Expedisi Bengalon Karst (gua Tewet, Batu Aji)

  

 

 
 link foto by Taufik M.R pada flickr.com dapat dilihat di alamat http://www.flickr.com/photos/mrtaufik/sets/72157605928088376/with/2666470591/

Dengan memanfaatkan libur 3 hari pada tgl 7 s/d 9 Maret 2008 kami mencoba untuk menelusuri gua-gua yang ada di perbukitan kapur wilayah Kutai Timur Kalimantan timur.

Kalau dari awal pembicaraan dengan teman2, rencana sudah di seting hampir 1 tahun sebelumnya, hanya saja selalu saja ada kendala waktu dan kegiatan sehingga terus tertunda. Terakhir rencana lebih dimantapkan dan di lebih siapkan 1 bulan sebelumnya. Semua peralatan dan perbekalan di usahakan selengkap mungkin. Pembagian tugas dan tanggung jawab masing2 anggota juga sudah disepakati agar beban dan tanggung jawab masing2 anggota berimbang. sayangnya informasi yang kami dapatkan waktu survey lapangan dan tentang kondisi dan keadaan sasaran sangat minim sekali.

MENYATUKAN KEPENTINGAN YANG BERBEDA

Sebetulnya kegiatan ini belum pernah kami lakukan secara bersama. Saya sendiri lebih suka Video Hunting dan offroad. Dulu pernah sempat memasuki beberapa gua disekitaran Bontang dan Tanah Grogot Kaltim. Kalau Offroad saya ikutan group B4WDS (Badak Four wheel Drive Society) yang semua anggotanya adalah teman2 se-Perusahaan juga. Sementara pak Roy P. lebih banyak Diving dan juga sebagai Hasher. Taufik & Irwansyah penggemar Fotography, tapi juga suka diving bersama Roy. Mereka anggota BDC (Badak Diving Club).

Kebetulan kami satu seksi di Perusahaan PT. Badak NGL yang mengurusi Aplikasi IT Perusahaan.

Satu lagi Didi W. yang kebetulan tidak satu Perusahaan. Didi W jebolan Geologi kerja di Banpu Indominco Batubara. Dia adalah anggota termuda, dimana usia nya sekitar 28 tahun.

Terus terang, ide awalnya muncul dari Roy. yang terrnyata gayung bersambut. Saya sendiri sudah lama tidak mblusuk2 hutan dan masuk gua. Apalagi Irwan dan Taufik. Walau sepertinya kami mempunyai kepentingan berbeda, saya mau mengabadikan keindahan alam dengan video, Taufik dan Irwan yang hobi dan punya peralatan kamera yang cukup canggih juga ingin mencari object lain. Roy sendiri penasaran. kenapa justru Orang bule yang lebih dahulu melakukan expedisi dan mempromosikan dan explorasi gua2 alam yang indah di Kutim baik di internet maupun majalah2 bertaraf Internasional, sedangkan kita yang sudah lama berdomisili di Kaltim justru kalah cepat oleh mereka2. Kami memang kebetulan suka dengan jalan seperti itu, tapi di sisi lain kami tidak punya ilmu apa tentang per Gua-an, atau ilmu2 kepurbakala-an, Ilmu panjat tebing, tali-temali. Ilmu2 pramuka yang pernah dapat waktu di bangku sekolah dulu sudah lupa. Bagi kami jalan2 ke Gua di sekitaran Kutai Timur Bengalon adalah tantangan yang jangan sampai dilewatkan begitu saja.

 BONTANG – HAMBUR BATU

Dari Bontang sampai “Base camp” desa Hambur Batu menghabiskan waktu hampir 6 jam lebih perjalanan darat. Jalan yang kami lalui sebagian rusak parah. Banyak lobang besar, licin dan berlumpur coklat.

Kami mencarter Kijang Krista diesel. Awalnya transpotasi akan di handle oleh Didi dengan meminjam mobil pick-up double cabin dari kantornya. Tapi hari terakhir menjelang ke berangkatan ternyata mobilnya tidak dapat. Waktu sudah sekitar jam 17:00 sore hari ketika informasi ketiadaan transpotasi kami dapatkan dari Didi. Padahal besok pagi sudah harus berangkat. Walau agak sedikit bingung cari mobil pengganti, akhirnya kami medapatkan juga mobil lain yang mau kami carter, yaitu Kijang diesel.

Perjalanan Bontang Sanggata memakan waktu 2 jam lebih. Jalan darat yang kami lalui lebih parah dari Bontang – Samarinda.

Lepas dari Sanggata kami terus melanjutkan kearah Muara Wahau. Akhirnya kami sampai di desa Hambur batu dengan total waktu tempuh sekitar hampir 7 jam. Setelah isitrahat diwarung setempat, ternyata waktu masih cukup siang. Target kami ke Gua sekitaran sungai bengalon baru akan dimulai besok pagi. Oleh karena masih ada waktu cukup, akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Gua Kongbeng, +/- 1.5 jam perjalanan darat dari Base Camp Hambur batu. Target ke Gua Kombeng sebetulnya option saja karena mobil carteran kami tidak menjadwalkan ke sana.

Waktu istirahat di warung kami bertemu dengan rombongan lain yang juga akan naik (Istilah setempat bila hendak masuk ke hutan). Mereka itu adalah para surveyor Batu bara yang akan dihutan selama +/- 10 hari.

KE GUA KONGBENG.

Estimasi waktu tempuh ke Kongbeng yang kami dapat ternyata jauh dari ke-akurasian. Selain jalan darat yang tambah parah, waktu tempuhnya sekitar 2 jam 15 menit.

Tiba di persimpangan jalan besar kami harus masuk lagi ke jalan perkebunan sawit sepanjang +/- 5 Km berupa jalan tanah. Untung saja kondisi jalan dalam keadaan kering. Akhirnya kami sampai di lokasi gua sekitar jam 5 sore.

Terus terang kami akhirnya harus kejar2an dengan waktu, dimana tersisa hanya 1 jam menjelang senja.

Sungguh sayang, karena ini perjalanan extra yang tidak dijadwalkan dan sedikit ter-buru2, kami sampai lupa membawa alat penerangan (lampu). Hasilnnya tentu kami tidak dapat meng-explorasi isi gua sampai dalam.

Kongbeng adalah sebuah kecamantan di Kutai Timur. Sebagian lahan ditanami kelapa sawit.

Gua Kongbeng terdapat di sebuah bukit kapur yang berdiri sendiri. Menjulang tinggi diantara dataran rendah yang ada. Sungguh indah pemandangannya walau tebing2 nya terjal dan sulit didaki.

 

Kalau kita ingat ada gunung batu “Ayers Rock” di Australia tengah (Alice spring) yang menjulang sendirian di tengah gurun pasir, kira2 mirip lah dengan bukit batu kapur Kongbeng. Atau seperti bukit kapur Ci Se’eng di Parung. Tapi bukit Kapur Kongbeng lebih besar, tinggi,terjal dan lebih indah dari Bukit kapur Ci Se’eng Parung Bogor.

Diantara dinding2 terjal, terdapat beberapa lobang  gua tapi ber-ukuran kecil.

Sungguh rasanya kaki ini ingin memanjat dan merayap di tebing2 batu nan terjal, bak zaman SMA atau kuliah dulu.

Gua Kongbeng yang pernah saya ketahui, mempunyai legenda sejarah. Konon juga terdapat beberapa arca2. peninggalan jaman dahulu. Hanya saja, sebagian sudah dirusak tangan2 jahil. tapi semua itu tidak sempat kami temui.

Akhirnya kami tidak ber-lama2 di dalam Gua. Setelah melakukan rekaman reportase dan foto2. Kami meninggalkan Kongbeng seitar jam 5:30 sore.

Memang sangat disayangkan Vandalisme atau aksi corat coret tak luput merusak keindahan gua Kongbeng. Yang seharusnya tetap di jaga dan dilestarikan sebagai tempat wisata.

ISTIRAHAT DAN BERMALAM.

Tiba kembali di Base camp Desa Hambur batu waktu sudah menunjukan jam 21:00. Badan terasa cukup lelah karena seharian kami ada di jalan.

Sampai di Base Camp, Bu Laos, istri pemilik warung sekaligus penginapan sederhana sudah menyiapkan makan malam. Padahal Nasi Timbel, Rendang dan Teri blado yang kami bawa masih cukup untuk 1 kali makan lagi, dimana siangnya kami santap saat beristirahat di kampung transmigrasi “Tepian Baru”.

Setelah mandi dengan air yang berwarna coklat, kami makan malam. Sangat nikmat rasanya makan malam itu walau dengan menu yang apa adanya.

PENUNJUK JALAN MENGHILANG.

Selesai makan malam, kami di antar oleh pak Laos untuk di pertemukan oleh pemilik perahu/ces yang tinggalnya ternyata di pinggir sungai tidak jauh di belakang warung makan nya.

Singkatnya kami utarakan untuk melihat sebuah gua yang ada lukisan tangan peninggalan orang purba.

Ternyata pemilik perahu yang sudah lama bermukim di desa itu, tidak mengetahui ada gua yang kami maksud, otomatis pembicaraan belum menjurus ke harga sewa perahu/Ces karena tidak tahu jauh dekatnya perjalanan tsb.

Kami katakan bahwa minggu lalu waktu tim survey datang kami dikenalkan dengan pemuda bernama Yayan yang tahu lokasi gua tsb. Namun Yayan pada malam itu tidak dapat ditemukan. Ada sedikit kekecewaan dihati kami kalau saja perjalanan ini bisa saja batal karena tidak ada penunjuk jalan.

Beberapa pemuda yang dipanggil oleh pemilik perahu, tetapi semua menggelengkan kepala ketika ditanya tentang gua yang ada lukisan cap tangan.

Akhirnya seorang pemuda bernama Aris muncul dan dia bilang mengetahui lokasi gua yang dimaksud. Lega juga mendengarnya. dan selanjutnya kami mengatur skenario perjalan pergi pulang selama 2 hari.

Ada hal yang lucu waktu kami bertemu pemilih perahu. Waktu saya sodorkan tangan untuk berjabatan, pemilik perahu tidak bereaksi. Saya sempat bingung, akhirnya anaknya bilang kalau saya mau bersalaman. Barulah dia menjulurkan tangannya hanya saja arah tangan tidak se arah dengan tangan saya. Akhirnya saya baru paham kalau pemilih perahu itu kena penyakit rabun senja.

Kami sepakat untuk menyewa 2 perahu/ces seharga 2 juta tapi tidak termasuk tips untuk penunjuk jalan dan pengemudi nya. Entahlah apakah itu mahal atau tidak. Karena kami tidak tau referensi harga.

2 kamar penginapan yang kami pesan ternyata hanya bisa ditempati 1 kamar. Itupun ukurannya kecil. kamar yang satu sore nya baru selesai di cat dan baunya masih cukup menyengat, terpaksa Taufik, Irwan dan pak Mardi tidur di Mushola kecil yang berada di depan kamar kami.

karena penginapan berupa rumah panggung pinggir jalan Sanggata – Muara Wahau, maka kalau ada kendaraan besar lewat rasanya seperti gempa bumi, karena lantai dan ranjang tidur bergetar.

AWAL PERJALANAN YANG KURANG NYAMAN.

Subuh, kami sudah terbangun. Badan terasa masih kurang fresh. selesai mandi dan sarapan pagi, kami langsung menuju pinggir sungai dengan membawa semua ransel dan kebutuhan logistik ke tempat pemilik perahu,  dimana 2 perahu sudah menunggu.

Air sungai waktu itu sedang meluap. Ada rasa ciut juga melihat kondisi sungai dan perahu yang akan kami tumpangi. Se-umur2 kami belum pernah melakukan perjalanan dengan perahu kecil di sungai apalagi konon sungai tsb. masih cukup banyak buayanya. Dulu pernah naik perahu besar malam hari menuju danau Jempang dari Samarinda.

Setelah menata dan membagi muatan orang dan barang, Kami berdoa sejenak agar perjalanan kami selamat.

Kondisi perahu sangat sederhana. Tidak ada tanki BBM yang ada hanya beberapa jerigen bensin dan  1 jerigen plastik berkapasitas 5 liter yang digantung dekat mesin serta dihubungkan slang plastik kecil untuk mengalirkan BBM ke mesin.

Baru saja kami lepas dari dermaga kecil pinggir sungai yang juga sebagai Jamban terapung, tiba2 mesin perahu yang saya tumpangi mati dan perahu sempat terhanyut ketepian seberang sungai yang masih rimbun.

Saya sendiri sempat rebahan karena perahu menerobos dahan dan pohon pinggir sungai. Akhirnya kami menepi kembali ke dermaga dengan mendayung. Ternyata baling2 perahu patah akibat terkena kayu yang hanyut di sungai. Benar2 uji nyali nih.

Bagaimana jika hal itu terjadi jauh didalam hutan?.

Mudah2 Allah selalu melindungi kami dalam perjalanan ini. Beruntung saya melihat di ujung perahu ada tergeletak 2 buah kipas cadangan. Aman lah.

Belum lagi kami meluncur, ternyata perahu pengangkut perbekalan terlalu sarat muatan. Didi Wenas yang berada di perahu barang terpaksa pindah ke perahu utama. Komposisi perahu berubah. Perahu perbekalan hanya di isi 2 orang. Di depan Irwansyah, ditengah adalah ransel dan perbekalan logisitik yang ditutupi terpal plastic. sedangkan dibelakang Aris sang Juru mudi seklaigus pemandu jalan.

USIA TIDAK BISA DIPUNGKIRI.

Pada awalnya perjalanan menyusuri sungai Bengalon sangatlah menarik. Saya berada di perahu utama  duduk paling depan sambil memegang Video Camera tua untuk meliput perjalanan.

Dibelakang ber turut2 adalah Roy, Didi Wenas, Taufik dan Mas Sigit si pengemudi perahu.

Perjalanan masuk ke dalam ini adalah perjalanan yang melawan arus,dengan estimasi waktu tempuhnya sekitar 4 jam. Dalam hati bertanya apa benar 4 jam?, mengingat kemarin waktu ke Kongbeng estimasi yang diberikan jauh dari akurat.

Baru saja sekitar 100 Meter kami berjalan menyusuri sisi sungai, dan melintasi dahan2 pohon yang menjorok ke sungai. Mata ini seperti melihat sesuatu. Benar juga diantara dahan2 yang ada di atas perahu kami, se ekor anak ular Phyton kira2 sebesar lengan saya sedang asyik melingkar di dahan. Tentu saja saya cukup kaget, untungnya teman dibelakang tidak ada yang melihat ular itu. Kalau saja mereka ikutan kaget bareng dan secara reflek menghindar, perahu oleng dan bisa terbalik.

Batas bibir perahu dan air sangatlah tipis. Kalau saja tangan memegang bibir perahu maka sudah dipastikan akan langsung menyentuh air sungai.

Sungguh kami sangat mengagumi pemandangan yang kami lihat sepanjang perjalanan di sungai, seperti pohon2, burung elang, tebing2 batu dan burung yang warnanya sangat indah.

Tapi ternyata kami juga harus mewaspadai permukaan sungai. Terutama saya yang berada paling depan. Beberapa kali saya secara reflek memberikan aba2 perahu ke kiri maupun ke kanan agar perahu  terhindar kemungkinan menabrak potongan kayu yang hanyut. Saya tidak tahu apakah Sigit sang jurumudi dapat juga melihat dengan jelas kondisi permukaan sungai yang kadang dipenuhi potongan2 kayu.

Sesekali juga perahu kami berpapasan dengan perahu lain yang sejenis.

Diperjalanan kami juga melihat ada beberapa kayu2 balok yang di ikat dan dihanyutkan dan entah akan dibawa kemana. Ada yang sudah di gergaji menjadi balok2. Ada juga yang masih berupa kayu bulat walau tidak besar diameternya. Di desa Hambur Batu saya melihat ada saw mill. Tapi saya tidak melihat adanya aktivitas dan tidak ada kayu2 yang bertumpuk disekitarnya, hanya bubuk kayu hasil gerjgajian yang menggunung di terpian sungai.

Lama kelamaan duduk di papan kayu,pinggang terasa semakin pegal saja. di perahu kami duduk berjejer ber alaskan papan kayu. Kami hanya bisa duduk sila atau selonjoran. Kadang kami terpaksa duduk beradu punggung. Itupun dengan kehati2an waktu kami berpindah posisi. Sungguh usia dan kekuatan fisik berjalan seiring. Semangat kami memang cukup besar, tapi kami tidak dapat memungkiri usia kami yang kian lanjut juga mempengaruhi phisik.

PESONA SEPANJANG SUNGAI.

Jarum Jam terus berputar seiring dengan manuver2 perahu mengikuti arah sungai yang ber kelok2. Panas matahari kian terasa mulai menyengat kulit. Namun tanda2 akan sampai di tujuan belum juga tampak.

Beberapa kali kami temui beberapa pondok2 kecil sederhana. Ada pondok yang berada di tepi bukit kapur yang tak lain adalah pondok penjaga sarang burung wallet. Ada juga pondok2 dari para penebang pohon. Ada satu yang menarik perhatian saya, yaitu ada yang mendirikan tenda/pondok tempere diatas balok2 kayu bulat yang sudah ter potong2 dan dihanyutkan. Kami tidak mengetahui apakah itu para penebang liar/Ilegal logging?.

Yang pasti kami secara reflek selalu berusaha menyapa mereka dengan melambaikan tangan agar kami dapat diterima dan tidak dicurigai dari tim Gabungan inspeksi pembalakan yang pernah membuat panik para penebang disepanjang sungai bengalon beberapa waktu lalu. Dimana akhirnya para penebang kayu tsb. mencari jurumudi perahu yang sebelumnya sudah kabur dari dusun Hambur Batu, takut dikeroyok akibat ulahnya. Padahal menurut cerita Aris. Pengemudi perahu itu tidak tahu apa2 kalau waktu itu yang menyewa perahu adalah Petugas Gabungan.

Sebetulnya ada keinginan dihati mungkin juga teman2 agar dengan mata kepala sendiri dapat melihat buaya yang sedang berjemur di pinggir sungai atau paling tidak nongol lah beberasa saat di tepi sungai. Sayangnya apa yang diceritakan orang setempat tentang masih banyaknya buaya di sungai itu tidak dapat kami buktikan.

Hanya sekali saja mata saya mehat kepala kura2 yang muncul tiba2 di depan perahu dan kemudian tenggelam kembali.

Beberapa kali kami harus menepi sebentar untuk beristirahat sejenak sambil menunggu perahu perbekalan yang selalu tertinggal jauh karena mesin motor yang lebih kecil dan muatan perbekalan yang cukup berat.

Pada Awalnya sebetulnya Aris sebagai penunjuk jalan harusnyas berada di depan. Tapi kenyataanya perahu nya selalu tertinggal cukup jauh.

Diatara tempat yang kami singgahi untuk beristirahat, ada tempat dimana terdapat 2 ekor payau/kijang hasil jeratan yang cukup jinak. Namanya si Unyil.

Kebetulan hanya saya dan Didi W.yang naik ke pondok. saya dengar Roy sempat kecebur di sungai waktu salah injak papan penghubung ketepian sungai, aya aya wae…

PERAHU PERBEKALAN BERMASALAH.

Perjalanan sungai yang awalnya menyenangkan namum akhirnya melelahkan juga. Perjalanan sudah memakan waktu hampir 3 jam setengah.

Kami memutuskan untuk sekali lagi ber istirahat di tepian sungai yang ada dermaga kecil sederhana. Sudah 5 menit kami beristirahat namun perahu perbekalan belum juga muncul. tidak lama berselang munculah perahu perbekalan yang langsung merapat di perahu kami.

Saya kebetulan ingin naik ke atas bibir sungai karena pinggang dan kaki sudah cukup pegal. Namun ternyata untuk naik ke atas bibir sungai pun perlu perjuangan, karena tebing cukup licin dan hanya ada 1 batang pohon yang ternyata tak mudah juga untuk kami gunakan sebagai tangga.

Secara tidak sadar, air sungai yang tadinya meluap kini sepertinya mulai menyusut. Hal ini terlihat antara permukaan air dan tebing pinggiran sungai yang tadinya dekat kini agak jauh jaraknya.

Oleh karena perkiraan waktu tempuh ke target tinggal 30 menit, maka kami tidak berlama2 berisitrahat. Mesin perahu utama sudah kembali menderu di tengah hutan yang sunyi. Waktu sudah menunjukan sekitar jam 11:42 menit.

Tali tambat perahu sudah dilepas. Perahu kami hanyut sejenak sebelum mesin di hidupkan, namun perahu perbekalan yang sudah hanyut mesinnya beberapa kali gagal hidup dan terus terhanyut yang akhirnya terdampar sekitar 50 meter dari tempat kami istirahat.itupun juga dengan terpaksa menyambar dan memegang pohon2 kecil yang tumbuh di pinggiran sungai. Ada sekitar 20 menit si Aris, pengemudi perahu perbekalan mencoba untuk  menghidupkan kembali mesin namun selalu gagal. Beberapa kali saya lihat dia membuka busi dan membersihkan dengan amplas.

Sengatan matahari semakit terasa panas saja di kulit. Air mineral yang kami bawa masing2 kian menipis. Sedangkan cadangan air minum yang kami beli 1 dus berada di perahu perbekalan. Tanda2 mesin perahu perbekalan akan hidup belum juga nampak. akhinrya beberapa kali dicoba dihidupkan, mesin pun dapat hidup. Lega rasanya. sayangnya kelegaan itu hanya se-saat saja manakala perahu perbekalan yang berada sekitar 20 meter dibelakang kami yang sudah ambil ancang2 untuk bergerak maju, tiba2 mesin nya mengeluarkan suatu ledakan kecil seperti bunyi mercon, dan selanjutnya mesin kembali mati. Kami terpaksa merapat lagi ketepian dengan hanya memegang pohonan kecil agar tidak hanyut. Cukup lama kami menunggu mas Aris untuk mencoba menghidupkan mesin di bantu Mas Sigit, namun selalu gagal. Akhirnya kami yang memutuskan untuk menarik perahu perbekalan dengan tali yang kami bawa. Resikonya sudah pasti perahu utama akan berjalan lebih lambat karena ketambahan beban. Tapi itulah keputusan terbaik buat kami.

HAMPIR FATAL

Sebelumya ada suatu kejadian yang hampir fatal kami alami ketika kami sedang menyusuri sungai. Ketika itu perahu kami berada di sebuah kelokan sungai dan berada di sisi kanan, tiba2 saja dari arah depan muncul perahu lain kecepatan yang lebih cepat dari perahu kami.

Saya sendiri sudah mendengar deru mesin dari perahu itu sebelum muncul didepan. Hanya saja tidak tahu posisinya dimana karena memang pinggiran sungai tertutup rimbunya pohon2. Ternyata perahu itu hanya ditumpangi oleh sang juru mudi. Saya sempat panik ketika perahu itu muncul tiba2 di depan perahu kami. Saya sendiri hanya sempat mengangkat tangan untuk memberikan aba2 agar perahu tsb. menjauh kekiri, namun sepertinya pengemudi perahu tsb. Cuek saja dan tetap melintas sekitar setengah meter di sisi kiri perahu kami. Cipratan air dari kipas perahu serta hempasan ombak akhirnya membasahi sebagian tubuh kami juga kamera yang dipegang Taufik.

Perahu kami sempat diam sejenak agar riak ombak yang ditimbulkan tidak membuat perahu kami kian oleng. Mas Sigit, jurumudi perahu kami terlihat wajahnya sedikit marah dan terus saja memandangi perahu tsb. menjauh dari kami.

Andai saja terjadi tabrakan, maka saya lah yang duduk paling depan yang akan merasakan moncong perahu nekad itu. Allah ternyata masih melindungi kami semua. perasaan perjalanan ini semakin jauh semakin tegang saja. karena tidak tahu apa yang akan terjadi didepan.

PENDARATAN YANG TAK DIDUGA.

Terus terang kami tidak tahu dimana tempat titik pendaratan atau akhir perjalanan ini. Waktu tempuh sudah hampir mendekati 4 jam.

Disisi lain tiba2 batere kamera video yang saya bawa mengindikasikan bahwa batere harus diganti. Saya mencoba mengambil batere cadangan yang durasi nya 2 kali lebih lama. Namun saya kaget karena setelah terpasang Kamera video tidak bisa di hidupkan. Beberapa kali upaya saya coba tetap saja video camera tidak bisa ON. Saya men duga jangan2 waktu selesai di charge di rumah switch tidak dalam kondisi sempurna ke status OFF, tapi ke fungsi lain yang akhirnya menyedot habis tenaga batere tsb Sungguh sangat kecewa sekali saya

 Padahal batere itu adalah tumpuan harapan terakhir untuk dapat meliput target utama. Akhirnya kamera video tua pinjaman segera saya matikan dan saya mencopot kembali batere yang bermasalah tsb. Saya berharap batere standard yang hampir habis powernya masih dapat di gunakan walau hanya beberapa menit saya.

Waktu terus berjalan, kaki kami pun kadang kesemutan dan seperti mati rasa.

Tidak berapa lama tiba2 saja mesin perahu mati dan perahu menepi di sisi kanan sungai. “Sudah sampai” teriak Mas Sigit. Saya masih belum yakin apakah memang lokasi itu yang menjadi titik pendaratan terakhir, tidak ada dermaga kecil. Betul2 pinggir sungai yang masih apa adanya. Bukan nya si Aris yang hanya tahu lokasi gua dan pendaratannya.

Sebelum turun saya memperhatikan kondisi sekitaranya. tanahnya lembek berlumpur dan licin. Tidak ada tanda2 jalan setapak. Benar2 diluar dugaan kami. Dengan ber susah payah kami berhasil turun serta menurunkan ransel2 kami. Kembali lagi tali digunakan sebagai pegangan kami ke tepi sungai.

Sungguh kami tidak mau beranjak dahulu sebelum Aris benar2 menapakan kakinya di tanah yang lembek yang nyaris menenggelamkan sepatu kami.

Diantara ransel yang kami bawa, ternyata ransel saya lah yang paling berat sekitar 20 Kg. Saya sendiri sempat mengingat2 apa saja isi ransel saya. Sepertinya isinya sama dengan teman2. Hanya ada tambahan Tripod, batere cadangan lampu senter, 2 pisau belati selain baju dan mie serta kopi instant dan teropong.

RAGU SAMA PENUNJUK JALAN

Setelah selesai menurunkan perbekalan, kami mulai berjalan menembus hutan yang tanahnya berlumpur. Rasa kecewa akan batere kamera video yang tidak dapat digunakan masih saja menyelimuti hati. Betapa tidak. Justru momen2 inilah yang layak untuk di rekam, tapi justru pada momen2 tsb. Video tidak dapat dipergunakan.

Aris si penunjuk jalan mulai menebas pohon2 kecil sementara kami mengikuti dari belakang. Sepatu kiri saya yang baru ketahuan terkupas alasnya di perahu, kini giliran sepatu kanan yang ikut2an terkupas.

Akhirnya saya akali dengan mengikat tali sepatu secara menyilang kearah bawah.

Tentu saja hal ini membuat perjalanan menjadi kian tidak nyaman.

Beberapa kali si Aris berhenti dan menengok kanan kiri atau kadang berbalik arah. Hal ini membuat hati saya jadi ragu apakah dia memang mengetahui jalur ke gua tsb. atau tidak?. Yang saya tahu memang tidak ada tanda2 lokasi tsb. pernah di injak manusia, kecuali beberapa batang/pokok pohon yang sudah lapuk di tancapkan ditanah entah oleh siapa, dan untuk apa.

Keraguan saya bertambah, karena apa yang pernah di ceritakan oleh Aris tentang adanya sebuah pondok di pinggir sungai yang akan dipakai sebagai base camp untuk bermalam ternyata tidak ada sama sekali, bahkan bekasnya sekalipun.

Bagi kami rasanya sangat tidak mungkin juga untuk mendirikan tenda diatas tanah yang becek berlumpur. Selain itu harus sedikit bekerja keras menebas pohon kecil yang lumayan rimbun. Sinar Matahari tidak sepenuhnya dapat menembus pepohonan yang lumayan lebat.

PENDAKIAN YANG BERAT

Akhinya kami tetap mengikuti mas Aris yang terus berjalan menebas pepohonan.

Sekitar 25 meter dari tepi sungai, jalan mulai memasuki bebatuan kapur dan sedikit berlumut serta menanjak. Oleh karena merasa tidak nyaman dengan jaket pelampung yang  masih menempel di tubuh, akhirnya seluruh jaket pelampung kami letakan begitu saja di tengah hutan.

Rasa dongkol tidak bisa merekam situasi ditambah beban ransel yang berat,akhirnya membuat saya lebih sering duduk istirahat di bebatuan. Roy beberapa kali terus memberikan semangat untuk terus lanjut.

Perjalanan semakin mendaki dan lebih banyak memanjat tebing. Beberapa kali kami terpaksa secara estafet memindahkan ransel2/tas kamera foto kami satu per satu ke atas karena memang medan yang cukup terjal dan sempit.

Pada suatu titik saya memutuskan untuk meninggalkan saja ransel saya ditengah perjalanan, tapi tidak untuk video kamera. Begitu pula Roy, Taufik, dan Irwansyah. Tapi tidak untuk Aris, mas Sigit dan Didi yang mungkin memang tidak terlalu berat untuk dibawa.

 Saya mengira tingkat kemiringan dinding bukit kapur itu lebih dari 70 derajat. Kadang kami merayap dan mengandalkan celah2 batu atau batang2 pohon kecil yang tumbuh di diantara bebatuan kapur untuk pegangan dan pijakan.

Jalan kadang diatur zig-zag agar didapat jalur yang ringan untuk di daki, kadang pula tegak lurus dengan cara di panjat.

Tali yang kami bawa yang hanya sepanjang +/5 mter ternyata sangat membantu kami dalam pendakian yang tidak kami perhitungkan dan bayangkan sebelumnya.

Beberapa kali saya harus mengikat kembali tali sepatu yang kendor dan lepas.

Nafas sudah mulai cepat, satu sama lain tidak banyak bicara. Mungkin juga untuk menghemat nafas dan tenaga yang benar2 terkuras.

Untung saja bebatuan kapur yang kami pijak dan panjat tidak berlumut dan banyak ber rongga, sehingga kami cukup mudah untuk menjejakan kaki dan juga peganggan tangan. Tapi kami juga harus waspada dan teliti bahwa batu yang kami pijak atau pegang tidak rapuh atau bergerak. Di sisi lain, seharusnya pisau belati yang saya bawa sudah harus terselip di pinggang, untuk jaga2 jika saja diperlukan. Tapi sayangnya justru 2 buah belati itu berada di ransel yang sudah di tinggalkan dibawah.

Nafas seperti kian cepat saja berhembus. Beberapa kali saya, Irwan dan Taufik harus mengatur tas kamera agar tidak mengganggu pemanjatan dan juga tidak rusak karena bergesekan dengan batu cadas yang runcing ataupun tersangkut di dahan2 pohon. Sementara Aris sang penunjuk jalan, bak spiderman saja memanjatnya dan cukup jauh berada di atas walau tetap sabar menunggu kami yang mulai ter tatih2.

Mata benar2 harus awas melihat kondisi sekitar. Terutama celah2 batu cadas yang kadang ber lobang2. Siapa tahu ada binatang keluar dari lobang pada saat tubuh membutuhkan topangan  tangan saat memanjat.

Beberapa kali saya harus terpaksa berhenti dan  ter-bungkuk2 untuk menahan rasa sakit di pinggang juga mencoba menarik nafas panjang. Benar2 pendakian yang menguras tenaga.

MENYERAH KALAH.

Kira pada ketinggian sekitar 170 Meter, akhirnya saya tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Benar2 tenaga sudah habis.. untung saja ada sebidang tanah yang sedikit datar dan lebar untuk istirahat.

Pada saat itu sepertinya semua aktivitas pendakian juga berhenti sejenak. Jujur saja kami tidak pernah membayangkan akan mendaki seperti ini untuk mencapai gua yang dimaksud.

Saya, Irwan dan Roy serta mas Sigit memutuskan tidak meneruskan pendakian. Sementara sekitar 10 meter diatas ada Taufik, Didi dan Aris si penunjuk jalan yang masih tetap berusaha meneruskan perjalanan yang katanya tinggal 5 meter lagi.

Akhirnya Taufik pun tidak sanggup meneruskan pendakian hanya Didi Wenas yang termuda usianya dan Aris yang akhinrya sampai ke gua yang dimaksud.

Sebetulnya posisi Taufik tinggal sekitar 5 meter dari lobang gua saja. hanya saja 5 meter itu kemiringan tebing adalah 90 derajat. Alias tegak lurus tanpa ada celah batu untuk pijakan dan pegangan. Entahlah Aris sepertinya sangat lihai sekali memanjatnya. Didi pun sampai ke puncak dibantu dengan tali yang di ikatkan di sebatang pohon.

Melihat keberhasilan Didi dan Aris, beberapa kali Irwansyah sepertinye terpancing ingin mencoba memanjat paling tidak sampai di mana Taufik berada, namun selalu gagal. Bahkan percobaan terakhir gagal dan tiba2 Irwansyah melorot dari pohon yang membuat Roy dibawahnya terhentak kaget.

Tentu saja kejadian lucu itu akhirnya menjadi bahan tertawaan dikala tenaga sudah terkuras habis.

Ada keinginan kuat saya mau mencoba meneruskan pemanjatan, namum sepatu yang sudah tidak lagi sempurna membuat saya harus berfikir jernih untuk tidak memenangkan ego daripada berfikir tentang keselamatan diri.

Inilah sebagian hasil foto cap tangan. gua tersebut yang ternyata bersih dari vandalism ataupun coretan2 lain dari tangan2 jahil. Gambar2 tsb. diabadikan oleh Didi W dan Aris dengan menggunakan camera canggih kepunyaan Taufik.

Ada untungnya tidak semua penduduk tahu lokasi gua tsb. Siapa tau ada yang iseng nulis2 di gua atau corat-coret.

Kecewa dan senang menjadi satu. Kecewa karena saya tidak sampai target. Senang karena salah satu tim berhasil mencapai target dan sempat foto2.

Selama menunggu Didi memotret isi Gua, kami hanya duduk ngobol sambil sesekali mencari rumah2 keong.

 

PERJALANAN TURUN YANG TIDAK MUDAH

Dengan sisa batere kamera video yang ada saya mencoba membuat reportasi terakhir dari sesi pendakian. Untung saja masih tersisa sekitar 3 menit saja. pengambilan gambar pun tidak mulus. Hampir 3 kali kami mengulang pengambilan gambar, seperti layaknya para profesional saja.

Setelah Aris, Didi dan Taufik kembali turun dari posisinya masing2, kami tetap harus ber istirahat sejenak.

Sebelum turun ke sungai, saya menanyakan kembali ke Mas Aris tentang pondok yang pernah di ceritakan sebagai tempat alternatif bermalam. Dia tidak bisa menjawab. Walau tempat istirahat kami saat itu cukup untuk mendirikan tenda, namun semua peralatan dan perbekalan berada jauh dibawah. Tentu kami tak sanggup untuk membawa ke ke tempat dimana kami beristirahat saat itu. Sedangkan untuk mendirikan tenda di tepi sungai, bukan pilihan terbaik dari yang terburuk.

Soalnya bukan mustahil juga kalau di sekitar lokasi itu ada sarang buaya nya. Lokasinya benar2 rimbun dan berlumut. Sinar matahari saja sepertinya cukup bersusah payah untuk bisa menembus sampai ke tanah yang becek dan sedikit berlumpur. Belum lagi jika terjadi banjir. saya yakin sekali tenda kami pasti akan tenggelam. Soalnya bekas ketinggian air terlihat jelas di daun2 / batang pohon yang berwarna coklat bekas lumpur.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke perahu dan mencoba bermalam di sebuah pondok penjaga sarang burung wallet dimana kami sebelumnya sempat mampir. Kebetulan penjaga pondok tsb. adalah kawan dari Aris. Itupun jika di ijinkan.

Jika tidak diijinkan, tidak ada alternatif lain dan kami terpaksa harus kembali ke desa Hambur Batu tempat base camp yang pasti kami akan juga menghadapi kegelapan senja pada perjalanan pulang.

Turun kembali menuju ke tepi sungai ternyata tidak kalah susahnya dengan mendaki. Bahkan dalam beberapa kondisi saya sempat turun dengan pantat yang terus menempel di batu2an. Salah ambil pijakan kaki beresiko tergelincir dan terpelanting jatuh. Bahkan Taufik pun sempat salah injak dan tergantung erat di tali sebelum dibantu turun oleh Irwansyah.

BERMALAM DI PONDOK

Bukanlah sesuatu yang mudah untuk menerima tamu di pondok penjaga burung walet. Para penjaga pondok sarang burung walet pada umumnya selalu curiga terhadap tamu2 asing yang singgah. Itu wajar saja karena yang mereka jaga adalah emas lembut yang berharga jutaan rupiah per kilo nya.

Kami cukup beruntung diterima untuk bermalam di pondok tsb.

Nama penjaga sarang burung itu adalah Blasius, asli dari Timor. Sungguh lega rasa hati ini bisa menginjakan kaki di pondok kecil berbentuk panggung, kalau tidak maka sudah dibayangkan perjalanan di perahu akan panjang dan membosankan.

Dihadapan pondok mungil terbentang bukit batu kapur yang tegak lurus dan cukup indah dipandang mata. Tapi sulit untuk di panjat, kecuali yang biasa.

Sementara itu sepertinya penjaga Pondok, Blasius  tetap terlihat waspada terhadap gerak gerik kami. Dia terlihat tetap menjaga jarak dengan kami mungkin bila terjadi sesuatu masih bisa ada ruang untuk ber reaksi.(saya dibisikin Roy).

Hari sudah menjelang senja ketika kami tiba di Pondok tsb. Tenaga yang sudah terkuras habis dan belum makan siang, membuat kami langsung mengeluarkan perbekalan mie Instant serta sisa rendang yang masih ada.

Sepatu saya yang sudah tidak mungkin di pakai lagi, langsung dibungkus plastik dan masuk ransel. Setelah itu hanya mengandalkan sandal jepit saja kemana mana.

Pada awalnya suasana masih terlihat agak kaku. Tapi lama kelamaan akhirnya cair juga. Blasius yang orang timor itu mau berbagi cerita walau tetap selektif dengan informasi yang diberikan.

Hari itu kami terpaksa tidak mandi. Bagaimana mungkin selain hari sudah senja, untuk naik dan turun ke sungai saja perlu trik dan tenaga. siapa tau juga sang buaya juga sudah siap menemani kami mandi.

Karena sangat kelelahan sebelumnya maka sekitar jam 20:00 kami sudah tertidur pulas. Saya, Roy dan Didi tidur didalam. Sementara Taufik dan Irwansyah tidur di pelataran luar dengan menggunakan sleeping bag masing2.

Entah kenapa, sepertinya kami tidak diganggu oleh nyamuk2 malam padahal kami tidak mandi. Memang kami semua memakai lotion anti nyamuk. Saya sendiri tidur dengan menggunakan celana pendek tanpa selimut. Biasanya kuping selalu diganggu suara kepak sayap nyamuk. tapi malam itu sepertinya tidak ada gangguan suara nyamuk di sekitar kuping.

Malam sekitar jam 01:00 kami terjaga hampir bersamaan. Perut terasa lapar kembali. Kami pun kembali masak mie Instant dan ngopi serta ngobrol sampai sekitar jam 4 subuh dan tertidur lagi karena memang terserang rasa ngantuk kembali.

Kita2 seperti pekerja Shift saja. ketika Aris,Sigit dan Blasius ngobol sampai malam, kami tertidur, tapi ketika mereka tertidur gantian kami yang bangun dan mengobrol.

Sekitar pukul 02:00 subuh kami mendengar suara gemuruh seperti ada yang jatuh dari atas pohon. Secara serentak senter yang kami pegang langsung menyorot lokasi dimana terdengar suara gemuruh itu. Aneh juga tidak ada suara binatang atau suara lainnya dan suasana kembali senyap. Malam itu sangat cerah sekali. Tenang hati ini memandang keindahan bintang2 dilangit. Kami memang cukup beruntung hari itu tidak ada hujan. Padahal saat itu sedang musim hujan.

Sekali lagi, waktu kami begadang, rasanya kami tidak juga di ganggu sama nyamuk yang biasanya kalau dihutan lumayan mengganggu.

Ini pondok yang dimaksud, diambil dari tepi bawah bukit batu kapur dan suasana menejelang senja dan malam hari.

TARGET TAMBAHAN

Subuh saya sudah terbangun, begitu juga teman2 lainnya. Dengan kamera digital saku yang saya bawa, saya segera menuju ke tepi sungai untuk mencoba merekam suasa pagi. Kicauan burung yang bersahut2an serta sesekali sautan uwa-uwa sungguh menjadi sebuah orchestra alam yang sangat indah.

Dengan waktu yang masih ada,saya mencoba untuk menuju tepian bukit kapur untuk melihat lebih dekat gua2 sarang burung walet.

Dengan sisa memori yang ada di kamera saku, saya maksakan diri untuk merekam dengan mode video. Soalnya camera video sudah tidak punya power lagi. Paling tidak rekaman dari kamera saku digital ini untuk melengkapi rekaman yang ada.

Jalan menuju tepian bukit kapur harus melintasi tanaman pakis yang ber-air. sehingga celana pendek yang saya pakai pun basah separuh. Untung saja sandal jepit sebagai alas kaki satu2anya tidak putus dan tidak terjepit diantara akar2 yang tumbuh di tanah. Saya sempat merekam beberapa lubang gua yang ternyata ditutup rapat dengan kayu2 dan bambu.

Saya sempat menanyakan tentang suara gemuruh dimalam hari kepada penjaga gua itu. Dia bilang biasanya itu adalah bongkahan batu kapur yang mungkin sudah rapuh dan akhirnya runtuh. Saya juga sempat melihat dengan teropong yang saya bawa ada sedikit koloni monyet2 diantara rimbunya pohon2 yang tumbuh di bukit terjal itu. Ah mungkin saja tadi malam itu karena ulah monyet2 yang juga lagi begadang.

Sekitar jam 09:00 kami sudah bersiap untuk meninggalkan pondok kecil. Tak lupa saya berikan uang sekedarnya kepada blasius atas kemurahan hati untuk menampung kami bermalam.

Oleh karena waktu tempuh ke base camp Hambur batu lebih cepat karena perahu mengikuti arus sungai, kami mencoba untuk mampir di beberapa gua lain pada perjalanan pulangnya. Untungnya Aris dan Sigit menyetujui usul kami itu.

Setelah waktu tempuh perjalanan pulang sudah hampir 2 jam, akhirnya kami mampir di sebuah gua yang dinamakan “watu aji’.

Sekali lagi, kami tidak langsung dapat menuju gua yang dimaksud. Karena memang tergantung ijin dari penjaga gua yang akhirnya kami di ijinkan juga. Gua tsb. Sangat besar dan indah sekali.

 Lorong2nya sangat bervariasi. Ada lorong menuju ke atas dan ada juga lorong menuju ke bawah tanah.

Sayangnya gua Watu Aji yang sangat indah itu tak luput juga dari tangan jahil yang sempat mencorat coret beberapa dinding gua tsb. dengan cat / goresan2.

Ada hal yang menarik dari orang2 yang kami temui disana. Baik si Aris, Sigit dan beberapa penunggu gua maupun penebang kayu. Secara sekilas saya melihat rata2 mereka itu mempunyai tattoo di tubuhnya. Terutama di lengan.

MENGUATKAN TEORI ?

Melihat beberapa kondisi gua tsb. Konon menurut teori bahwa dataran rendah Kalimantan dahulu itu masih berupa lautan.

Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kulit kerang dan rumah keong yang biasa ditemui di pinggir pantai berpasir ada

 juga di tebing2 tinggi bahkan di Gua yang ada Cap tangan. Apakah memang demikian ?. apakah manusia yang pernah menghuni gua tsb. Memilih lobang gua yang jauh diatas dan susah didaki karena dahulu dibawahnya masih berupa lautan?. Masih perlu diteliti lagi.

Namun dari semua itu, perjalanan kali ini memang sangat mengasyikan. Hampir masing2 personel yang ikut mempunyai pengalaman yang tidak mudah untuk dilupakan. Saya sendiri sempat muntah di hutan karena pusing akibat kelelahan, Roy sempat kecebur di sungai karena salah injak papan kayu yang dipakai sebagai jembatan, Irwan yang merosot dipohon dan Taufik sempat terpeleset dan tergantung di tali.

Ada keinginan untuk mencoba menelusuri  gua2 lain di daerah Sangkulirang Kutim yang konon tidak kalah cantiknya dengan gua yang kami temui di sepanjang sungai Bengalon. Insya Allah.

Kalau di hitung2 biaya perjalanan tsb. Sebetulnya tidaklah terlalu mahal karena semua biaya ditanggung bersama. Dan tentu saja nilai uang itu tidak seberapa dibanding dengan hasil foto2 yang indah dan exotic hasil bidikan Taufik, Irwansyah,Didi W, dan saya sendiri.

Sudah barang tentu tidak semua foto2 tsb. Dapat dimasukan dalam tulisan ini, berhubung jumlahnya yang lumayan banyak.

Sampai di Hambur batu, ternyata driver kami, pak Mardi sudah lama menunggu.

Pulang ke Rumah masing2 ternyata waktu sudah malam sekitar 08:30. Jalan Sanggata – Bontang tidak bisa lebih cepat daripada saat pergi. Maklum waktunya sudah malam dan jalan banyak berlobang serta antrian kendaraan yang habis pulang long Week-end dari Balikpapan dan Samarinda menuju Sanggata.

Masih ada rasa penasaran saya tentang Gua2 yang kami sambangi dalam perjalanan kemarin. Akhirnya saya mencoba membuka situs web nyak Pemerintahan Kutai Timur. Wah benar saja. ternyata di didalam Gua Kombeng itu tertulis ada beberapa arca sisa peninggalan kerajaan Hindu Kutai. Sayang sekali kami tidak sempat melihat dimana arca itu berada. Dan sangat disayangkan pula tidak ada Informasi apa2 di lokasi Gua Kongbeng yang seperti biasanya suka ada papan informasi pada lokasi wisata alam di Jawa.

EXPEDISI OLEH PERANCIS

Setelah di kantor, ternyata Roy dan Taufik memberikan data tentang peta dan expedisi yang pernah dilakukan oleh tim dari Perancis. Kalau tidak salah tahun 2003 lalu.

dari peta yang di release oleh National Geographic ternyata banyak sekali jejeran gua2 sepanjang perbukitan kapur Bengalon.

Ternyata gua yang ada cap tangan yang sempat dipotret oleh rekan Didi adalah gua “Keboboh” atau gua “Tewet” entah mana yang benar.

Kembali lagi ke situsnya Pemda Kutim, ditulis ada sekitar ratusan Gua di sekitar Sangkulirang, namun belum semua nya di teliti atau pun di jelajahi oleh tim Expedisi dari Luar. Tapi saya yakin sudah ada beberapa Expedisi yang pernah dilakukan disana.

Keinginan untuk ke Sangkulirang kian menguat saja. yang saya baca di beberapa situs Web, peneliti dari LIPI dan Negara lain seperti Perancis sudah pernah melakukan expedisi penelitian disana. Belum lagi expedisi dari kelompok2 lain yang mungkin belum banyak diketahui.

Syukurlah, paling tidak kawasan Karst di Sangkulirang tetap terjaga dari kemungkinan kerusakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Hampir 3 hari saya menyunting hasil rekaman video. Hasilnya lumayan. Semua anggota dapat 1 keping DVD. 1 keping lagi saya kirimkan ke TV lokal untuk dapat di tayangkan.

Terima kasih juga saya sampaikan ke Dr. Zainnudin F. Dokter rumah sakit perusahaan yang telah memberikan obat2an, Terutama obat Malaria, dimana harus diminum1 minggu sebelum dan sesudah jalan2 masing2 2 tablet sehari, selama 2 hari.

 

Anggota Tim:                  

(PT. Badak NGL)

Suyanto, Roy P,M.R. Taufik,Irwansyah

 

(BANPU/Indominco)

Didi Wenas

 

Photo by: M.R. Taufik, Irwansyah, Suyanto, Didi W. 

Bontang, Maret 2008. Syt.

 

 
 
 
 

 

16 Tanggapan to “Expedisi Bengalon Karst (gua Tewet, Batu Aji)”

  1. Mas Suyanto, saya Pindi Setiawan anggota tim peneliti Indonesia-Perancis, sejak tahun 1995 telah meneliti goa-goa bergambar. Salah satu yang kami temukan 1998 adalah goa Tewet yang anda dan teman-teman kunjungi. Umur gambar ini adalah 10.000 tahun, dibuat ketika kalimantan masih bersatu dengan Asia (jaman es).

    Bila ingin ke situs-situs lagi, silahkan hubungi saya di
    pindisp@yahoo.com atau facebook Pindi Setiawan

    goa-goa itu susah digapai, apalagi bila penunjuk jalannya tidak tahu. Saya punya teman-teman di Bengalon yang bisa mengantar anda dengan aman. Mereka juga sudah diajari apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di situs prasejarah.

    Saya sangat berharap, teman-teman di Bontang turut aktif menjaga kelestarian situs dan kawasan karst ini.

    Nuhun
    Pindi Setiawan, ITB, Bandung

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Kang Pindi, matur nuhun atas responsya. wah senang betul bisa berkenalan dengan Expetisnya Gua2. memang pada dasarnya saya tidak punya ilmu apa tentang per gua an. hanya suka saja jalan2. Wah nanti saya informasikan ke teman deh. Soalnya ada rencana mau ke sana lagi. entah tahun ini bisa apa tidak.
      Ok Kang nuhun.

  2. dari jakarta ke jakarta ke gua tewet tuh berapa dan brpa lama perjlnannya?
    tlng cpat di balas

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Tyan, mungkin saya coba berikan ilustrasi perjalanan ke G. Tewet dari Jakarta.
      Perjalanan Udara :
      Pejalanan CKG – Sepinggan sekitar +/- 2 jam. (sampai keluar bandara Sepinggan Balikpapan)
      Perjalanan Darat:
      Perjalanan naik Taxi (sedan/Inova) ke Sanggata (Balikpapan – Samarinda – Pertigaan Bontang – Sanggata) sekitar +/- 6 Jam yiatu :
      Balikpapan – Samarinda +/- 2.5 jam
      Samarinda – Pertigaaan Bontang – Sanggata +/- 2.5 Jam
      Pertigaan Bontang – Sanggata +/- 1.5 Jam
      Sanggata – Kampung Hambur Batu sekitar 1.5 – 2 Jam. araha muara wahau.

      Pejalanan Sungai.
      Posko bisa di mulai dari Bengalon ataupun desa Hambur batu. kalau dari Bengalon saya belum pernah.
      kalau dari Bengalon menyusur sungai bengalon bisa melihat buaya2 sungai berjemur di pinggir sungai.
      Desa Hambur batu, terletak di pinggir jalan Ke arah muara Wahau.
      terdapat plang tulisan wisata gua. ada penginapan sederhana dekat mesjid.

      di Kampung Hambur Batu, tidak semua penduduk setempat tahu lokasi G. Tewet. karena bukan titik lokasi wisata. Wisata yg dimaksud adalah Gua sarang Walet.
      melalui sungai Bengalon desa Hambur batu – Titik pendaratan menuju G. Tewet pakai perahu ces / perahu bermotor +/- 4 Jam (dengan beberapa kali istrirahat)
      itu kalau sungai lagi tidak surut. kalau musim kemarau / surut lebih lama lagi karena nggak bisa melaju cepat. banyak dahan2 di sungai.

      Selama perjalanan sungai akan di dapat banyak gua2 alam di tebing2 batu kapur dan banyak sarang walet yang di jaga sama penduduk setempat.
      Ingat setiap pendatang yg tidak di kenal selalu di awasi. bersikaplah bersahabat. dan terus terang maksud perjalanan.
      dahulu biaya sewa perahu PP sekitar 1.5 Jt. termasuk bermalam (biaya relatih mahal).

      Perjalanan Mendaki Gua
      Bagi yang masih cukup muda dan punya tenaga perjalanan mendaki/merayap tebing cadas tidak lebih dari 1 Jam. Kami ini sebagian berusia 50 tahun
      jadi santai aja naiknya. perlu di perhitungkan waktu nya. berangkat harus pagi2 dari Hambur batu. kalau tidak anda harus bermalam di suatu titik

      Info lain.
      di sini ada komentarnya si Penggawa Gua2 Kaltim dari ITB Bandung yang lebih pengalaman yaitu Kang Pindi Setiawan pindisp@yahoo.com. Bagusnya Anda berkorespondensi sama beliau saja. Kang pindi sudah beberapa kali ke Gua yang dimaksud. karena memang Kang Pindi itu expedisi Ilmiah dalam rangkaian melestarikan situs2 ygn punya nilai sejarah tinggi.
      Mungkin itu saja yang bisa saya berikan informasinya kepada anda.
      Selamat menjelajahi bumi Kaltim.

      • bang gua tebo, gua sungai, gua karim tuh jarak’ya agak dekat pa jauh bang.
        karna tyan pengen mengamati gua yang ada di kaltim bwt pengetahuan di mapala.

      • suyanto hadimihardjo Says:

        Tyan,
        Terima kasih responsnya dan saya salut buat Mapala untuk explorasi gua2 di Kaltim terutama di Bengalon Karst dan mungkin Sankulirang.
        akan tetapi saya mohon maaf tidak bisa menjawab lokasi nama gua tebo, gua sungai dsb. Maklum saya ini baru sekali saja ke sana. soalnya sepanjang tebing karst di sungai bengalon itu banyak sekali gua2 alam.
        saya coba tambahkan 1 gambar yg dibuat oleh National Geographic tentang gua2 di bengalon karst.

        Saran saya coba korespondensi dengan orang yg lebih banyak tahu dan sudah sering ke sana. karena saya pun pernah minta advis sama beliau. namanya adalah Pindi Setiawan alamat emailnya pindisp@yahoo.com. beliau memang sangat pengalaman dan sudah dikenal di Pemda Kutim, karena ada kerja sama pelestarian alam, khususnya peninggalan prea sejarah di Goa2 tsb.
        Saya yakin, Bang Pindi Setiawan akan menjawab semua pertanyaan mengenai hal2 tsb. karena dia juga kepingin kita2 ini peduli untuk dapat melestarikan dan menjaga kelestariannya.
        Kalau boleh tau Tyan dari Mapala mana nih.

      • suyanto hadimihardjo Says:

        Ryan,
        kalau dari peta / gambar National Geographic, maka ada yg di sebut gua Liang Karim dan gua Keboboh. Kalau itu yang dimaksud maka gua2 tsb. masih dalam 1 jajaran perbukitan kapur yang sama. coba perhatikan gambar peta nya. kalau demikian memang jaraknya tidaklah terlalu jauh. hanya saja posisi gua tsb. berada di ketinggian berapa satu dan lainnya. demikian tambahan informasi yg bisa saya berikan.

  3. Ihsan Matondang Says:

    Saat ini saya sedang mencari tim expedisi gua (situs sejarah) peninggalan raja-raja di kab. Mandailing Natal-SUMUT. Karena baru-baru ini saya mendapatkan surat wasiat dari raja kepada ahli waris. Dimana di wasiat tersebut disebutkan tempat pertapaan sang raja pada zaman dulu (zaman animisme), makam dan satu lagi Air terjun hilang (sampuran namago). Dimana lokasi tersebut penuh dengan tantangan karena medan yang berat. Mohon kepada rekan-rekan yang biasa melakukan ekspedisi seperti ini di informasikan kepada kami. 0813-8069-5953 (Tondang)

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Bang Ihsan,
      coba bisa hubungi Pindi Setiawan yag suka melakukan kegiatan expedisi ilmiah, khususnya gua2 pra sejarah.
      Pindi Setiawan adalah tim dari ITB yg sudah sering melakukan expedisi khususnya di Karst Sangkulirang / Bengalon Kutai Timur, Kalimantan Timur.
      silahkan email ke pindisp@yahoo.com siapa tahu beliau berminat dan bersedia membantu.

      Salam.

  4. – MOHON PISAU DICAMPUR BERILLIUM / AKIK
    ( MACAM MODEL PEDANG DARI AKIK .).!!!

  5. Wowww,,, krEeennnn,,,,,,, qw aj yq tIngwal d bEngalOonn,, brUu tw zkrank,, lw da goa2 gtUu,,,,!!
    KrEen,, qw ska ptualangan’a^^

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Kapan2 boleh lah mas Oky dan teman2 juga dapat berpentualang di sekitar Bengalon. Sayang usia saya yang kadang harus berfikir lagi untuk menjelajahi hutan2 dan goa di Bengalon. rekan2 tim saya sdh banyak yang pensiun dan kembali ke jawa.

      Salam

  6. kasih simanjuntak Says:

    saya baru berada di kaltim ini, jujur saya kurang tau banyak mengenai kaltim. tapi setelah saya baca blog ini saya jadi ingin tau banyak mengenai objek wisata disini.
    next time jika ada ekpedisi lagi, boleh saya diajak?

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Dear Kasih S.
      Terima kasih atas komentarnya.
      Saya sendiri masih belum lagi melakukan penjelajahan panjang memasuki goa2 di Kaltim sejak terakhir 2008 di Bengalon. tapi saya yakin goa2 Alam di Kaltim tidak kalah menariknya dibanding goa2 alam di Jawa khususnya, terutama suasana Wild nya. Ada beberapa pegunungan Karst di Kaltim antara lain bengalon Karst dan Sangkulirang Karst. Bengalon Karst sendiri bejajar panjangnya puluhan Km. dan saya yakin masih banyak goa2 alam yang masih belum terjamah dan terkuak untuk di jelajahi kecuali mungkin oleh penduduk sekitar.
      Saya dan teman2 masih mau merencanakan menjelajahi goa2 alam didalam Taman Nasional Kutai (TNK). info ini saya dapatkan dari orang TNK sendiri. dan tujuan kami antara lain mengabadikan dalam bentuk foto dan video. dengan demikian kami berharap agar sebagian hutan di kaltim akan tetap lestari dengan segala isi nya.

      Salam

  7. Pak siapa tahu sedang mau ke goa itu lagi
    Saya mau ikut Pak

    Terimakasih

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Mas Dwi, memang sebelumnya pernah di niatkan mau melakukan perjalanan ke 2 dengan tujuan menelusuri gua2 lainnya. saya yakin masih sangat banyak gua2 alam yg berada di karst bengalon yang belum banyak di telusuri. sayang teman2 se tim sdh pada kembali ke Jawa (pensiun) dan saya juga harus sadar diri bahwa kemampuan dan usia tidak lagi mendukung untuk hal2 pentualangan yg seperti itu.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: