Lebaran hari ke 2 (1429H)

lebaran 1429 H
lebaran 1429 H

Hari masih subuh dan diluar langit masih cukup gelap, Azan Subuh dari Masjid Al-kautsar sudah beberapa saat berlalu. Saya mencoba membuka pintu kamar anak2. Mereka masih tertidur meringkuk dengan selimut terbalut di tubuh masing2. Saya lalu membangunkan mereka untuk sholat Subuh. Satu persatu tirai jendela kamar mulai dari kamar tidur, kamar tamu saya sibakan ke kiri dan kekanan. Lampu2 luar dan beberapa pendingin udara juga sudah saya matikan. Jalan lingkungan dan kondisi diluar tampak masih sangat sepi. Apalagi ditunjang dengan kondisi komplek perumahan Perusahaan yang kami tempati. Selain tidak kopel dan berdiri sendiri2. Juga pekarangan rumah yang cukup luas membuat jarak rumah kami dan tetangga kami terdekat di sebelah kiri dan kanan cukup lumayan renggang. Sementara beberapa tetangga dekat sepertinya mengambil cuti lebaran ke Jawa. Di belakang rumah kami adalah taman tempat bermain anak2 dan Joging track.

Saya bergegas menuju dapur untuk membuat secangkir kopi panas. Hampir 1 bulan saya jarang mengkonsumsi kopi. Puasa membuat nafsu minum kopi menjadi  menurun drastis. Padahal soal rokok tidak demikian. Istri saya sudah lebih dahulu bangun. Dia tidak sholat karena kebetulan sedang datang bulan. Namun demikian waktu sholat Id di Lapangan, Istri saya tetap ikut walau hanya duduk saja ketika Sholat berlangsung.  Dengan secangkir kopi saya menuju teras belakang rumah yang menghadap ke taman.

 

Sungguh pagi itu suasana sangat Indah. Matahari belum lagi muncul. Kicauan burung kutilang ber saut2an sangat mendominasi suara2 pagi. Burung2 itu pula yang selalu membangunkan saya setiap pagi dari atas pohon jambu air yang tumbuh besar di pekarangan depan dekat dengan kamar tidur saya. Setiap jam 4 subuh mereka sudah berisik saling bersahutan. Sesungguhnya sangat bersyukurlah burung2 yang hidup di lingkungan komplek perumahan kami. Mereka tidak terusik bahkan mereka seperti terlindungi dari keserakahan manusia. Beberapa tupai tampak meloncat diantara dahan pohon mangga dan jambu air. Burung terkukur ataupun perkutut dengan bebasnya bernyanyi di dahan2 pohon. Bahkan kadang bergerombol di pinggir jalan dan hanya menghindar terbang ke trotoar jalan bila sebuah mobil melintas. Kalau musim tertentu maka pekarangan rumah dan taman dibelakang didarati burung2 kuntul perak. Kebetulan tempat tinggal kami juga tidak seberapa jauh dari tepi pantai. Mereka juga seperti sangat menikmati lingkungan kami. Bahkan mereka tidak takut mendarat dan mencari kodok di pekarangan2 rumah.

Hari Raya lebaran ke 2 baru saja dimulai. Kemarin hampir seharian setelah sholat Idul Fitri, rumah kami ramai sekali di kunjungi. Hari Raya Idul Fitri 1429 H kali ini memang berbeda dengan tahun2 sebelumnya dimana kami selalu mudik ke tempat Mertua di Balikpapan. Oleh karena permintaan anak kami tertua yang kali ini mudik dari tempat kuliahnya di Yogya, maka kami memutuskan untuk menuruti permintaan agar mudik ke tempat mertua di tunda sampai hari ke 5 setelah lebaran. Tentu saja hal itu dikarenakan masing2 anak kami sudah punya acara yang di susun masing2. Mulai dari mengunjungi rumah guru2 mereka. Juga saling mengunjungi satu dan lainnya.

Hari pertama lebaran, hanya saya dan istri saja berkeliling komplek ke rumah atasan kami. Kami juga harus mensiasati dalam memilih makanan yang di hidangkan. Karena tidak hanya satu rumah saja yang kami datangi. Sedangkan perut kami terbatas dan kami juga ingin menghormati tuan rumah yang kami datangi.

Sudah cukup lama juga kami tidak berlebaran di tempat saya bekerja. Kemarin yang bertandang ke rumah kami bukan didominasi teman2 sejawat ataupun tetangga, tetapi lebih di dominasi oleh teman2 anak kami. Kalau sudah begitu ruang tamu kami sangat ramai. Terutama teman2 dari anak tertua yang baru tahun ini menginjak bangku kuliah. Mereka seperti reuni kembali. Maklumlah komunitas sekolah di lingkungan kami masih dalam lingkungan pagar Perusahaan. Sehingga dari mulai TK s/d SMA kawan2nya ya kurang lebih hanya itu2 saja. Saya dan istri memang cukup terbuka sama teman2 anak saya. tidak terlalu formil. Mungkin hal itu pula yang membuat mereka seperti di rumah sendiri ketika bertandang ke rumah kami. Untung saja rumah perusahaan yang kami tempati cukup luas untuk menampung mereka. Kalau mereka sudah ngumpul dan ngobrol di ruang tamu, maka saya dan istri mau tidak mau harus menyingkir ke teras belakang rumah sambil sesekali melihat tingkah laku mereka. Dan mereka pun sudah pintar memilih hidangan dan kue2 yang tersaji di meja2. Kue2 klasik ala Lebaran sepertinya tidak tersentuh sama sekali, mereka justru mencari yang jarang didapat di rumahnya sendiri. Kami memang memesan beberapa makanan kecil dari Yogya. Dan ternyata makanan itulah yang menjadi favorit mereka.

 

Kali ini dan sudah menjadi kebiasaan setiap tahun, Menu utama yang disediakan oleh Istri tercinta adalah Soto Banjar, Mpek2 Palembang. Kue2 lainnya seperti kue basah dan kue2 kering dibuat sendiri oleh istri dan dibantu oleh Anak kami tertua. Sebetulnya lebih praktis pesan. Tapi sepertinya Anak perempuan saya lebih tertarik untuk membuat sendiri. Mereka yang menentukan dan mencari bahan2. Saya dan Istri hanya membantu meracik adonan.

Waktu Istri akan membuat Mpek2, dia sempat mengeluh tentang mahalnya ikan Tenggiri yang melebihi dari harga daging sapi. Kalau sudah begitu saya hanya bisa senyum2 saja. Akhirnya Mpek2 dibuat dari 2 bahan baku yang berbeda. Ikan tenggiri dan ikan Kerapu. 2 hari menjelang lebaran istri saya cerita kepada saya tentang keluhan dan harga2 di pasar. Seorang teman mengaji nya sempat mengeluh ketika hendak membeli ayam kampung dipasar. Selain stok ayam kampung sudah habis, harga pun melonjak tak terkendali sampai seharga 150 Ribu per Ekor. Itupun tidak ada barangnya. Kalau sudah demikian saya jadi ikut prihatin. Saya hanya berfikir bagaimana dengan tukang kebun dan pembantu lepas kami. Walau sudah mendapat THR dari kami. Harga2 bahan pokok dan penunjuang lebaran naik drastis jauh melebihi harga2 di pulau Jawa. Tapi Insya Allah mereka sabar dan menerima kondisi tsb.

 

Lebaran kali ini memang lebaran nya anak2. Kalau dibandingkan berlebaran di rumah neneknya di Balikpapan, sepertinya mereka lebih Enjoy lebaran di rumah sendiri. Kalau lebaran di rumah Nenek, walau di kota besar dan dekat dengan pusat perbelanjaan, mereka sepertinya kurang bersemangat.

 

Oleh karena pembantu lepas kami ijin 3 hari tidak masuk kerja, maka pagi itu saya dan Istri besepakat untuk membagi tugas. Saya mecuci perangkat makan seperti piring,mangkuk,sendok dll, serta memvacum ruang makan dan tamu. Sedangkan istri saya menata ulang menu lain di hari ke 2. Bersyukurlah menu makanan di hari lebaran tidak banyak mengandung lemak. Hal itu meringankan kerja saya pada saat mencuci piring2 kotor.

 

Jam 07:30 pagi semua tugas saya sudah selesai. Sementara anak2 masih saja belum kelihatan keluar dari kamar tidurnya. Saya sendiri tidak tahu jam berapa semalam mereka pulang ke rumah. Kalau melihat ada tikar lampir yang tergulung tersender di kamar mesin cuci. Bisa jadi semalam mereka lesehan di pekarangan samping rumah.

 

Sebetulnya pagi itu saya malas sekali menonton siaran TV. Tapi karena tidak ada kegiatan lain terpaksa saya menyetel TV. Tidak banyak yang berubah suasa diluar rumah. masih sangat sepi sekali. Kendaraan yang lewat sangat jarang. Hal ini tentu sangat berbeda bila lebaran di rumah Nenek di Balikpapan yang berada di lingkungan Kampung padat penduduk di tengah kota. Deru motor lalu lalang sudah saling bersahutan di pagi hari.

 

Sedang asyiknya saya menonton TV, tiba2 saja bel yang terpasang di pintu masuk berbunyi. Samar2 saya melihat ada beberapa anak lelaki berpakaian rapih berdiri di depan pintu ruang tamu. Setelah saya buka kan pintu, mereka lalu mengucapkan selamat lebaran dan menjulurkan tangan sambil memberikan salam kepada saya.

Mulanya saya agak kaget juga soalnya yang saya tahu tidak ada anak2 di lingkungan kami seumuran anak yang berada di depan pintu serta berpenampilan seperti itu.

AKhirnya mereka mengatakan bahwa mereka dari kampung luar komplek. Tentu saja walau meja makan masih dibereskan oleh istri, anak2 saya persilahkan masuk. Sebuah kesempatan emas di hari yang bahagia yang tidak saya sia2kan. Saya ingin memberikan setitik kebahagiaan buat mereka. Kalau dihitung2 jauhnya mereka berjalan kaki, ada sekitar 2 Km dari pos Penjagaan security masuk ke Komplek.

 

Sekedar info saja bahwa memang di luar komplek perusahaan dan komunitas kami yang dipagari oleh pagar, maka kehidupan di luar komplek kami sebagian masih kurang seberuntung kami. Saya persilahkan mereka untuk menikmati segala kue dan permen2 coklat buatan istri, serta buah2an yang mungkin belum pernah mereka cicipi sebelumnya. Tak lupa angpao saya sisipkan ke saku mereka. Tak lama mereka bertamu di rumah saya untuk selanjutnya mereka keliling ke rumah2 lain. Begitulah akhirnya rumah kami seperti tidak putusnya dikunjungi anak2 dari luar komplek sepanjang hari. Namun ada hal yang membuat saya jadi kurang pas di hati ketika melihat sebuah mobil patrol security perusahaan, sebuah pick up tampak berisi anak2 duduk di belakangnya melintas di samping rumah yang tak lain adalah salah satu jalan utama. Ada kemungkinan mereka dibawa keluar komplek. Entah lah. Menurut saya anak2 itu tidak mengganggu ketentraman warga selama kita tetap mendampingi dan secara tidak mencolok mengawasi mereka. Memang dengar2 sih dulu ada warga yang merasa kehilangan barang2 di hari Lebaran ketika anak dari luar datang kerumahnya. Tapi masa iya mereka mengambil kesempatan dalam hari2 yang penuh berkah. Bagi saya mereka2 itu lebih layak diberikan makanan yang terbaik dari rumah kita, daripada mungkin anak2 dari teman2 anak saya yang lebih mapan lagi ekonominya.

Hari ke 2 lebaran kali ini, membuat saya lebih bahagia dapat memberikan setitik kebahagiaan kepada mereka. 1 minggu sebelum puasa pun kami memberikan bingkisan lebaran kepada sebuah Pesantren yang letaknya terpencil dan cukup jauh dari kota. Hal itu selalu kami lakukan setiap tahun hasil dari kumpul2 teman se kantor. Selain kewajiban Zakat, Infaq dan Sedekah sudah selesai dibayarkan, beberapa proposal surat permintaan zakat dan sedekah dari beberapa Mesdjid dan Pesantren juga sudah diselesaikan oleh istri saya atas kesepakatan bersama.

 

Walau jarum jam belum bergerak sampai jam 09 pagi, namun saya melihat mulai banyak anak2 berjalan bergerombol mendatangi rumah2 tetangga. Sayangnya semua itu laki2. Tidak ada perempuannya. Pakaian yang meraka pakai mungkin adalah pakaian terbaik untuk hari Raya Lebaran. Sebagian celana panjang yang dipakai oleh anak2 laki bergaya celanan “Cangcuter”.

Sementara itu tak lama satu persatu anak2 saya baru muncul dari kamar tidurnya masing2.

Untungnya cuaca hari itu sangat cerah,. Langit Terlihat membiru dengan wan tipis menutupi di sana sini. Langit biru itu sepertinya sudah susah saya dapatkan jika saya berkesempatan ke tempat orang tua di Jakarta. Tapi tidak untuk di daerah kami.

Beberapa kali bunyi nada SMS terdengar dari HP saya yang ternyata dari kawan2 lama.

Hari Raya Lebaran memang hari untuk berbagi kebahagiaan. Bukan saja kepada Orang tua, anak2 maupun saudara dan tetangga.  Tapi tentunya bagi mereka2 yang sepertinya diberikan jalan oleh Allah untuk mencicipi nikmatnya hidangan kue2 yang mungkin jarang dinikmati, serta awal dari Cobaan bagi yang punya untuk dengan Ikhlas dan tersenyum untuk memberi sebagian kenikmatan, membuka lebar2 pintu rumah,menikmati keindahan dan kebersamaan kepada sesama tanpa melihat status sosial, agama dan darimana mereka datang.

Walau lebaran kali ini saya tidak dapat bersimpuh mohon ampun di pangkuan Ibunda tercinta pada Hari yang Indah ini, namun saya merasa bersyukur masih diberi waktu untuk tetap bernafas dan mendengar suara ibunda dari speaker telpon pada hari pertama lebaran, sungguh menjadi pelengkap indahnya lebaran.

 

Allah Hu Akbar 3 X

Taqobalallahu Minna Waminkum,

Taqobalallahu Ya Karim

 

Ya Allah, semoga saja engkau mengabulkan doa saya, istri, anak2 saya serta anak2 asuh yang saya kasihi, begitu juga doa2 anak2 Pesantren yang Insya Allah selalu kami santuni. Bersihkanlah dan kuatkanlah hati ini untuk selalu memberi kepada yang membutuhkan.

Aroma harumnya Mpek2 Palembang membuat saya segera ke Dapur. Padahal saya lebih memilih Tekwan sebagai menu hari ke 2. Tapi akhirnya saya mengalah karena itu permintaan anak2.

Samar terlihat lalat hijau pun seperti hendak membongkar kawat kasa jendela rumah untuk ikut menikmati hidangan Istri tercinta.

 

Btg Oct 08

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: