Menyusuri sungai Mahakam

Menyusuri sungai Mahakam, hmmm… kedengaran nya enah juga tuh. Memang enak !. Apalagi dengan kapal kayu berukuran besar yang fasilitas akomodasiknya ok.  Kamar tidur AC, kamar mandi ada air panas dan dingin. Makanan melimpah, ada karaoke ataupun sound system keyboard.

Bagi saya perjalanan menyusuri sungai Mahakam dengan perahu yang dimulai dari Kota Tepian Samarinda adalah untuk  kali ke 2. Pertama sekitar 5 tahun lalu bersama teman2 Hash dengan mempergunakan kapal kayu yang berukuran lebih kecil dari yang saya tumpangi terakhir. Perjalanan menyusuri sungai Mahakam kali ini adalah perjalanan wisata bersama dengan Top Pimpinan Perusahaan. Jelaslah akomodasi dan kapal yang di gunakan juga tentunya representative dan jauh lebih layak daripada perjalanan saya lima tahun lalu.

Sungai Mahakam yang cukup lebar dan panjang ini, sudah lama bersih dari glondongan Kayu2 Log hasil tebangan hutan yang pernah Berjaya di tahun 70 s/d akhir 80 an.  Kalau seandainya nanti ada berkesempatan menikmati rekreasi menyusuri sungai Mahakam, jangan dulu berkhayal seperti yang sering di tonton di tv tentang sungai Amazon yang memang sebagian masih Amazing..!. bagi saya Sungai Mahakam secara umum tidak banyak memberikan cerita yang indah. Jangan berharap melihat lebatnya hutan di sisi kiri atau kanan. Jangan membayangkan masih wild wild… Real jungle.. dan jangan juga berharap bangan akan melihat Lumba2 Pesut muncul di sungai.

Aliran sungai Mahakam yang dimulai dari Kota tepian Samarinda sampai ke Muara Muntai yaitu sebuah kecamatan di pinggir sungai berjarak sekitar 189 Km. Muara Muntai adalah sebuah kecamatan yang mayoritas penduduknya berasal dari suku Banjar.  sepanjang itu pula boleh dikata kita tidak lagi melihat lebatnya hutan. Tapi yang kita lihat selain perumahan penduduk yang berada di pinggir pantai adalah adanya terminal batu bara. Serta beberapa ponton batu bara yang hilir mudik membawa muatan emas hitam.

Ya, Masa ke emasan Kayu Log sudah berakhir. Pabrik terbesar pengloahan kayu lapis di Samarinda pun sudah boleh dikatakan hampir  mati. Tidak ada lagi tumpukan kayu2 Log yang besar2 seperti yang pernah saya lihat sekitar tahun 90 an. Semua kini seperti tergantikan oleh Emas Hitam. Yang di explorasi mulai dari kelompok2 kecil sampai pemodal besar.

Untung saja jarak 189 Km menyusuri Sungai Mahakan ini di imbangi dengan fasilitas kapal kayu yang memang dibuat untuk tujuan wisata. Kapal kayu 2 tingkat itu dilengakpi dengan AC, kamar mandi air panas & dingin, sound system karaoke & keyoboard. Kalau dibandingkan dengan akomodasi kapal pada perjalanan pertama, maka ketika air bersih yang disimpan dalam 1 drum plastic sudah habis, saya terpaksa mengambil air sungai Mahakam yang berwarna coklat dengan ember untuk membuat kopi dan supermi. Dari Kota Tepian Samarinda, tepatnya dari Loa Janan sampai ke Muara Muntai waktu yang dihabiskan sekitar 18 jam dengan kecepatan kapal sekitar max 10 Km/Jam

Muara Muntai sepertinya adalah titik dimana sungai Mahakam bercabang. Aliran tsb. Yang berasal dari danau Muncan, dan Semayang. Kenikmatan wisata Adventur baru sedikit terasa nikmat manakala menuju target utama yaitu kerkampungan dayak Banuaq yang berada di Mancong maupun Tanjung Isui. Karena untuk ke perkampungan tsb. Fasilitas yang disediakan adalah sebuah perahu (ces) yang bekapasitan 3 tempat duduk dengan kekuatan mesin sekitar 15 – 20 Pk. Perahu tsb. Akan menyusuri cabang sungai Mahakam untuk selanjutnya memasuki danau Muncan atau Jempang. Tentunya perjalanan tsb. Juga melintasi beberapa perkampungan penduduk yang berada di atas sungai. Aroma Ikan yang di awetkan sangat terasa di hidung ketika melintasi beberapa perkampungan penduduk.

Perjalanan dengan perahu akan lebih seru lagi manakala memasuki dan menyusuri sungai Ohong untuk menuju desa perkampungan suku dayak Banuaq yang bernama Mancong. Dahulu Sungai Ohong adalah urat nadi tranpotasi antara Mancong dan dunia luar. Namun sejalan dengan adanya pertambangan batu bara maka sudah ada jalan darat yang lebih cepat dan dekat. Seperti ke Tg. Isui dan tempat2 lainnya. Pemadangan yang cukup langka lainya di sepanjang sungai ohong adalah adanya beberapa koloni monyet bekantan.

Kalau seandainya anda ingin melihat habitat ikan pesut Mahakam maka jalur yang harus ditempuh adalah menuju danau Semayang dimana tempat habitat pesut Mahakam berada. Namun sepertinya hal tsb. Masih belum ada jaminan kita dapat melihat pesut2 itu bebas terlihat berenang.  Kalau anda seorang yang mencari tantangan lebih makan dibutuhkan waktu lebih banyak untuk menyusuri lebih dalam lagi ke anak2 sungai dengan kondisi banyak riam dan berbatuan. Tentunya jenis perahunya agak sedikit berbeda yaitu lebih panjang dan ramping. Anda harus siap dengan manufer perahu2 diantara batu2 besar dan ber air jernih.

Kembali ke Suku Dayak. Mancong dan Tg. Isui adalah 2 perkampungan suku dayak dari Banuaq. Mereka bukan termasuk suku dayak yang suka memanjangkan Daun Kupingya. Untuk suku dayak yang mempunyai tradisi memanjangkan daun kupingnya, kita bisa melihat di Taman Budaya Pampang yaitu perkampungan Dayak yang cukup dekat dan mudah di jangkau. Berada di sekitar jalan Samarinda – Bontang. Atau untuk di Tepian Mahakan ada perkampungan suku dayak Kenyah yang bernama Lekaq Kidau.

Kalau kita bicara suku dayak yang ada di Kalimantan, banyak sekali suku2 Dayak yang tersebar. Bukan saja yang sudah saya sebutkan tadi. Tapi masih banyak.

Secara umum dari segi pemandangan alam, menurut saya Kaltim masih kalah dengan Jawa,bali,Sulawesi dan Sumatera. Namun bukan berarti kesempatan untuk melihat lebih dekat Kaltim dilewatkan begitu saja. Yang saya tahu tidak banyak wisata menyusuri sungai yang ada di Indonesia. Nah kenapa kalau ada waktu, uang jangan lewatkan kesempatan itu.

“Visit Indonesia Year 2008”

5 Tanggapan to “Menyusuri sungai Mahakam”

  1. Saya tertarik mau menikmati sungai mahakam sekaligus antar tamu untuk hunting foto mohon informasi nama kapal yg ada acnya ….no telp dan kontaknya.
    rgds

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Eqi,
      mohon maaf ya. sebetulnya saya waktu itu juga sebagai peserta biasa. bukan sebagai EO. kalau nggak salah waktu itu EO nya dari Aventure Indonesia Jkt (?).
      Info terakhir yang saya dapatkan dari Hupmas kantor. bahwa kapal yg dipakai waktu itu sudah di carter oleh Oil Company untuk mendukung kegiatan explorasi di sekitar Mahakam juga. cukup sulit mencari kapal pesiar seperti yang pernah kami pakai. biaya waktu itu sektar +/- 40 Jt untuk 3 hari. tentuya dengan jumlah orang sekitar 20 orang.
      Tetapi kalau kapal2 yg lebih kecil menurut saya cukup banyak di sekitaran dermaga kapal tepian Mahakam di Samarinda.
      Sekedar saran kalau untuk hunting foto menurut saya anda bisa memulainya di danau Semayang / Jempang. jadi bisa dimulai dari muara Muntai atau kota baru.
      atau rombongan bisa menyusuri delta mahakam. saya sendiri belum pernah. lebih sering melihat dari udara (pesawat udara).
      sekali lagi mohon maaf, belum dapat memberikan info yg dimaksud.
      Salam

  2. agora pribadi Says:

    Kalau mau bisa hubungi saya mas,biar saya tolong carikan transportasinya. saya tinggal di Tenggarong Kutai Kartanegara, dan saya sering bepergian ke ulu mahakam dengan kapal. tetapi kapal yang saya gunakan bukan kapal khusus untuk turis,melainkan kapal transportasi sungai ke pedalaman. Menurut saya lebih seru naik kapal transportasi dari pada kapal khusus untuk turis. karna kita bisa leluasa akan turun dan kembali melanjutkan perjalanan dengan kapal berikutnya tanpa khawatir. Dan kalau mau ke Danau Semayang saya juga bisa memakai perahu bermesin (ces), karena saya sering tinggal diperkampungan sekitar selama 2 sampai 3 bulan. untuk info yang lebih jelas bisa hubungi saya via sms atau telpon ke no 081347301976 insya allah akan saya bantu.

  3. Hai. Saya berencana utk ikut wisata Sungai Mahakam di bulan April ini. Apakah Anda bs bantu saya utk share info, bagaimana naik kapal menyusuri sungai Mahakam dan menjelajah ke pedalaman utk lihat suku Dayak. Terima kasih sebelumnya

    • suyanto hadimihardjo Says:

      Halo Dita,
      menurut saya wisata Sungai Mahakam lumayan mengasyikan juga. saya tidak tahu jenis kapal apa yang akan di pakai oleh Dita. kapal yg kami gunakan waktu itu memang kapal yg cukup representatif untuk wisata. lumayan besar 2 lantai. lantai 1 ada beberapa kamar tidur ber AC, di lantai 2 tempat ngumpul, ruang makan dan waktu itu kapal tsb. dilengkapi dengan organ & karaoke. di dek belakang ada teras buat santai. tapi sebelumnya saya juga pernah menggunakan kapal lbh kecil masih 2 lantai tapi fasilitasnya jauh dari kapal yg saya pakai terakhir. kapal kecil tsb. biasa di pakai untuk transpotasi sungai Samarinda – Muara Muntai

      Selama perjalanan di S. Mahakam menurut saya tidak ada yang terlalu istimewa kecuali banyak berpapasan dengan tongkang2 Batubara. sepanjang sisi sungai mahakam dari Samarinda – Muara Muntai tidak lagi kita temui hutan2 lebat seperti yg kita lihat di TV tentang sungai Amazone. tapi mungkin cukup menarik buat Dita.

      Saya tidak tahu apa saja yang akan di kunjungi nanti oleh Dita. yang pasti ada 2 tempat perkampungan Dayak ygn mungkin di kunjungi. yaitu di Tanjung Isui. Tanjung Isue terletak di salah satu sudut danau Jempang/semayang. kalau start dari Samarinda biasanya mampir dulu di Tenggarong. ada lagi perkampungan dayak lekak Qidau (kalau nggak salah tulis).
      2 lokasi itu tidaklah harus menjelajah blusukan tapi memang dekat dan mudah di jangkau karena sdh di seting menjadi tujuan wisata.

      Hal yang mungkin cukup menarik adalah ketika akan menuju Tanjung Isuy dimana kapal membelah danau yang sangat luar seperti di laut saja. untuk pesut mahakam memang nggak mudah untuk di jumpai karena selain polulasinya terus menyusut juga hanya muncul di daerah2 tertentu saja. juga memasuki perkampungan di atas danau / sungai.

      ya mungkin lebih baik Dita rasakan saja sendiri nanti perjalanan menyusuri sungai mahakam. juga merasakan naik perahu ces (perahu kecil panjang yg biasanya hanya ber penumpang 4 orang termasuk pengemudi perahu). kalau mau lebih menantang lagi bagusnya ke karst Bengalon Kutai timur. dimana kita bisa melihat ratusan gua2 alam yg salah satunya ada gambar tapak2 tangan. tidak mudah memang ke sana dan itu benar2 setengah pentualangan karena menyusuri sungai bengalon pakai perahu ces sekitar 4 jam dari desa Hambur batu.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: