Menanti Fajar

Saya terpelanting kesisi kiri perahu kecil itu ketika tiba2 saja lunas perahu menabrak sesuatu dibawah air. Suara benturan terdengar cukup keras. Kebetulan posisi perahu kami berada di sisi tengah sungai yang sedang banjir. Cuaca langit waktu itu cukup gelap dengan awal kelabu yang tebal menggumpal. Hujan baru saja reda beberapa menit yang lalu. Secara reflek saya mencoba untuk berenang kearah tepi. Ransel perbekalan dan kamera video yang saya pegang sudah tidak bisa diselamatkan dan hanyut. Waktu itu saya baru sadar bahwa 2 anak saya pun ikut tercebur ke sungai yang berada di tengah hutan jauh dari pemukiman.

“Arie…!, Dewo…! “teriak saya sambil berenang ke tepian.

“Ya… Ya… Ini Ari pa.. teriak anak saya

“Dewo dimana ?… tanya saya lagi.

“Tidak tahu pah!…

Terus terang waktu itu rasa kekawatiran saya sangat besar sekali terhadap keselamatan anak kembar saya. saya sudah tidak memikirkan lagi si pembawa perahu ataupun barang2 bawa an. Sambil berenang di arus yang deras, saya berusaha menyapu pandangan ke segala arah di sungai mapupun tepi sungai. Tiba2 saja terdengar suara teriakan dari anak saya

“Pah.. Dewo disini “. Saya melihat anak saya Dewo sudah berada di tepi sungai dengan berpegangan di ranting2 dauh yang rimbun di tepi sungai.

“Ok.. semua kepinggir dan naik ke atas” teriak saya lagi. Akhirnya dengan susah payah saya berhasil berenang ke tepi sungai dan dengan merayap diantara dahan2 pohon rindang  di tepi sungai. Saya pun akhirnya menaiki bibir sungai. Saya melihat Ari dan Dewo juga berusaha dengan susah payah merambat di tepian sungai yang rimbun dengan memegang ranting2 pohon untuk mencari bibir sungai yang cukup mudah untuk di naiki. Saya dan anak kembar saya ternyata menepi di pinggir sungai yang bersebrangan. Saya menepi di sisi kiri sementara Dewo dan Ari menepi di sisi kanan sungai.

 

Tak lama terlihat mereka sudah berada di atas bibir sungai dengan badan yang basah kuyup. Saya sendiri tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena kaca mata saya pun ikut terlepas ketika terpelanting dari perahu.

“Ok… Kamu tunggu saja di situ. Ingat perhatikan kondisi sekitarnya” teriak saya. “Dewo, Ari kamu ada yang terluka tidak ?.

“Nggak tau pah. Teriak Ari sambil memeriksa tubuhnya yang basah kuyup.

“Dewo..!” teriak saya lagi.

“Sepertinya nggak apa2 pah. Cuma lecet2 aja nih..”. jawabnya singkat.

“Ok. Tetap di tempat ya. Nanti kalau arus sungai sudah tidak deras, papa akan berenang nyebrang”. Teriak saya.

Arus sungai masih cukup deras untuk di seberangi dengan berenang. Terus terang hanya sebilah belati saja yang masih tersisa terselip di pinggang saya. Saat itu saya mencoba untuk menetralisir kondisi psikologis anak kembar saya dengan mencoba memberikan arahan2 agar sesekali menarik nafas panjang dan berusaha agar mental mereka tidak Down

Dengan mengajak bicara terus.

 

Disisi lain saya juga lupa dengan pengemudi perahu yang ikut tercebur. Saya berusaha berteriak memanggil2 tapi tidak ada sahutan. Di jam tangan saya menunjukan pukul 4 sore hari. Kalau di hitung2 waktu perjalan untuk sampai ke Base camp maka butuh waktu 1 jam perjalanan sungai. Itupun dengan kondisi sungai yang normal, tidak banjir seperti ini.

 

Waktu terus berlalu. Cuaca mendung seperti kian gelap saja. Tumpahan air hujan kadang deras kadang juga rintik2.  Belum ada tanda2 hujan akan segera berhenti. Sementara arus air sungai yang berwarna coklat terlihat bergulung2 saling menerjang sisi tebing sungai.

Dalam menunggu ketidak pastian, saya mulai berhitung, jika saja hujan terus berlanjut dan gelap mulai tiba maka tidak ada alternative lain, saya harus menyebrang sungai dengan berenang untuk bisa berkumpul dengan anak2 saya.

“Dewo, Ari. Kamu tetap di situ ya. Papa mau berenang ke tempat kamu !. teriak saya. Dewo dan Ari tampak mengangguk menerima arahan dari saya. Dengan sedikit ber hati2 saya berusaha meniti jalan di pinggir sungai yang rimbun dengan pepohonan. Harapan saya jika saya berenang dan terbawa arus, maka titik mendarat ke tepi sungai harus berada dimana Dewo dan Ari berada pada posisinya.

 

Ternyata pisau belati saya sangat berguna untuk dapat menebas dan menerobos pepohonan yang berada di tepian sungai. Sesekali saya melihat dan memperhatikan Dewo dan Ari yang mulai terlihat kedinginan dengan memeluk tubuhnya dengan tangan masing2. Ada sekitar 10 meter saya berjalan dari titik dimana saya pertama kali berenang menepi. Cukup lama saya memperhitungkan apakah saya berhasil menyebrangi sungai dengan berenang atau akan gagal dan terbawa hanyut. Tiba2 saja terdengar seperti ranting patah di belakang saya. Seketika saya perhatikan kondisi dibelakang saya. tanaman hutan yang cukup rimbun serta mata yang sudah tidak berkacamata lagi membuat saya tidak bisa melihat dengan jelas ada apa dibelakang saya.  Saya berusaha menarik nafas panjang dan terus memperhatikan sekitarnya. Tidak lama terdengar lagi seperti bunyi ranting patah dibawah. Ketika saya berusaha melihat kebelakang, akhirnya mata saya tertuju ke sebuah benda. Tentu saja saya kaget bukan kepalang. Karena yang saya lihat seperti rahang buaya. Entah buaya atau biawak.  Yang pasti adalah binatang yang lumayan besar berada seiktar 8 meter dari tempat saya berada. Tanpa pikir panjang lagi pisau belati yang saya pegang langsung saya gigit dan secepatnya saya mencoba turun ke tepian sungai untuk berenang. Waktu itu yang ada di hati saya adalah rasa takut yang amat sangat. Juga terbayang wajah Anak kembar saya yang menunggu di seberang sungai.

Dengan tidak menghiraukan lagi dahan2 yang melukai lengan dan tubuh, saya terus berusaha menerobos rimbunan pohon di tepi sungai dan langsung menceburkan diri ke sungai dan berenang sekuat tenaga. Arus di sungai yang kuat membuat saya agak kesulitan berenang menerobos air. apalagi pisau belati masih tergigit kuat dimulut membuat saya tambah susah mengatur pernafasan. Dengan sesekali terminum air sungai, saya berusaha berenang memotong arus menuju ketempat anak saya. dengan bersusah payah, akhirnya saya berhasil berenang ke sisi kanan sungai dimana Dewo dan Ari sepertinya terus memperhatikan ketika saya berenang. Ketika sampai di tepi, buru2 saya ambil pisau belati di mulut dan saya serahkan ke Ari. Waktu itu baru saya bisa menarik nafas panjang. Dewo berusaha memegang tangan saya untuk menarik ke tepi sungai. Sampai di tepi sungai saya langsung tergeletak beberapa saat.

Baju dan di beberapa bagian celana yang saya pakai tampak robek terkena dahan2. Tangan dan sebagian kaki tampak banyak luka goresan2. Sejenak kemudian saya bangun dan langsung memeluk anak kembar saya.

“Maafkan papa ya”. Ucap saya pelan. Tidak ada satu patah kata yang terucap dari Ari dan Dewo untuk menjawab ucapan saya. Setelah istirahat sambil mengecek kemungkinan ada luka di tubuh anak2, saya memutuskan untuk menghindari pinggir sungai dan mencoba masuk ke dalam hutan untuk mencari tempat yang lebih aman untuk istirahat. Waktu itu pikiran saya tidak karuan karena memang tidak tahu harus berbuat apa. Dan tentu saja saya tidak akan pernah bercerita apa yang saya hadapi di seberang sungai sana.

Kami bertiga mulai berjalan per lahan2 menjauhi bibir sungai menuju sebuah bukit batu yang tak jauh. Perjalanan menuju bukit batu pun tidak mudah untuk dilalui. Selain tanah yang becek. Juga kerapatan pohon2 semak dan batang2 serta akar2 pohon yang berlumut membuat saya dan anak2 harus extra hati2. Sesekali saya berhenti untuk mengecek kondisi anak saya. nggak lama terdengar keluhan dari Ari.

“Kamu kenapa Ri ?, tanya saya sambil mendekat.

“Nggak tau nih pa. kaki kiri ari rasanya nyeri kalo dibawa jalan”.  Saya lalu mecoba memeriksa kaki kirinya. Ternyata pergelangan kaki kirinya sedikit bengkak. Tentu saja hal ini membuat dia sulit untuk menapak. Untungnya mereka menggunakan sepatu. Jadi walau sepatunya basah, tapi dapat terhindar dari ranting atau pokok2 kayu di hutan.

 

Waktu itu saya benar2 tidak tahu harus berbuat apa dengan kondisi kaki anak saya yang bengkak itu. Tapi tiba2 saja Ari mengatakan kepada saya untuk meneruskan perjalanan yang tidak terlalu jauh lagi. Dia ahinrya hanya mengandalkan kaki kanan nya untuk menapak. Sementara kaki kirinya diseret nya saja. Akhirnya Dewo mencoba untuk membantu Ari dengan menaruhkan tangan ari ke bahu nya dan mecoba untuk memapah nya. Saya terus berjalan  perlahan sambil melihat situasi sekeliling. Tiba2 saja mata saya tertuju kepada sebuah lobang seperti gua yang ada di sisi bawah bukit batu. Namun belum lagi beranjak jauh tiba2 mata saya melihat sesuatu yang cukup besar dan panjang sedang berjalan menuju kami.

“Awas.. ada ular di depan. Teriak saya pelan. Seketika saja Ari dan Dewo langsung berhenti dan terdiam.

“Jangan bergerak !, ikuti perintah papa ya.. jangan bergerak !.” kata saya lagi. Ternyata Ari dan Dewo pun sudah melihat seekor ular yang sepertinya jenis Phyton sedang merayap sekitar 1 meter di sisi kami. Mata kami terus saja memperhatikan gerakan ular tsb. Begitu juga Ari dan Dewo. Sesekali saya melihat ari tidak tahan melihat ular dan memejamkan matanya.

Saya melihat wajah Ari dan Dewo semakin pucat saja. Akhinrya Ular tsb. perlahan berlalu dari kami. Allhamdullilah.. Allah masih melindungi kami. Pokoknya yang terpikir di benak saya waktu itu adalah saya dan anak2 harus tetap bisa bertahan hidup.

 

Setelah berjalan perlahan2 akhinya kami bertiga sampai juga di mulut sebuah gua kecil yang ada di bukit batu tsb. mulut gua tsb seperti menjorok ke bawah dan gelap. Terus terang melihat kondisi tsb. timbul keraguan di hati saya untuk masuk kedalam. Namun kalau tidak masuk kedalam gua, maka kami bertiga akan tersiram hujan yang belum juga ada tanda2 akan reda. Hujan kadang turun sangat deras kadang berhenti dan gerimis. Begitu seterusnya.

“Kamu tunggu di sini dulu ya. Papa mau menge cek ke dalam”.  Sekali lagi hati saya betul2 takut nggak karuan ketika memasuki pintu gua yang gelap pengap dan tercium bau kotoran kelelawar. Setelah melihat kondisi mulut gua, samar2 terlihat ada tempat yang lumayan datar untuk kami bertiga. Letaknya tidak jauh dari mulut gua di sisi kiri.

Beruntung kami tiba di mulut gua dimana masih ada sinar dari luar. Akhirnya dengan tidak lagi memikirkan kemungkinan2 yang terjadi saya papah Ari untuk masuk kedalam gua dan merebahkannya di pojok dinding. Saya melihat Dewo dan Ari fisiknya kian melemah saja dengan badan yang terlihat sesekali menggigil. Saya sadar mereka lemah bukan karena fisiknya nggak kuat, tapi guncangan psikologis yang membuat fisik mereka drop.

 

Setelah beristirahat sejenak, saya berusaha memeriksa apa saja yang ada dalam saku kantong celana. Allhamdullillah ternyata saya masih menyimpan sebungkus rokok dan korek api yang terbungkus oleh kantong plastik sehingga tidak basah. Saat itu bukan rokok nya yang saya perhitungkan tapi korek api gas.  Namun untuk membuat penerangan dengan api unggun tentu saja sulit mencari kayu2 kering pada saat hujan.

Dengan sedaya upaya saya keluar lagi dari mulut gua untuk berusaha mencari ranting dan daun2 yang tidak terkena air hujan. Lumayan juga beberapa ranting dan daun dapat saya kumpulkan dan saya pun mencoba untuk membuat api. Pada awalnya api susah hidup. Ketika hidup pun cepat sekali mati nya. Saya berusaha mencari kayu atau ranting2 lagi di luar gua. Saya tidak tahu lagi jam berapa waktu itu. Jam yang tadinya masih berada di pergelangan tangan, sepertinya terlepas waktu saya berenang menyeberang sungai.

Saya melihat Dewo dan Ari duduk berdempaetan dengan bersender di dinding gua. Sesekali tampak wajah Ari meringis seperti menahan sakit. Sementara Dewo kadang duduk dengan membukukan tubuhnya serta merangkul kakinya dengan kepala menunduk.

Setelah beberapa ranting kayu kering saya kumpulkan, tak lupa saya juga mencari dahan kayu untuk dijadikan tongkat sebagai senjata untuk mempertahankan diri. Lambat laun suasana di luar kian gelap. Sepertinya hari memang sudah memasuki waktu senja. Hujan sudah mulai sedikit reda. Suara binatang malam seperti serangga mulai terdengar bersahut2an.

Saya pun akhirnya kelelahan juga dan duduk bersenderan di dinding gua. Saya sadar bahwa saya bertiga akan melewati malam yang terasa sangat panjang. Perut pun sudah terasa lapar. Untungnya sebelumnya saya bisa mengumpulkan air yang terjebak di pohon derdaun lebar untuk di minum. Sesekali saya memeriksa kaki anak saya yang terlihat tambah besar saja bengkaknya.

Didalam keheningan malam dimana baju yang kami pakai masih basah dan perut lapar, saya hanya bisa berdiam dan berdoa saja. Ari dan Dewo tampak sudah mulai redup matanya. Sesekali kepala nya terantuk sama lain karena tertidur kecapaian.

“Dewo dan Ari sebaiknya kamu istirahat saja. Mudah2an besok akan ada yang datang menjemput kita”

Tidak ada reaksi dari Dewo dan Ari. Ternyata mereka sudah tertidur kecapaian dengan baju dan sepatu yang masih basah. Mereka duduk berdempetan saling merangkulkan tangan. Kalau sudah begitu tak tahan air mata ini menetes melihat mereka berdua. Saling mengasihi dan saling menolong. Sepertinya bayang2 ketika mereka masih balita muncul lagi di benak saya. juga terbayang bagaimana bingungya Mama nya anak2 di rumah. HP yang saya bawa sudah tidak bisa berfungsi lagi karena basah. Beberapa uang pecahan 50 dan 100 ribuan yang ada di dompet seperti tidak ada artinya lagi dalam kondisi seperti ini. Kamera saku, Video kamera dan ransel pun sudah lenyap tertelan sungai. Tidak ada yang bisa diselamatkan kecuali tubuh sendiri.

 

Malam itu saya berusaha memerangi rasa ngantuk yang sangat kuat menyerang. Saya juga sudah nggak peduli lagi ada binatang apa saja di dalam gua. Yang pasti sesekali memang terdengar suara2 kelelawar. Masih ingat benar ketika saya di beritahu seorang yang berpengalaman keluar masuk gua, agar waspada terhadap binatang2 melata seperti Lipan maupun Kalajengking.

Beberapa saat saya berusaha untuk mempertahankan agar perapian yang saya buat tetap hidup dan menerangi sekitar kami bertiga. Tak terasa ada rasa perih di pangkal mulut kiri dan kanan. Kata anak saya, bibir kiri kanan saya seperti berdarah waktu mengambil dan menyerahkan pisau belati dari mulut saya. ada kemungkinan saya salah menaruh posisi pisau di mulut. Jangan2 sisi pisau yang tajam justru mengarah ke mulut. Entahlah yang pasti mulut mulai terasa perih.

Entah karena sudah kecapaian, beberapa kali saya tertidur dan terjaga kembali. Sampai akhirnya saya tertidur.

 

Entah dalam kondisi sadar atau setengah sadar, ada sesuatu yang melintas dan menyentuh kaki dan tubuh saya. tentu saja saya sedikit reflek untuk membuka mata. Namun apa yang terjadi waktu itu betul2 diluar dugaan saya. Se ekor ular besar tampak berdiri tegak dimana kepala ular tsb. hanya sekitar 2 telapak jari tangan jaraknya dari wajah saya. Waktu itu saya seperti terkesima dan tidak bisa apa2. Boleh dikatakan pasrah habis. Ular tsb. sesekali berdesis di muka saya. api unggung yang saya buat masih meyisakan nyala api sehingga kondisi sekitar masih cukup terang. Sesat saya sadar ketika mata saya tidak lagi melihat sosok Dewo dan Ari di tempatnya. Kemana mereka. Saya benar2 nggak bisa apa. Dan saya pun tidak bisa menebak jenis ular apa yang ada di hadapan wajah saya. kalau sepintas dari kepala dan bentuk kepala ular, sepertinya termasuk jenis kobra. Tapi tubuhnya sangat besar sekali seperti ular Phyton. Tubuh dan sisik ular tsb. tampak sesekali berkilauan terkena sinar api. Dalam kondisi terdesak saya masih berfikir kemana anak saya Ari dan Dewo. Tiba2 saja ular itu kembali berdesis kuat dan dari ke 2 matanya muncul sinar yang sangat menyilaukan mata saya sehingga saya hanya bisa menutup kelopak mata dan berdoa sebisanya.

 

Diantara ketakutan saya dimana saya tetap menutupkan kelopak mata saya, tiba2 saja ada seperti sesuatu masuk kedalam mulut saya. benda itu terasa dingin dna tiba2 ada cairan yang masuk dengan rasa manis.

 

“Hayo diminum dulu madu nya nih..”. tidur kho ngigo nggak karuan….!.

Tiba2 mata saya buka dan terlihat istri saya sedang menyuapi saya dengan sesendok madu.

Saya masih belum sadar betul apa yang terjadi waktu itu. Nafas saya masih ter sengal2 dengan detak jantung yang sangat cepat. Perlahan saya perhatikan sekeliling saya. ternyata saya berada di tempat tidur sendiri.

“Papah ini lho..! tidur kho pake nyebut2 nama Dewo dan Ari segala. Mimpi nya ?…

Ayo minum obatnya nih, biar panas nya cepat turun.. “ kata istri saya lagi.

Allhamdullilah, ternyata saya hanya bermimpi. Tapi saya masih belum yakin betul. Dengan sekuat tenaga saya bangun dari tempat tidur untuk menuju ke kamar Ari dan Dewo. Ketika pintu kamar saya buka, tampak Ari dan Dewo tampak masih tertidur pulas dengan masing2 selimutnya. Saya berusaha menyibak selimut Ari untuk melihat pergelangan kaki nya. ternyata pergelangan kaki nya tidak apa2. Allhamdullilah.

Istri saya yang sepertinya kebingunan melihat saya dengan cepat bangun dan langsung ke kamar anak2. Bingung melihat tingkah saya.

“Ada apa sih Pa…, kho pake melihat kakinya Ari segala. Mereka itu baru saja tidur lagi setelah Sholat subuh..

Saya pandangi istri saya dan saya kecup keningnya untuk kemudian saya kembali ke kamar saya. Tak terasa walau kamar saya ber AC, tapi pakaian yang saya kenakan basah oleh keringat…

“Sholat subuh dulu pa…” kata Istriku.

Saya pun bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air Wudlu.

 

Btg awal Nov 08

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: