Mbah Maridjan

 

Menikmati cuti berdua dengan sang Istri tentu bukanlah perkara mudah bagi saya. sejak anak2 terkecil menginjak bangku kelas 3 SMP barulah hal tsb. dapat terwujud.  Yogya adalah target yang dituju. selain Kotanya lumayan enak dinikmati, juga sekalian melihat anak tertua yang baru satu tahun menjadi Mahasiswi di Univ. UGM.  Sebetulnya waktu 2 minggu sudah cukup lama untuk dipakai plesiran di Yogya. hanya saja saya dan Istri baru bisa ketemu sang anak pada minggu ke 2. hal tsb. dikarenakan sang anak sedang menjalani masa2 terakir dari eskul yang diambil yaitu outbond atau lebih spesifik lagi olah raga Rafting di sungai.

Hari2 saya lalui berdua istri dengan menginap di sebuah hotel melati di kawasan jl. Kaliurang. kendaraan yang kami pakai sehari2 adalah motor bebek sang anak yang belum genap 6 bulan dari baru nya.

Tidur di tempat kost anak bukanlah keputusan yang bijak. Walau di perbolehkan oleh ibu kost, tapi bagi saya tidaklah layak untuk di tiduri 2 orang, karena kamar tsb. tidaklah besar.

 

Walaupun dibilang jarang, tapi saya tidak tertarik untuk menikmati jalan Malioboro dengan segala hiruk pikuk pedagang dan pengayuh beca serta lesehan di malam hari.

 

Ketika ada kesempatan mengajak keponakan yang masih kuliah di Yogya untuk makan ikan di Mororedjan arah Kaliurang, maka setelah makan saya niatkan untuk meneruskan perjalanan melihat bungker gunung merapi yang pernah menelan korban pada saat terjadi letusan2 kecil dan turunya “wedus gombel” di lereng merapi beberapa tahun terakhir. Perjalanan lumayan dapat di nikmati. kebetulan cuaca waktu itu cukup cerah. dari rumah makan ke tempat bunker memakan waktu kurang lebih 30 menit saja dengan jalur jalan yang sama.

 

Berubah arah.

Ketika sampai disebuah tanjakan tak begitu jauh dari pos restribusi, sang keponakan mulai ragu untuk meneruskan perjalanan. Cuaca waktu itu mulai gelap dan mulai turun hujan. Akhirnya saya berhenti di jl. Rosa. Entah berapa jauh lagi bunker yg dimaksud tiada yang tahu. Ketika melihat ada plang tanda menuju juru kunci merapi, secara spontan saya langsung mengajak istri dan keponakan menuju kediaman rumah Mbah Marijan. Yang ada dalam fikiran saya waktu itu “bukankah meminta ijin ke kuncen merapi untuk melihat bunker itu lebih sopan daripada main selonong saja..

Oleh karena hujan sudah turun, maka kami spontan menyewa payung dari penduduk yang kebetulan lewat. Kurang lebih 50 meter sebelum rumah mbah marijan, hujan tidak lagi turun.

Singkat cerita saya, istri dan keponakan lelaki serta teman wanitanya sudah berada di depan pekarangan rumah mbah marijan. Siang itu suasanya sangat sepi. Di sisi lain tampak sebuah bangunan Masdjid yang terlihat masih cukup baru berdiri kokoh.

Menangkap hal Ghoib.

Kami berusaha mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Seketika saya hendak mengambil foto di lokasi tsb. ketika kamera digital saku saya hidupkan dan mengarah ke bawah. Posisi saya waktu itu persis di pekarangan depan pintu rumah yang ada tulisannya.

 

Ketika kamera digital hidup, saat itu pula muncul seperti kabut hitam di layar monitor. Awalnya saya pikir itu adalah embun yang berada di lensa oleh karena dinginya suhu udara. Namun ketika kabut hitam yang tak berbentuk itu mulai  menari2 ke kiri dan kekanan di layar monitor kamera saya, say ajadi penasara. terus terang saya masih belum mengetahui apa gerangan benda itu. Saat saya sadar hal itu adalah hal ghoib secepat nya saya tekan tombol kamera dan seketika juga lampu kilat kamera menyala. Oleh karena kabut tsb. masih ada di layar monitor, maka saya memanggil istri saya untuk melihat apa yang terlihat di layar monitor. Sayangnya ketika istri saya baru bergerak  1 langkah mendekati saya untuk melihat layar monitor, tiba2 saja bentuk kabut hitam itu melesat menghilang kea rah sisi kiri saya. saat itu pula kamera saya arahkan ke berbagai sudut rumah dan pekarangan untuk mencoba menangkap kabut itu. Tapi kabut hitam itu tidak terlihat lagi. Segera saya mereview hasil jepretan foto tsb. dan ternyata gambar tsb. tertangkap kamera saya.

 

Saat itu, saya jadi agak ragu2 untuk mengambil foto di depan rumah Mbah Maridjan. Saya takut hal itu pertanda saya tidak sopan mengambil gambar tanpa kulonuwun dulu. Keponakan dan teman wanitanya saya perlihatkan foto hasil jepretan saya.

Setelah berjalan kea rah samping rumah, seorang anak kecil menyuruh kami menunggu sebentar dan masuk kedalam rumah mbah marijan yang terletak di rumah satunya yang terpisah dari rumah dimana kami mengetuk pintu. Terus terang saja awalnya kami hanya iseng mau ketemu. Tapi setelah kami dipersilahkan menunggu, kami jadi bingung sendiri. Trus kalau ketemu mau bicara apa ?. entahlah yang pasti kami menuruti permintaan anak perempuan itu untuk masuk kedalam rumahnya.

Didalam rumah yang cahanya sangat redup, terdapat beberapa foto Raja2 Yogya menempel di sepanjang dinding. Ada juga karikatur gambar Mbah Maridjan dan foto2 lain di dinding ruangan. Di meja tampak ada beberapa toples makanan khas yang terbuat dari singkong serta beberapa gelas air mineral.

 

Di sisi dinding lainnya ada 2 buah payung yang dibungkus kain kuningmengkilat dan diantara payung tsb. ada sebuah tombak.

Tidak lama kemudian Mbah Maridjan benar2 muncul di hadapan kami. Kemunculan Mbah Maridjan tentu saja sebuah kehormatan bagi kami, tapi juga menjadi hati tambah nggak karuan mau bicara apa?.

Ternyata Mbah Maridjan sangat sopan walau tidak menggunakan bahasa Indonesia. Saat itu Istri saya yang duduk di samping saya sudah memberikan aba2 agar segera pamit. Padahal Mbah Maridjan belum lagi 3 menit duduk di hadapan kami. Ada kesan Lugu tapi penuh pesona di diri Mbah Maridjan. Sifat nya yang selalu merendah membuat kami tambah bingung karena bahasa yang dipakai bukanlah bahasa yang langsung kami mengerti. artinya penuh dengan perumpamaan.

 

Tertolong tamu yang datang.

Oleh karena Istri saya sudah tidak nyaman dan kami semua sepertinya dalam kondisi yang tidak tahu harus bagaimana meminta pamit, tiba2 saja datang serombongan tamu berjumlah sekitar 5 orang. Tamu itu seperti sudah familiar dengan mbah Maridjan. Yang saya tangkap dari maksud tamu itu adalah meminta doa dari Mbah Maridjan sehubungan dengan keberangkatan beberapa dari mereka ke Luar Negeri. Saat itu pula kami mengambil kesempatan untuk pamitan. Sayangnya ketika saya ingin berfoto dengan Mbah Maridjan, Mbah Maridjan sepertinya menolak dengah halus dengan menggunakan bahasa jawa. Saya berusaha mencoba lagi untuk mendekati Mbah Maridjan yang duduk di kursi, sementara kamera sudah saya serahkan ke keponakan untuk memotret.  Pada saat itu ternyata mbah Maridjan bangkit dan duduk di kursi lain. Saya baru sadar bahwa Mbah Maridjan memang tidak mau di foto. Akhirnya saya minta ijin untuk me foto ruangan tempat kami diterima. Setelah itu kami langsung pamit pulang.

 

Postitif Thiking.

Sekembalinya ke Hotel, saya berusaha untuk memecahkan foto ghoib yang tertatangkap di kamera saya. bentuknya memang abstrak. Agar lebih jelas saya coba lihat via Laptop anak saya. tapi saya masih belum bisa mereka2 bentuk gambar hitam tsb. Kembali ke Bontang anak2 saya sempat melihat foto2 tsb. di kamera digital yang saya bawa.

Entah kebetulan atau apa, ketika foto hasil jalan2 ke Yogya saya upload ke Komputer, jumlahnya ada sekitar 400 foto, maka setelah semua selesai saya hapus foto2 yang ada di kamera digital tanpa mengecek apakah semua foto2 sudah sukses ter upload di computer. Ketika semua foto di kamera sudah terhapus, saya segera mengecek hasil upload di computer. Saya mereview secara cepat foto2 di computer karena waktu memang sudah menjelang tengah malam.  Sebelum saya matikan computer, ada sebuah foto yang yang sepertinya tidak ada di Komputer saya. Foto itu adalah foto ghoib yang berhasil di direkam di kediaman Mbah Maridjan. benar juga. saya menghabiskan waktu hampir 1 jam mencari foto itu di computer. Takutnya salah tempat. Tapi hasilnya nihil. Dari semua foto2 yang berhasil di upload, hanya 1 photo yang tidak ter upload dan foto yang tersimpan di kamera digital keburu sudah dihapus. Ada perasaan nyesal dan curiga dengan Istri. Jangan2 foto itu dihapus oleh istri saya. tapi saya sadar. Jangankan menghapus untuk melihat/review foto di kamera digital saja istri saya tidak tahu caranya. Walahu alam.

 

Pada intinya saya tetap menghargai Mbah Maridjan. tidak ada maksud lain dalam tulisan ini. Mbah Maridjan adalah sosok yang apa adanya, sederhana dengan rambut yang memutih. Pengalaman bertemu langsung dan berbicara dengan Mbah Maridjan adalah pengalaman langka buat saya pribadi. Tentu saja hal ini menjadi top story dari perjalanan menghabiskan masa cuti berdua Istri di Yogya.

 

Kami juga menghabiskan sisa cuti di Yogya dengan mengunjungi goa jepang di kaliurang dimana ketika turun dari bukit, kami diguyur hujan hingga basah kuyup. Tapi hal itu menjadikan perjalanan kian berwarna saja. kemana2 kami berdua naik motor bebek. Mulai dari Prambanan sampai kota Gede, dari gudeg yu Djum sampai gudeg Ibu Acmad, tak lepasa dari bidikan kamera saya. ketangkap polisi karena lampu merah, sampai nyasar di tengah2 kota Yogya. Semua itu tentu menjadikan kulit tubuh saya yang sudah coklat bertambah coklat karena kena sengatan matahari.

 

Bontang Jan 09.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: