Misfala

(Pengamalan Menunaikan Ibadah Haji)

 

Sebagai urutan terakhir dari Rukun Islam yang harus di penuhi oleh seorang Muslim atau Muslimah yang sudah mampu adalah menunaikan Ibadah Haji ke tanah suci Mekah. Tentu saja arti mampu dalam hal ini adalah mampu secara financial dan mampu secara fisik dan mental.

Memang tidak sedikit seorang muslim dan muslimah yang sudah mampu semuanya tapi belum menunaikan Ibadah Haji, kadang selalu bersandar pada kata2 “Saya belum panggilan”, “Masih belum siap” bila seseorang bertanya kapan berangkat Haji. Kata2 itu sebetulnya lebih mencerminkan belum adanya keseriusan dari muslim dan muslimah yang sudah mampu. Bukankah Allah selalu membuka pintu kebaikan untuk umatnya. Apakah panggilan itu harus berupa seperti wangsit ? (jawa), atau ada kejadian spiritual tertentu dsb ?.  sebetulnya bila mana syarat2 itu sudah terpenuhi bukankan otomatis itu sudah dipanggil ?. manusia memang selalu mencoba mencari pembenaran sendiri untuk setiap alasan yang dibuatnya.

 

Dalam kondisi lain, kadang kalau kita di undang ke suatu tempat oleh seseorang, entah itu acara pesta, dsb. bagi sebagian Muslim dan Muslimah jawaban yang paling banyak di ucapkan adalah “Insya Allah” yang arti umumnya adalah “Jika Allah Mengijinkan”. Tidak ada yang salah dalam jawaban itu. Tapi akan menjadi salah bilamana waktu nya telah tiba, kita tidak ada acara lain tidak ada halangan transpotasi dsb. tapi tiba2 kita malas untuk datang. Pada saat itu sebetulnya Allah sudah memberikan keringanan dan Ijin kepada orang itu tapi tidak digunakan. Jangan se kali2 bicara atau  membuat alasa Allah tidak mengijinkan menjadi pembenaran untuk kita tidak datang. tapi memang kita saja yang malas.

 

Perjalanan menunaikan Ibadah Haji bagi Umat Islam tentu tidak bisa disamakan dengan misalnya Ziarah bagi umat agama lain. Ziarah ke tempat yang dianggap suci dalam kontek agama juga ada dalam Islam. Tapi Ibadah Haji adalah sebuah kewajiban untuk umat Islam yang harus di penuhi, tentu saja bila sudah memenuhi syarat2 yang berlalu.

                                

Boleh dikatakan sudah lebih dari 10 tahun belakangan ini, jemaah calon haji tidak mudah untuk mendapatkan seat ke Mekah. Tentunya untuk ukuran perjalanan ONH biasa. Banyak daerah2 yang sudah over quota dalam jumlah jemaah calon haji. Artinya kalau seorang jemaah calon haji sudah punya uang, siap fisik dan mental belum tentu bisa dapat berangkat pada tahun depan walau sudah membayar lunas ONH nya. kondisi beberapa tempat misal seperti di Kal-Tim. Sepasang Jemaah calon Haji yang mungkin sudah menabung dalam tabungan haji atau setor uang ke Bank, bisa jadi baru bisa berangkat ke tanah Suci 3 – 4 tahun mendatang, sesuai urutannya. Atau dia terpaksa pindah menggunakan jalur dari Propinsi lain yang mungkin quota nya masih belum penuh. Bisa dibayangkan bila harus menunggu lama. Bisa jadi fikiran dapat berubah. uang untuk haji yang sekarang lumayan besar mungkin mulai di utak atik dan di timbang2 lagi dengan membandingkan dengan Jika aku belikan emas dulu, jika saya belikan rumah, mobil, renovasi rumah, investasi tanah dsb. Wah… bisa runyam juga tuh rencana.

 

Sudah banyak ulasan tentang Haji, baik dari buku yang di jual, Ceramah para Ustad dan Kyai atau dari media masa baik cetak dan elektronik, semua itu intinya ingin memberikan gambaran bagaimana cara berhaji yang ditutunkan Rasul, tips2 ber haji, dsb.  Tentu saja ditambah cerita2 pengalaman pribadi masing2 Jemaah yang baru pulang menunaikan Ibadah haji.

 

Bagi saya saat ini adalah 10 tahun sudah sejak menunaikan Ibadah Haji bersama istri dan orang Tua. Boleh dikatakan bahwa ONH pada periode saya adalah ONH yang termurah dalam sekitar 10 tahun terakhir. Waktu itu adalah tahun 1998 dimana awal terjadinya resesi ekonomi, ONH waktu itu sekitar 8 juta saja. namun akhirnya pemerintah meminta untuk ditambah 1 juta rupiah lagi. Karena adanya krisis moneter pada awal kejatuhan Orde Baru. ONH tahun 1999 sudah meingkat tinggi sekali sekitar 18 – 24 juta rupiah. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 9 juta rupiah. Tentu saja nilai 9 juta rupiah itu jangan disamakan dengan sekarang. 9 juta waktu tahun 1998 juga tidak sedikit. Kalau tidak salah ingat jumlah jemaah calon Haji dari Indonesia pada tahun 1999 anjlok dibanding 1998. Hal itu karena ONH naik hampir lebih dari 100% dan masih dalam masa krisis Ekonomi.

 

Ber Haji memang perjalalan “Multi Dimensi” karena bukan saja perjalan spiritual tapi juga perjalanan yang menguras tenaga secara phisik, emosional dsb. Masing2 Jemaah hampir boleh dikatakan mempunyai pengalaman spiritual yang unik entah itu baik entah buruk. Sebagai contoh yang rada extreme yang pernah saya dengar dari cerita adik. Bahwa ada seorang anak yang berangkat haji bersama keluarga dengan cara dipaksa oleh orang tuanya. Ketika sampai di mekah dimana Ka’Bah berada, konon si anak tsb. tidak melihat ada Ka’Bah di tengah di tengah Masdjidil Haram tapi bisa melihat yang lain. Benar atau tidaknya cerita itu walahualam. Kalau soal tersesat itu adalah kejadian yang paling umum dialami jemaah.

 

Banyak sekali kisah yang saya alami ketika melaksanakan perjalanan Haji saya bersama istri dan orang tua. Berawal dari permintaan orang tua saya yang hendak melaksanakan ibadah Haji. Oleh karena saudara2 belum ada siap sebagai calon jemaah sekaligus mendampingi orang tua, maka akhirnya saya yang diminta untuk mendampingi orang tua.

 

Kalau dibilang siap atau belum siap, maka saya memang belum siap. Khususnya untuk biaya ONH. Saya memang merencanakan 2 tahun kedepan mau menunaikan ibadah haji. Jadi waktu dimintai tolong itu tabungan saya masih jauh dari cukup. Walau akhirnya ortu membayari ONH saya, maka tetap saya belum bisa menutupi ONH untuk istri saya + dana untuk anak2 yang saya tinggal. dari sisi lain Anak2 saya ada 4. Yang besar baru kelas 4 SD dan yang terkecil baru masuk play group. Istri saya cukup mengerti dan tidak memaksa untuk pergi Haji. Tapi terus terang saya tidak tega dan berkeras agar istri ikut juga menunaikan ibadah haji.

Entah memang saya diberikan kemudahan oleh Allah, maka ada saja rezeki pada waktu yang tidak panjang itu untuk dapat melunasi ONH istri. Tentu saja saya  dengan catatan : saya membawa uang saku apa adanya.

 

Oleh karena kloter haji Ortu tidak sama dengan domisili saya maka saya terpaksa didaftarkan menjadi penduduk di tempat kelompok haji. Waktu itu system nya siapa mendaftar cepat dia dapat.

Bisa di bayangkan orang sudah mengantri di depan loket sejak dari malam hari. Waktu itu saya dibantu oleh sanak saudara lainnya. Manasik haji saya lakukan terpisah dan saya tidak pernah tahu orang2 di kelompok saya kecuali pada saat pemberangkatan dari sebuah mesjid di Parung Bogor ketika hendak ke tempat karantina di Asrama Haji Pondok Gede. Ada hal yang sangat saya khawatirkan waktu itu adalah bahwa Ibunda baru saja sembuh dan masih dalam proses terapi akibat beberapa tulang ekornya retak karena terjatuh ketika menerima telp dari saya. jadi selama hampir 2 bulan lebih sebelum keberangkatan ibu saya dipasang alat penyangga di pinggang. Alat itu baru dilepas 1 minggu sebelum keberangkatan. Syukurlah dokter dapat mengijinkan ibunda berangkat haji,

Berbeda dengan kondisi Bapak saat itu dalam kondisi fit walau sudah tua. Setiap pagi latihan jalan dan memang hal itu sudah biasa dilakukannya. Terus terang Bapak lebih dan sangat PD akan kondisi fisiknya.

Oleh karena kami 1 kelompok dengan orang2 yang mayoritas adalah warga parung, maka mau tidak mau saya mengikuti sebagian tips yang sudah di sepakati kelompok. Seperti membawa beras yang dimasukan kedalam jerigen plastic 5 liter. Wah pokoknya bawaanya macem2 deh.

 

Berita duka sebelum Keberangkatan.

Hari keberangkatan saya dan istri ke Jakarta ternyata dibalut dengan duka bagi keluarga besar dari Mertua. Pagi hari kami mendapat berita adik ibu istri telah meninggal di Jakarta. padahal adik atau ibunda dari istri cukup berperan dalam mengasuh anak2 saya. karena beberapa waktu lama ikut tinggal dengan saya. Hanya berselang 1 jam sejak informasi meninggalnya adik ibunda dari istri, kini giliran Uyut (Da’tu) nya nya anak2 yang kebetulan ikut berkumpul di rumah saya. mendengar anak yang di sayanginya meninggal maka tiba2 saja Da’tu tak sadarkan diri dan saya sendiri yang membawa ke UGD).   Hari itu saya dan istri tetap berangkat ke Jakarta. akhinrya hanya berbeda 1 hari saja Da’tu nya anak2 yang juga sering menginap di rumah saya itu, menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Menjelang keberangkatan, sekali lagi saya di wanti2 oleh kakak2 dan adik untuk menjagai Ibu agar tidak terjadi sesuatu apa2 pada pinggangnya. Terus terang itulah yang menjadi beban terberat saya dan Istri.

Setelah pelepasan di Mesjid parung, bis kami langsung menuju Asrama haji Pondok Gede untuk bermalam. Alhamdullilah di pesawat B747 double decker, kami ber empat mendapat tempat duduk paling depan masing2 2 seat sisi kiri dan kanan. Tentu saja ini cukup nyaman dan lega dibanding bila dapat posisi di tengah.  Penerbangan hampir 10 jam langsung dari Halim ke Jeddah memang cukup membosankan buat saya. karena hanya duduk, makan, tidur. Tentu saja kewajiban2 sholat tetap di laksanakan. Mendarat di Jeddah kami tidak ke Mekah tapi ke Madinah untuk sholat Arbain.

 

Walau tempat penginapan ke Masjid Nabawi cukup jauh untuk berjalan kaki dan dinginya pagi hari cukup menusuk sampai ke tulang2, namun ternyata ibu saya sangat menikmati dan tidak mengeluh soal pinggangnya, termasuk berziarah ke tempat2 yang bersejarah pada masa perjuangan Islam.

 

Bagi saya dan Istri, ternyata ada hiburan tersendiri berkumpul bersama kelompok haji dari daerah Parung Bogor yang rata2 orang dari kampung sekitarnya. Bahasa yang mereka pakai adalah campuran bahasa Betawi dan sedikit ada sunda nya. selain usia mereka hampir sama seperti usia Ayah dan ibu Saya, mereka baik2 semua. Kalau mereka sudah kumpul ngobrol, saya seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjungan lenong betawi yang memang saya suka. Jadi saya dan istri sering ketawa melihat, mendengar logat bicara, banyolan dan tingkah mereka. Betul2 saya dan Istri terhibur.

 

Hambatan2 yang muncul.

Setelah Arbain kami segera menuju ke Mekah dan kami mendapatkan lokasi penginapan yang bernama Misfalah. Cukup jauh juga jika berjalan kaki ke Masjidil Haram. Ada 2 jalur jalan ke arah Masjidil Haram. Pertama lewat terowongan entah apa namanya dan satu lagi lewat jalan yang munculnya di sisi kanan Hotel Hilton. Tentu saja kami lebih suka melalui terowongan yang tidak lebih ramai. Jarak tempuh dari penginapan ke Masjidil Haram lewat terowongan sekitar 15 – 20 menit jalan kaki.

Di penginapan oleh karena saya dan Ortu sudah kenal baik dengan kepala rombongan, maka saya ber emat ditempatkan di kamar paling depan di lantai dasar. Mungkin saja kepala rombongan tsb. sudah mengetahui kondisi ibu saya yang baru sembuh dari sakit dan masih dalam teraphi. Gedung yang kami tempati sebagai penginapan di Mekah maupun Medinah adalah gedung yang cukup tua yang berada tidak jauh dari jalan besar.

 

Terus terang selama kami di Tanah Suci, kami sudah tidak lagi ingat akan anak2 kami yang masih kecil2. Anak2 kami titipkan kepada mertua yang datang dari Balikpapan.

 Setiap hari saya berangkat ke Masjidil Haram berdua sama Ayah kadang ber 4 sama istri dan Ibu. Kadang mereka duluan bersama rombongan ibu2 lainnya. Waktu itu nggak kepikiran untuk melihat barang2 dagangan. Soalnya memang tidak ada niat belanja. Di sela2 waktu kosong seperti biasa kelompok kami melakukan ziarah2 atau melakukan umrah yang dimulai dari beberapa titik yang telah di tentukan.

 

Entah mulai hari ke berapa, ayah saya sudah mulai kelihatan cukup payah untuk berjalan. Nafsu makan sedikit2 mulai berkurang. Kondisi yang berbeda justru di perlihatkan ibu saya. Atas pemeriksaan kesehatan dan pertimbangan dokter kloter akhirnya Ayah saya terpaksa harus dirawat di rumah sakit Indonesia yang letaknya saya lupa tapi memang jauh dari penginapan. Hal ini tentu tidak terbayanghkan sebelumnya oleh saya dan membuat beban saya lebih berat lagi. Oleh karena Ayah harus dirawat inap di rumah sakit Indonesia Mekah, maka mau tidak mau saya harus mendampingi beliau selama perawatan sedangkan istri saya serahkan tugas untuk mendampingi dan menjaga ibunda selama saya di rumah sakit.

 

Rumah Sakit Indonesia Mekah.

Rumah sakit Indonesia di Mekah  menempati sebuah gedung yang cukup tua berlantai 3(?). kami harus menggunakan taksi untuk dapat mencapai lokasi rumah sakit tsb. dari tempat penginapan kami.

 

saya lupa di lantai berapa ayah saya di tempatkan. Kalau tidak salah lantai 2. Masing2 lantai terdiri dari beberapa kamar, dimana setiap kamar di isi dengan ranjang2 tempat tidur. Seperti rumah sakit kelas III.

Waktu itu saya dan ayah saya rasanya betul2 di uji kesabaran. Bagaimana tidak, kamar yang tidak terlalu besar ukurannya di isi sekitar 4-6 ranjang tidur dan sudah ada penghuninya. Saya sendiri terpaksa berputar otak untuk mencari tempat untuk merebahkan diri istirahat jika kebetulan ayah saya sedang tidur nyenyak. Di saat itulah saya dengan mata kepala sendiri melihat kondisi2 yang diluar yang saya perkirakan. Ada beberapa jemaah calon Haji yang sudah beberapa hari tidak di tengok oleh kelompoknya atau oleh istrinya. Suara batuknya2 yang parau seperti tidak pernah selesai. Makanan yang diberiukan pihak rumah sakit seperti tidak di sentuhnya.

Sedih juga saya melihatnya. Kadang saya ajak ngobrol jemaah tsb. di sisi lain ada jemaah yang dengan seenaknya saja membuang ludah maupun “umbel” ke lantai. sementara di kamar mandi beberapa kotoran manusia seperti kececeran di lantai. Melihat kondisi tsb. Ayah saya betul2 tidak bisa makan. Saya sendiri kalau mau mengikuti kata hati juga nggak mampu untuk makan makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Tapi demi semua akhirnya saya paksakan makan.  Beberapa hari di rumah sakit akhirnya saya mulai terbiasa melihat kehidupan dan kesibukan rumah sakit. Ada kamar seperti sel. Ternyata diperuntukan jemaah yang mengalami stress yang cendrung bisa membahayakan orang lain. Ada juga jemaah yang stress tapi tidak terlalu menggangu orang lain. Jemaah itu hanya jalan2 kesana kemari sambil ngomong sendirian. Ternyata penyakit stress itu tidak mengenal pangkat dan martabat serta status sosial jemaah. Yang saya tahu ada seorang wanita yang berdinas di Kepolisian mengalami stress hebat sehingga harus tetap di kawal. Sementara di pojok pekarangan parkir depan ada sebuah rumah kecil yang baru saya tahu adalah tempat menyimpan Jenazah sementara bagi jemaah yang wafat. Dimalam hari saya mengobrol dengan para sukarelawan yang terdiri dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di Arab, Syiria dsb.  Ada juga setiap hari saya melintasi sebuah kamar yang pintunya terbuka dimana terlihat seorang lelaki tidur ditemani oleh istrinya. Hari ini saya tidak melihat lagi. Ternyata seorang perawat yang saya kenal bilang jemaah itu sudah wafat beberapa waktu lalu. Inna Illahi wa Inna Lillahi Roji’un.

Oleh karena saya sudah mulai berkenalan dan mengenal sebagian perawat ataupun pekerja rumah sakit, maka saya akhirnya mendapat akses untuk makan bersama mereka di lantai paling atas, khusus untuk pekerja rumah sakit. Tentu saja menu nya lebih Indonesia.

 

Sungguh sebuah pengalaman yang sukar saya hapus begitu saja selama beberapa hari di Rumah Sakit tsb ,bagi para perawat dan Dokter2, mereka harus melayani para pasien dari berbagai daerah dengan tingkah laku bermacam2 dan belum tentu bisa berbahasa Indonesia. Belum lagi setelah di kirim ke rumah sakit selanjutnya tidak di jenguk2 oleh kelompok atau saudara/istri/suami/anak yang mungkin kebetulan ikut berangkat haji. Bisa dibayangkan betapa sedihnya dan tambah stressnya mereka itu. makanan standar yang diberikan rumah sakit yang belum tentu cocok dengan kesukaan mereka. Tapi itulah yang saya lihat dan alami selama beberapa hari tinggal di rumah sakit menemani Ayah.

 

Oleh karena waktu wukuf di Arafah sudah dekat, maka saya mau tidak mau harus meninggalkan ayah saya sendirian di rumah sakit. Terus terang saya hanya bisa berpasrah diri menghadapi situasi seperti itu. Saya hanya berharap agar ayah saya tetap mau makan dan mengisi perutnya dengan makanan atau Buah2an sudah saya siapkan terlebih dahulu. Sedih juga meninggalkan ayah sendirian di rumah sakit. Ayah saya betul2 seperti bukan ayah saya yang di Jakarta. Tubuhnya begitu lemah ditambah suasana kamar yang jauh dari bayangan saya dan ayah Tapi saya menyadari bahwa itu semua bagian dari perjalanan Spiritual Haji yang harus dihadapi.

 

Selama Wukuf di Arafah saya tinggal ber tiga saja dengan ibu dan istri. Pihak rumah sakit menjanjikan akan men-safari wukuf kan bapak saya kelak pada waktunya. Setelah wukuf kami lanjutkan lagi ke Mina untuk Jum’roh. Disana pun saya masih tetap bertiga bersama istri dan ibu. kami terus terang kami tidak tahu kondisi ayah kami di rumah sakit.  Selama di padang Arafah dan mina, kami tidak kesulitan akan buah2an. Karena saya & istri kebetulan kenal baik sama seorang anak arab yang menjadi penjaga penginapan yang ikut serta ke Arafah dan Mina. Di sela2 waktu senggang di mina saya keluar tenda untuk sekedar mengobrol sama mereka. Dan akhinrya mereka mensuply kami dengan buah2an jeruk & apple yang diambil dari dapur kloter untuk diberikan kepada kami bertiga. Padahal kami tidak memintanya. Hal itu membuat jemaah lainnya sedikit ter heran2 melihat saya sering menerima buah2an. Ada kejadian lucu ketika mau tidak mau saya harus menjadi pemandu ketika ibu2 dari rombongan kami yang sudah cukup tua2 akan melakukan jum’roh. Saya sendiri memutuskan tidak memilih waktu yang paling afdol karena memperhitungkan faktor keselamatan mereka. Setelah selesai jum’roh saya bawah kembali mereka pulang, tapi saya merasa jalur yang saya lalui saat pulang bukan jalur yang biasa saya lewati. Benar juga akhirnya di suatu titik ada petugas2 haji yang menghadang kami untuk kembali ke jalan pulang yang benar. Petugas itu sudah tahu bahwa jalur itu tidak ada maktab atau perkemahan jemaah Indonesia. Wah yang namanya tubuh mau berputar balik saja minta ampun susahnya. Hal tsb. karena sangat padatnya manusia berjalan. Akhirnya kami tiba dengan selamat di maktab kami. Saya tidak tahu apakah ibu2 ngedumel dengan saya atau tidak. Tapi sepintas mereka seperti enjoy aja jalan kaki ramai2.

 

Di waktu senggang saya pun mencoba untuk mendaki bukit batu yang ada disekitaran maktab perkemahan kami. Setelah mencoba mencari jalan untuk naik ke bukit, akhirnya saya menemui jalurnya. Wah ternyata tidaklah mudah untuk mendaki bukit2 batu itu. Tempat pijakan kaki itu batu2 kecilnya sering longsor. Hal itu membuat saya menjadi ketar ketir sendiri. Tapi rasa penasaran saya lebih kuat untuk dapat sampai di puncak.  Akhinrya saya dapat mencapai puncak juga. sungguh indah pemandangan ke arah tenda2 maktab yang ada. Ada juga tenda2 yang ada di puncak2 bukit itu ternyata adalah tenda para jemaah haji juga. tapi individu dan sebagian dari golongan ekonomi pas2an. Entah dari mana mereka itu. Kalau dari wajahnya sepertinya bisa dari Afrika, India atau Pakistan.

 

Kembali ke Penginapan di Misfala, saya segera di antar kepala rombongan untuk menjemput ayah saya di rumah sakit. Di rumah sakit itulah saya bertemu dengan jemaah dari tempat saya bekerja. Kebetulan ada salah seorang ayah dari teman kantor yang juga harus dirawat. Sementara saya juga mendengar bahwa ada 1 orang dari jemaah dari kelompok tempat saya bekerja wafat di Mekah. Tentu saja hal itu membuat kepala rombongan menjadi pontang panting mengurus segala macam di rumah sakit King Adul Aziz.

 

Ambulance Nyasar

Oleh karena ketua kelompok masih ada keperluan lain maka dia tidak bisa mengantarkan saya dan bapak saya sampai ke penginapan. Saya melihat kondisi ayah saya masih cukup lemas dan sepertinya masih belum kuat berjalan jauh. Setelah ketua kelompok menyelesaikan urusan dengan rumah sakit, kami mendapatkan sebuah ambulance untuk mengantar ayah saya. dalam ambulance ada 1 orang pasien lain yang terlihat lebih sehat dari ayah saya. Ayah saya ditempatkan di tempat tidur ambulance. Selama di perjalanan ayah saya hanya bisa merapatkan matanya saja. sungguh drop kondisi fisiknya. Lama kelamaan saya mencium sesuatu didalam ambulance. Bau itu seperti bau kotoran manusia. Akhirnya saya sadar bahwa mungkin ayah saya buang air besar di celana. Untungnya saja pasien lain yang duduk di belakang sudah lebih dahulu turun di suatu tempat. Ketika masuk wilayah misfala yang sedikit saya kenali, ternyata ambulance tidak langsung menuju ke penginapan kami, tapi mampir lumayan lama di posko Kloter lain. Tentu saja hal itu membuat kondisi ayah saya makin kurang enak. Ada keinginan untuk melanjutkan sendiri ke tempat penginapan. Tapi kalau mau dibawa jalan kaki masih jauh. Alhamdullilah hati ini masih bersabar ditengah pegangan erat ayah saya ke tangan saya. tak lama Ambulance kembali meluncur ke jalan. Namun entah bagaimana ternyata ambulance salah jalan. Dan entah bagaimana mereka seperti enggan kembali memutar karena berada di jalur jalan layang dan menyuruh kami untuk turun. Daripada saya kesal dengan supir ambulance akhirnya saya turun di tepi jalan. Bau kotoran manusia di dalam ambulance memang sudah cukup menyengat. Tapi saya tetap cuek saja dengan kondisi itu.

Tempat dimana ambulance berhenti dengan tempat penginapan kami tidak terlalu jauh. Sekitar 200 meter saja. setelah beristirahat sejenak di trotar dan saya tanya apakah ayah saya sanggup jalan pelan2. Ternyata dia menyanggupinya. Namun ketika baru berjalan 5 meter. Ayah saya minta istirahat lagi begitu terus sampai 3 kali. Akhirnya saya melihat ayah saya sudah kehilangan tenaga dan kian pucat saja wajahnya.

 

Terpaksa di gendong

Oleh karena tempat penginapan sudah cukup dekat, maka tanpa pikir panjang saya langsung saja menggendong Ayah saya.  saya jadi ingat masa kecil waktu main kuda2an sama teman2 bermain dengan cara menggendong teman di dari belakang.

Ayah saya menurut saja ketika saya gendong. Sementara bau kotoran manusia sudah saya tidak pedulikan lagi. Padahal saya melintasi daerah ramai menyebrang jalan raya. Sesekali saya harus berhenti untuk sekedar istirahat. Selain menggendong ayah, saya juga harus membawa tas yang berisi pakaian kotor ayah saya.  saat itu ayah saya hanya bisa merangkul leher saya saja tanpa mengeluarkan kata2.  Terus terang saya sudah nggak peduli lagi sama keramaian di jalan. Saya ingin ayah saya cepat sampai di penginapan.

Di depan penginapan beberapa penjaga yang warga arab bingung melihat saya menggendong ayah saya. tidak lama Istri dan Ibu saya keluar dari kamar untuk menolong saya memapah ayah saya. Akhinrya Ibu langsung membawa ayah ke kamar mandi untuk segera membersihkan tinja yang ada di celana nya. sekilas saya melihat ibu sangat telaten sekali memandikan ayah yang hanya bisa duduk di klosed dengan mata yang masih menutup.

 

Berangsur2 akhirnya kesehatan dan tenaga ayah saya mulai membaik. Namun demikian ibu saya terpaksa tidak dapat menunaikan Ibadah 5 waktu di Masdjidil Haram karena harus menunggui ayah saya di penginapan. Jadi sholatnya ibu di penginapan.

 

Hajar Aswad.

Salah satu titik yang paling rawan dan mungkin tidak akan pernah sepi jemaah sampai akhir jaman adalah di Hajar Aswad. Sebuah batu hitam yang menempel di sudut Ka’bah yang menjadi rebutan jemaah untuk mencoba menciumnya. Selama ayah di rumah sakit, setelah sholat Isya, saya, istri dan ibu selalu bersitirahat sejenak sambil melihat banyaknya jemaah berkumpul dan saling berebutan untuk mencium batu hitam itu.  Pernah suatu saat seseorang datang ke saya dan menawarkan untuk membantu mencium Hajar Aswad dengan imbalan 25 Real, tapi saya tolak secara halus.  Saya pun pernah beberapa kali mencoba mencium bersama istri dan Ibu. Untuk menjaga ibu dari kemungkinan desakan dan dorongan dari jemaah lain, maka say amengatur posisi didepan, ibu ditengah dan istri saya di belakang. Beberapa kali upaya itu gagal. Terakhir walau sudah tinggal beberapa meter lagi dari batu hitam, namun kami terpaksa batalkan karena areah tempat kami berpijak akan dibersihkan oleh tim kebesihan. Akhinrya dengan tidak menyesal kami urungkan niat untuk mencium batu hitam itu.

Di sekitar dinding Ka’bah kami juga melihat dengan mata kepala sendiri beberapa jemaah melakukan ritual yang menurut kami tidak benar. Seperti menggosokan sajadah ke kiswah dsb. pokoknya aneh2 lah.

 

Saat hari2 terakhir di Mekah maka saya melihat ayah saya masih belum mampu untuk melaksakan Tawaf Wada di Masjidil Haram. Saya pun sedikit khawatir kalau saja ayah saya terpaksa menggunakan tandu yang dibawah oleh pekerja2 berkulit hitam yang besar. Dana yang harus di keluarkan sekitar 400 Real. Namun pada hari2 tertentu yang sangat padat maka uang jasa tsb. bisa sampai 600 Real. Berbekal nekad akhirnya saya ke posko Kloter untuk dapat menyewa kursi roda yang ada.  Sampai di sana akhirnya saya malu sendiri ketika petugas kloter menolak uang tips yang saya berikan ketika kami dapat pinjaman kursi roda tanpa bayar. Saya bersyukur hati petugas2 tsb. tidak silau dengan uang. Akhirnya saya melaksanakan tawaf Wada Ayah saya di lantai 2 yang tidak begitu ramai. Allhamdulilah akhirnya semua kegiatan2 Ibadah Haji Insya Allah telah kami lakukan dengan baik.

 

Ternyata menuju hari kepulangan kami ke Indonesia, kesehatan ayah saya bertambah baik. Sehingga ayah saya sempat berkata kalau nanti sudah sampai di rumah, ayah saya sudah minta di pesankan sate dan Gulai Kambing..

Sebelum kembali Jakarta, semua kloter haji harus masuk dahulu ke Asrama di Musdalifah di kota Jedah. Gedung itu sangat tua. Tidak ada pendingin ruangan. Yang cukup mengejutkan saya adalah saya melihat beberapa jemaah haji baik wanita dan pria seperti bukan pulang dari Ibadah Haji. Khususnya ketika hendak ke kamar mandi. Ada yang pake kain saja. yang laki2 memakai celana pendek berkeliaran di jalan dsb. Terus terang saya tidak terlalu peduli sama mereka. Saya hanya berkonsentrasi ke ayah saya yang mulai mengeluh tentang panasnya udara di dalam kamar2 tidur.

Bersyukur kembali di pesawat Boeing 747 kami mendadap seat di lantai 2 yang lebih bagus dan nyaman dan terbatas daripada lantai 1.

 

Sampai di Bandara Halim Perdana Kusuma, semua barang2 bawaan sudah ada yang mengurus dari pengurus kelompok pengajian di Parung bogor. Oleh karena perjalanan yang cukup melelahkan dari Jedah sampai di Indonesia maka kondisi ayah saya kembali drop. Di Parung keluarga sedikit kebingunan melihat kondisi ayah saya. apakah mau dibawa langsung ke rumah sakit atau tetap ke rumah. Mendengar anak2nya akan membawa langsung ke rumah sakit, ayah saya menolak mentah. Akhinrya kami membawa ayah ke rumahnya. Pada saat itulah saya dan istri baru merasakan kangen berat sama anak2 yang hampir sekitar 30 hari kami tinggalkan.

 

Perjalan Haji itu memang perjalanan multi dimensi. Dimana fisik dan spiritual kadang bisa sejalan dan kadang bertolak belakang. Semua itu tidak bisa di prediksi. Hanya doa dan niat luhur saja yang akan banyak membantu kelacaran ibadah Haji. Banyak orang bercerita dari A sampai Z tentang pengalaman2 pribadi yang unik2. Itu tak bisa dipungkiri bisa benar adanya. Tapi janganlah hal tsb. menjadi halangan untuk takut ber ibadah Haji karena mungkin dosa2 yang selama ini.

Mumpung jantung masih berdetak, mumpung masih ada nafas… dan Allah tidak pernah tidak memanggil umatnya untuk ber Haji…  Laksanakanlah Ibadah Haji. Walau saya akui lebih berat mempertahankan daripada melaksanakan Ibadah Haji itu sendiri.

 

Alt Nov 08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: