Oh emas hitam ku ?

Sungguh kaget saya ketika membaca berita pada media cetak Kompas terbitan 5 Nov 08 pada halaman utama sebelah kanan.” PLN akan import batu bara”. Tentu saja dari dari luar negeri. Apa nggak salah nih judul beritanya. Sedikit saya cuplikan isi berita tsb.

 

Rabu, 5 November 2008 | 05:14 WIB

“JAKARTA, KOMPAS – PT Perusahaan Listrik Negara akan mengundang pemasok batu bara dari Australia, China, India, dan negara lain. Upaya impor dilakukan karena sejumlah pembangkit listrik berbahan bakar batu bara gagal memperoleh pasokan dari produsen domestik.”

 

Bagaimana saya tidak kaget dan merasa lucu membaca berita itu. Saya tinggal di Kalimantan timur sudah lebih dari 20 tahun. Sedikit banyaknya saya tau dengan salah satu sumber daya alam yang tak tergantikan yaitu tambang batu bara. terutama di Kaltim. Tambang batu bara juga banyak di Kalimantan Selatan. Juga terdapat di Sumatera. Baik dari penambangan skala besar yang dikelola perusahaan besar seperti KPC dan INDOMINCO di bumi Kutai Timur. Tambang batubara juga ada di sebagian wilayah kabupaten Kutai Kertanegara dan beberapa tempat lain. Ada juga penambangan batubara skala menengah yang ijin nya di keluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat atau penambangan secara tradisional oleh masyarakat yang sebagian di jual dalam bentuk batubara dalam karung (karungan). Itupun belum yang termasuk yang katagori abu2 yang belum jelas ijin nya.

Deposit batubara di Kalimantan atau Kaltim khususnya bukanlah sedikit, itupun sebagian belum di explorasi. Adanya berbagai kepentingan yang saling berbenturan seperti sumber batubara berada dalam kawasan hutan lindung, dsb. Juga terjadi tarik ulur berbagai kepentingan antara bisnis yang menggiurkan dan pelestarian alam lingkungan.

 

Seorang yang pernah saya temui adalah bekas pekerja bagian Environmental di perminyakan selama 15 tahun dan di batubara selama lebih dari 10 tahun. Dia katakan bahwa kalau perusahaan besar yang mengelola tambang batubara maka dia yakin paskah penambangan, lobang2 bekas galian akan di tutup lagi. Tapi bagaimana dengan penambangan skala kecil menengah dengan luar areal sekitar 100 – 200 hektar yang katanya ijinya bisa dikeluarkan oleh kepala daerah setempat. Tidak ada jaminan bekas galian berupa kolom2 atau kulit bumi yang dikupas dan menjadikan kubangan besar di tutup kembali sesuai perjanjian kontrak. Katanya lagi sebagian besar kontraktor ngemplang perjanjian dengan pergi menghilang begitu saja ketika dirasa batubara sudah mulai habis di tambang. Trus gimana dengan study Amdal sebelumnya. Kalau sudah begini nggak semudah menulis buku.

 

Lantas kenapa PLN gagal membeli batubara yang notabene sangat banyak di tambang di Kalimantan maupun Sumatera. Tentu saja yang utama adalah tidak ada kesepakatan soal harga jual beli. Di sisi lain sebagian hasil tambang batu bara yang ditambang di Kalimantan di jual ke luar negeri tentu saja dengan harga yang cocok.

Menurut info yang saya baca di media cetak bahwa 74 persen produksi batubara Indonesia justru diekspor dan hanya 25,33 persen sebagai konsumsi domestik.

 

Hebatnya lagi harga batu bara dalam negeri lebih mahal dari Import ? (Ausie). Tentu hal tsb. terkait dengan kwalitas kalori. Tapi dengan ukuran kalori yang sama, apa iya harga dalam negeri lebih mahal dari Import. Menurut data yang saya baca di media cetak, tawaran harga batubara dalam negeri sekitar 116 Dolar/Ton. Tapi Harga yang ditawarkan Ausie sekitar 94 – 96 dolar/Ton (US$). Namun harga itu masih dipertanyakan juga, apakah benar harga import lebih murah.

 

Kalau dibanding dengan minyak mentah, dulu Indonesia yang saya tahu menjual minyak mentah kwalitas tinggi seperti “Minas” ke pasar internasional, selanjutnya membeli minyak yang kwalitasnya sedikit dibawah minyak Indonesia dari timur tengah seperti Iran dengan harga lebih murah untuk di olah menjadi BBM. Pemerintah mempunyai keuntungan dari perbedaan nilai jual minyaknya. makanya dahulu beberapa kilang minyak di Jawa dibangun untuk spek minyak dari timur tengah. Tapi mungkin sekarang sudah dipakai untuk memproses minyak dari bumi Indonesia sendiri.

 

Batubara hampir 10 tahun belakangan ini memang terus diminati kembali oleh para Investor baik lokal maupun Internasional, hal itu se-iring dengan terus meningkatnya harga minyak mentah di pasaran Internasional. Harga yang bagus menjadikan mereka yang bergerak di bidang batubara seperti ber lomba2mengeruk emas hitam, meningkatkan produksi baik dari yang resmi sampai yang liar sekalipun. tentu saja harga jual juga dipengaruhi dengan kwalitas kalori batu bara itu sendiri.

 

Bukan rahasia lagi kalau sekarang ini harga energy dunia mulai dirasakan mahal oleh para konsumen. Baik konsumen terakhir (end user) maupun konsumen yang menggunakan bahan tsb. untuk menghasilkan energy lain seperti listrik dsb.

Dan dunia batubara saat ini sangat menjanjikan uang yang sangat menggiurkan. Seorang saudara yang belum lama bekerja di batubara, entah punya saham atau gimana, walaupun belum begitu lama bekerja di batubara, dengan mudahnya dapat membeli sebuah rumah cukup mewah di kawasan Pondok Indah. Padahal saudara saya yang lain yang bekerja di perminyakan dengan posisi yang lumayan bagus, belum sanggup untuk membeli rumah di lokasi tsb.

Masih ingat ketika seorang artis wanita yang katanya pernah nikah siri dengan Seorang penyanyi dangdut laki2 terkenal, pernah tidak mau mengaku ketika ditanya apakah dia nikah dengan salah satu raja batubara dari Kal-Sel berinitial “AJ”. Yang saya tahu AJ itu berlimpah uang dengan hasil batubara. pokoknya luber rupiah deh.

Bisnis batubara juga telah membuat beberapa teman saya seperti ter sirep dengan iming2 keuntungan besar, dimana uang tabungan & pesangon yang jumlahnya ratusan juta akhirnya melayang entah kemana di tipu orang karena kena rayuan untuk menanam saham di dunia yang dia tidak mengerti sama sekali.

 

Saya tidak katakan betapa serakahnya pengusaha2 batubara itu. Terutama yang beroperasi di sekitar jalur sungai Mahakam Kaltim. ketika tiang2 utama jembatan Mahulu II beberapa kali ditabrak ponton pengangkut batubara yang hilir mudik di sungai Mahakam. Maka kerugian Pemda ditaksir sekitar 30 Miliar. Sampai saat ini sepertinya Pemda Kaltim kesulitan menagih uang kerugian tsb. apalagi para pengusaha mengatakan di media cetak lokal bahwa hanya sanggup membayar 50% saja. namun di sisi lain nilai batubara yang ada di ponton yang hilir mudik di sungai Mahakam itu konon sudah bilangan 6 digit dalam kurs dollar Amrik. Gile bener…!

 

Kalau sudah begitu terus hasil bumi dan tambang dari bumi Indonesia bukan lagi untuk kemakmuran rakyat Indonesia, tapi kemakmuran sebagian rakyat Indonesia yaitu bagi para pengusaha tambang itu sendiri dan sebagian kecil masyarakat tertentu saja.  Apa memang begitu ?.

 

Seorang teman yang mengerti bisnis batubara mengatakan bahwa dia pernah diminta sebagai nara sumber dalam sebuah forum di sebuah kabupaten di Kalimantan timur yang sedang memperdebatkan perlu tidaknya dan untung ruginya dibukanya tambang batu bara di daerah tsb. forum itu dihadiri beberapa unsur seperti DPRD, Pemda, LSM serta kelompok2 mahasiswa. Intinya tentu saja sebagian untuk menaikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan Power Plan tidak perlu membeli batubara dari tempat lain tapi dari hasil tambang tsb.

tentu sudah menjadi maklum bahwa akan terjadi banyak kepentingan dalam forum itu. Baik yang Pro dalam rencana explorasi tambang maupun Kotra yang sebagian besar adalah para kelompok mahasiswa. Pada prinsipnya sesuai keahlian dan pengetahuannya tentang pertambangan batu bara, maka hasil paparan teman saya itu menyatakan banyak ruginya dalam jangka panjang jika dibuka nya tambang batu bara. Sudah barang tentu dengan berbagai alasan logis dan tentunya ilmiah. Hal itu tentu di sambut dan di dukung oleh kelompok mahasiswa. Tapi bagaimana kelanjutan rencana itu, teman saya tidak tahu lagi. Dia datang dan di undang hanya sebagai nara sumber bukan orang yang mempunyai kekuasaan untuk memutuskan.

 

Kembali ke Indonesia dimana PLN sepertinya krisis pasokan batubara untuk PLTU di beberapa tempat, khususnya di pulau Jawa. Batubara dibutuhkan untuk memasak air dalam Boiler (ketel) dan menghasilkan steam untuk disalurkan ke turbin generator.

 

Adalah sesuatu yang nggak logik dimata saya melihat situasi itu. tapi tentu saja sangat logik sekali bagia para pengusaha tambang batu bara, kususnya kecocokan harga jual beli.  Yang tidak logic adalah membeli batu bara dari luar negeri, padahal di negeri sendiri batu bara cukup melimpah. Entahlah apakah ada system subsidi untuk batubara.

Seandainya saja PLN Jadi membeli Batubara dari Australia,.India atau China misalnya, maka akan berbeda situasinya dengan China. China memang negara yang banyak punya tambang batubara. Tapi konon china tetap juga mengimport batubara dari negara lain agar deposit batubara di negaranya tidak cepat habis. Entahlah apa informasi yang saya dapat ini benar atau tidak. Yang pasti kemungkinan kegagalan PLN untuk memasok listrik yang dikarenakan tidak adanya pasokan batu bara akan menjadi ancamam serius pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berantai, khususnya di Jawa. (biasanya memang jawa yang di utamakan). Kalau di Kalimantan mungkin PemProv nya di suruh mikir sendiri2 dulu.

 

Kalaupun nanti para pengelola tambang batubara dipaksa harus mensuply batubara ke PLN dengan harga dibawah harga pasaran internasional, bisa jadi akan banyak penyelundupan batubara ke LN untuk di jual. Saat ini saya sedikit yakin penyelundupan atau penyelewengan itu pun mungkin sudah ada. Hal yang sama pernah terjadi untuk pupuk. Karena harga pasaran LN lebih bagus daripada di dalam negeri.

 

Jawa adalah barometer dari berbagai aspek kehidupan dan sebagainya. Walau bagaimanapun juga Jawa harus diprioritaskan, entah itu sarana Jalan, kecukupan listrik, kecukupan pangan dan Beras. “Pokoknya harus terpenuhi terlebih dahulu lah..!. (istilah kata “pokoknya” cukup popular di jaman Orde Baru).

 

Semoga saja para pemimpin negeri ini dan yang menamakan dirinya Wakil2 rakyat dapat lebih jernih melihat kondisi ini, terutama kantong saku masyarakat daripada kantong saku pribadi masing2. Tidak takut dengan kemungkinan tekanan dari kartel2 pengusaha2. Begitu pula dengan pemimpin2 Kepala Daerah di semua wilayah Indonesia.

Kekurangan pasokan Listrik, menjadikan Indonesia akan lebih jauh tertinggal dari Negara tetangga. Kalau tertinggal jauh, Indonesia bukan saja tidak dihargai, tapi bisa jadi di lecehkan. Masih ingat kasus Ambalat dimana, dimata saya Negara Jiran kita seperti mau mempermainkan emosi rakyat dan wakil rakyat dengan bermain di laut. Belum lagi hutan perbatasan yang konon sudah menjadi rahasia umum dimana patok batasnya berpindah dan hutan nya di tebas habis.

 

Masih ingat ketika saya masih kecil, lebih banyak melihat lokomotif uap dimana bahan bakarnya adalah batu bara yang di letakan dibelakang loko dalam bentu kereta bak terbuka. Asap hitam mengepul dari cerobong loko. Bunyinya tut tut tut..

Siapa mau ikut. Ke Bandung – Surabaya.

 

Ayo para pemikir dan yang menamakan dirinya mengabdi untuk bangsa ini, segera tuntaskan problema ini dengan tetap menghargai prinsip bisnis yang adil.

Jangan lebih banyak memakai Slogan, seperti 100 tahun kebangkitan Nasional banyak orang mengepakan tangan keatas seraya berucap “Sudah saatnya dan kini kita harus bangkit”. Ucapan itu sudah basi. 10 bahkan 15 tahun lalu sudah sering di ucapkan. Kenapa harus menunggu hari kebangkitan Nasional. Tidak Korupsi saja itu sudah cukup membantu.

 

tambahan sumber data: KCM

7 Oct 08

Alt

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: