Jilbab

Seperti biasanya, kalau kebetulan sedang bertugas ke Jakarta, saya selalu mencoba menghubungi kawan saya semasa di SMP , diantaranya adalah Toto. Dari Obrolan masa2 SMP sampailah ke cerita tentang seorang teman SMP wanita bernama Herawati. Singkatnya kisah perjalanan hidupnya sungguh sangat berubah jauh. Entah kenapa saya jadi penasaran ingin bertemu dan ngobrol dengan Herawati.

Awalnya saya agak ragu dengan info cerita dari Toto teman karib saya semasa di SMP dahulu. Tapi apa iya dia berbohong kepada saya. untungnya Toto memberikan no HP Herawati.  Dalam suatu kesempatan saya mencoba SMS ke Herawati, apakah dia masih mengenali saya.  Saya bersyukur ternyata Herawati masih mengenali saya. bahkan dia mengundang saya untuk datang ke Warung Mie nya di kisaran BSD. Sayangnya waktu itu saya tidak punya waktu sama sekali, walau malam hari sekalipun.

 

Selang beberapa bulan saya mendapat kesempatan bertugas ke Jakarta lagi. Pada Awalnya memang tidak ada niatan bertemu dengan Herawati, tapi hari terakhir saya lebih banyak dirumrah Ortu sendirian. Bosan sendirian di rumah, Saya mencoba untuk mengatur waktu agar dapat berkunjung ke Warungnya Herawati dikawasan BSD.  Saya juga tidak tahu kenapa saya jadi penasaran dan mau dengar sendiri cerita tentang hidupnya. Kalau dilihat sejarahnya nggak ada kaitan. Dibilang bekas pacar atau pernah suka juga tidak. Kalau dibilang waktu SMP kawan dekat, tidak juga. Cuma 1 kali saja sekelas.  Ah mungkin saja saya melihat peluang untuk menulis jalan cerita hidupnya saja. Lucunya saya sendiri bukan penulis.

 

Sayangnya dalam kesempatan waktu itu informasi tentang alamat Herawati tidak banyak. Dulu Herawati pernah informasikan bahwa warung nya hanya buka pada malam hari. Ber-untung waktu itu adik saya mau mengantarkan. Terus terang saya sudah tidak tahu banyak lagi tentang Jakarta. Apalagi kawasan BSD.   Di jalan saya mencoba mengontak no HP Herawati, tapi ternyata no HP itu sudah tidak aktif lagi. Akhinrya saya mengontak Toto untuk menanyakan no HP Herawati yang lain ataupun lokasi warung mie nya. Tapi sayangnya Toto tidak tahu sama sekali no Hp yang baru ataupun detail lokasi. Dia hanya kasih ancer2 di BSD Sektor 9 dekat dengan Mc Donald.

Oleh karena bekal yang saya pegang sangat minim, saya jadi ragu apakah malam itu saya dapat menemukan lokasi warung mie yg dimaksud. Untungnya adik saya sedikit banyaknya tahu lokasi yang dimaksud. Jadi kami tetap meneruskan perjalanan ke BSD.

 

Berbekal nama warung Mie yang pernah di berikan Herawati kepada saya, akhirnya mobil yang saya tumpangi dengan adik memasuki kawasan sekitar belakang Md Donald BSD sektor Sembilan. di pos pengambilan karcis parkir saya mencoba iseng menanyakan kepada petugas parkir tentang lokasi warung Mie Ternyata petugas parkir menunjuk ke lokasi warung makan yang banyak berjejer.

Memasuki kawasan warung2 makan, saya minta kepada adik saya untuk berjalan perlahan2 sambil memperhatikan wajah2 yang ada dalam warung.

Di suatu pojokan akhirnya mata saya menangkap sosok Herawati, persis seperti yang ada dalam foto Reuni. Tubuhnya tinggi, wajahnya lonjong dan agak gemuk. segera mobil kami parkir tidak jauh dari warungnya dan saya mencoba untuk tidak mengenalkan diri ke Herawati. Saya berpura2 sebagai tamu pelanggan. Memasuki warung yang hanya berukuran sekitar 3 x 4 meter yang sangat sederhana, ternyata saat itu belum ada pelanggan kecuali saya dan adik saya. Nggak lama Herawati langsung menghampiri saya.

“Mau pesan apa Pak ?” tanya nya ramah. Saya berusaha menundukan kepala dan tidak langsung menatap wajahnya.

“Mie Ayam 2 ya” jawab saya singkat sambil menarik kursi plastik dan duduk berhadap hadapan dengan adik saya.

Ternyata waktu itu Herawati benar2 tidak mengenal saya lagi. Saya berusaha untuk menahan dan mencari waktu yang tepat untuk membuka jati diri saya. Saya melihat Herawati tampak sibuk meracik 2 mangkok mie ayam pesanan saya. sementara saya hanya memandangi warung tenda nya yang benar sangat sederhana. Disamping warung tampak mobil kijang tua dan yang cukup rongsok yang mungkin hanya laku dijual kilo an sebagai besi tua.

Tidak lama kemudian Herawati menghampiri saya sambil meletakan 2 mangkuk mie di hadapan saya dan adik saya. Waktu itu akhirnya saya memanggil namanya.

“Herawati..” sapa saya pelan.

Herawati saat itu sepertinya sempat tersentak kaget dan mencoba memandangi wajah saya.

“Kamu Alit ya ?..” Tanya nya ragu.

“Apa khabar…” sapa saya sambil menjulurkan tangan.

“Sialan kamu ?. kenapa nggak kasih tahu dulu sih…”  Herawati seketika langsung mengambil bangku plastik dan duduk di samping saya.

“Alit, kami kelihatan tambah tua aja sih. Sudah berapa tahun ya kita nggak ketemuan ” Katanya lagi.

“Allhamdulillah. Itu berarti bukti bahwa proses alam berjalan normal terhadap diri saya”.

Akhirnya saya di kenalkan dengan suami nya, yang lebih dikenal dengan nama “Bang mi’ing”.

Oleh karena belum ada pelanggan lain yang mampir maka kami sedikit leluasa untuk mengobrol dengan Herawati.

Beberapa pelanggan yang datang akhirnya dilayani oleh suami Herawati. Waktu itu saya jadi nggak enak hati sama Suami nya Herawati karena menyita waktu kerja nya. Waktu sejujurnya saya katakan saya bahwa saya mengetahui sebagian cerita hidupnya dari beberapa teman lama juga. Dan saya katakan juga. Pada awalnya warung herawati tidaklah seperti yang saya lihat sekarang ini. Maksudnya tentu saja sebuah rumah makan yang cukup representativ. Tapi ternyata memang warung yang sangat sederhana.

 

Pada pertemuan di situlah Herawati menceritakan sejarah hidupnya yang seperti jungkir balik.

Masa SMP, Herawati adalah gadis manis, tinggi dan dari kelompok keluarga cukup berada. namun di sisi lain Pergaulan di kaum berada nya di sekolah tidak membutakan matanya untuk tetap bergaul dikalangan lain termasuk saya. Saya pernah satu group pada saat pelajaran Praktikum Kimia. Suatu saat dia sempat teriak2 ketika thermometer air aksa pada praktikum kimia pecah dan air aksa mengenai cincin emasnya sehingga warna cincinya berubah.

Lepas SMP, Herawati melanjutkan sekolah di SMA kawasan Bulungan Keb. Baru.

Dia bercerita Waktu itu dia sekolah SMA sudah bawa mobil sendiri. Saya juga tahu saat itu hanya orang2 berada saja yang bisa bawa mobil sendiri ke sekolah. Lepas dari SMA, Herawati meneruskan kuliah.

 Hanya saja dia tidak menceritakan kuliah dimana. Saya sendiri tidak tahu banyak tentang keluarganya. Juga saudara kandungnya. Tapi se ingat saya sih dia tidak punya adik. Saya juga tidak tahu usia berapa dia menikah. Yang pasti masa berkeluarga saat itu dilewati dengan Indah bersama suami dan anak2nya. Sampai akhirnya mulailah terjadi perubahan2 dalam perjalanan hidupnya.

 

Imbas dari Krisis moneter 98 mengakibatkan suaminya menganggur.Dia tidak menceritakan Suaminya bekerja sebagai apa dan dimana. Dan entah karena ap, Herawati tidak menceritakan kepada saya dimana akhirnya mereka bercerai. Herawati waktu itu sudah dikaruniai 4 orang anak. Tidak lama berselang ibunda tercinta nya juga dipanggil oleh Yang maha kuasa begitu juga dengan Kakak tercinta nya tidak lama berselang sepeninggal Ibunya. Waktu itu Herawati tidak menceritakan bagaimana kondisi ekonominya. Yang pasti tidak lama kemudian dia kena penyakit yang mirip dengan penyakit ibunya. Boleh dikata dia tinggal sendiri saja dalam keluarga. Ayahnya sudah lama meninggal. Dari hasil evaluasi medik nya ternyata dokter telah memvonis penyakitnya sudah masuk stadium 3. Saya sendiri tidak tahu persis penyakit apa yang di deritanya. Saya pernah dengar herawati kena penyakit Kanker Getah Bening.

 

Herawati sendiri tidak menceritakan penyakit apa yang dimaksud. Namun disisi lain artinya secara klinis, usia hidup pasien sudah bisa di hitung dalam hitungan bulan. Waktu Itu Herawati tidak mau menyerah. Dengan segala upaya serta melihat masa depan anak2nya, dia berusaha untuk dapat bertahan hidup. Segala pengobatan alternatif sudah dia coba. Akhirnya dia menemukan pengobatan Alternatif yang cocok dan memberikan kesembuhan. Uang yang dipakai untuk pengobatan sudah cukup banyak terkuras dan mengakibatkan kemerosotan ekonomi keluarganya.

Waktu itu Herawati cerita sangat serius sekali. Se-sekali dia permisi karena harus melayani pelanggang yang datang. Dalam perjalanan hidup selanjutnya akhirnya Herawati menikah lagi dengan suaminya yang sekarang. Suaminya terlihat jauh lebih tua dari Herawati. Tapi sekilas saya melihat dia sangat mengayomi. Cukup lama saya mengobrol ber empat.  Ternyata adik saya pernah kenal dengan suami Herawati. Jadi obrolannya nyambung. Saya sempat tanyakan kenapa no HP nya tidak aktif. Ternyata HP nya sudah di jual untuk menutupi kebutuhan hidup. Ada suatu hal yang menjadi kata kunci dalam obrolan saya dengan Herawati.

 

“Jilbab” kata Herawati pelan.

“Lit Lu kan tau, gaya hidup gua mulai masa SMP, SMA dan seterusnya“.

Saya hanya mengangguk saja. maksudnya saya mengerti kalau dia itu anak orang yang cukup berada dan hidupnya lebih mapan.

Ternyata harga sebuah Jilbab gua ini, sangat besar sekali.

“Maksud kamu apa Her..?

Ya, Allhamdulillah Allah masih memberi petunjuk dalam bentuk teguran2 yang sebelumnya gua alami selama ini.

Masa SMP, SMA hidup gua penuh foya2 dengan keberadaan materi orang tua gua. Tapi itu ternyata cobaan buat gua, sampai akhirnya gua memakai Jilbab.

“Artinya kalau saja kamu memakai Jilbab dari dahulu, mungkin hidup kamu tidak seperti sekarang ?…”

“Ya mungkin saja. tapi itu kan rahasia Allah dan saya tidak menyesal kho. Saya hanya mengambil hikmah semua ini.

“Eh.. ngomong2 Istri Lu pake Jilbab nggak ?”.

“Ya Allhamdulillah” jawab saya singkat.

Ternyata secara tidak sadar waktu sudah mendekati jam 11:30 malam. Padahal besok subuh saya sudah harus di Bandara. Akhirnya saya pamitan dengan Herawati dan suaminya.

Dijalan saya masih saja membayangkan tentang perjalanan hidupnya yang seperti jungkir balik. Syukurlah Herawati dapat menerima cobaan itu. Bahkan mendapatkan Hikmah dari perjalanan hidup seorang Ibu yang harus banting tulang membiayai kehidupan 4 anak2nya.

Sebuah kehidupan yang belum dan bahkan tidak terbayangkan sewaktu masa sekolah dahulu. Sebuah perjalanan hidup penuh liku. Bahkan Herawati bilang perjalanan hidupnya itu lebih heboh dari sonetron2 kisa hidup yang ada di TV.

Herawati pun tidak pernah membayangkan kalau dia sekarang ini harus melayani para pelanggan nya di warung Mie nya. Padahal waktu di SMP, SMA dia lebih sering dilayani ketika makan di Bakmi Kebayoran, ataupun Bakmi Mandala di Mayestik. Atau Bakmi GM di Blok M atau juga Bakmi Boy di pojokan Mayestik.

Terus terang saya salut dan acung jempol dengan Herawati.

Dia tidak malu dengan teman2 SMP nya tetang kondisinya. Dia tegar menghadapi cobaan hidup.

“Jilbab” telah membuka mata hatinya dan sekaligus menolongnya dari keterpurukan hidup.

Jilbab memang hanya sepotong kain yang menutup sebagian kepala wanita. Tapi kandungannya yang sangat luar biasa. Kekayaan dan kemiskinan itu bisa berarti Rezeki dan cobaan.

 

“Bagus juga mas untuk dibuat cerita” kata adik saya ketika meluncur pulang ke Pamulang malam itu.

“Ya. Tapi saya belum tahu harus dimulai dari mana?. Jawab saya.

Lama sudah saya tidak kontak dengan Herawati ada mungkin sekitar 2 tahun. Dan terkahir saya mendengar dari ex teman Kuliah yang kebetulan juga kenal dengan Herawati. Dia bilang Herawati sedang belajar berjalan. Kaget juga saya mendengarnya. Apalagi datang info terbaru bahwa dia dirawat di RS Pondok Indah. Ada apa lagi gerangan ?.  Info yang saya dapatkan, Herawati mengalami adanya tulang buntut yang tidak beres dan saraf yang terjepit. Ujung2nya dia keluar dari rumah sakit dan mencari pengobatan alternatif. Terakhir saya di SMS dia melakukan pengobatan alternative di sekitar Puncak Cipanas.  Semoga cepat sembuh saja.

Mungkin saja ada beberapa pembaca kenal dan pernah tahu atau ingin tahu, silahkan saja datang ke warung mie bang Mi’ing di BSD sector 9 belakang MD.

 

 Btg 2006-2008

 Diceritakan dan ditulis atas ijinnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: