“Gua Air” Bontang

MENELUSURI “GUA AIR” BONTANG

Karena cukup penasaran men dengar adanya Gua di sekitaran bukit2 cadas di daerah Bontang, akhirnya pada hari Sabtu, kami anggota Badak Four Wheel Drive Society (B4WDS) janjian untuk mencoba menuju sasaran. B4WDS adalah komunitas penyuka kendaraan berpenggerak 4 roda (4X4) yang anggotanya adalah pekerja di Lingkungan PT. Badak NGL,  yaitu kilang penghasil gas alam cair tujuan export.

Sabtu itu hanya ada sekitar 7 Mobil saja yang ikutan.  Yang cukup Surprise adalah ikutnya Istri Pak Saleh yang juga penggemar berat Toyota Hardtop. Serta pak Bambang sebagai New Comer. Yang lain adalah muka2 lama seperti pak Suparmo dengan Call Sign “Klabang Sayuto”, Pak Archiaston M yang lebih sering dipanggil “Archie” dengan Tropper-01 serta rekan2 lainnya.

Kalau bicara soal Gua, saya jadi teringat masa lalu. Sekitar tahun 84 saya sudah menapakan kaki di bumi Bontang. Jelaslah waktu itu semua kondisi berbeda dengan sekarang. Salah satu pengusir rasa bosan sebagai seorang bujangan adalah jalan2 ke hutan dengan mobil dinas, baik kijang maupun Toyota Hard Top. Salah satu yang pernah saya kunjungi adalah sebuah gua “Indratri” di sekitaran Bontang. Gua tsb. cukup besar disebuah bukit batu dimana di sisi lain dari bukit batu tsb. batu2nya di explorasi buat bahan2 material. Lokasi tsb. lebih dikenal dengan nama “Quary”. Tahun 88 juga sempat saya video kan lokasi gua tsb. setelah itu boleh dikata tidak saya lebih sibuk berolah raga air setiap sabtu minggu. Baik layar maupun ski air bersama teman bujangan lainnya.

 

Sekitar jam 09:10 Pagi kami sudah meluncur ke arah Jalan Samarinda. Oleh karena target cukup dekat maka perbekalan tidak perlu terlalu aneh2.  Diharapkan paling lambat jam 13:00 jalan2 juga sudah selesai.

Biasanya saya selalu membawa serta anak kembar saya (laki2). Karena ternyata anak2 saya juga sangat menyukai jalan2 ke hutan seperti saya ini. Sayangnya acara tsb. berbenturan dengan acara lain di sekolahnya.

Setelah sekitar 20 menit kami berjalan dari Komplek perumahan PT.Badak NGL, akhirnya kami berhenti di sebuah dusun pinggir jalan besar sekitar 1 KM dari pertigaan poros jalan Bontang – Sanggata arah Samarinda. Sampai sekarang saya nggak tahu nama dusun/Desa itu. Yang pasti desa itu biasa kita sebut sebagai check point 1, sebelum masuk kedalam lokasi.

 

Archie si “Raja jalan” langsung menanyakan kepada pemilik warung kalau mungkin ada orang yang tahu lokasi gua yang ada didalam hutan. Sambil menunggu mencari orang yang mengetahui letak gua, seperti biasa saya langsung saja menekan tombol ON video kamera untuk meliput suasana.

Setelah tanya sana sini akhirnya Archie dapat juga orang yang tahu letak lokasi Gua air yang kami maksud.  Sangat beruntung juga waktu itu cuaca cukup cerah, karena beberapa hari sebelumnya Bontang di guyur hujan cukup lebat dan lama.

Kalau dilihat dari penampilannya orang yang mengetahui lokasi gua  atau lebih gampang disebut pemandu tsb. seperti preman. Rambutnya panjang terikat sampai dengan bahu. Wajahnya dingin. Setelah semua dianggap siap, selanjutnya mulai meneruskan perjalanan memasuki jalur tanah. Kali ini “Red Arrow” call Sign untuk Toyota Land Crusier tidak saya bawa. Saya join dengan Archie dan Pak Mul, pemilik “the Flying Iron” yang sudah full Modif.

 

Jalur yang kami akan lalui adalah sudah tidak asing bagi saya, Cak Mul dan Archie. Karena sebelumnya kami pernah masuk ke hutan dengan jalur yang sama. Hanya saja di dalam banyak sekali percabangan jalan. Semua masih jalan tanah.

Kali ini jalan yang kami lalui memang masih sedikit becek dan sedikit licin. Beberapa kendaraan yang kebetulan memakai ban untuk jalan aspal terpaksa beberapa kali melintir ketika melalui jalan yang kebetulan lebih berlumpur.

Perjalanan ini lebih bersifat fun saja. artinya bukan ingin menikmati Gua yang dimaksud. Tapi berjalan di tanah licin pun sudah merupakan ujian dan rekreasi kami.

Oleh karena kami menganggap perjalanan Sabtu adalah perjalanan yang ringan, dan kebetulan usia anggota yang ikutan rata2 sudah melewati usia 50 tahunan, jadi jalan2nya juga tidak ter-buru2. Se-bentar2 berhenti.

Kalau ada tanjakan yang mungkin bagi Offroader bukan apa2, tapi bagi kami tetap harus hati2.

 

Kalau perlu saya harus terpaksa turun dan memberikan arahan kemana mobil harus mengambil jalur.  Memang kalau jalannya kering, beberapa jalur tanjakan tidaklah sulit untuk di taklukan. Tapi kali ini beberapa tanjakan yang kami temui, semua rata2 tanahnya becek dan licin. Jadi beberapa anggota cukup memakan waktu lama untuk dapat menaklukan tanjakan2 yang kami lewati.

 

ENJOY AJA

Sebetulnya jalur ke lokasi Gua Air itu tidak terlalu jauh. tapi karena sebentar2  berhenti untuk foto2 maka perjalanan yang di estimasi cuma 30 Menit akhirnya bisa 1 jam lebih. Saya sendiri bisa memaklumi, terutama kepada Archie yang memang suka berhenti untuk foto. Sementara buat anggota lain kita juga kasih sempatan untuk tarik nafas dulu karena beberapa kali melintasi jalan yang lumayan mendebarkan.

Ada sekitar 6 Kali kami berhenti. Ketemu sama orang2 di jalan kita foto2 lagi. Pokoknya dibawa Enjoy aja deh.

Waktu itu “Tour Master” lebih diarahkan ke Archie. Saya dan pak Mul diarahkan sebagai “Penyapu Ranjau”. Siapa tahu ada mobil yang kepater di lumpur.

Ditengah jalan ternyata mobil “Chevi-01” Archie sempat over heating karena kipas electriknya ternyata gagal berfungsi. Cukup lama kami berhenti sementara seorang mekanik yang sengaja dibawa oleh pak Djoko W, membetulkan Kipas electric chevi-01 dengan cara di bypass,  sehingga tidak melalui lagi alat sensor suhu air.

 

NO MORE ROAD

Cuaca yang sebelumnya sangat cerah, kini mulai ditutupi awan2 putih. Saya mengingatkan Archie untuk segera menuju target Karena matahari kian meninggi saja.

Sebetulnya jalur / kawasan yang kami lalui adalah masuk antara kawasan hutang lindung dan Taman Nasional Kutai. Tapi faktanya ada saja penduduknya di dalam sebagian lahan yang tadinya hutan lebat, kini sudah terbuka dan ditanami berbagai tanaman. Ada yang menanam Salak, Jati Super dll.

Ada juga bukit2 gundul yang sejauh mata melihat hanya ada tanaman alang2 kalau dari jauh sih seperti rumput yang hijau.

 

Beberapa persimpangan sudah kami lalui. Jalur yang sebetulnya kami lalui, sebagian besar adalah ex jalur HPH Kayu Mas yang sudah berakhir operasionalnya sekitar tahun 90 an. Sebetulnya jalur2 tsb. banyak dan jauh sampai kedalam.

Dahulu sekitar tahun 85 saya pernah menghitung jarak yang kami tempuh waktu iseng2 main ke jalur HPH tsb. sekitar 60 Km lebih. Tapi kini jalur2 tsb. sudah banyak tertutup dan putus.

Suatu ketika kemi melihat didepan tidak ada lagi jalan yang bisa dilalui kendaraan. Karena jalan sepertinya benar2 sampai pada ujungnya. Pak Gondrong, begitu sebutan saya untuk sang penunjuk jalan, turun dari mobilnya Archie. Kami pun akhirnya berhenti dan ikut turun dari mobil.  Semua mobil kami parkir di sekitar kebun pisang. Entah kebun pisang milik siapa.  Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri jalur setapak yang kelihatannya memang sudah ada. Cuaca waktu itu cukup cerah tapi berawan. Dibeberapa tempat terlihat beberapa batang pohon pisang hidup dengan suburnya.

Kawasan Hutang lindung yang kami lalui ternyata memang sudah banyak terbuka. Tidak seperti tahun 84 dahulu. Dimana masih cukup lebat dan banyak pohon2 besar. Tapi kali ini beruntung kami masih  mendengar kicauan burung bersahut2an. Lumayan untuk menghibur hati.

 

 

DIMANA GUA AIR ITU?

 Topographi jalur yang kami lalui dengan jalan kaki memang naik turun. Tapi sejauh mata memandang kho belum kelihatan adanya bukit2 batu kapur/cadas sebagai ciri2 kemungkinan adanya gua. Sekitar 20 menit akhirnya kami mulai mendapati jalan setapak berbatu2 dan menanjak. Jalan tsb. cukup licin dan sedikit menyulitkan beberapa anggota.

 

Oleh karena tidak menyangka akan menelusuri bebatuan licin berlumut,  maka beberapa anggota akhirnya berhenti dan tidak melanjutkan perjalanan. Saya diantara yang masih dianggap muda cukup memaklumi. Saya juga nggak bisa menjamin apa2 kalau memaksakan mereka untuk jalan terus. Sebetulnya jarak mereka berhenti dan lokasi gua itu tidaklah jauh. tapi jalur menanjak dan penuh bebatuan licin membuat mereka mengambil keputusan berhenti dan beristirahat saja.

 

Akhirnya sebagian dari kami termasuk Archie terus melanjutkan perjalanan. Gemericik air yang jatuh dari sela2 bebatuan besar membuat kami kian penasaran saja seperti apa Gua Air itu. Disuatu titik kami melihat ada sebongkah batu besar sekali yang selalu basah karena ada aliran air diatasnya.

“Itu dibalik batu besar itu mulut gua nya pak”. Kata pak Gondrong.

Ternyata salah satu anggota yang ikut sudah berada di atas batu besar itu.

Cukup jarang juga saya melihat batu besar berwarna abu2. Batu itu lebih sering saya temui di Jawa daripada di Kalimantan.

 

MULUT GUA BER-AIR

Dengan ber hati2 kami akhirnya sampai di mulut gua. Ternyata gua itu tidak besar. Berada di tebing batu cadas. Kami Istirahat sejenak sambil observasi kondisi dan lingkungan gua tsb. Persis di depan mulut gua itu ternyata ada seperti kubangan/ceruk air. Sementara terlihat air berwarna coklat terus mengalir dari dalam gua maupun dari atas gua. Hal itu yang mungkin mengakibatkan terjadinya kubangan/ceruk dimulut gua. Bisa jadi prosesnya sudah berjalandalam  kurun waktu yang sangat lama.

 

NEKAD AJA.

Terus terang saya dan Archie agak bingung juga bagaimana caranya untuk memasuki gua tsb. Kami tidak tahu kedalaman dari kubangan air yang ada di mulut gua. Sementara pak Gondrong sepertinya juga ogah masuk dan diam saja.

 

Akhirnya Archie nekad dan mulai merayap dinding kanan gua, sementara saya memberikan penerangan dengan senter.  Archie berhasil melintasi ceruk tsb. Segera saya matikan kamera video dan saya lemparkan ke Archie. Sebelumnya archie sudah memegang lempu senter yang saya lemparkan. Akhirnya sayapun ikutan merayap dan berhasil masuk sekitar 3 meter dari mulut gua. Pak Gondrong dan 1 pembantu pak Djoko W ikutan masuk. Jadi ada 4 orang yang masuk.

Sementara Pak Djoko W yang juga senior di kantor kami hanya menunggu saja di mulut gua sambil memberikan arahan2 kepada kami.

Belum apa2 celana sudah basah separuh.  Oleh karena tidak ada anggota lain yang mau ikutan masuk ke gua, maka kami putuskan untuk mulai memasuki lorong gua.

Kini lampu senter sudah mulai menyoroti rongga2 gua yang kelihatan cukup sempit.

Gambar samping atas diambil dari dalam gua dari celah yang sempit. Didepan tampak kubangan/ceruk air yang dimaksud. Untung saja waktu itu aliran air dari dalam gua tidak deras.

 

 

JALUR BER-AIR DAN BERLUMPUR

Kondisi lorong gua ternyata tidak besar. Kami berjapan seperti di parit berlumpur. Di sisi kiri atau kanan terlihat samar2 lumpur/tanah yang menumpuk dan mengeras. Lorong gua ini ber belok2 dan sempit. Tidak seperti gua Indratri yang pernah kami temui di sekitaran Bontang. Selain tidak berair, mulut gua Indratri lebih luas tidak ber air dan menorok ke bawah.

Kami terpaksa berjalan beriringan. Namun kadang2 saya terpaksa meminta lebih dahulu berada di depan untuk mengambil gambar video. Kalau sudah begitu sudah nggak mikirin bokong celana basah dan berlumpur karena terpaksa harus bersentuhan dengan dinding dan lumpur yang menumpuk di kanan kiri lantai gua.

Terus terang waktu itu saya nggak mikirin yang aneh2 karena menikmati banget kondisi tsb.

Sejauh ini memang saya belum berpapasan dengan kelelawar yang terbang maupun binatang lain.

 

LORONG BUNTU

Saya dan Archie serta pak Gondrong dan 1 orang lagi berjalan ber iringan sambil menikmati pantulan kilauan batu crystal2 yang terbentuk dari batu yang menggantung akibat dari sorotan senter.

Terus terang saja waktu saya berada di depan saya mengandalkan sorotan lampu senter dari Archie maupun pak Gondrong. Soalnya lampu senter yang menempel di kepala saya, cahanya tidak cukup kuat dan sorotan lampunya tidak lebar. Hal ini tentu sedikit menyulitkan saya untuk terus bergerak masuk. Padahal saya harus terus merekam suasana didalam gua tsb. kalau saya menyorot jauh ke lorong gua, maka saya tidak tahu kondisi lantai gua yang berair mapun lumpur yang mengeras di bawah kanan kiri gua. Benar2 seperti jalan di parit kecil.

Saya sendiri tidak tahu sudah berapa jauh kami menyusuri lorong2 tsb. yang pasti kami merasa lorong gua tsb. seperti tambah sempit dan berliku. Sejauh ini saya belum menemukan adanya percabangan ke lorong lain.

Ada rasa kecewa waktu kami berada di mulut gua. sangat disayangkan karena di mulut gua ternyata sudah ada coretan2 tulisan baik pakai cat maupun di gerus di dinding batu.

Beberapa kali saya harus menyesuaikan sorotan lampu yang ada di kepala. Sementara kacamata mulai ber embun/basah.

Andai saja tidak ada endapan lumpur yang mengeras di dasar dan sisi kanan kiri lantai gua ini, saya yakin lorong gua ini cukup lebar.

 

Saat itu saya betul2 tidak mau kehilangan kesempatan moment2 emas untuk terus berusaha merekam dengan video. Tentu saja video juga terbungkus dengan plastik  agar bila jatuh tidak basah ataupun ketetesan air dari dinding atas gua. Terus terang kami semua tidak ada yang tahu ujungnya gua air ini. Kami terus berjalan menelusuri lorong gua tsb. sambil sesekali melihat kristal2 yang menurut saya cukup indah dengan pantulan sinar pelangi nya.

Sadar tidak sadar lambat laun kami tidak lagi berjalan normal, namun sedikit bungkuk dan akhirnya jongkok. Archie yang berada di depan akhirnya berhenti.

 

“Kayaknya sudah mentok nih” katanya kalem. Di ujung lorong tsb. memang didingnya menjurus ke air, dan hanya air saja yang terlihat mengalir. Saya lalu memutuskan untuk membuat reportase dan Archie yang harus ngomong di depan kamera. Sayangnya lagi lampu senter dan lampu kepala tidak dapat menerangi lorong untuk kebutuhan video.

Ya sudahlah yang penting sudah direkam.  Tidak lama kami berada di gua itu.

Kami tidak tahu nama gua itu, tapi  kami menyebutnya gua air. Tidak ada tanda2 adanya binatang seperti mungkin Ular, atau sarang biawak ataupun kelelawar. Kalau pun ada lebih baik kita gigit duluan sebelum kita di gigit. He he he he

Saya tidak tahu berapa ketinggian air bila terjadi hujan deras, dan darimana saja asal usul air itu.

Atau mungkin saja ini yang disebut sungai bawah tanah. nggak tau juga deh.

 

Bontang, Jun 2004

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: