Hebohnya Buku “Laskar Pelangi”

Tidak bisa di pungkiri kalau buku hasil tulisan Andrea Hirata “Laskar Pelangi” sudah menjadi fenomena yang sangat menarik. Banyak sudah ulasan baik dari acara nya “Kick Andy’ di Metro TV, demikian juga tulisan2 yang mengulas awal perjalanan buku “Laskar Pelangi” dari berbagai sudut pandang. Bahkan sebuah buku yang menuliskan tentang Fenomena itu pun juga sudah beredar. Bayangkan saja cetakan pertama buku Laskar Pelangi dikeluarkan tahun 2005. tahun 2008 film nya dibuat dan diputar dan sangat laris manis tapi juga bukan film murahan. Semua kalangan usia senang menonton film tsb. 

 

Saya sendiri tidak ingin mengulas tentang buku “Laskar Pelangi” karena memang saya tidak mempunyai kapasitas apalagi kemampuan untuk mengomentarinya.  Tapi dampak buku itu saya rasakan sampai masuk kedalam keluarga saya. yaitu ke salah satu anak saya.  Saya tidak tahu mulainya dari mana. Sebetulnya anak saya itu menurut pendapat saya jarang membaca buku2 seperti itu, kecuali majalah2 Otomotif lokal maupun Ex Import.  Namun ketika dia membeli buku “Laskar Pelangi” akhirnya dia terus memburu buku2 tulisan Andrea Hirata yang lainnya seperti “Sang Pemimpi” dan “Endesor”. Wah jangan tanya kalau dia sudah membaca buku2 itu. Padalah sebelumnya dia nggak seperti itu. Beberapa waktu lalu dia mencoba meminta saya untuk mencarikan buku “Maryamah Karpov” tapi waktu saya cari di toko buku Gramedia Balikpapan. buku itu tidak ada. entah belum terbit atau sedang habis.

 

  Mengenang soal buku novel, yang saya ingat sebelumnya ada juga sebuah novel yang cukup meledak dipasaran. Penulisnya wanita. Kalau tidak salah judul bukunya adalah “Andromeda”. Tapi setelah itu sepertinya saya tidak melihat lagi ada sebuah novel yang meledak di pasaran.

 

  Laskar Pelangi bukan saja sebuah novel tapi merupakan kisah nyata. Demikian kata anak saya.  Terus terang saya sendiri belum pernah membaca nya, tapi pernah sedikit mengikuti acara nya Kick Andy tentang “Laskar Pelangi”. “Laskar Pelangi” begitu menyihir dari mulai anak2 sampai para pejabat Tinggi Negara.  Sambutan dan pujian2  muncul  dari sebagian besar wilayah Indonesia. Andrea Hirata pun sibuk berkeliling karena diminta sebagai pembicara. “Laskar Pelangi” menjadi ladang Inspiratif, dan oase di tengah gurun, pemicu semangat dsb.

Saya sendiri boleh dibilang sangat bersyukur dengan munculnya penulis Andrea Hirata dengan “Laskar Pelangi nya” Paling tidak sebagai motivator khususnya di kalangan anak2 untuk tidak menyerah begitu saja terhadap kekurangan dan hadangan dan rintangan hidup yang ada saat ini.

 

  Kalau boleh dibandingkan jaman saya SMP dan SMA, maka novel2 yang laris manis waktu itu adalah jenis novel roman remaja seperti “Ali Topan anak Jalanan”, “Arjuna Mencari Cinta”. Atau novel2 ex luar dari penulis Agatha Christy. Novel2 begitu laris dan sepertinya menjadi bacaan wajib anak2 ABG dikala itu. Lain lagi ketika jaman SD sekitar tahun 60 sampai 70 an yang ramai adalah komik2 lokal. Baik berupa cerita silat betawi, tokoh2 fiktif heroik seperti “Pangeran mlar”, “Gundala Putra Petir”, “Godam”, termasuk pula yang mendunia seperti “Superman” dan “spiderman”. Kalau komik2 karangan luar ya sudah barang tentu adalah hasil karangan HC Andersen.

 Masa di SD, SMP, membaca dikala bulan puasa di siang hari adalah salah satu kegiatan yang mengasyikan sambil menunggu sore tiba. Yang paling lama terbit dan bersambung dan banyak peminatnya adalah cerita silat Kho Ping Ho yang terus saja muncul berseri dan di cetak di buku2 ukuran tanggung sepertinya tidak pernah akan berakhir ceritanya. Ada juga serial buku cerita, “Api di bukit Menoreh” sebuah cerita berlatang belakang babat jawa sangat digemari. Saya sendiri tidak tertarik membaca ke 2 buku itu. Entahlah jika saja dulu pernah sekali membaca. Mungkin saja saya ikut tersihir untuk terus memburu terbitan terbaru dari serial buku itu.

 Ada yang menarik pada diri anak saya ketika dia mulai menyukai buku bacaan. Padalah dia sudah kelas 2 SMA. minat bacanya sebelumnya bukan tidak ada sama sekali. Tapi lebih ke arah kesukaanya seperti otomotif. Beberapa majalah otomotif terbitan lokal maupun luar sudah berulang kali keluar masuk laci meja. Bahkan kalau saya dinas ke Jakarta mereka selalu nitip belikan majalah2 otomotif terbitan baru. Kalau di urut ke belakang, saya sepertinya turut andil juga kenapa mereka menyukai majalah2 itu. Ketika mereka masih kecil2 mereka ikutan ngoprek mobil tua saya. kalau dari majalah, yang pertama tentu mereka ingin melihat foto motor dan mobil balap.  Nama pembalap F1 dan moto GP beserta motornya pun mereka hafal. Bahkan ketika saya coba menanyakan siapa pembalap itu waktu nonton bareng balapan motor ataupun mobil di TV, mereka dengan cepat menjawab dan benar. Namun terakhir mereka lebih menyukai mobil2 Offroad.

 

Kembali ke Fenomena Buku “Laskar Pelangi” yang sangat bermanfaat positif buat anak saya. paling tidak ada nilai2 positif didalam sisi kehidupan yang dapat meresap di hatinya.  Bahkan ketika kami baru pulang dari Balikpapan menuju Bontang. Anak saya berharap dapat singgah sebentar di Kota Samarinda untuk menonton film “Laskar Pelangi” yang sedang di putar di bioskop jaringan “21”.

Waktu itu sampai di Samarinda sudah cukup sore dan ketika sampai di bioskop 21 yang berada di Mall Central Plaza, maka untuk menontonya kami harus menunggu hampir 2 jam sesuai jam tayangnya. Maklum saja di Balikpapan maupun di Kota kami tidak ada bioskop 21. Bioskop bukan jaringan “21” sudah hampir 10 – 15 tahun tutup karena serbuan film2 video yang dulu dimulai dari kaset video sampai kini dalam bentuk piringan cakram yang dengan mudah didapat bajakannya.

 

  Kembali ke rencana nonton film “Laskar Pelangi” di Samarinda. Di sisi lain saya tidak ingin pulang ke kota saya pada malam hari. Karena saya tidak hafal jalan2 yang jelek dan terlalu capek kalau besok langsung masuk kerja. Jarak tempuh Samarinda ke kota saya sekitar seratusan kilometer dan ditempuh dengan jalan darat selama +/- 2.5 jam. Akhirnya dengan sedikit muka kecut anak saya tidak jadi menonton. Kendaraan bis umum yang ke Kota kami sudah tidak ada setelah jam 6 sore. Padahal film baru berakhir jam 7 malam. Untuk menaiki kendaraan omprengan antar kota, saya tidak tau tempatnya dan kalaupun tahu saya tidak merekomendasikan karena yang ada di benak saya supir2 omprengan itu kalau bawa mobil seperti orang kemasukan setan. Alias ngebut tanpa memperhatikan keselamatan penumpang. Walau belum tentu semuanya begitu tapi saya masih kurang plong kalau anak saya naik omprengan. Lebih bagus naik bis umum.

 

Setelah tidak ada solusi lain, akhirnya kami meninggalkan Mall Central Plaza dimana studio 21 berada untuk melanjutkan pulang ke kota kami. Namun ketika mobil kami melintasi sebuah jalan di pusat kota, saya melihat ada banyak mobil taxi argo sedang parkir di depan sebuah hotel. Taxi itu juga sering saya lihat di Balikpapan maupun Bontang. Saya segera menepikan mobil dan menawarkan kepada anak saya apakah dia berani pulang naik taxi ke Bontang.  Tentu saja tawaran menarik itu disambutnya dengan cepat. Akhirnya anak saya berdua tidak jadi ikut pulang dan memutuskan menonton film “Laskar Pelangi”.

 

  Sebetulnya ada rasa was2 juga meninggalkan anak di Samarinda yang belum begitu mereka kenal betul kota nya. Samarinda bagi kami bukan kota tujuan tapi cuma numpang lewat saja. Kami lebih sering ke Balikpapan. Pulang ke Bontang tinggal saya dan istri saja di mobil. Anak tertua sudah kemarin kembali ke Yogya ke tempat kos nya. Yang satu masih ingin tinggal lebih lama di Balikpapan bersama neneknya. Dua orang yang ikutan pulang pun akhirnya nyangkut di Samarinda. Saya sendiri bingung kenapa anak saya begitu ngotot ingin nonton film “Laskar Pelangi”. Apakah tulisan di buku Laskar Pelangi begitu kuat meresap di hati nya. Entahlah. Tapi kalau di ukur jarak Kota kami ke Samarinda seperti Jakarta – Bandung. Tentu saja transpotasi darat tidak semudah Jakarta Bandung.

 

Waktu terus berlalu. Ketika saya perkirakan film sudah selesai, saya mencoba untuk mengecek anak saya di Samarinda dengan mengirim SMS. Tidak lama SMS muncul yang mengatakan bahwa dia dan adiknya sudah berada di Taxi yang sedang menuju kota kami.  Ada sedikit lega karena sudah dapat kendaraan pulang tapi juga khawatir terhadap daya tahan mereka untuk tidak mabuk di jalan. Maklum jalan ke kota kami tidak terlalu lebar tapi hampir 90% jalan nya naik turun bukit dan berkelok2 dan sebagian kondisi jalan rawan kecelakaan. Waktu pulang saja saya menemui beberapa mobil yang sepertinya baru saja terlibat tabrakan. Penumpangnya juga masih ada di pinggir jalan. Sementara beberapa mobil tampak rusak cukup parah di beberapa bagian body nya.

 

Sekitar jam 21:00 saya mencoba SMS anak saya lagi. Karena seharusnya jam segitu sudah sampai di Bontang. Anak saya menjawab dia tidak tau berada dimana karena suasana malam sangat gelap. 15 menit kemudian anak saya muncul dari pintu ruang tamu. Allhamdulillah mereka sudah sampai. Harga tiket masuk ke bioskop 21 Cuma 20 ribu. Tapi ongkos taxinya sekitar 300 rb. Kalau di hitung2 tentu saja nggak seimbang. Tapi saya melihat raut wajah anak saya seperti sangat puas sekali malam itu, walau dia mengeluh sedikit mabuk. Maklumlah mobil jenis sedan bukan kendaraan yang cocok buat kami sekeluarga bila hendak berpergian ke Samarinda – Balikpapan. Selain tidak dapat dimuati oleh 6 orang. Juga terlalu rendah sehingga isi perut sering terasa tertinggal ketika melibas jalan tanjakan dan tiba2 turunan.

 

Buku “Laskar Pelangi” secara nyata memang telah membuat anak saya terbius dan sangat menikmatinya. Tanpa di tanya kadang dia cerita sendiri tentang isi buku itu. Lalu saya katakan : Kenapa kamu tidak belajar untuk menulis apa saja. Apa yang ada di fikiranmu tuangkan dalam bentuk tulisan. Apakah itu ide, cerita2 kejadian2 kamu yang menurut kamu cukup bagus untuk di tulis… dia hanya ter senyum2 saja. Menurut anak saya tantangannya kalau menulis suka kehilangan ide di tengah dia menulis.

Semoga saja semangat yang dibangun oleh tulisan Andrea Hirata dapat memberikan paling tidak setitik semangat membaca, kemauan dan harapan yang positif terhadap anak saya.  semangat untuk tidak mudah menyerah. Juga semangat saling tolong menolong..

Semoga

 

Maafkan Papa ya  nak, karena tidak dapat nonton bareng film “Laskar Pelangi”

 

 

 

Btg 8 Oct 08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: