MIMPI NEGERINYA BOLKIAH

Masih Ingat benar waktu teman2 kantor membicarakan soal OtDa (Otonomi Daerah) yang waktu itu akan segera di terapkan di Negara tercinta. Sambil duduk2 di tempat khusus untuk perokok beberapa teman sesama perokok ada yang bercerita dengan semangat ber-api2 dan membayangkan Propinsi dimana saya merantau dan bekerja seolah olah akan menjadi seperti Negara Brunei DaruSalam yang gemah ripah lohjinawi. Mimpi dan bayangan2 yang indah2 dari teman saya itu sebetulnya sih sah2 saja dan realistis juga. Karena memang Propinsi dimana saya bekerja adalah salah satu propinsi terkaya di Indonesia. Dari sejak Kemerdekaan RI, Propinsi ini sudah memberikan kontribusinya kepada Negari RI. Contoh saja dari Minyak Bumi. Setelah itu mulailah Boom Kayu Log yang masa ke emasannya sekitar tahun 70 an sampai sekitar akhir 89. Setelah pemerintah melarang export kayu log, maka industri Kayu Lapis tumbuh subur. Larangan export kayu Log ini sempat membuat Taiwan,Jepang sebagai Negara2 pengimport kayu log Indonesia cukup sewot. Karena dengan adanya larangan export kayu bulat (Log), berarti indrustri dan pabrik2 kayu lapis di negaranya akan segera mati karena tidak ada posokan bahan baku.  juga hasil dari dari perut bumi lainnya seperti Gas Alam dan Emas dan terakhir yang sedang naik daun adalah emas hitam alias Batu bara.

Pokoknya beberapa teman sudah membayangkan Propinsi itu akan segera bangkit dari ketertinggalannya dari Propinsi2 di Jawa. Tidak akan ada lagi jalan2 antar Kota dan Kabupaten yang masih tanah berlumpur. Semua jalan akan mulus. Tidak ada lagi masyarakat miskin. Tidak ada lagi kota2 besar yang kumuh dan jorok. Mobil2 mewah berkwalitas pasti nggak lama lagi akan berseliweran. Benar2 mimpi yang Indah untuk segera di realisasikan.

Masa awal Otda, beberapa kota besar seperti ketiban rejeki nomplok dengan dana APBD yang jumlahnya membesar. Masing2 Kota berupaya seperti bersaing memperindah kota dengan segala macam model pembangunannya. Jalan yang tadinya Cuma 1 jalur menjadi 2 jalur mulus. Ada pulau tempat habitat Bekantan disulap dan dijadikan sebagai pulau Impian dengan segala macam fasilitas rekreasi yang termodern. Pokoknya saat itu secara phisik pembangunan gedung2 dan sarana jalan memang terasa sibuk sekali. Sampai2 supaya dana itu tidak tersedot oleh orang2 yang bukan penduduk setempat, maka munculah kegiatan2 razia KTP oleh pihak terkait. Apalagi waktu itu euphoria Pemimpin daerah haruslah seorang “Putra Daerah” setempat. Isu itupun sempat di usung dalam awal penerapan Pilkada.

Ada gula ada semut. Suatu pribahasa yang pas pada masanya. Melihat APBD yang sangat menggiurkan itu maka para pebisnis dan konsulan dari kota besar di Jawa pun ingin mencicipi dan berebut kue yang sangat manis. Macam2 saja yang ditawarkan. Ada yang memberikan masukan bahwa perlu dibuat jalan Tol agar memperlancar roda ekonomi. Ada yang memberikan masukan untuk dibuat jalur kereta api. Belum lagi masing2 kepala daerah saling ngotot untuk membangun Bandara Udara yang terbesar dan termegah di Propinsinya. Padalah ada 2 kota yang jaraknya tidak lebih dari 40 Km masing ngotot untuk membangun bandara sendiri2.

Saya sendiri juga berharap Mimpi2 teman2 saya menjadi kenyataan. Karena memang secara deposit, kekayaan alam Pripinsi tempat saya bekerja sangatlah kaya.

Mungkin sudah mendekati 10 tahun sejak di jalankannya OtDa oleh masing2 daerah tapi ternyata mimpi2 Indah itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Kota2 yang di per indah dan dilengkapi oleh beberapa sarana rekreasi yang mendahului jamannya seperti jalan di tempat. Perubahan kota hanya dalam radius sekitar 10 – 20 Km saja. Setelah itu masih sama seperti dahulu. Jalan2 kota dan antar kota memang ada perbaikan. Tapi ada juga yang parah seperti tak terjamah dan tak ada dalam peta Propinsi saking hancurnya prasarana dan tidak ada keseriusan pemerintah daerah.  Sarana2 rekreasi yang mendahului jamanya karena boleh dikata sangat modern akhirnya menggerogoti dana Pemda dalam pemeliharaan. Belum lagi gedung2 pendudukung pemerintahan yang sudah dibangun, akhirnya banyak yang mangkrak karena belum pernah ditempati. Pembukaan jalan baru untuk sebuah kota baru, selama 5 tahun tidak ada perubahan.  Munculnya kasus2 Korupsi yang sampai melibatkan petinggi2 pemimpin daerah. Belum lagi gengsi untuk mengadakan PON dengan memberikan fasilitas2 gratis kepada seluruh Kontingen yang datang. Ketika para petinggi sekaligus pencetus keinginan itu sedang dalam bui, maka para pembantunya seperti kebingunan mengurus kegiatan yang belum pernah ada sebelumnya di bumi Propinsi itu. Venue2 olah raga yang boleh terbilang sangat besar menyerap dana, tapi setelah itu masih dipikirkan bagaimana pemeliharaan selanjutnya. Belum lagi maraknya tambang2 Batubara baik liar maupun setengah resmi dan resmi, dalam skala kecil maupun menengah tumbuh dan me ngacak2 kulit bumi. Sarana2 utama banyak yang mangkrak. Para pejabat masih lebih suka wajahnya muncul dalam Koran local, daripada aktivitasnya. Lucunya sebagian poto pejabat sedang bergaya dengan HP di telinganya.

Akhirnya Teman2 saya yang tadinya bermimpi yang indah2 tentang Propinsi ini sadar bahwa mimpinya itu tidaklah mudah untuk di jadikan kenyataan. Bahkan seperti muncul raja2 kecil yang sebelumnya memang sudah di prediksi oleh pakar2 ilmu Pemerintahaan. Kondisi SDM yang belum siap sepenuhnya serta perencanaan pembangunan daerah yang masih perlu di kaju ulang, akhirnya dimanfaatkan oleh kecerdikan para Investor untuk terus menguras sumber daya alam yang tak tergantikan. Tidak semua Pemimpin daerah jelek. Ada beberapa punya visi misi dan hasil yang bagus dan realistis dilakukan dengan bertahap. Tapi toh dia tidak bisa bekerja sendirian untuk daerahnya sendiri.

Ada pemandangan yang saya anggap lucu ketika saya sedang berada di sebuah kota Kabupaten, saya melihat ada beberapa mobil sedan mulus2 di jejer di pinggir jalan dengan di tempeli tulisan “Dijual”. Sebetulnya kota Kabupaten tsb. Tidaklah besar. Kota tsb. Besar karena ada Tambang Batu Bara terbesar di Dunia. Tapi kenapa banyak Mobil Sedan di jual oleh pemiliknya. Akhirnya saya baru sadar bahwa ketika saya ke Kota Kabupaten tsb. yang jaraknya sekitar 90 Km saja. Jalan Propinsi yang saya lewati tidaklah mudah dilalui oleh mobil2 sedan tsb. jangankan sedan. Truk2 pengangkut Sembako pun banyak yang terjebak di jalan yang boleh dikata hancur lebur. Saya sendiri masih berpikir ulang untuk membawa kendaraan kijang ke kota tsb.  belum lagi papan2 informasi tentang tempat pariwisata. namun jalur menuju ke tempat wisata belum di apa2kan. jadi papan itu benar2 sekedar informasi saja. kalau ada yang tertarik masuk ya silahkan. tapi maaf jalannya masih semak dan lumpur lho, kalau tidak juga tidak apa2.

Mungkin pada awalnya pemilik sedan2 itu bermimpi bahwa jalan propinsi antar kota akan segera mulus karena sebagai salah satu urat nadi perekonomiannya. Tapi ternyata jalan itu seperti tak bertuan. Di  media cetak, masing2 pihak di pemda saling lempar tanggung jawab dan berpolemik.  Kalau sudah begitu buat papa beli mobil sedan bagus2 kalau hanya Cuma keliling kota yang tidak lebih dari 30 Km sekali putar. Kalau untuk orang Pemda nya, tentu saja memanfaatkan mobil kantor ber plat merah yang rata2 jenis minibus untuk berpergian ke luar kota khususnya week end. Coba saja lihat kalau Minggu Sore. Banyak kendaraan berplat merah pulang kembali ke masing2 kota.

Kalau sudah begitu jangan bermimpi dulu melebihi jamanya. Sekarang ini jamanya “Emang Gue Pikirin”  tapi tentunya tidaklah semua yang dihasilkan dari produk2 Pemda itu Jelek. Banyak yang bagus juga. Hanya saja dalam waktu dekat jangan dulu deh bermimpi seperti negaranya Sultan Bokiah. Syukurlah masih dalam kesatuan Negara RI. Seandainya saja Propinsi itu menjadi Negara sendiri, bukan tidak mungkin justru akan dikuasai oleh Mahluk2 asing yang mengincar kekayaan alam yang sangat berlimpah. Makanya sesekali cobalah baca dan simak Media cetak local daerah. Pasti anda banyak tersenyum. Orang yang sudah divonis bersalah tidak ada malunya lagi. Malah suka berkoar2. Dan ikutan maju dalam pemilihan Caleg. Hebat kan….

Beberapa tahun lagi jika umur panjang, akan segera memasuki masa pensiun. Ada kenginginan wiraswasta dengan berternak kambing. Selama ini kambing masih di datangkan dari luar pulau. Sate dan gulai kambing pun harganya di tempat saya termasuk cukup mahal. Walau sudah mahal isinya lebih banyak gajih nya. Tapi apakah nanti niat itu akan di dukung pemda setempat. Atau jangan2 muncul perda setempat dimana saya harus bayar pajak keramaian untuk setiap ekor kambing saya bila mengembik… belum lagi dana untuk preman2. Atau juga pajak kebersihan untuk setiap butir kotoran kambinng. Juga biaya IMB kandang kambing dan harus menunggu lama. kho sepertinya sinis dan ngada2 sih… ?.  lho kan mungkin saja ada aturan2 main seperti itu.

saya pikir2 lagi deh.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: