mereka terus ber experimen dengan bahan2 metal yang ada, yang tak kalah pentingnya mereka juga mempelajari teknik2 pembuatan senjata tajam, termasuk membaca literatur2 bahan2 metal, teknik pembakaran, penempaan, pelipatan sampai hardening dan finishing. Contoh yang simple saja produknya T. Kardin. dan Dadang Karibou serta banyak perajin2 senjata tajam. mulai dari Sukabumi, Tasik sampai Jawa Timur.

Penasaran dengan pesanan khusus yg nilai harganya tidaklah murah, maka saya mencoba mengambil resiko untuk mencoba kehandalan pedang Jepang yang saya pesan. butuh waktu hampir 3 bulan untuk mendapatkan pedang tsb.  resiko yang akan saya tanggung adalah pedang itu akan rusak dari oleh rencana pengetesan.  Kalau dilihat dari tayangan TV bagaimana sang Samurai mencoba ketajaman Katanya yg di punyai adalah dengan menggulung bahan seperti tikar, di bedirikan dan kemudian di tebas. Saya sendiri cukup bingung juga bagaimana mencoba ketajaman dan kekerasan pedang yg baru beberapa hari saya terima.

Alhasil saya mengambil resiko tinggi yaitu mencoba dengan 2 media yang berbeda sebagai bahan uji coba. pertama adalah batang pohon palm kecil (lihat foto). dan ke 2 adalah tubing aluminium (pipa aluminium) ukuran 1 Inci.

Dari hasil uji coba ke 2 pedang yang saya punya, maka pedang Katana produk Dadang Karibou, tidak bisa memotong langsung batang pohon palm. mungkin saja posisi / kuda2 serta power saya kurang pas. Uji coba selanjutnya adalah pedang buatan ex lokal samarinda. oleh karena bilah pedang lebih besar, panjang dan lebih pipih, maka sekali tebas, batang pohon palm tsb. langsung putus.

Uji coba ke2 adalah dengan tubing Aluminium. sayangnya pipa yang saya tancapkan di tanah itu tidak cukup kuat menahan ayunan pedang jepang, sehingga sempat tercabut dan terlempar serta bengkok di titkk sabetan. Kali ini saya tidak mencoba menggunakan pedang jepang buatan ex samarinda.

Dari hasil uji coba tsb.  saya lalu melihat sisi mata pedang yang tajam yang menebas ke 2 benda tsb. Secara umum, tidak ada perubahan ketajamannya. artinya mata pedang yg mengenai pohon palm ataupun tubing aluminium tsb. tetap tajam sama seperti sisi lain yang tidak bersentuhan dengan media uji coba nya. sayang saya tidak sempat foto kondisi tubing aluminium hasil test.

Hasil dari semua testing tsb. berkesimpulan bahwa selain bentuk nya yang indah, pedang koleksi saya juga berfungsi apa adanya. 

Sekali lagi bahwa senajta tajam seperti itu buat saya bukanlah dibuat untuk dipakai untuk melukai mahluk hidup apalagi membunuh manusia. hal ini sebagai hobby saja sekaligus memberikan appresiasi kepada pembuatnya sebagai benda seni.

Bontang 28 Nov 2010

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.