Nurunin bakat Babenya

Sebetulnya harapan saya sih tidak muluk2 dan tidak banyak menuntut ketika anak gadis saya satu2nya mulai menginjakan kakinya di dunia Perkuliahan yang kebetulan juga harus pisah jauh dari Keluarga. hanya Jaga diri dan nikmati dunia yang baru dengan norma2 yang sudah ditanamkan dalam keluarga itupun sudah cukup buat saya.  Ada 2 sisi pandang dan harapan yang berbeda yaitu dari sisi Anak yang ingin mencoba lepas dari keluarga dan mandiri, dan  dari sisi orang tua yang berharap si anak tetap dalam satu rumah, tapi itu seperti tidak mungkin. Kecuali anak tidak melanjutkan kuliah. Hal itu disebabkan karena kota domisili saya tidak ada Universitas Negeri.

 

Bagi saya, Kehidupan dan kebersamaan anak2 dalam Keluarga dalam 1 rumah hanya sampai SMA saja. Artinya hanya sekitar 18 tahun saja bersama orang tua. Oleh karena Saya sangat menyadari hal itu, maka tiada hari tanpa ngobrol & diskusi bareng, kerja bareng di rumah, mengawasi tugas dan tanggung jawab masing2. Tentu saja hari, minggu, bulan dan tahun terus berjalan, terasa pula waktu kebersamaan yang mulai terkikis dikit demi sedikit. Apalagi sudah menginjak kelas 3 SMA. Ada perasaan sedih bercampur bangga. Kalau sudah begitu, pada waktu2 tertentu kadang saya suka menonton rekamam video pada saat mereka masih bayi, terus balita, trus menjadi anak2 bahkan sampai remaja. Nggak sia2 rekaman itu saya buat. Kini menjadi cerita sejarah yang tidak bosan untuk di tonton. Paling tidak oleh saya dan mamanya.

 

Kalau dilihat dari sisi ekonomi keluarga dan kebutuhan untuk hidup, saya termasuk bersyukur karena Insya Allah semua tercukupi. Anak2 tumbuh besar dengan fasilitas yang lebih baik walau mereka tinggal di lingkungan terbatas dan sangat jauh dari kota besar. Dan dengan kondisi lingkungan yang terbatas itulah saya lebih mudah mendidik dan selalu dekat dengan anak2. Waktu saya berinteraksi dengan anak2 relatif lebih banyak daripada anak2 perkotaan pada umumnya.

 

Kembali ke soal anak Gadis saya yang tertua.

Pada awal dia meninggalkan keluarga untuk menuntut ilmu di Jawa, terasa benar ada sesuatu yang hilang. Ternyata diam2 adik2 yang laki2 semua juga mengungkapkan kesedihan kepada mamanya. Oh ternyata mereka sangat sayang sama kakaknya yang perempuan satu2nya.  Hal yang sebaliknya justru tidak diperlihatkan oleh anak gadis saya. Dia begitu pandai menyimpan perasaan hatinya. Memang untuk urusan sedih2, anak gadis saya sepertinya tidak mudah sedih. Atau cukup pandai menyimpan perasaan yang ada dalam hatinya. Saya ingat betul sejak SD sampai SMA sudah beberapa kali mengikuti pesantren kilat, dimana biasanya pada hari terakhir dibuat suasanya sedih yang akhirnya banyak mengucurkan air mata santrinya bahkan kadang pula orang tua yang menunggu turut menangis. Namun sejauh itu anak gadis saya sepertinya tidak mempan untuk dibuat menangis. Tapi justru itulah yang membuat saya jadi sedih. Anak Gadis saya bukanya tidak pernah saya marahin. tapi tentu saja hal tersebut sangat jarang terjadi. Juga terhadap anak2 lainnya. 

 

Sebagian orang bilang, bahwa kehidupan yang lebih dari cukup kadang tidak membuat anak2 tahan banting karena semua kebutuhannya tercukupi dengan mudah. Tapi itu tidak buat saya. Walau kebutuhan anak2 dapat terpenuhi, bukan berarti mereka menjadi manja dan tidak bisa kerja. Kelas 3 SD anak2 laki saya sudah mampu untuk menambal ban dalam sepedanya sendiri dengan lem Aica Aibon dan sepotong karet ban dalam yang sudah di amplas. Saya juga mengenalkan perkakas kerja serta fungsinya masing2. Kelas 5 SD anak2 laki saya menjadi tumpuan teman2 mainya untuk dapat membetulkan sepedanya. Mereka bak montir2 kecil. Yang cukup ahli menangani kerusakan sepeda teman2nya.

Sampai saat ini pun (SMA) anak saya saya masih suka dimintai tolong untuk membetulkan kerusakan2 motor dari teman2nya, walau tidak se aktif waktu masa SMP dimana tiada hari tanpa utak atik motor. Garasi mobil jadi markasnya. Hebatnya bukan dipakai untuk balap tapi motor dibuat se cantik mungkin.

 

Kembali lagi ke Sang Gadis saya, sejak kecil sudah di ajarkan mamanya beberapa tarian2 daerah. Kalau tidak nari paling tidak didandani kostum tarian2. Kelas 5 SD mulai mengenal dan masuk dalam kelompok Drumb Corps Sekolahan. Pada saat itulah terjadi perubahan pergaulan dimana sudah cukup jarang bermain dengan teman2 sebaya. Rata2 teman nya adalah kakak2 kelasnya. Di SMP juga mulai mengenal Dance Group selain tetap aktif di Drumb Corps. Beberapa kali mengikuti kompetisi level nasional di Jawa & Jakarta dan Drumb Corps nya berhasil menyabet beberapa trophy bergengsi. Drumb Corps nya tidak lagi bermain pada level Propinsi tempat dia lahir karena memang sudah bukan levelnya lagi. Masa SMA digeluti dengan berbagai macam kegiatan. Namun kegiatan Dance Group nya yang paling dominan. Dulu ada 2 group tapi kini tinggal 1 group saja. Anak gadis saya juga mulai merekut para junior ketika memasuki kelas 3 SMA. Semacam regenerasi lah. Puncak Prestasi diluar formal belajar adalah menjadi salah satu anggota Paskib Kota Kelahirannya. Walau bukan kota besar seperti Balikpapan atau Samarinda, tapi persaingan siswa sangat Ketat. Penggodokan semi militer pada awal pelatihan sepertinya dilahap tanpa keluhan.

Saya jadi teringat ketika anak2 saya masih kecil. Mereka beberapa kali saya bawa ke hutan untuk jalan2. Bahkan sampai mobil saya bermasalah di hutan, mereka tetap enjoy.

 

Kalau di hitung2, sudah 4 bulan anak gadis saya lepas dari kehidupan keseharian saya dan keluarga. Kamar tidurnya kini di pakai adik laki2nya yang terkecil. Suara music dan foto2 yang sebelumnya banyak tertempel di dinding kamar, kini sudah bersih. Tapi suara music tetap saja sedikit keras terdengar. Kalau dulu suara music muncul dari Kompo atau stereo set, kini dari suara cabikan gitar listrik yang kadang melengking. Memang anak laki2 saya terkecil sangat menyukai bermain gitar elektrik.

 

Pada awalnya saya dan istri ada sedikit kekawatiran, selain kuliah kegiatan apa saya yang akan di lakoni oleh anak gadis saya. Yang pasti kami masih tetap meminta agar setelah sholat selalu membuka dan membaca beberapa ayat al-Quran yang sebelumnya selalu dilakukan di rumah.

 

Belum lama berselang, sebuah SMS dari anak gadis saya muncul di HP saya yang pada intinya meminta ijin untuk dapat mengikuti kegiatan pecinta alam yang waktu itu adalah kegiatan panjat tebing disebuah bukit di pinggir pantai. Saya sedikit terhenyak membaca SMS itu. Berbagai perasaan bercampur baur di hati. Ada rasa khawatir ada rasa bangga. Maklumlah anak saya kan anak perempuan. Tadinya saya pikir, anak saya ingin mengikuti eskul Drumb Corps di Kampusnya, tapi ternyata sampai saat ini belum ada laporan.

Menjelang senja sebuah SMS muncul lagi di hp saya. isinya mengatakan dia bangga dapat menaklukan tebing dan menjadi orang pertama yang sampai puncak. Saya sempat merenung sejenak. Walau masa kecil sering saya bawa ke hutan, tapi anak saya tidak saya didik untuk mengenal olah raga tsb. juga sewaktu di sekolahan SD s/d SMA. Kalaupun ada hanya sekedar outbond saja.

 

Tentu saja saya terharu dan bangga dengan SMS anak saya. saya balas SMS itu dengan pujian dan tawaran untuk mencari dan membeli sleeping bag, backpack, sepatu hiking. Tapi semua itu di tolaknya. Dia juga bercerita bahwa dia juga menjadi Koki masak yang handal. Wah tidak sia2 saya didik waktu kecil untuk mencoba masak2an di dapur. Walau tidak pernah mengenal api dan gas LPG di dapur karena semua peralatan dapur kami bersumber pada energy listrik, namun demikian saya sempat beberapa kali mengajak anak2 kemping di samping rumah dengan sebuah tenda double deck yang besar serta kayu bakar untuk membakar singkong dan jagung. Kala itu tenda double deck itu dapat dimasuki 2 kasur busa ukuran single. Sekarang tenda tsb. sudah jarang dipakai. Warnanya mulai luntur dan ada sedikit sobek sana sini dan teronggok di gudang.

 

Terakhir ternyata anak gadis saya juga mulai belajar Rafting di sebuah danau. Kalau sudah begitu saya sebagai Orang tua tidak dapat lagi melarang. Sepertinya Anak Gadis saya mulai menemukan kehidupan dunia yang baru di Kampusnya. Saat ini saya justru mendorong dan memberi semangat.

Diantaranya adalah tunjukan kemampuan dan jati dirinya. Sebetulnya kamu juga nggak kalah sama anak2 yang tumbuh besar dari kota2 besar di Jawa.  Ada pikiran bahwa bila ada liburan panjang saya akan bawa anak saya untuk menjelajah hutan Borneo dan memasuki Gua2 alam nan indah yang sebagian masih belum terjamah. Mungkin suatu saat bukan saya yang menjaga anak gadis saya, tapi sebaliknya anak gadis saya yang mengajari saya dan menjaga saya. maklumlah sebagian rambut berwarna putih sudah mulai mencoba mendominasi rambut di kepala.

Semoga saja nak kegiatan kamu itu akan berdampak positif kepada pandangan dan fikiranmu tentang NKRI ini.    Walau hanya setitik, berikanlah sumbangsihmu kepada keluarga dan Negara dengan caramu sendiri. Bukankah kamu masih ingat ketika terdengar suara letusan sejata api waktu kita ke makam Eyang akung di Kalibata. Topi baja masih tetap tertempel miring tersender di batu nisan. buatlah Eyang kakung tetap bangga walau kini berada dalam dunia yang berbeda,

Kalau pun kamu menuruni bakat2 ayahmu, saya sebagai ayah hanya berharap, bahwa hanya yang baik2 saja yang menurun di jiwamu. Biarkan yang jelek2 tetap melekat di ayahmu.

 

Saya masih tidak tahu apakah anak laki2 saya ada yang ngikutin bakat babenya apa tidak. Dari hal seni, hanya si Ragil saja yang suka bermain gitar. Dari segi utak atik mesin, salah satu dari kembar saya lebih gesit bongkar pasang mesin2. Tinggal yang satu dari anak kembar saya yang belum saya lihat potensinya turunan bakat bapaknya. Yang pasti dia itu orangnya lumayan perfectionis. Dan apik. Kalau bapaknya mungkin sedikit apik, tapi tidak perfectionis.  

 

Soal Bakat, bukan dominan nurunin dari Bapaknya. Emaknya pun banyak menurunkan bakat ke anak2nya. Yang pasti Emaknya memegang peranan besar dan sangat vital dalam membimbing anak2nya dalam soal Agama.  Biarkan bakat anak2 berkembang sendiri. kita hanya mengawasi dan mengarahkan.

 

 

 

 

 

 

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: