MEREKA SUDAH DEWASA

setiap pulang kantor dimana hari masih cukup sore, setelah ganti seragam kantor saya selalu menyempatkan diri untuk santai sejenak di teras belakang rumah yang kebetulan menghadap kea rah taman jogging. Kami tinggal di rumah dinas perusahaan yang cukup luas area pekarangan dan tidak berpagar.

Biasanya kalau saya sudah duduk santai di kursi rotan, Istri selalu menawarkan kopi herbal sebagai minuman sore hari. Kadang ada juga goring pisang atau roti buatan sendiri.
Duduk berdua istri sambil ngobrol santai sana sini ternyata banyak sekali manfaatnya. Ketegangan pikiran akibat kerjaan kantor ataupun hal lain bisa hilang hilang sesaat.
Kadang beberapa anak kami juga ikutan ngobrol. Kalau sudah demikian kami lebih banyak becanda nya daripada seriusnya. Anak2 saya usahakan agar terbuka dan bebas menyatakan pendapat dan diskusi ataupun bercerita tentang apa yang di alami hari itu. Mereka kadang cerita tentang teman2 sekolah, teman groupnya atau soal lain seperti band, gitar, mobil dll.
Mereka itu duduk di bangku SMA. Anak pertama kami perempuan sudah 1 tahun kost di Yogya karena kuliah di Kampus terbesar di Yogya.

Kalau sedang ngobrol berdua istri, kami kadang suka flash back mengenang anak2 waktu masih balita dan masa kecilnya.
Kami seperti punya perasaan yang sama bahwa tidak terasa anak2 sudah tumbuh dewasa dan bahkan tahun ini pun Insya Allah 2 anak sekaligus harus meninggalkan rumah untuk melanjutkan kuliah di Jawa.

Ada rasa bahagia ada pula rasa haru. Bahagia karena mereka tumbuh dewasa dan akhirnya akan harus hidup mandiri. Haru kalau saya mengenang masa bayi dan masa kanak2nya.

Buat anak saya si kembar, masa2 mereka terlahir kedunia bukanlah kelahiran biasa. tapi penuh perjuangan dan itu sudah saya abadikan dalam Tulsan “Itu perjuangan mama nak” di blog saya.

Kalau saja mereka diterima di Univ yang dituju, maka waktu kebersamaan dengan keluarga sudah tinggal hitungan bulan saja. Mereka mau nggak mau harus kost dan tinggal di Jawa.
Masih ingat ketika anak pertama saya yang perempuan harus pergi meniggalkan rumah menuju Yogya. 3 hari pertama setiap malam hendak tidur Istri saya selalu menangis memikirkan anak gadis satu2nya. Menurut saya itu wajar saja sebagai seorang ibu. Kami berdua sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Pengasih agar anak kami dilindungi dalam perantauan di jawa untuk menuntut Ilmu. Cukup sudah 18 Tahun kami berdua mendidiknya.
Begitu pula dengan 2 anak kami yang kembar.

Rasanya baru kemarin saya menggendong mereka tatkala mereka masih bayi. Rasanya juga baru kemarin kami selalu ber offroad ria dan ketika saya dan mereka terjebak di hutan kutai timur Kaltim sampai dini hari, ketika mobil jip saya terjebak lumpur.
Rasanya baru kemarin kami kemping di belakang rumah dengan tenda dan kasur, tidur serta bakar singkong bersama pada malam hari.
Rasanya baru kemarin ketika mereka berbuat ulah (tidak bisa diam) di cabin pesawat sempati setiap kami ber 6 liburan ke tempat Eyang nya di Jakarta.
Sungguh saya berterima kasih tiada hingga kepada Istri tercinta dimana ketika anak2 kami masih kecil, Istri dengan sabar mendidik, dan merawat mereka. Itu semua bukanlah hal yang mudah. terutama kesabaran seorang ibu terhadap 4 anak2nya yang satu dan lain hanya berjarak 2 tahun.
Saya juga sangat bersyukur mempunyai seorang istri yang dapat mengajarkan mereka mengaji dikala selesai sholat berjamaah di rumah. Hal itu hampir mustahil saya lakukan sendiri.
Saya bersyukur semua yang telah kami ajarkan dan contohkan, terutama beribadah kepada Allah seperti Sholat dan mengaji kini cukup melekat di pribadi mereka.
Saya juga bersyukur ternyata 4 anak saya ini cukup akrab satu dan lainnya dan Insya Allah tidak ada yang cekcok berarti. Alhamdullilah walau godaan di usia remaja sangat besar, mereka tidak melupakan sholat dan bahkan mengaji sendiri beberapa ayat setelah sholat Magrib.
Saya bersyukur karena mereka juga mau diajak ngobrol dan diskusi atau cerita sendiri dihadapan kami berdua dikala sedang santai.

Tantangan hidup kian besar kini menanti mereka. Hidup berpisah dari keluarga juga perlu bimbingan.

Ada hal yang tidak saya duga akan sangat berharga sekali bagi saya dan Istri. Kegemaran saya dengan video kamera membuahkan hasil yang bernilai tinggi dimata saya. Sebagian kehidupan mereka sejak bayi yang saya rekam di video ternyata menjadi dokumentasi yang penting bagi kehidupan keluarga saya.
Kalau saya sedang berdua dengan istri dan kangen sama masa2 kecil mereka, kami segera memutar video waktu mereka masih bayi, balita. Wah kalau sudah begitu rasa sentimental kami berdua meninggi. Kadang tidak terasa ada airmata yang menetes dari kelopak mata Istri tercinta.

Andai saja kami diberikan kemurahan oleh Allah untuk mendampingi sampai anak2 berumah tangga, saya akan putarkan video tentang kehidupan mereka pada masa balita di acara resepsi pernikahan nya nanti.

Tak terasa mereka sudah beranjak dewasa. Waktu berlalu terasa begitu cepat walau kehidupan kami tidaklah se sibuk orang2 Jakarta yang berangkat subuh dan pulang sudah malam. Apalagi kemacetan jalan yang selalu menghadang dan menjadi rutinitas. Kami diberikan waktu lebih banyak untuk berkumpul bila di bandingkan kalau saya kerja di kota besar seperti Jakarta.

Saya juga bersyukur hidup di komunitas perusahaan yang cukup teratur dan cukup disiplin, sehingga hal itu turut membantu watak, disiplin dan kebiasaan anak2 untuk mematuhi segala peraturan2 yang ditetapkan di perusahaan dimana kami tinggal didalam nya.

Saya juga bersyukur, paling tidak apa yang saya telah perlihatkan dan memberikan pelajaran keterampilan dan utak atik mesin mobil dan motor, sebagian sudah dapat diserap oleh mereka. Bahkan ketika mereka kelas 3 SD, mereka sudah mampu untuk menambal sendiri ban sepedanya yang bocor. Meningkat ke masa SMP & SMA rumah tinggal kami bagaikan bengkel motor, karena mereka jadi tumpuan teman2nya yang punya kendaraan tapi nggak tau apa2 soal perbaikan.

Dari sedikit darah seni yang ada di saya, terihat menurun ke anak terkecil yang kini cukup mengusai permaian gitar. Bersama teman2nya membuat group band. Latihan nya dikamar sendiri yang kebetulan saya mampu untuk melengkapi peralatan band beserta semua sound system nya.

Walau mereka sudah dewasa semua, tidak berarti mereka tidak bisa kangen2an sama mama nya. Pandai sekali Istri saya membuat mereka seperti anak2 kecil yang manja sama Ortu nya.
Sifat saya yang keras sepertinya hampir tidak muncul lagi. Saya bersyukur karena saya sangat sangat jarang marah kepada mereka ketika mereka membuat kesalahan yang cukup fatal.
Pendekatan pasrah kepada Allah dari sisi Agama membuat saya berusaha mengubur amarah yang tiada guna. Pendekatan ini terasa lebih mengena daripada harus marah2.
Saya juga bersyukur anak2 masih mau bercerita kepada saya, juga diskusi hal2 yang umum. Ternyata tidaklah semudah itu untuk terapkan kalau kita tidak terlebih dahulu mendalami dunia nya mereka.
Berusaha akrab dengan mereka dan teman2 anak saya, membuat rumah kami tidak pernah sepi dari kegiatan anak2.
Saya bersyukur bahwa usaha saya dan istri untuk terus memberikan pelajaran dan contoh2 sopan santun dapat diserap oleh mereka.

Kala mereka sakit dan hanya bisa tiduran, maka sesekali saya duduk disamping tempat tidur mereka sambil mengelus dahi nya atau memijat halus telapak kakinya. Saya merasa mereka sedang menikmati kasih sayang dari Orang tua nya. Padahal mereka itu sudah SMA.

Saya dan istri sadar bahwa hidup di lingkungan dimana kami tinggal ini, kebersamaan dengan anak2 tidaklah selamanya. Paling tidak dari mulai lahir sampai SMA saja dan itu hanya sekitar 17 tahun. Menginjak masa Kuliah maka mereka dapat dipastikan tidak lagi tinggal bersama dan akan jauh dari orang tua. Dan kerena itulah saya tidak menyia2kan waktu untuk memberikan bimbingan semaximal mungkin dan selanjutnya kami serahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Video masa mereka kecil2 selalu tersimpan di LapTop kerja saya. Hal ini sangat membantu saya jika kebetulan sedang dinas panjang, kadang saya suka memutarnya diwaktu malam.

Ya, mereka kini telah tumbuh dewasa. Semoga saja semua apa yang telah kami berikan kemeka akan dapat menjadi bekal mereka dalam mengarungi kehidupan selanjutnya.

Tiba2 Suara Azan Magrib menggema di udara dari menara mesdjid. Tentu saja kami harus mengakhiri obrolan santai di teras untuk segera bergegas Sholat.

Alt Btg 7/1/2010

2 Tanggapan to “MEREKA SUDAH DEWASA”

  1. Heru Mulyono Says:

    Sangat menyentuh……..
    Saya rasa banyak juga para orang tua yang mengalami hal demikian,,,termasuk orang tua saya dikampung halaman,,,tetapi dalam hal ini anda sangat pandai menuangkannya dalam bentuk goresan pena.
    Saya bersyukur bahwa saya bisa membaca tulisan bapak dan sedikit mengetahui apa yang mereka rasakan ( termasuk saya suatu saat nanti ).
    Terimakasih postingnya yang telah memberi inspirasi tiada batas,,,,

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Terima kasih Mas Heru atas komentarnya.
      Saya hanya mencoba menuliskan apa yang saya alami dalam perjalanan hidup saya ini. Allhamdulillah dan Insya Allah, Allah mengabulkan doa saya dan impian saya tentang apa yang saya harapkan dan impikan. membimbing dan akrab dengan anak2 adalah harapan saya. bukan sekedar anak tapi sekaligus sebagai sahabat. memang benar apa yang dikatakan oleh para Psikolog tentang mendidik anak. jadikan anak sebagai sahabat. yang mungkin agak sulit, kadang ego sbg. Ortu yang membuat jarak antara anak dan Ortu agak sulit direkatkan, atau Ortu baru mencoba akrab dengan anak di saat anak2 telah terbentuk watak nya oleh lingkungan diluar rumah.
      Mudah2an tulisan yg apa adanya ini dapat berguna, atau paling tidak sharing pengalaman.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: