Cewek Swiss (Teluk Kaba 1993)

Cukup bingung juga saya mau mengajak guru bahasa inggris si Simon untuk dapat refreshing menikmati suasana Bontang dari sisi lain. Sebetulnya ada rekreasi laut yang dapat dinikmati seperti misalnya main perahu layar atau bermain ski air atau mancing di laut. Sayangnya untuk perahu layar dan ski air sudah cukup lama saya tinggalkan. Selain badan menjadi hitam, juga tidak mudah untuk mengajarkan ke Simon. Di sisi lain saya paling tidak menyukai mancing. Pasti mabuk.

Cukup lama saya mencari ide untuk sekedar jalan2.

Entah apa, tiba2 saya teringat nama “Teluk Kaba”. Teluk Kaba dulunya adalah base Camp perusahaan kayu yang sudah di tinggalkan sejak tahun 80 an dan selanjutnya dipakai untuk konservasi Orang Utan. 

Waktu saya utarakan untuk Jalan2 ke Teluk Kaba dan bermalam. Ternyata Simon sangat setuju sekali. Singkatnya akhirnya saya mengajak Ibu Rini, guru  lokal Bahasa Inggris sebagai pendamping si bule Simon. Saya minta Bu Rini membuat request untuk booking speed boat di Marina. Sudah cukup lama saya tidak menginjakan kaki di Marina. Padahal waktu bujangan hampir setiap sabtu dan minggu menggeluti ski air.

Saya pun menghubungi kantor Taman Nasional Kutai (TNK) untuk memberitahukan keperluan kami sekaligus meminta salah satu Jagawana dari TNK sebagai pemandu kami. Akhirnya kami mendapat seorang pemandu dari Jagawana TNK, sekaligus booking “guest house” yang ada di kawasan konservasi Teluk Kaba. Guest house yang dimaksud adalah sebuah rumah panggung sederhana yang ada di T.Kaba.

Di rumah saya utarakan maksud jalan2 membawa guru bahasa inggris ke Teluk Kaba kepada Istri, termasuk ke ikutsertaan Ibu Rini. Istri saya tidak melarang hanya sebagai wanita dia tetap me wanti2 agar jangan gegabah di hutan.

Sabtu pagi sekitar jam 07:00 saya sudah berada di Boat House diantar oleh Istri. Begitu juga Simon dan Ibu Rini juga sudah berada disana.

Setelah persiapan selesai, kami langsung menuju speed boat milik fasilitas rekreasi perusahaan, yang sudah kami booking sebelumnya. Kebetulan kami mendapat kapal yang cukup bagus, sehingga waktu tempuh dapat lebih cepat.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit menyusuri pantai akhirnya speed boat merapat ke dermaga kecil sederhana di Teluk Kaba.  Sebelum speed boat kembali ke Marina, saya pesan kepada drivernya untuk dapat menjemput besok siang sekitar jam 11:00.

Dari dermaga sederhana ke base camp Teluk Kaba jaraknya sekitar dua ratus meter ditempuh dengan jalan kaki.

 

Sampai di Base Camp ternyata kami telah di tunggu oleh pak Suryansyah, seorang Jagawana yang sempat saya temui di kantor TNK Bontang. Kami lalu dibawa ke sebuah rumah panggung dari kayu yang mempunyai 3 kamar tidur sederhana. Masing2 kamar berisi 2 dipan tempat tidur yang pas sama badan. Kamar mandi dan WC terpisah dari rumah dan berada sekitar 25 meter dibelakang rumah.

Kamar mandi itu terdiri dari 2 bilik mandi yang terbuat dari kayu. Cukup sederhana. Disamping kamar mandi ada sebuah sumur air. Jadi kalau kita mau mandi dsb. kita harus menimba air dari sumur dan dimasukan kedalam bak mandi yang terbuat dari semen. Kebetulan satu bak mandi memanjang dibagi untuk 2 kamar tanpa di sekat. Sehingga agak risih juga kalau kebetulan ada 2 orang yang mandi bersamaan. Soalnya bayang2 orang yang mandi disebelah bisa terlihat dari air bak mandi

 

MENCARI JEJAK ORANG UTAN

Sesuai skenario, maka setelah istirahat sejenak, kami memulai perjalanan untuk menyusuri pohonan bakau dan memasuki hutan untuk melihat sarang Orang hutan. Sebetulnya waktu itu kawasan konservasi Orang Utan di Teluk Kaba sudah dipindahkan ke Wanariset Samboja Kukar. Sehingga yang ada hanya tersisa beberapa kandang Orang Utan  yang sudah kosong.

Setelah me lihat2 bekas kandang orang utan, kami melanjutkan perjalanan dan mulai memasuki kawasan hutan. Hutan disekitar Teluk Kaba masih cukup lebat. Walau di siang hari, sinar matahari agak sulit menembus dan terhalang pohonan yang rimbun. Di beberapa tempat tampak lumut hijau menyelimuti batang2 pohon yang besar2.

Terus terang saya 100% mengandalkan pak Suryansyah untuk menelusuri hutan di Teluk kaba. Saya sama sekali buta dengan medan hutan disekitar Teluk Kaba. Tapi saya benar2 sangat menikmati suasananya. Kalau sekilas dilihat, masih lumayan banyak batang pohon berdiameter lumayan besar berdiri tegak dan menjulang tinggi. Kalau di sekitaran pantai, hutan bakau nya masih cukup asri. Selain besar dan rindang populasinya masih cukup banyak dan rimbun.

Selama menyusuri hutan, kami kadang harus menerobos dibawah pokok kayu yang tumbang oleh usia. Sesekali kami berhenti dan memperhatikan pucuk2 pohon besar. Biasanya di atas pucuk2 pohon besar di ketinggian 20 s/d 30 meter terdapat sarang Orang Utan. Benar juga kami akhirnya menemui beberapa sarang Orang Utan yang sudah di tinggalkan penghuninya.

Sebetulnya kawasan hutan teluk kaba termasuk kawasan hutan yang menjadi lintasan sekawanan Orang Utan dari arah Taman Nasional Kutai atau sebaliknya.

Selama perjalanan saya berusaha untuk mengingat kembali bentuk tanaman pasak Bumi yang masih banyak tumbuh di kawasan ini. dulu waktu masih suka masuk ke hutan, saya sangat hafal dengan tanaman pasak bumi.

Sesekali saya mengambil daun dari pohon yang saya perkiraan adalah pasak bumi. cara saya menebak pohon pasak bumi adalah dengan mengunyah sekilas daunnya yang rasanya pahit. Beberapa kali saya salah tebak, tapi beberapa kali saya menemukan pohon pasak bumi yang sebenarnya. tingginya sekitar 40 cm dari tanah. tapi walau sekitar 40 cm tingginya dari tanah, pohon tsb. cukup sukar untuk dicabut begitu saja tanpa dikorek dulu tanahnya. Kata orang Pasak bumi adalah tanaman obat kuat. Tapi bagi saya biasa saja.

Ada sekitar hampir 2 jam kami berjalan secara looping, akhirnya kami keluar kembali dari hutan kembali ke Base camp.

Simon tampak sangat antusias dan menikmati sekali perjalanan itu. Oleh karena kami di hutan, maka bahasa inggris yang saya pakai pun bahasa inggris tarzan. Simon kadang kebingunan dengan bahasa inggris yang saya pakai. Lucu juga si Orang Inggris yang satu ini. Kalau lagi tidak suka atau marah sama murid2nya, muka nya memerah.

Sayang sekali selama di hutan kami tidak menemukan 1 ekor pun orang utan.

 

MUNCULNYA BIDADARI.

Sampai di Base camp, saya langsung mecopot sepatu dan duduk santai di teras rumah panggung. Tidak lama dari semak2 di depan rumah, muncul 2 ekor Kijang. Orang Kaltim nyebutnya Payau.

Saya terus memperhatikan payau tsb. dalam hati saya payau tsb. pasti sudah jinak karena sepertinya tidak takut dengan manusia.

Lambat laun payau itu berjalan perlahan menuju teras dimana saya sedang duduk santai sambil makan roti yang saya bawa sebagai bekal.

Benar juga payau tsb. terus berjalan mendekati saya dengan menaiki tangga teras rumah. Walau sepertinya jinak, tapi saya terpaksa berdiri dan sedikit mundur ke belakang. Mulut payau itu seperti mengendus sesuatu dan mendekati tangan saya. akhirnya saya sadar bahwa payau  itu mungkin ingin merasakan roti yang sedang saya makan. Saya sodorkan roti ke mulutnya. dan seketika itu pula roti ditangan saya disambarnya. Melihat kondisi menarik ini saya segera masuk kedalam untuk mengambil roti yang ada di meja. Tidak tahunya sebelum saya keluar membawa roti, payau itu sudah setengah badan masuk ke rumah mengikuti saya. Tentu saja saya usir keluar tapi tetap saya berikan roti. Sesekali saya elus2 kepala payau itu. Payau satunya yang berukuran kecil sepertinya tidak berani mendekati rumah. dia masih sekitar 5 meter dari rumah.

Sedang Asyik2nya mengelus kepala payau, tiba2 dari arah depan yang terdapat jalan setapak muncul sesosok tubuh mungil berkulit putih dengan ransel di pundaknya. Wow… cewek bule rupanya. Akhinrya dia menyapa saya dan ikutan duduk di teras. Dari parasnya. lumayan cantik lah. Namanya Sofie, warga Swiss. Rokoknya Malboro.

Saya sempat bertanya kho

bisa sampai ke Teluk Kaba. Tau darimana ?. Akhirnya cewek yang bernama Sofie mengeluarkan world travel book Guide nya. Wah.. ternyata Teluk Kaba masuk dalam buku tersebut sebagai kawasan konservasi Oran Utan. Hebat juga yang buat buku itu. Namun sayang tidak di update. Sehingga agak berbeda dengan kenyataan yang ada.

 

Saya baru tahu kalau sebetulnya Sofie sudah lebih dahulu datang ke Teluk kaba. Dia datang sendirian dengan menyewa perahu ketingting dari Bontang, 1 hari sebelum kami datang.

Tidak lama Simon dan Ibu Rini muncul dan ikutan ngobrol.

Setelah itu  saya tidak banyak bicara sama Sofie, yang banyak ngobrol justru si Simon dan Ibu Rini.

Naluri lelaki, membuat saya sesekali memandang wajah Sofie dan kakinya yang putih mulus dan sesekali di pijatnya sendiri.

Betul2 Cantik. Jari kakinya mungil. Kalau saja dia minta tolong saya untuk memijat kakinya, wah 3 jam pun saya mau. benar2 sempurna dimata saya.

Sofie sebetulnya juga heran dengan kami bertiga. Tapi Ibu Rini menceritakan siapa kami ini.

Sebagai orang yang memang suka dengan hutan, ada sedikit kecurigaan saya terhadap Sofie. Masa iya turis datang dari jauh sendirian ke Teluk Kaba yang boleh dikatakan kurang exsotik bila di banding dengan tempat lain.. Mungkin saja dia dari Jaringan LSM Internasional dibidang kelestarian hutan. Itu hanya dugaan saja saja.

Akhirnya saya membuang jauh kecurigaan itu. Saya lebih banyak menikmati wajahnya yang mungil tapi cantik. Sesekali Simon berbicara dalam bahasa Jerman dengan Sofie. Kalau sudah begitu saya nggak tahu apa yang dibicarakan.

Lama sekali kami ngobrol di teras. waktu itu masih cukup siang.

Tiba2 pak Suryansyah muncul dari samping rumah dan menawarkan kami untuk melihat burung2 laut kembali ke sarangnya di sekitar hutan bakau sore hari nanti. Tentu saja kami setuju berat dengan tawaran itu.

 

MEMANTAU BURUNG LAUT.

Tak terasa begitu asyiknya kami mengobrol, akhirnya pak Suryansah sudah muncul kembali di hadapan kami untuk membawa kami melihat burung2 laut.

saya kembali mengenakan sepatu dan topi. Arah jalur yang akan kami lalui ternyata berbeda dengan hutan bakau yang pernah kami lalui pagi tadi.

Awalnya saya pikir hanya nonton burung2 laut kembali ke sarangnya di hutan bakau dari pinggir pantai. Ternyata dugaan saya salah besar. Pak Suryansyah membawa kami blusak blusuk memasuki hutan bakau. Sepatu ini kadang tenggelam diantara akar2 bakau. Waktu itu saya betul2 terpaksa extra waspada. Terutama mata harus awas. Tentu saja yang saya takutkan adalah ular pohon bakau dan kemungkinan buaya muara. Tapi pak Suryansyah bilang tidak ada buaya. Sedangkan soal ular dia tidak bilang apa2.

Kami berjalan ber iringan2 sambil memegang dahan2 bakau. Waktu itu saya berada paling belakang. Sayangnya waktu itu Sofie tidak mau ikutan jalan2 meilhat burung2. Sofie bilang dia mau istirahat.

Wah, kalau tahu begitu saya pun ingin istirahat saja sama Sofie…

 

Setelah sekian lama kami berjalan, akhirnya pada suatu titik saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Pada satu kawasan hutan bakau saya melihat banyak sekali burung hinggap dan bersarang di pohon2 bakau. Ada yang berwarna putih seperti kuntul perak, ada juga belang2 hitam putih. Suaranya sangat berisik. Bukan main damainya burung2 itu.

Ada sekitar 40 menit kami mengamati sebelum pulang kembali ke base camp.

Betul2 kawasan yang lestari buat burung2 laut.

 

Sampai di Base Camp, waktu menunjukan pukul 5:30 sore. dan saya kembali duduk istirahat diteras. Waktu itu saya tidak melihat Sofie. Mungkin masih asyik tidur.

Tidak lama di Kejauhan nampak ada 3 orang datang menuju rumah panggung kami.

Tampak 2 orang asing laki perempuan dan 1 orang Indonesia.

Setelah datang dan berkenalan, ternyata mereka itu warga Negara Jerman ditemani oleh pemandu dari TNK. Saya tidak tahu apakah mereka turis atau LSM. Kalau dibanding parasnya Sofie, wah cewek jerman yang baru datang itu masih kalah. Hanya menang tinggi dan langsing. Agak lumayan seksi tubuhnya.

 

BAGI KAMAR TIDUR

Oleh karena Guest House atau base camp Cuma ada 1 rumah berkapasitas 3 kamar tidur, maka akhirnya saya memutuskan untuk 1 kamar dengan Simon, Ibu Rini dengan Sofie dan 2 orang Jerman itu menempati 1 kamar lagi. Sementara pak Suryansyah tidur di rumah lain yang dijadikan pos/kantor Jagawana.

 

Hari menjelang sore. badan ini rasanya memang harus dibasuh dengan air.

Ah ternyata kebetulan sekali Sofie keluar dari kamar dan langsung menuju kamar mandi. Sofie saat itu menggunakan celana pendek se paha dan shirt tipis membuat saya sedikit menahan nafas. Sepintas saya jadi ter ingat bintang film cewek dari Amrik. Meg Ryan. Mirip banget.

Waktu itu Sofie sempat bertanya ke saya, apakah saya sudah mandi.

Kalau saya jawab belum, bisa2 dia minta tolong ngisikan air di bak dari sumur. Atau mungkin ngajak mandi bareng. dasar otak kotor…

Saya katakan saya belum mandi. Masih keringatan.

ternyata dia harus menimba dulu air dari sumur untuk mengisi bak air yang kosong. Kalau mau nekad sih bisa aja. Paling tidak melihat bayang2 tubuhnya dari air bak mandi yang terbagi dua.

Secara naluri kelakian memang pikiran itu sangat kuat menghantui saya. tapi secara naluri kebapakan bahwa saya sudah punya istri dan anak. Akhirnya saya hanya bisa menuggu Sofie selesai mandi.

 

Melewati waktu malam, Sofie lebih banyak ngobrol dengan Ibu Rini serta banyak mencari tahu tentang wisata alam di pulau Sulawesi. Sepertinya dia mau melanjutkan ke Sulawesi. Sementara saya dan Simon lebih asyik membakar ayam,yang sudah diberi bumbu hasil racikan Istri.

Sambil membakar ayam, saya iseng menyoroti lampu senter saya ke hutan sekeliling. Wah ternyata Payau yang tadi pagi makan roti saya, kini berada di lapangan semak dibelakang rumah sambil terus makan rumput.

Sesekali saya melihat diantar dahan pohon, ada sepasang mata yang bergerak dan molocat dari satu dahan ke dahan lain. Kata pak Suryansyah itu kemungkinan kucing hutan. Sementara si 2 orang jerman setelah masuk kamar tidak lagi keluar2 kamar sampai kami mengakhiri obrolan malam dan tidur.

 

KEJUTAN SUBUH

Tentu saja walau badan seharian di genjot jalan di hutan dan pegal2, tidak membuat saya betah tidur sampai siang.

Subuh saya sudah bangun. Saya ingin menikmati keadaan alam apa adanya dipagi itu sambil duduk diteras. Suara burung yang bersahut sahutan, dan suasana khas hutan sangat terasa. Kabut tipis dan aroma hutan membuat saya betah memandang hutan yang ada di depan rumah.

 

Seketika terdengar pintu kamar terbuka. Tentu secara reflek saya menoleh kedalam kearah suara derit pintu. Bukan main terkejutnya saja saat itu.Sesuatu pemandangan yang benar2 diluar dugaan saya.

Ternyata pagi itu Cewek Jerman keluar dari kamar menuju ke Kamar mandi dengan hanya memakai celana dalam dan kaos ketat gantung. Pada saat itu sejujurnya saya jadi malu sendiri dan langsung saya alihkan pandangan mata saya ke hutan yang ada di depan rumah.

Tapi di sisi lain sebagai seorang lelaki, ada bisikan lainnya yang mengatakan “lho mumpung gratis kenapa tidak dinikmati saja,kan tidak ada yang tau”

Subuh itu benar2 membuat saya pusing. Apalagi membayangkan yang tidak2.

Sesaat saya memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan teras, dan berjalan kearah dermaga Sambil melihat burung2 laut berterbangan diatas kepala.

Lama sekali saya memandangi laut yang kebetulan airnya lagi tenang. Ada sekitar 1 jam saya duduk di tepi pantai. Serasa nikmat sekali mengagumi Ciptaan Allah.

Pikiran tentang Cewek Jerman yang mengenakan pakaian minim itu memang sesekali muncul di otak. Mungkin saja bagi dia itu biasa. Tapi tentu tidak buat saya.

Kembali dari dermaga, ternyata Simon, Sofie dan Ibu Rini sudah bangun dan duduk2 di teras sambil menikmati kopi.

Pagi itu kami segera akan berkemas2 pulang. Sofie pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Samarinda dan Balikpapan.

Oleh karena tidak ada kapal yang membawa dia kembali ke Bontang, akhirnya Sofie setuju ikut dengan kami menggungakan speed boat dan kami akan mengantarkan sampai ke terminal bus antar kota.

Jam 10:00 ternyata sang Driver speed boat sudah sampai di Teluk Kaba. kami kembali ke Bontang sekitar jam 10:30.

Ada sedikit kejutan ketika sofie melihat speed Boat kami sandar di dermaga. Ternyata dia tidak mengira akan menggunakan Speed Boat. Dari wajahnya tampak suka cita menikmati deburan ombak yang memecah lambung speed boat. Sofie duduk di depan dengan mengenakan kacamata hitam. Yang sedikit heboh, ternyata dia membuka baju dan celana panjangnya. Jadilah dia ber bikini duduk di dek depan speed boat.

Wah tambah cantik saja gadis Swiss itu. Mau tidak mau saya terpaksa ngalah duduk di belakang dan menghadap belakang.

Sebelum sampai di Boat House Sofie mengenakan lagi celana panjang dan baju kaosnya.

 

Sampai di Boat house, ternyata istri dan 2 anak saya sudah lama menunggu. Istri saya awalnya sempat ter heran2 ada cewejk bule ikut dalam rombongan kecil kami. Namun setelah saya beritahu dia mengerti. setelah itu kami langsung cabut menuju ke terminal bus dengan menggunakan Hardtop tua kesayangan saya.

 

Sebetulnya tidak ada yang istimewa dalam cerita ini, namun yang sangat luar biasa adalah ketika saya kembali lagi ke Teluk Kaba 2 tahun kemudian ketika saya dan rombongan jip melalui jalur darat jalan2 ke teluk kaba.

Apa yang saya lihat benar2 mencengankan. Hutan yang dahulu lebat kini sudah gundul. Sejauh mata memandang hanya ada alang2. Kawasan Sarang burung2 laut pun sudah terbuka.

Saya sempat menanyakan kepada Jagawana yang tinggal di situ, kemana payau2 jinaknya. Mereka katakana sudah lama di curi dan dipotong orang. Bahkan ada petugas Jagawana yang justru di kroyok dan di kejar2 sama perambah hutan.

Sungguh situasi yang

sangat ironis sekali. Bahkan beberapa rumah panggung yang ada di Teluk Kaba pun akan dibakarnya jika saja tidak ada polisi yang datang membantu. Waktu itu memang aksi perambahan kawasan TNK lagi marak2nya.

Walau demikian saya masih sempat sedikit terhibur, manakala mendapati se ekor anak Orang Utan yang berhasil di selamatkan dari aksi penyelundupan satwa langka. Anak orang utan itu lebih suka bermain di kolong rumah panggung.

Waktu itu saya membawa anak2 saya untuk menikmati Board walk yang ada di hutan bakau Teluk Kaba sekitar tahun 2003 lalu.

Mudah2an hutan yang kian gundul tidak bertambah parah lagi. Terus terang agak susah sekarang ini untuk membanggakan hutan Kaltim. Sebagian sudah berubah fungsi menjadi lahan perkebunan ataupun tambang batubara dan tambang2 lainnya yang katanya demi mensejahterakan masyarakatnya. Padahal dari mulai buka tambang sampai tambang di tutup, masyarakatnya ya  masih tetap saja begitu saja.

Saya bukan siapa2. dan saya tidak bisa berbuat apa selain berdoa dan membagi cerita seperti ini.

Siapa tahu si Sofie akan datang lagi ke Bontang ???

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: