Mudik dan kenangan masa kecil.

Membaca head line news di media cetak nasional terbitan Jakarta tanggal 28-Sep-08 yang menuliskan “Dari Jakarta ke Cirebon 19 Jam” sepertinya tidak berbeda jauh dengan berita2 tahun lalu pada hari2 menjelang Hari Raya Idul Fitri, khususnya fenomena mudik di Pulau Jawa. Kegiatan mudik lebaran adalah sebuah kearifan budaya yang unik ini tidak banyak terdapat di negara2 lain di belahan dunia. Sebuah budaya yang terbalut keagamaan yang mengandung banyak nilai2 kehidupan sebagai bagian dari sifat dan budaya bangsa yang masih terus menghormati para tetua dan sanak saudara di kampung halaman. Kalau dilihat dari perkembangan dunia lain khususnya makin mahalnya BBM (Bahan bakar minyak), jelas hal ini sangat bertentangan dengan semangat hemat BBM. Bisa di bayangkan jarak yang seharusnya dapat di tempuh dengan waktu sekitar 6 jam saja, kini ditempuh dengan waktu 19 jam !. kalau dihitung berapa banyak BBM yang terbuang percuma ketika mesin2 kendaraan harus tetap hidup tapi kendaraan tidak bergerak sama sekali. Sejauh ini saya belum membaca adanya sebuah hasil penelitian, tentang berapa kali lipat  BBM yang di konsumsi terbakar percuma akibat kemacetan dibanding hari2 biasa.

Bagi warga berekonomi kecukupan, kalangan menengah atas tentu lebih melihat dan memilih kenyamanan yang tentunya harus dibayar dengan nilai uang yang sepadan pula. Pesawat udara, carter mobil di tempat tujuan, atau sudah ada mobil lain menunggu di tempat tujuan. plesiran di tempat rekreasi bergensi dll., namun ada juga menggunakan kendaraan mobil oleh karena berbagai alas an pula.

Bagi yang berkantong ekonomi menengah kebawah, perjuangan dimulai dari depan pintu pagar rumah. Mencari transpotasi murah tentu sebanding dengan kondisi apa adanya. Berdesak2an membeli tiket bis, kereta api ataupun kapal laut. Menunggu berjam2 yang kadang tersiram sinar matahari sepanjang hari. Toh tidak menyurutkan niat mudik. Uang saku dan segalanya tidak didapat dari 1 bulan gaji, tapi telah dipersiapkan jauh sebelum Bulan Ramadhan tiba. Dan foto kegiatan tsb. akhir2 ini lebih sering mendominasi media cetak maupun media elektronik nasional.

Kata “Mudik” itu lebih popular dari kata “Pulang Kampung” kalau kata “mudik” dihilangkan huruf pertama (m) maka menjadi udik. Kata “udik” semasa saya SD sering  menjadi kata2 candaan cemohan ke teman2. Yang artinya kurang lebih nggak ngerti banyak hal (bodoh/tertinggal) karena dari udik (desa/ndeso). “Dasar udik lo !”.

Rasanya masih cukup kuat ingatan saya, ketika keluarga juga melakukan tradisi mudik ke Kuningan Jawa Barat puluhan tahun lalu. Waktu saya SD sekitar akhir tahun 60 an, Keluarga juga melakukan mudik ke kampung Ibu di Jawa Barat. Dalam beberapa kali keberangkatan mudik dari Jakarta, saya 7 bersaudara serta kedua orang tua kadang harus menginap dahulu ke tempat saudara disekitar hayam wuruk karena bis yang akan berangkat ke Kuningan mangkal di sana sebagai terminal banyangan dari terminal bis di Lapangan Banteng yang berada di tengah kota Jakarta. Walau bis baru akan berangkat pukul 03:00 pagi namun penumpang tidaklah sepi. Saya masih ingat ketika adik saya terpaksa harus masuk melalui jendela bis karena penumpang cukup banyak dan saling berebutan naik. Kondisi bis pun sesuai dengan jaman nya. Diantar tempat duduk yang dipisahkan dengan gang, dipasang papan tambahan untuk menampung 1 penumpang. Jok bis sepertinya masih berisi serabut kelapa yang kadang sudah ada penumpang lainnya yang lebih dahulu tinggal yaitu kepinding atau kutu busuk. Bis pun waktu itu masih di dominasi merk Dodge. Sebagian barang bawaan ditaruh di atas bis yang telah dipasang rak besar dan ditutup terpal. Kalaupun sekarang masih ada bis yang membawa barang bawaan diatas kap yang model begitu mungkin hanya ada di Afganistan, Pakistan maupun India, atau di Mekah dan Madinah pada saat musim haji tiba. Kalau mau desak2an lagi ya terminal bis Lapangan Banteng lah tempatnya. Kalau sekarang ini mungkin mirip seperti Terminal Pulo Gadung atau Kampung Rambutan.

Pulang dari mudik, boleh dirasa lebih nyaman sedikit karena kebetulan rumah Nenek berada persis di pinggir jalan besar dan ada saudara yang menjadi supir bis. Hanya saja semua bis yang kembali masuk ke Jakarta harus masuk ke terminal bis Lapangan Banteng. Waktu itu yang saya tahu hanya Lapangan Banteng sebagai pusat terminal bis antar kota maupun dalam kota.

Selang beberapa tahun Acara mudik tetap berlangsung. Kali ini menggunakan sebuah kendaraan pick up merk Honda. Bak belakang di tutup terpal dan dipasang kursi memanjang. Kend. itu adalah kendaraan operasional kantor ayah saya. Bisa dibayangkan kendaraan kecil berkapasitas hanya sekitar 500 Cc harus dimuati 9 orang, + barang bawaan. Bahkan pernah juga memuat sebuah vespa punya kakak tertua yang katanya ingin mencoba naik vespa dari Kuningan ke Jakarta. Jarak tempuh Jakarta ke Kuningan Jawa Barat sekitar 6 – 7 jam. Jalur jalan pun masih menggunakan jalurnya hasil kerja rodi oleh Dandels. Jatinegara – Bekasi – Kerawang – Cikampek terus biasanya berhenti sejenak di Sukamandi. Di setiap perlintasan kereta dimana bis berjalan perlahan, maka pedagang asongan mulai dari telur asin sampai air teh yang di jajakan dalam gelas besar, merangsek masuk kedalam bis. Tentu saja kondisi itu membuat suasana bis kian kusut dan bising. Kondisi jalan Jakarta Cirebon masih lumayan bagus. Boleh dikata tidak ada kemacetan parah seperti sekarang ini. Paling2 sedikit macet ketika melintasi jembatan2. Karena memang waktu itu prasarana jalan yang masih terus di benahi adalah jembatan2 yang melintasi sungai.

Suasana di Rumah Nenek pun waktu itu terasa ramai. Beberapa keluarga dari Adik Ibu pun ikutan bergabung. Walau berada di pinggir jalan besar yang menghubungi jalur ke Ciawi Gebang yang kini menjadi salah satu jalur alternatif, dan hanya 5 Km dari kota, tapi waktu itu desa nenek belum ada listrik. Menjelang malam Kakek selalu mempersiapkan lampu patromak. Suhu udara malam cukup dingin. Sehingga anak2 dan orang tua yang jalan keluar selalu membawa sarung untuk menahan dinginnya malam.  Suara dentuman Meriam bambu biasanya bersahut2an setelah sholat Tarawih selesai. Kebetulan rumah Nenek saling berhadap hadapan dengan alun2 Desa dan Mesjid.  Saya pun sangat menikmati bermain pada malam hari sekedar jalan2 dengan teman2 baru dengan menggunakan obor. Pagi dan siang saya selalu membawa air tajin hasil cucian beras untuk dibawa ke balong ikan yang letaknya tidak jauh dari rumah nenek. Kata Nenek air cucian beras itu bagus untuk ikan2 di balong  (Kolam ikan). Pada hari tertentu sebelum lebaran tiba, Kakek seperti tahun2 sebelumnya melakukan kegiatan “Bedah Balong” yaitu memanen ikan di Balong. Itulah waktu yang saya tunggu2. Karena saya bisa nyemplung kedalam balong bersama dengan kakak2 dan orang suruhan kakek. Seperti biasa sebelum memanen ikan di balong, air dibalong di kosongkan dengan cara membuka saluran buang. Dibalong Kakek juga terdapat jamban yang berada di pojok. Pada umumnya bila air di balong mulai surut maka ikan2 akan mulai berkumpul di tengah balong dimana terdapat seperti sumur yangmasih cukup air. Kalau sudah demikian maka sangat mudah untuk mengambil ikan terutama ikan Gurame yang sangat besar2. Selain gurame juga ada ikan nila dan mujair. Di balong Kakek ada beberapa ikan gurame yang menurut cerita kakek umurnya sudah mencapai 25 tahun. Sangat besar sekali tapi tidak pernah diambil. Terakhir saya dapat khabar ikan tertua itu akhirnya mati karena balongnya di racun orang.  Setiap sore saya jarang mandi di rumah. Selain karena harus menimba air sumur yang cukup dingin, saya lebih tertarik mandi disebuah sendang dengan berjalan sekitar 15 menit dari rumah kakek. Sendang itu terletak dipinggir desa dibawah sebuah pohon beringin yang sangat besar dan rindang. Di Sendang tsb. memang sudah di buatkan bak besar. Airnya sangat jernih dan dingin. Banyak warga yang bukan saja mandi tapi membawa pakaian kotor untuk di cuci. Walau saya masih SD tapi mata saya selalu sedikit nakal untuk sekedar mengintip perempuan2 sebaya saya ataupun yang lebih besar yang kebetulan mandi di situ yangkebetulan mandi dengan memakai selembar kain batik untuk sekedar menutupi tubuhnya yang rata2 berkulit putih. Selesai mandi badan terasa segar sekali. ada 2 pilihan jalan menuju ke sendang. Jalan pertama melalui jalan umum tapi lebih jauh. Jalan ke 2 lebih pendek tapi harus melintasi kuburan yang terletak di pinggir Desa. Di kuburan situ pula Uyut saya di kubur. Kuburan tsb. terlihat cukup tua usianya hal ii terlihat dengan banyaknya nisan2 lusuh serta pohon2 semboja yang besar dan sudah tua. Saya sendiri merasa tidak takut melintasi kuburan tsb. tentu saja tidak di malam hari.

Rumah Nenek mempunyai 2 dapur. Dapur utama menggunakan kompor minyak tanah dan dapur ke 2 yang lebih kecil dan berdinding bilik ber alas kan tanah menggunakan kayu bakar. Saya lebih tertarik membantu nenek menanak nasi di dapur bertungku tanah dengan kayu bakar. Tumpukan kayu bakar di simpan di rak atas. Entah siapa yang membelah kayu bakar dan darimana kayu tsb. didapat. Kalau sudah demikian saya sudah asyik dengan sepotong bambu kecil untuk meniup kayu bakar yang berada di tungku. Kadang Nenek sedikit memarahi saya karena saya terus saja meniup tungku tsb. padalah api sudah menyala besar.  Dari dapur utama tercium aroma minyak kelapa yang jarang saya temui di rumah Ibu Jakarta.

Bermain di Kebun Kakek juga boleh dianggap rekreasi yang menarik, selain memancing ikan dibalong. Kalau pun saya di perbolehkan memancing ikan di balong, tapi nenek selalu mewanti2 agar ikan kecil yang terpancing harus di masukan kembali ke balong.  Kebun Kakek berada rada jauh dari rumah dan cenderung berada di pinggir Desa. Banyak sekali pohon2 buah2an. Di kebun juga ada balong besar. Biasanya yang diambil hanya kelapa muda saja. Dibelakang rumah juga ada sebidang tanah kebun persis dibelakang dapur. Biasanya yang diambil dari kebun belakang rumah adalah pisang, mangga serta petai.

Bila malam tiba dan kepingin ke Kota bersama kakak. Maka ada 2 tranpotasi yang ada. Pertama adalah angkot yang waktu itu adalah kendaraan Mitsubishi colt yang cukup legendaris di jamanya. Kalau tidak ada angkot maka yang ada hanya Delman. Hanya saja kalau pake Delman tentu saja akan menjadi lama waktu tempuhnya.

Salah satu makanan faforit saya hasil buatan nenek adalah tape yang dibungkus daun jambu air. Sungguh tape buatan nenek sangat enak dan sampai sekarang rasanya saya masih bisa merasakan manisnya tape buatan nenek. Kata nenek kalau  sedang buat tape, tidak boleh cemberut apalagi marah2. Bakal dipastikan hasilnya akan tidak akan enak alias asem. Ada juga pantangan lainnya yaitu kalau berpergian jauh tidak boleh pada hari Sabtu dan kalau sudah keluar dari rumah dalam rangka berpergian jauh namun tiba2 ada yang tertinggal di rumah, maka mobil tidak boleh kembali ke rumah. Barang tsb. harus diambil oleh kakak saya. Hmmm kalau dipikir2 aneh juga ya. Tapi entah kebetulan atau tidak, pernah sekali keluarga pergi mudik pada hari sabtu. Ternyata di Banyak gangguan di jalan. Mesin mobil beberapa kali mogok, serta ada saja halangan2 di jalan. Hmmmm… saya sendiri nggak pernah peduli akan hal2 tsb. terutama yang bersifat takhayul.

Hari ke 3 setelah sholat Idul fitri, biasanya Ayah mengajak kami rekreasi ke tempat2 disekitaran Kuningan. Kebetulan saja tempat rekeasi alam di sekitar kuningan tidaklah seberapa jauh dari pusat kota. Sebut saja Pemandian Cibulan, pemandian air panas Sangka Nurip, Cigugur Waduk Darma, Linggar Jati serta bekas2 peninggalan penganut aliran Madrais.  Di pemandian Cibulan kami berenang di kolam bersama ikan2 yang konon dikeramatkan. Ikan2 itu seperti menghilang manakala kolam dibersihkan dengan cara dikuras airnya.

Setelah Kakek meninggal dunia dan akhirnya Nenek juga meninggal dunia maka kami sudah jarang lagi ke Kuningan. Walau sesekali ke sana, sifatnya hanya Nyekar saja ke makam. Dan itupun tidak dilakukan pada bulan Ramadhan.

Kini sudah hampir belasan tahun saya tidak menyambangi desa Nenek, sudah banyak sekali perubahan2. Dulu antara desa nenek dan desa sebelumnya terhampar luas sawah2 dan sangat jelas memandang Gunung Ciremai. Kini tidak ada lagi sawah2. yang ada adalah perkantoran2 Pemda. Balong nenek yang dulu masih asri dikelilingi pohon2, kini seakan terjepit oleh rumah2 yang berdiri di kiri kanan. Sebagian sawah warisan dari nenek juga sudah Ibu wakafkan buat kepentingan mesjid. Tidak ada lagi kayu bakar. Dinding dapur yang terbuat dari bilik sudah dibongkar. Gudang yang berisi padi2 kini sudah menjadi ruang tidur. Rumah nenek kini sudah dibagi menjadi 3 bagian yang diwariskan kepada anak2nya. Ruang tengah ke depan diwariskan ke Adik Ibu, ruang Tengah ke Belakang sampai dapur diwariskan ke pada Adik ibu yang terkecil yang akhirnya ditempati oleh anaknya. Ibu saya sendiri mendapat sebidang tanah yang terletak dibelakang rumah. Silaturahim terakhir saya ke Kuningan, ketika anak saya berusia 1 tahun. Kini anak saya sudah kuliah.

Mudik bagi saya, tujuannya bukan lagi ke Kuningan tapi ke Rumah Orang tua sendiri dimana Ibu saya tinggal sendirian setelah ditinggal wafat bapak sekitar tahun 2000.  Kenangan2 indah masa mudik ketika saya kecil itu kadang saya ceritakan kepada anak2 saya yang masih belum tahu dimana letaknya Kuningan itu. Maklum saja anak2 saya mudiknya justru ke kota besar seperti Balikapan atau Jakarta. Mereka agak sedikit susah membayangkan mudik ke desa seperti banyak di tayangkan dalam sinetron2 di televise. Mudik ke rumah Orang tua sayapun tidak saya lakoni setiap tahun. Saya lebih sering pulang ke Rumah Mertua yang berada di Balikpapan. Anak2 lebih mengenal Nenek & Kakek dari Orang tua Istri daripada orang tua saya, dan terutama Ibu saya yang masih hidup.

Mudik ke Jakarta bukannya mudik yang mudah. Selain mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, terutama untuk transpotasi udara yang harga tiketnya menjelang hari Idul Fitri selain agak susah didapat juga harganya menjadi tidak terkontrol. Sekitar 4 tahun lalu saya mudik ke Jakarta menghabiskan dana sekitar 30 Juta. Sebetulnya bukan masalah dana yang menjadi kendala mudik ke Jakarta. Karena kalau mau setiap tahun pun saya mampu untuk mudik. Hanya saja Kalau ke Jakarta Anak2 lebih suka tinggal di rumah adik Istri yang tinggal di sekitaran Radio Dalam. Selain dekat dengan pusat perbelanjaan juga tersedia kendaraan mobil kapanpun mau dipakai. Bila tinggal di tempat Nenek, selain jauh di pinggir kota Jakarta. Untuk mendapatkan kendaraan umum pun harus menggunakan becak atau ojek. Kalau naik taxi harus 2 taksi. Sementara saudara2 saya bertempat tinggal saling berjauhan. Ada yang di pondok Gede, Cimanggis Depok. Dan bila sudah dirumah nenek mereka seperti terkurung dalam kerangkeng. Tidak bisa kemana2. Pulangnya ke Bontang pun cukup merepotkan.jika tidak dapat seat dari pesawat charter perusahaan, maka kami harus menempuh jalur darat selama +/- 5 Jam. Betul2 perjalanan yang membosankan bila di banding dengan perjalanan di Jawa.

Pulang mudik pakai Vespa dari Kuningan ke Jakarta pun pernah saya lakoni bersama kakak tertua. Waktu itu kakak ngotot sama bapak untuk mencoba memakai Vespa. Alhasil waktu berangkat ke Kuningan Vespa terpaksa dinaikan kedalam kendaraaan Pick up Honda TN. Bukan main beratnya beban Honda TN pick up tsb. yang hanya berkapasitas 500 CC. pulang dari Kuningan naik Vespa, sebelum pulang ke Jakarta sang Vespa pun sempat dibawa rekreasi dulu ke Tasikmalaya, dan pantai selatan. tidak lama Vespa harus turun mesin karena ring piston nya patah akibat campuran oli di bahan bakar tidak seimbang.

Kini kebersamaan dan kehangatan Lebaran bersama Orang tua dan sanak saudara seperti di usik oleh kemajuan jaman. Walau duduk ramai2, namun masing2 seperti asyik dengan HP dengan ber SMS yang tidak putus2nya. Disisi lain dengan kemajuan teknologi pula walau tidak pulang mudik, masih bisa melihat wajah2 saudara ataupun orang tua yang disayangi dengan teknologi 3G yang bisa menampilkan gambar visual dari sebuah HP. Atau bisa juga menggunakan seperangkat Laptop yang mempunyai fasilitas web Cam.

Kearifan budaya mudik juga secara tidak langsung memberikan berkah buat daerah2 yang menjadi sasaran mudik. Uang kwartal yang beredar seperti tercurah ber miliar2 ke daerah. Mobil2 sedan juga banyak diparkir di dusun2 yang jauh dari keramaian. Hal itu untuk secara tidak langsung menunjukan keberhasilan hidup di kota besar. Entahlah apakah mobil itu masih belum lunas cicilannya ataupun mobil sewaan. Makanan dan pakaian yang berada di kardus2 di tenteng kesana kemari bukanya tidak ada dijual di kota tujuan mudik. Tapi lebih memperlihatkan “ini lho aku bawa oleh2”. Dengan kemajuan teknologi komunikasi pula, orang2 yang menunggu sanak saudara yang mudik bisa memantau perkembangan perjalanan mudik lewat SMS dengan mengabari kemacetan2 dan lokasi saat itu. Fenomena mudik dengan kendaraan bermotor yang kadang membuat saya kadang trenyuh melihat berita2 kecelakaan di jalan raya, tidak sepenuhnya bisa disalahkan kepada pemudik berkendaraan roda dua. Sejak saya SD, SMP, SMA bahkan sampai sekarang pun kalimat2 yang sama dari pengelola dan pihak yang bertanggung jawab selalu mengatakan bahwa akan terus meningkatkan prasarana dan keyamanan mudik. Dari jaman saya SD sampai sekarang sepertinya tidak ada perkembangan yang berarti untuk transpotasi kereta api, khususnya untuk kelas Ekonomi. Mungkin yang sedikit berbeda waktu itu hanyalah jok yang dulu dari anyaman rotan kini sudah berganti dengan jok busa. Tapi kepadatan penumpangnya tetap saja sama. Apalagi beberapa tahun terakhir kecelakaan kereta sepertinya lebih sering muncul. Bahkah terakhir kereta yang ditumpangi anggota Dewan dalam rangka melihat kesiapan PT. KA dalam rangka pengangkutan lebaran, tidak luput dari kecelakaan. Begitu pula kereta kelas utama kalau tidak salah “Argo Bromo” yang anjlok, membuat jadwal keberangkatan kereta dari Jakarta sedikit kacau dan terlambat beberapa jam. Sejujurnya 1 tahun lalu ketika saya dan keluarga mencoba transpotasi kereta api dari Yogya ke Bandung, walau kereta yang saya tumpangi adalah kereta kelas utama Executif, saya merasa tidak merasa aman dan selalu was2 sepanjang perjalanan. Tru steran ghal itu lebih banyak dikarenakan saya membaca banyaknya berita musibah kereta api. Apalagi saya mendapat khabar bahwa kereta Jakarta Bandung sempat anjlok di sekitaran jalur Cipularang, 1 hari sebelum keberangkatan saya & keluarga ke Bandung. Sepertinya saya memilih kendaraan travel atau transpotasi lain bila ada pilihan kelak suatu saat plesiran dengan keluarga di Jawa. Untuk moda kereta api sepertinya sudah cukup dulu lah.

Kembali ke soal Mudik. Adanya fasilitas Jalan tol memang banyak membantu arus mudik, walau akhinrya pun harus sabar dengan berjalan merayap setelah keluar dari Jalan Tol. Tidak di pungkiri bukannya semua pemudik itu tidak tahu kalau pun akhirnya mereka akan terjebak kemacetan yang terus terjadi setiap tahun pada hari2 mudik menjelang hari Raya Idul Fitri. Tapi itulah kondisi yang mirip dan terjadi hampir setiap tahun. Mereka seakan lupa dengan harga BBM yang terus melonjak dan himbauan penghematan2 dari berbagai kalangan termasuk dari Pemerintah. Sejauh pemerintah tidak bisa memberikan mode transpotasi yang nyaman dan aman maka pada periode mudik lebaran untuk sementara himbauan penghematan BBM seperti tidak ada artinya. Kalau dihitung pemborosan BBM dengan adanya kemacetan2 selama mudik, mungkin bisa triyunan rupiah. Belum lagi kemacetan yang sehari2 di kota besar seperti Jakarta.

Mudik Lebaran memang sebuah phenomena kearifan budaya yang terbalut sendi agama dan ikatan keluarga yang susah ditemui di Negara lain di dunia ini.  Menabung uang dari hasil kerja keras yang tidak mudah untuk mendapatkanya, namun akhirnya semua itu kembali lagi ke hati masing untuk saling member dan menerima kepada orang tua dan sanak saudara di kampung halaman. Lebaran juga bisa jadi menjadi barometer keberhasilan menjalani hidup di kota besar. Entah apakah itu semu ataupun betul adanya. Tidak dipungkiri pula Lebaran pun seperti ajang pamer keberhasilan seseorang di kampung halaman nya. Mobil yang selalu berganti setiap tahun pulang kampung. Perhiasan2 emas yang menggelayuti leher dan lengan. Entah pantas entah tidak, serta cerita2 seru dari kota besar. Sanak keluarga di desa hanya bisa manggut2 saja mendengarkan. Padahal bukannya mereka tidak tahu cerita2 itu. Karena media TV, Internet sudah menjalar jauh ke kota2 kecil bahkan pedesaan.

Semoga saja kearifan hidup sanak2 saudara yang masih setia merawat tata karma dan saling membantu, walau mungkin kini hal itu sepertinya juga sudah mulai luntur, dapat menjadikan oleh2 bagi pemudik untuk bisa diterapkan dalam kehidupan di kota2 besar paling tidak untuk diri sendiri.

Lebaran kali ini, ketupat dan Soto Banjar masih menjadi menu utama di rumah Nenek di Balikpapan. Semoga Lebaran Kali ini dapat memberikan lebih dari setitik nilai2 kehidupan yang lebih baik.melunturkan dosa2 menunuai harkat dan kebesaran jiwa menuju ketakwaan yang lebih tinggi lagi di hari2 mendatang, Insya Allah.

 

Alit Btg 2008

Satu Tanggapan to “Mudik dan kenangan masa kecil.”

  1. Nadiaztonama's weblog Says:

    Lam kenal untukmu, selamat mudik dan hari raya Idul Fitri 1429H, maaf lahir bathin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: