T.Kaba Riwayatmu kini

Kalau di hitung2 mungkin sudah yang ke 5 Kali saya menyambangi daerah lokasi T.Kaba. tidak banyak orang yang tahu walau dia itu berdomisili di Sekitaran Bontang, Atau Kaltim apalagi Orang dari luar Kalimantan. Tapi Teluk Kaba dalam sejarahnya pernah masuk dalam buku “World Travel Guide”.  Sebagai lokasi yang layak di kunjungi untuk melihat konservasi Orang Utan, Hutan Mangrove dll.

Konon pada Awalnya, Teluk kaba adalah sebuah base camp dari perusahaan HPH yang pernah ber operasi ditahun 80 an. Setelah kontrak berakhir maka base camp teluk kaba yang terdapat beberapa rumah panggung dari kayu kemudian dijadikan tempat konservasi orang utan. Waktu itu masih ada beberapa orang utan. Jalan ke Teluk Kaba waktu itu ada 2 alternatif. Menggunakan jalur laut dari kawasan Tg. Limau Bontang dengan menggunakan perahu ketingting. Waktu tempuh sekitar 1.5 – 2 jam lebih. Atau untuk pekerja PT. Badak NGL ataupun PKT dapat menggunakan speed boat dari masing2 Dermaga nya, dimana waktu tempunya sekitar 1 jam menyusuri pantai. Untuk jalur darat lebih lama lagi karena melalu jalur rintisan antara Bontang dan sanggata yang membelah daereah Taman Nasional Kutai.

Sekitar tahun 88 – 89 beberapa teman sempat rekreasi ke T.Kaba dengan menggunakan speed boat Perusahaan. Tentu  saja sebelum ke sana mereka membeli beberapa tandan pisang dipasar untuk para Orang utan. Pisang waktu itu belum ada harganya. Masih murah sekali. 1 tandan pisang emas/susu paling Cuma sekitar 3 – 5 ribu rupiah saja.

Sekitar tahun 92 saya mengunjungi T.Kaba untuk pertama kalinya melalui jalur laut. Saya sempat bermalam dan pada waktu itulah saya bertemu dengan turis dari Swiss dan Jerman. Turis dari swiss namanya Sofie, seorang cewek yang berperawakan tidak tinggi, putih tapi cantik.

Pada waktu itu saya ditemani oleh seorang jagawana dari TNK Bontang sangat menikmati sekali Menerobos hutan2 disekitar T.Kaba yang masih cukup lebat hanya untuk sekedar melihat sarang orang utan di atas pohon. Waktu itu Konservasi orang utan sudah di pindahkan ke Wanariset Semboja. Konon beberapa ekor orang utan di T.Kaba terserang penyakit TBC. Jadi waktu itu yang tersisa hanyalah kandang2 dari jeruji besi yang sudah kosong. Tapi bukan berarti sudah tidak ada Orang utan lagi. Sebagian Orang utan memang masih berkeliaran di sekitaran T.Kaba dan Sangkima.

Selain Hutan nya masih lebat, juga Hutan Mangrove nya masih asri. Saya pun sempat menerobos hutan mangrove hanya untuk melihat sarang burung laut.  Disitulah saya baru tahu dari Sofie si cewek swiss, bahwa dia tahu tempat T.Kaba dari Buku “World Travel Guide”  yang selalu di bawanya.

Kunjungan berikutnya saya menggunakan jalur darat bersama rekan2 penggemar Jip dari PKT. Saya membawa anak2 saya 3 orang yang masih di TK dan kelas 2 SD. Mobil saya sempat terpater waktu berangkat dan pulangnya juga terpater, dimana akhirnya saya tinggalkan karena sudah kehabisan plat kopling akibat narikin mobil2 lain.

Kunjungan berikutnya bersama dengan teman penggemar Jip dari PTB. Situasi hutan disekitar T.Kaba mulai terbuka. Waktu itu kalau tidak salah jalur darat Bontang – Sanggata sedang dikerjakan. Pada saat itu pula eskalasi pembabatan hutan makin meningkat. Terutama di sepanjang kiri kanan jalur Bontang – Sanggata. Papan2 peringantan dari TNK, seperti tidak ada artinya bagi para pembuka hutan.Saya pun mendengar bahwa rumah Jagawana di T.Kaba konon katanya akan dibakar oleh pendatang liar.  Saat itu boleh dikatakan hutan T.Kaba sudah setengah habis. Beruntung saya dan rombongan masih melihat se ekor anak orang Utan yang nyasar dan tinggal di bawah kolong rumah panggung.

Terakhir saya dating lagi ke T.Kaba sekitar Akhir Agustus 2008 lalu, kondisinya memang benar2 memprihatinkan. Memang di depan jalan masuk ke T.Kaba ada papan Informasi tentang Kawasan Wisata T.Kaba. Memasuki T.Kaba kami sudah di datangi oleh beberapa orang yang sepertinya tinggal di kawasan tsb. Mereka bilang jalur ke T.Kaba tidak bisa dilewati karena putus dan berlumpur dalam. Dalam hati saya bertanya, ada sesuatu yang aneh dan seperti di tutupi. Kami akhirnya tak menghiraukan informasi yang kami terima dari orang2 sekitarnya.  Mobil2 kami segera meluncur memasuki kawasan T.Kaba. Kini sejauh mata memandang kawasan yang dulu lebat kini sudah terbuka bahkan ada rumah2 para peladang liar. Ditengah jalan kami bertemu dengan sebuah truk yang tejebak di lumpur. Truk itu ternyata memuat balok2 ulin yang sudah di gergaji. Akhinya rasa penasaran saya terjawab sudah. Truk itu adalah truk Ilegal Loging. Ternyata lokasi T.Kaba kini dijadikan jalur untuk menyelundupkan kayu2 liar keluar lewat jalur Laut. Oleh karena kami dan teman ada yang membawa istri dan anak2. Maka kami pun tetap waspada terhadap mereka. Dari wajahnya mereka tampak kurang suka akan kedatangan kami secara tiba2. Tapi mereka pun tidak bisa mengusir kami begitu saja.

Beristirahat di depan rumah panggung yang pernah saya tiduri, seketika muncul kenangan2 lama. Dulu terasa rapih dan bersih. Ada 2 payau (kijang) yang jinak. Kini rumah itu sudah lama ditinggalkan oleh Jagawana entah apa alasannya. T.Kaba kini hanya menyisakan kepahitan dalam pengelolaan Kawasan Taman Nasional Kutai yang carut marut akibat adanya beberapa kepentingan yang saling bertolak Belakang. Kemiskinan Warga dan pendatang liar pun turut berkontribusi dalam hancurnya sebagian kawasan TNK.  Beberapa pondok2 yang 1 tahun terakhir ini berdiri di sepanjang kiri Kanan jalan Bontang – Sanggata, terutama setelah melintasi kawasan Sangkima dari arah Bontang. Membuat saya ter heran2. Ada symbol2 yang di tonjolkan di pondok2 tsb. Yaitu topi bulat lebah khas Dayak. Kalau memang mereka itu Warga dayak, warga dayak mana ?, dari mana mereka dating, siapa yang mendatangkan mereka. Saya tidak menyalahkan mereka, tapi saya yakin mereka lah yang dimanfaatkan oleh sebuah kepentingan. Ya kepentingan jangka pendek.

Riwayat T.Kaba memang sepertinya segera akan berakhir. Kicauan buruk Gagak yang terbang secara berkelompok sudah tidak terdengar lagi. Kicauan burung laut sudah sirna. Batang2 pohon besar yang berlumut pun sudah sirna. Kini tinggal jalan tanah yang masih tetap becek dan sebagian berlumpur. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dari T.Kaba. Bersyukur saya dan anak2 yang kian beranjak dewasa pernah merasakan keramah tamahan T.Kaba dengan segala isi hutanya.

 

Black Ulin Aug 08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: