Perjalanan Trans Kal-Tim 95

Sebetulnya ingin sekali membawa TLC kesayangan untuk menjelajah lebih jauh ke tempat lain di Kaltim. hanya saja kendala yang ada yaitu tidak ada teman sekantor yang mempunyai keinginan yang sama dengan saya, sampai akhirnya ada undangan dari teman2 penggemar dari Jip Pupuk Kaltim untuk melakukan perjalanan darat ke Tg. Redeb. Dan di lanjutkan ke Derawan. Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia2kan untuk menguji coba kemampuan Toyota Land Cruiser 81. Dan pada kesempatan itu pula saya pertama kali bergaul dan berkenalan dengan teman2 penggemar jip dari Pupuk Kaltim. Sebut saja ada pak Oom, ada pak Bambang Wikanto, ada pak Rusli dan banyak lagi yang lain. Kebetulan di Kalender ada hari libur di jum’at. Jadi istilahnya Long Week End. Sebelum hari H, saya mempersiapkan Kendaraan sebaik mungkin. Saya bawa ke seorang montir yang memang peganganya Toyota Land Cruiser. Namanya Denny. Dia warga keturunan dan pindahan dari Balikpapan. Denny bilang mobil saya cukup sehat dan mampu untuk menembus s/d Ke T. Redep. Tapi Denny masih bimbang dengan sebuah mobil CJ-7 yang ada di bengkelnya yang katanya juga ingin ikutan ikut. Saya sendiri tidak mengenal orangnya. Dan terakhir baru saya tahu bahwa yang punya mobil TLC itu kerjanya di BPR. Dia ngotot mau bawa mobilnya beserta istri dan 2 orang anaknya yang masih kecil2. Sementara saya hanya bertiga dengan teman se kantor. Kondisi mobil tidak ada Winch, tapi waktu itu kondisi mesin lagi bagus2 nya. Soalnya mesin sudah saya rapihkan dan pengapiannya sudah saya upgrade. Sudah pake CDI, Header 6-1, Coil Mallory Pro Master. Pokoknya tarikannya ringan dan enak banget di bejek gasnya. Knalpot saya pake yang type free-flow. Wah kalau pas gas di lepas suara knalpot mengaum garang.

 

Dicegat Banjir di Sanggata.

Sesuai jadwal, kami berkumpul di Koperasi PKT. Ada sekitar 8 mobil yang ikut serta dalam perjalanan itu. Jenis mobilnya macem2. Selain TLC, ada Nisan Patrol, CJ-7, Daihatsu Taft. Selain perbekalan BBM yang saya simpan dalam Jerican juga tentunya makanan kecil.

Lepas Isya akhirnya kami berangkat menuju Sanggata. Waktu itu jalan Bontang – Sanggata belum aspal dan masih pasir batu yang dikeraskan. Perjalanan konvoi tidak bisa membuat kami melaju sesuka hati. Apalagi waktu itu mobil saya belum di lengkapi AC. Jadi debu2 masuk dengan bebasnya ke dalam kabin.

Ketika perjalanan baru berjalan sekitar 30 Km dari pertigaan Bontang – Samarinda – Sanggata sekitar pukul 09 malam, tiba2 di depan tampak banyak sekali kendaraan berhenti. Ada kendaraan Box, pick-up dan truk. Kami pun mau tidak mau harus ikutan berhenti dan turun untuk mencari tahu ada apa. Ah Ternyata jalan yang akan kami lalui sedang terendam arus banjir yang cukup kuat. Padahal malam itu tidak hujan sama sekali.  Kalau dilihat derasnya dan tingginya arus air yang memotong jalan kira2 se paha saya dan sepanjang kitar 100 Meter. Akhirnya kami diskusi sejenak dengan teman. Kalau menunggu air surut, target perjalanan bakalan tidak akan tercapai, kalau maksa menerobos, kami tidak tau mana badan jalan mana pinggir jalan. Akhirnya diputuskan beberapa rekan berdiri di kanan kiri jalan sebagai tanda. Itupun kita belum tahu apakah jalan yang akan dilalui mulus tanpa lobang. Atau kalau ada lobang sedalam apa ?.  akhirnya di putuskan Mobil yang ground Clearance nya tinggi mencoba lebih dahulu. Beberapa buah mobil berhasil lolos. Mobil saya sendiri tidak mempunyai cukup ground clearance sehingga dek supir, lobang knalpot tertutup air. Air juga sempat masuk di atas permukaan kipas radiator, sehingga air muncrat lewat sela2 lobang angin kap mesin. Beruntung mobil saya selamat.  Ada beberapa mobil terjebak dan mati mesin di tengah banjir karena pengemudi sedikit panic ketika memasuki jalan yang berlobang dan kurang pandai memainkan RPM mesin. Untunglah ada Mobil CJ-7 kepunyaan teman yang kerja di BPR. Mobil CJ-7 itulah yang menarik beberapa mobil yang mati di jalan.

Lepas hadangan banjir di  dan mampu menolong beberap amobil yang mati terjebak arus air, membuat teman saya yang membawa CJ-7 itu kian percaya diri. Padahal Deny sang montor sudah me wanti2 agar CJ-7 cukup sampai di Muara Wahau saja.

Sampai di Sanggata mungkin sekitar pukul 11 Malam. Kami istirahat sejenak. Kebetulan ada yang masih jual BBM eceran, akhirnya kami penuhi lagi tangki bensin kami. Waktu itu saya yakin bensin tidak lagi murni tapi sudah dicampur minyak tanah.

Waktu itu say abetul2 tidak mengenal medan Jalan Sanggata. Yang pasti ketika melanjutkan perjalanan seolah2 kami masuk dalam komplek Batu bara KPC. Benar juga entah kami salah jalan entah memang itu jalurnya. Yang pasti saya sempat kaget dan banting setir ketika di mobil saya berhadapan dengan Giant Truk batu bara. Saya rasanya Giant truk itu sedang tidak operasi.  Akhirnya kami menemukan jalan menuju ke Pertigaan Bengalon – Sangkulirang. Jalan aspal yang kami rasakan hanya ada di Kota Sanggata saja.

 

Masuk Pertigaan Bengalon – Sangkulirang kami berhenti dan istirahat sejenak. Waktu itu menunjukan sekitar pukul 03 dini hari.  Kanan kiri memang gelap gulita karena memang tidak ada rumah penduduk.

Ada sekitar 40 menit kami istirahat sambil mengecek kondisi kendaraan masing2. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kea rah Bengalon.  Jalur yang kami lalui sangat bervariasi. Mulai tanah keras sampai kubangan lumpur. Dalam perjalanan, kami beberapa kali bertemu dengan beberapa kend. Kijang yang sepertinya di jadikan taxi antar kota. Juga beberapa truk bahkan sebuah Ambulance. Mereka menunggu pagi tiba, karena medan yang dilalui sangat licin dan berlumpur.

 

Patah As Roda

Waktu berangsur2 pagi. Mata ini belum pernah dipejamkan untuk istirahat. Kebetulan cuaca cerah dan kondisi jalan sudah agak mendingan. Walau ber kelok2 naik turun tapi kondisi jalan sudah tanah yang di keras dengan kerikil. Beberapa jembatan beton juga sudah jadi sebelumnya.  Entah bagaimana mulainya, tapi yang saya lihat tiba2 CJ-7 yang berada di depan saya sudah berada di sisi jalan dengan kondisi miring dan salah satu ban belakang kirinya tidak terlihat. Ternyata teman saya yang orang BPR itu keasyikan menggenjot CJ-7 hingga ketika memasuki jembatan tidak memperhatikan adanya perbedaan tinggi bibir jembatan dengan tanah. Hal itu yang membuat hentakan keras dan akhirnya mematahkan as roda kiri belakang. Padahal dia itu membawa istri dan 2 anak yang masih kecil2.  Akhirnya kami putuskan mobil CJ-7 ditinggal dan kami meneruskan sampai ke Muara Wahau untuk mencari hotel buat teman saya. Artinya mereka hanya sampai di Muara Wahau saja.

Di muara Wahau waktu sudah pagi menjelang tengah hari. Tidak ada hotel yang ada penginapan. Waktu istirahat tidak saya sia2 kan untuk basuh2 badan dulu. Ternyata air untuk mandi di penginapan diambil dari air sungai yang berada tepat di belakang. Tentu saja warna nya coklat.

Ada sekitar 2 jam kami istirahat sekaligus mengisi perut.  Lepas dari Wahau jalur jalan darat cenderung lebih datar. Beberapa kali kami menemui per empatan jalan dan terpaksa bertanya kepada orang arah ke Tg. Redeb. Kadang pula kami melalui komplek HPH dimana masih ada tumpukan Log2 kayu.  Ada juga kami melintasi jalur HPH dan kami harus ikuti petunjuk2 rambu jalan yang baru sekali saya temui. Ada rambu dimana mobil harus ke kiri, atau sebaliknya. Hal ini dimaksud agar bila ada lory (trailer pengangkut kayu log) kend lain tidak tersenggol atau kena pantat truk yang panjang.

Diantara jalur HPH yang mulai maik turun, akhirnya kami berhenti sejenak di sebuah titik dimana didepan terlihat jalan menurun tajam dan kemudian naik cukup panjang.  Akhirnya di putuskan mobil harus turun satu persatu sampai mobil tsb. selamat sampai di titik paling atas. Kebetulan saya dapat giliran terakhir. Jadi saya masih bisa mengamati bagaimana setiap mobil meluncur turun dan kemudian bejek gas untuk menembus tanjakan panjang. Ingat jalanya adalah jalan tanah. Jadi harus dengan perhitungan. Kalau tidak mobil bisa terperosok ke kiri ataupun kanan.

Ketika tinggal 2 mobil, cukup lama saya menunggu mobil yang di depan saya meluncur. Pengemudinya dari tadi hanya berdiri di samping depan mobil sambil memandang ke jalan yang menurun tanjam. Cukup lama saya bersabar. Tapi akhirnya saya turun dari mobil da menghampirinya.

Kenapa pak ?. Tanya saya.

Saya tidak berani bawa mobil ini turun kebawah. Jawabnya kalem.

Gantian saya yang kelabakan. Bagaimana ini. Bapak ini kan nggak mungkin ditinggal sendirian. Teman2 saya yang satu mobil juga belum familiar dengan Daihatsu taft. Saya sebetulnya pernah bawa Daihatsu Taft. Tapi siapa yang akan bawa mobil saya. Akhirnya kami Cuma menuggu saja. Saya nggak bisamaksa bapak itu untuk meluncur turun dengan Taft nya. Takut muncul kendala lain. Nggak lama ada mobil lain muncul di belakang saya. Entahlah dari mana, tapi yang pasti salah satu penumpang mobil tsb. mau membantu membawa Daihatsu taft turun dan menaiki jalur terjal. Aman deh saya.

 

Saya sendiri lupa jam berapa ketika suatu saat menemukan jalan aspal mulus di tengah hutan. Ternyata tanda2 mau sampai tg. Redeb. Betul juga sekitarjam 19:00 Rombongan masuk Kota Tg. Redeb dengan terlebih dahulu mampir di kantor polisi. Lalu langsung ke penginapan. Benar2 perjalanan yang melelahkan.

 

Ke Pulau Derawan

Pagi2 kami sudah bangun dan sarapan. Sekitar pukul 08:30 kami berjalan kami menuju pinggiran sungai besar yang membelah kota Tg. Redep. Saya sendiri tidak tahu sungai apa namanya. Yang pasti kami menunggu speed boat kepunyaan Pemda setempat yang akan membawa kami ke Pulau Derawan.

Perjalanan ke Pulau Derawan +/- 1 jam lebih dengan speed boat. Perjalanan menyusuri sungai sampai ke muara lalu menuju pulau Derawan.  Di Pulau Derawan ternyata seperti di bagi 2. Sebagian sisi adalah perkampungan penduduk sebelah sisinya ada resort yang dikelola oleh swasta. Rate kamar waktu itu memakai dolar amrik. Ada sarana telp. Saya sendiri mencoba di menenlpon ke Rumah. Di derawan kami hanya berenang disekitar dermaga dan dan makan siang di tempat penduduk. Benar2 indah taman air di sekitar dermaga. Sayang saya nggak sempat bertemu dengan kura2 besar yang menjadi ciri2 khas pulau Derawan.

Kami menghabiskan waktu di pulau derawan Cuma sekitar 2 jam saja. Untuk kemudian kembali lagi ke Tg. Redeb. Pada perjalanan pulang gelombang laut lumayan besar. Beberapa anggota tampak pucat ketika speed boat terpaksa menerjang ombak.

 

Jam Buka SPBU

Lepas dari Derawan dan kembali ke Hotel, kami langsung bersiap2 untuk segera kembali pulang ke Bontang. Oleh karena persiapan yang sedikit lelet, akhirnya kami baru bisa keluar dari Tg. Redeb menjelang Magrib. Yang membuat kami kaget adalah ketika iring2an mobil kami menuju ke SPBU ternyata SPBU sudah tutup. Ternyata di Tg. Redep SPBU tutup sekitar jam 6 sore. Wah… kami semua betul2 tiadak ada yang tahu soal itu. Al hasil kami terpaksa beli bensin di pengecer. Selain harganya lebih mahal, bensin pun sudah hakul yakin dicampur sama minyak tanah.

 

Ketemu Hantu Dayak

Perjalanan pulang sempat nyasar masuk ke areal HPH dan berputar2.  Sampai akhinrya salah satu mobil CJ-7 Diesel yang berada di depan saya mogok. Waktu kalau tidak salah jam 03 subuh persis di tengah hutan. Entah dimana. Waktu itu mobil saya sudah berada di atas. Entah bagaimana waktu saya turun dari mobil untuk mencoba membantu mobil yang problem di busi pemanasnya, tiba2 saja bulu kuduk saya berdiri. Saat itu saya rasanya hendak kembali ke mobil lagi. Tapi kho langkah kaki ini terasa berat. Jarak mobil yang mogok dengan mobil saya Cuma sekitar 25 meter saja. Hanya mobil saya berada di atas. Entah karena capai atau halusinasi, di depan saya terlihat siluhet seperti seorang dayak berdiri gagah memandang saya dari pinggir jalan. Tingginya sekitar 2 meter. Tampilan itu begitu jelas karena mobil saya arahkan balik dengan lampu besar yang menyala. Maksudnya membantu menyinari mobil teman yang sedang mogok.  Entah kekuatan apa, akhirnya saya bisa lari secepatnya dan langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil saya hanya bisa diam tanpa mampu untuk mencoba melihat ke arah banyangan sosok dayak tadi.

Tidak berapa lama mobil yang bermasalah sudah selesai. Dan kami melanjutkan perjalanan kembali.

 

Mobil saya mulai ngambek

Belum lama mobil berjalan, tiba2 lampu besar sebelah kiri putus, baik lampu jauh maupun dekat.  Terpaksa teman yang duduk bangku depan membantu menyorot jalan dengan lampu senter,  Selama perjalanan pagi dan siang mobil saya beberapa kali kepater di lumpur. Sekedai diketahui bahwa kami tidak lagi berjalan full rombongan, Karena sebagian sudah jalan lebih dahulu. Saya sendiri tinggal 3 mobil yang terus ber iring2an jalan. Sesekali berhenti memeriksa kondisi ban, ternyata beberapa baut roda belakang saya hilang dan sisanya kendor. Knalpot freeflow yang pemasanganya kurang sempurnya akhirnya lepas tekena benturan dengan ban. Kebetulan saya tidak menyadari betul kondisi tsb. sadar ketika tenaga mesin berkurang dan suara di luar seperti kapal klotok.  Akhirnya mobil saya memang berjalan tanpa muffler. Untungnya waktu itu sudah mau dekat Sanggata. Siang sore kami benar2 kehabisan air minum.  Dan tidak bisa berjalan ngebut. Soalnya saya takut mesin saya jebol karena tidak pake Muffler.

 

Kembali ke Bontang sekitar jam 12 Minggu Malam. Padahal senin nya kami harus segera bekerja kembali. Petugas sekuriti sempat bingung melihat mobil kami yang berlumuran lumpur kering dan bersuara keras masuk ke Komplek. Akhirnya saya bisa tidur pulas dan mobil tidak mengalami kerusakan yang berarti. Saya Butuh waktu 3 hari untuk mencuci dan melunturkan lumpur dari body dan sasis mobil. Tapi terus terang perjalanan itu selain terpanjang, melelahkan tapi juga sangat mengasyikan. Saat ini jalan yang dahulu tanah memang sudah beraspal, walau kadang masih ada jalur2 tanah becek dan berlumpur. Say amaklum deh. Justru kalau mulus semua itu surprise buat saya.

 

Mobil CJ-7 teman yang as rodanya patah sempat tertahan sekitar 1 bulan untuk akhirnya dinaikan keatas truk untuk dibawa ke Bontang.  Ada hal yang cukup unik menurut saya  waktu itu. Khususnya di pasar Muara Wahau. Mereka tidak menjual daging sapi tapi yang di jual adalah daging Payau (Kijang). Saya sendiri sempat ditawarkan untuk membeli kepala payau yang sedang di awetkan dengan di lumuri Garam.  Juga bertemu dengan suku dayak peladang. Waktu itu yang saya incar adalah Mandau yang dipakai sehari2. Bukan main tajamnya.

kalau dihitung total perjalanan pergi pulang sekitar 1000 Km.

 

2 Tanggapan to “Perjalanan Trans Kal-Tim 95”

  1. Hi Pak,

    Wah saya dengar cerita adventurenya seru banget. Mohon masukan untuk kekuatan Jeep LC, CJ-7. Dan apabila dipakai hari hari di kota, lebih nyaman dan tangguh mana pak?
    FYI: CJ-7 yg saya maksud adalah yg tipe Diesel

    Thanks Pak

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Hallo juga.
      Yah memang begitulah kalau kita bisa menikmati dimana kita berada maka kita akan betah juga. Kebetulan saya masih merawat TLC saya. kondisinya sih standard saja. hanya sistem pengapian nya di sempurnakan. Kalau CJ-7 saya belum banyak tahu. kebetulan juga populasi di Bontang kalah dengan TLC. dipakai sehari2 lebih banyak untuk rumah kantor. maklum karena rumah kantor 1 komplek jadi tidak jauh dan macet. hanya butuh 5 menit saja. tapi kalau dipakai di kota besar. saya berfikir 2 kali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: