Itu Perjuangan Mama nak !

Siapa yang tidak senang menunggu kelahiran sang buah hati. Begitu juga dengan saya. Walau sudah ada Nita, anak perempuanku yang pertama. Usianya baru masuk 2 tahun.  Istri tercinta sudah mengandung lagi. bahkan usia kandungan istriku sudah sekitar 7 bulan lebih. Selama ini Nita hanya bermain dengan saya dan mamanya. Sesekali bermain dengan anak seusianya di sekitaran rumah. Hanya saja tidak banyak teman bermain di lingkungan nya. Maklum selama usia sekitar 2 tahun kami tinggal di rumah temporary yang mirip lingkungan di luar negeri atau lebih menjurus ke Individu. Sejak Kelahirannya, kami menempati rumah dinas perusahaan yang berupa rumah non permanen bergaya panggung. Walau bukan rumah permanen, tapi rumah tsb. pada waktu itu bagi kami keluarga muda fasilitasnya sudah lebih dari cukup. Rumah bergaya  seperti trailer ala amerika itu berdinding luar dari pelat almunium dan berlapis bahan kedap suara, full karpet. Kompor menggunakan sumber listrik. Kamar mandi tipe kering ada air panas dan dingin, termasuk mesin cuci dan pengering

Selama hampir 1.5 tahun sejak kelahiran Nita, kami menempati rumah panggung kopel sebelum pindah ke rumah panggung lainnya yang lebih besar.

 

Siang itu seperti biasa, saat isitrahat siang saya selalu pulang ke rumah yang tak jauh dari kantor tempat saya bekerja, dan setelah makan siang serta sholat Dhuhur saya menyempatkan diri untuk tidur sejenak sekitar 10 menit. Rumah yang belum lama kami tempati masih bergaya rumah panggung yang terbuat dari dari kayu. Dahulu rumah2 tsb. khusus ditempati untuk para Expatriat yang bekerja di perusahaan kami. Oleh karena pekerjaan sudah dapat di pegang oleh orang Indonesia, maka berangsur angsur para pekerja Expatriate itu  jumlahnya berkurang.

Antara sadar dan tidak sadar, saya mendengar suara tangisan bayi dari arah kamar mandi, yang bersebelahan dengan dinding kamar tidur.

Saya langsung meloncat dari tempat tidur. Karena kawatir jangan2 istri saya melahirkan di kamar mandi. Namun setelah saya lihat kamar mandi tidak ada siapa2. Kemudian saya mencari istri saya di kamar sebelah. Ternyata dia sedang menidurkan Nita yang sebelumnya kelelahan bermain air di pekarangan.

 

Waktu itu saya masih yakin banget bahwa suara tangisan itu benar2 terdengar jelas di kuping  dan bukan mimpi. Akhirnya saya tidak meneruskan istirahat dan duduk di ruang tamu. Waktu itu masih ada waktu isitirahat sekita 20 menit lagi sebelum saya kembali ke kantor.

Tidak lama Istri saya terbangun dan mengeluh perutnya sakit. Dia bilang sepertinya hendak melahirkan. Saya katakan bahwa usia kandungan kan baru 7 bulan. Tapi istri saya mendesak untuk segera ke rumah sakit.

Sebelumnya sekitar jam 10 pagi, istri saya juga sempat menelpon ke kantor karena merasa perutnya sudah mulai sakit.

Akhirnya kami segera meluncur ke Rumah sakit perusahaan yang kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah kami.

Saya hanya berpesan kepada Bi Ani, pembantu kami untuk menjaga dan menemani Nita, kelak bila di bangun.

 

WORLD CUP vs KETEGANGAN RUANG BERSALIN.

Di rumah sakit, kami segera mendaftar diloket pendaftaran dan memilih Dr. Julia sebagai dokter yang akan memeriksa kandungan istri saya.

Waktu itu Pasien yang mendaftar ke Dr. Julia lumayan banyak. Jadi untuk sementara kami harus bersabar menunggu giliran di periksa. Hasil pemeriksaan ternyata istri saya sudah mengalami tahapan proses menuju persalinan. Sekilas saya mendengar Istri saya sudah masuk dalam proses pembukaan 3. Terus terang saya nggak mengerti arti pembukaan 1 dua dan seterusnya. Istilah itu memang sering saya dengar dari orang yang akan melahirkan. Pada waktu itu saya cukup kaget juga mendengarnya. Bukankah selama ini semua kondisi kehamilan kami jaga. Baik kesehatan, makanan dan istirahat. Benar2 saya tidak mengerti apa pemicu sehingga Istri saya akan mengalami kelahiran premature. Saat itu Istri saya sudah mulai merasa tidak nyaman dengan perutnya buncitnya. Akhirnya atas rekomendasi dokter, istri saya langsung di bawa ke ruang rawat inap guna persiapan menjelang persalinan.

Sepanjang jalan menuju ruang rawat inap saya masih saja terus berfikir dan mengingat2 apa yang menjadi pemicu kemungkinan terjadinya kelahiran prematur. Namun sejauh itu saya tidak saya temui jawaban yang pas dihati.

Siang itu istri saya hanya bisa rebahan dan sesekali mengerang kesakitan. Trus terang walau punya pengalaman dalam kelahiran Nita, tapi tidak untuk menantikan kelahiran Prematur.

Jam terus berputar. Saya mondar mandir keluar masuk kamar. Di luar kamar terdapat ruang tunggu pasien yang dilengkapi oleh televisi. kebetulan waktu itu  sedang disiarkan pertandingan langsung sepak bola piala dunia. Saya lupa kesebelasan mana yang sedang bertanding. Yang pasti memang waktu itu pertandingan sangat seru. Beberapa kali saya keluar masuk kamar dan sesekali duduk nonton bola. Waktu itu pikiran tidak bisa konsentrasi.

Beberapa kali saya mondar mandir kamar dan ruang tunggu, akhirnya Istri saya tidak lagi bisa menahan sakitnya dan mengerang kesakitan. saya segera memberitahu kepada perawat yang sedang berjaga di ruang jaga. Dengan dibantu oleh beberapa perawat, akhirnya istri saya dinaikan ke kereta dorong dan langsung menuju ruang bersalin.

Waktu itu saya hanya bisa memegangi telapak tangannya dengan erat selama menuju ruang bersalin. Terus terang saya nggak tega melihat betapa pilu suara rintihannya.

kekawatiran saya sangat tinggi sekali jika terjadi hal2 terhadap bayi yang akan dilahirkan.. Yang saya sering dengar kelahiran prematur itu biasanya suka menimbulkan ketidak sempurnaan fisik sang jabang bayi.

 

Ketika kereta dorong yang membawa istri saya sudah masuk ruang bersalin, saya disuruh menuggu di luar.

Sebetulnya saya ingin sekali mendampingi istri dalam proses  kelahiran tsb. namun para perawat tidak mengijinkan.

Akhirnya saya hanya bisa duduk dan mondar madir saja di ruang tunggu. Beberapa kali saya melihat dilayar TV terjadi Gol ke gawang. Tapi semua itu seperti hambar. Saya hanya bisa berdoa semampu saya. Entahkah kenapa menantikan kelahiran ke 2 ini, saya masih juga belum bisa mengambil pengalaman dari kelahiran anak pertama terutama soal kekawatiran akan bayi yang akan dilahirkan.

Tidak lama seorang perawat keluar dari ruang bersalin dengan membawa bayi yang sangat kecil dan putih seperti ditaburi bedak.

“Pak Yanto, selamat ya, bayinya laki2” demikian perawat itu menghampiri saya sambil memperlihatkan bayi mungkin. Saya benar2 terkejut dengan ukuran Bayi yang kecil itu. “Saya mencoba untuk mengumandangkan Azan di kupingnya” waktu itu kondisinya seperti sangat kritis. Perawat segera membawa bayi tsb. keruang perawatan bayi.

Saya kembali lagi duduk. Tak lama kemudian seorang perawat muncul dari ruang bersalin sambil memanggil2 nama perawat lain. Namun perawat yang dimaksud tidak ada. Saya katakan sedang membawa bayi saya ke ruang rawat bayi. Namun sebelum saya mencoba untuk membantu mencarikan perawat yang dimaksud, tiba2 perawat yang dimaksud sudah muncul kembali. “Ayo cepetan, masih ada satu lagi nih” kata perawat yang mencarinya. Seketika mereka kembali ke ruang bersalin dengan sedikit ter-gesa2.

Waktu itu saya benar2 bingung dan kurang yakin dengan apa yang dikatakan perawat.

Apa maksud “Masih ada satu lagi”. Akhirnya saya beranikan diri mencoba mengintip dari kaca jendela yang terdapat di pintu ruang bersalin. Sayangnya saya tidak dapat melihat apa2 kecuali kain koridor berwarna putih yang menutupi tempat persalinan dan suara teriakan istri saya.

Waktu itu saya baru sadar kalau saya belum memberitahukan atasan saya bahwa saya sedang di rumah sakit. Akhirnya saya minta ijin untuk tidak masuk kantor siang itu.

Tidak lama, pintu ruang bersalin kembali terbuka dan seorang perawat tampak menggendong bayi kecil yang ukurannya tidak jauh dari bayi pertama.

“Wah ternyata anak pak Yanto kembar nih” celetuk salah seorang perawat wanita. Saya segera Menghampiri bayi kecil itu. Fisiknya benar2 sangat kecil. Sekujur tubuhnya seperti ditaburi bedak. Setelah saya minta Izin untuk mengumandangkan Azan di kuping kananya, perawat itu bergegas membawa bayi saya ke ruang perawatan bayi.

 

VONIS YANG MEMBUAT KAMI PASRAH

Setelah proses persalinan selesai, istri saya muncul dari ruang bersalin dengan menggunakan kereta dorong. Wajahnya memperlihatkan bahwa dia baru saja bergulat antara hidup dan mati. Airmatanya terus meleleh.

Saya segera menghampiri dan mengecup keningnya itulah yang bisa saya lakukan untuk menguatkan mentalnya. Waktu itu Istri saya benar2 seperti terkuras tenaga nya. Lemah tak berdaya.

Setelah sampai di kamar, per-lahan2 saya membantu untuk mengangkat tubuhnya dan meletakan di tempat tidur yang dipakainya pada saat menunggu kelahiran.

Setelah para perawat sudah keluar dari kamar rawat inap, tiba2 saja istri saya menarik lengan saya dan memeluk erat2 tubuh saya. Istri saya hanya dapat berucap “Pak, anak kita pak !, anak kita..!”

“Ya jawab saya kaget, kenapa dengan anak kita Ma” ?. Istri saya tidak menjawab. Dia malah memeluk lebih erat tubuh saya dan menangis ter isak2. saya sadar, pasti ada yang tidak beres dengan proses persalinan yang baru saja dialaminya. Saya tetap membiarkan tubuh saya dipeluk erat2 olehnya. Saya sadar istri saya perlu dukungan moral saat itu.

Tidak beberapa lama perlahan2 istri saya melepaskan pelukannya. Beberapa kali saya kecup keningnya. Saya usap keringat yang mengucur dikeningnya dengan sapu tangan.

Beberapa saat kamar itu terasa hening sekali. Kami masing terdiam dan hanya saling pandang. tidak lama kemudian Istri saya seperti mencoba menguatkan diri. Sesekali dia menarik nafas panjang.

“Pa…” sapanya lembut.

“Papa harus dapat menerima apapun yang akan terjadi”. Mama sekarang sudah Ihklas dengan anak2 kita.

Waktu itu saya benar2 tidak mengerti apa maksud ucapan istri saya. tapi feling saya mengatakan ada berita yang tidak enak buat saya. detak jantung saya terasa kian cepat dan terasa agak menyesakan dada.

“Tadi dokter Julia mengatakan bahwa salah satu anak kita, jantungnya sangat lemah dan tidak.” Istri saya tidak mampu meneruskan ucapannya dan kemudian memeluk saya kembali. Sambil ter isak2.

Sabar Ma.. sabar” ucap saya berulang.

“Salah satu jantung anak kita sangat lemah dan harapan hidup sangat tipis sekali” ucap istri saya lemah.

waktu mendengar ucapan yang keluar dari istri saya, saya tidak bisa apa2 dan seperti bengong. Beberapa saat saya seperti tidak mau menerima kondisi itu. Namun akhirnya saya sadar semua itu saya kembalikan kepada Sang Maha Pencipta.

 

Tidak lama kemudian, Dr Julia masuk ke kamar kami. Beliau mengatakan terpaksa anak2 kami dimasukan dalam Incubator karena berat kelahiran hanya 1 dan 1 seper empat kilo saja.  saat itu dia juga sedang menunggu dokter specialis anak yang akan memeriksa kondisi bayi kami, namun  baru akan datang esok hari sesuai jadwal kunjungan.

Dr. Julia menyarankan kami untuk berdoa kepada Allah Sang Pencipta agar kondisi anak2 kami kondisinya dapat terus dipertahankan Dr Julia berjanji akan terus memantau perkembangan anak2 kami.

Waktu itu, ingin rasanya saya menjemput Dokter Specialis anak2 untuk segera mengecek kondisi anak saya. sayangnya lokasi perusahaan kami bukan dikota besar atau daerah yang mudah di akses jalan darat.

Kami benar2 pasrah dan Ihklas apapun yang akan terjadi dengan anak saya.  pada saat itu Al-Qur’an dan doa yang kami panjatkan benar2 menjadi tumpuan dan harapan kami sepanjang hari hingga malam. Waktu itu Saya sudah mengabarkan tentang kelahiran anak kami ke Mertua kami yang tinggal di Balikpapan.

 

RUANG KACA DAN PENGANTAR ASI

Hari pertama kami lalui, kondisi bayi2 kami sepertinya kian membaik.

Waktu itu saya belum lagi memikirkan nama yang akan saya berikan. Nama yang sebelumnya kami siapkan akhirnya tidak terpakai, karena ternyata anak kami lahir kembar.

Hari ke 3, kondisi fisik istri saya sudah membaik dan istri saya disarankan untuk istirahat di rumah. Namun tidak untuk bayi2 saya yang masih harus tetap di dalam Incubator.

Akhinya jadilah saya dan Istri saya sebagai pengunjung setia rumah sakit untuk mengantarkan ASI. setiap hari kami harus menyetor 4 kali ASI, pagi jam 06:00, siang jam 12:00, sore jam 17:00 dan malam jam 23:00.  Asi yang kami tamping dalam botol bayi itu lalu dimasukan melalui selang kedalam mulut anak2 kami. Sementara selang oksigen dan makanan masih tetap menempel di lubang hidungnya.  Waktu itu saya sangat bersykur sekali karena ternyata 3 tabung incubator yang ada di ruang rawat bayi, 2 diantaranya dapat dipakai oleh anak saya. sementara yang satu laki dalam kondisi rusak.untungnya selama anak2 kami berada di incubator, tida ada bayi lain yang membutuhkan incubator. Saya tidak bisa membayangkan bilmana tabung Inkubator tersebut rusak pada saat kami butuhkan.

Alhamdulillah hari demi hari kondisi bayi2 kami terlihat kian membaik saja. namun sejauh itu kami juga belum tahu kapan bayi2 kami dapat segera berada dalam pelukan ibunya di rumah.

Saya tidak bisa membayangkan kalau saja istri saya melahirkan di tempat kelahiran saya di Jakarta. Bagaimana repotnya mengantar ASI 1 hari 4 kali. Jakarta yang waktu itu sudah macet di sisi lain tidak mungkin juga saya mendampingi nya selama anak2 saya masih dalam incubator.

Saya lupa, hari ke berapa waktu saya memberikan nama anak2 saya. yang pasti karena anak saya laki2 dan kebetulan istri saya memberikan hak sepenuhnya untuk memberikan nama, maka nama2 yang saya berikan pun mencakup 3 aspek. Suku kata pertama adalah gabungan dari potongan nama saya dan istri saja, suku kata ke dua adalah nama Islam dan suku kata terakhir adalah dari nama jawa yang mempunyai arti

heroik kepahlawanan.

Akhirnya di hari ke 36 dokter bisa memastikan bahwa anak2 saya dapat saya bawa pulang ke rumah.

Hal itu tentu membuat saya dan Istri sangat senang mendengarnya, apalagi mertua yang sudah beberapa hari berada di rumah.

Tentunya agar tidak muncul kecemburuan Nita terhadap adik2 barunya, saya  memutuskan untuk lebih dekat lagi dengan nita. Nita pun kelihatannya sangat senang menerima kedatangan adik barunya sekaligus 2 orang.

 

PERJUANGAN MASIH PANJANG

Dalam perjalanan masa balita, si Kembar pun mengalami beberapa kondisi yang membuat kami menjadi kian sayang saja kepada mereka. Tanda2 kekurangan secara fisik baru mulai terlihat.

Selain tubuhnya yang lebih kecil bila dibandingkan dengan bayi se usianya, cukup lama juga anak2 saya beradaptasi dengan

menyusu ASI. 

Kadang kala terpaksa Istri saya memasukan susu ASI dengan cara di tampung di botol lalu di suapi satu persatu dengan sendok kecil. Yang bikin sedih saya dan istri adalah ketika susu Asi sudah habis diminum, tidak lama kemudian dimuntahkan kembali. Oh ternyata anak kami juga mengalami gangguan sesak nafas. Waktu itu kami benar2 sedang di uji kesabarannya.

Anak2 kembar saya yang diberi nama panggilan Arie dan Dewo, hanya 6 bulan saja merasakan dirumah panggung tsb. sebelum akhirnya sekali lagi kami harus pindah rumah ke rumah permanen, karena rumah yang kami tempati saat itu akan di hancurkan untuk dibangun sebuah Dormitori.

Pada usia 4 bulan kami melihat di lengan kanan Dewo ada cacat seperti gumpalan darah yang berada di permukaan kulitnya.

Kami sudah berkonsultasi dengan Dokter bedah perusahaan tengan hal itu. Waktu itu dokter mengatakan itu adalah Hemanium yang memang sebaiknya harus di lakukan operasi. Namun dokter belum berani melakukan operasi pada bayi kami yang masih berumur 6 bulan. Untuk sementara agar tidak terjadi sesuatu hal pada lengan dewo, kami menempelkan uang koin seratus rupiah yang di plester untuk menutupi lokasi gumpalan kulit yang merah.

Pada usia sekitar 8  bulan akhirnya kami memutuskan untuk dilakukan Operasi pada lengan dewo. Tentunya itu atas pertimbangan dokter juga. Sungguh sebetulnya bukan itu yang kami harapkan, tapi itulah yang harus kami hadapi.

Saat2 yang kami tidak tega melihatnya adalah ketika akan dilakukan Anastesi atau pembiusan serta paska Operasi dimana selang dan jarum Infus menempel di lengannya. Begitu juga dengan Kembaran satunya Ari. Ternyata anak saya yang kembar satunya mempunyai hernia. Aduh pilu banget hati ini kalau pas dia sedang menangis.  Ada rongga disekitar buah zakarnya, sehingga bila ada tekanan sedikit saja entah apakah itu usus atau yang lain segera menekan kantung buah zakarnya kata orang “mrocot”. Sekali lagi akhirnya kami menerima saran dokter bedah untuk dilakukan operasi ringan. Waktu itu kalau tidak salah Ari berusia 1.5 tahun. Apapun namanya, operasi tetap operasi. Waktu itu kami di ijinkan untuk melihat proses Anastesi di ruang Operasi. Maklumlah karena kami kenal dengan perawat serta dokter2nya karena memang masih dalam satu perusahaan yang sama. Saat itu kami harus mengenakan baju hijau yang biasa dipakai perawat atau dokter bila akan melakukan  operasi.

Saya dan Istri saya terus saja membujuk anak  saya untuk tidak menangis. Siapapun orang tua tentu tidak akan tega melihat anaknya yang baru berumur beberapa tahun diletakan di tempat tidur dorong. Sambil terus menangis, ari terus memanggil “mama.. mama”. Betul2 waktu itu saya berusaha untuk tetap tegar walau tidak dipungkiri air mata sudah hampir luber dari kelopak mata ini.

Per lahan2 dan dengan sedikit bujukan2 dari perawat dan ahli Anastesi, akhirnya di hidung anak saya dipasangkan masker yang akan dialiri obat bius. Arie waktu itu masih saja terus menangis dan berontak. Namun lambat laun gerakannya melemah dan tangisan nya pun berhenti. Itulan saat dimana saya dan Istri saya betul2 tidak tega melihat Arie anak saya tergeletak dalam kondisi tidak sadarkan diri akibat dari reaksi obat bius.

Akhirnya kami hanya bisa mencium keningya dan bergegas keluar kamar Operasi.

Diluar kamar operasi, saya berusaha tetap tenang. Saya berusaha menghibur diri dan juga menghibur istri saya dengan mengatakan bahwa operasi Hernia itu adalah operasi ringan.

 

Hampir 1 Jam kami menuggu, akhirnya dokter sang dokter bedah keluar dari kamar operasi seraya mengatakan operasi berjalan baik.

Alhamdulillah saya berucap Syukur kepada Allah Yang Maha Pengasih.

 

TIDAK SERUPA

Kebetulan kelahiran anak kembar saya ini tidak serupa wajahnya. Hal tsb. baru terlihat jelas ketika ber usia sekitar 1 tahun. Arie yang lebih tua 5 menit dari Dewo wajahnya lebih dominan ke saya.Sedangkan Dewo lebih dominan ke wajah mamanya. Begitu juga dari sifatnya yang saling berbeda. Kata Orang biasanya anak kembar itu punya kontak bathin satu dan lainnya. Tapi menurut saya, anak kembar saya ini tidak mempunyai hal2 seperti itu. Kata orang tua dulu biasanya anak kembar pada usia tertentu harus dipisahkan dahulu.

Waktu itu saya lupa waktunya, tapi kebetulan anak saya itu masih berusia sekitar 2 tahunan. Neneknya yang di Balikpapan meminta kepada saya untuk dapat merawat Arie sekitar 1 minggu saja di Balikpapan. Sementara Dewo tetap di Bontang. Saya terpaksa menyetujui nya walau tidak dengan maksud mengikuti kebiasaan orang dulu.

Suatu ketika Dewo terserang Sakit perut mecret2 dan segera kami larikan ke Rumah Sakit. Sewaktu di Rumah Sakit ternyata Neneknya anak2 yang di Balikpapn menelpon ke rumah dan mengabarkan bahwa Arie saat itu terserang sakit perut dan Mencret2 juga.

Namun saya menganggap itu adalah faktor kebetulan belaka dan bukan karena mereka dipisahkan.

 

Ada sebuah kata2 yang masih saya ingat betul ketika Dr. Julia yang menangani persalinan istri saya. Dr. Julia bilang bahwa waktu Arie terlahir ke dunia, tubuhnya masih terbungkus dengan selaput tipis. Dr. Julia bilang biasanya anak yang terlahir masih dengan terbungkus, dia memiliki kelebihan2 tertentu. Waktu itu saya tidak menanggapinya dengan serius, tapi saya sempat penasaran dan bertanya kepada seorang orang tua yang sudah menjadi langganan urut saya. dia pun menyatakan yang sama. Entahlah yang pasti saya hanya percaya kepada Kebesaran Allah Semata.

 

USULAN GANTI NAMA ?

Waktu kami masih menempati rumah panggung sebelum pindah lagi ke perumahan permanent. Saat itu Mertua laki dari Balikpapan sedang berkunjung ke rumah. Anak saya Arie dan Dewo waktu masih saja bermasalah dengan sesak nafas. Kata mertua waktu itu mengatakan, mungkin saya terlalu berat memberikan nama2 kepada Anak saya. Artinya anak saya Arie dan Dewo keberatan menyandang namanya. Saya tidak menanggapi Ucapan itu. Apakah itu usulan halus agar saya mengganti nama ?, saya juga tidak tahu maksudnya namun saya tetap menghormati. Yang pasti pemberian nama anak kembar saya itu adalah seratus persen saya yang berikan. Tidak ada titipan dari Nenek dan kakeknya. baik yang di Jakarta maupun Balikpapan. Bagi saya tidak ada hubungannya anak yang sering sakit2tan dengan nama yang disandangnya. Yang penting nama itu mengandung arti yang baik.

 

KENANGAN ARI2.

Kami sebetulnya masih betah tinggal di rumah yang lama. Pindah rumah itu bukan pekerjaan yang ringan walau masih disekitaran komplek yang sama. Namun perusahaan juga punya perencanaan lain. Akhirnya kami harus pindah rumah juga. Waktu itu memang usia si Kembar baru sekitar 6 bulan.  Ada suatu yang menjadi kenang2an saya di rumah lama yaitu Ari2 si Kembar yang saya tanamkan di pekarangan rumah panggung itu.

Waktu itu kalau tidak salah 1 hari setelah kelahiran saya diberikan ari2 dari anak kembar saya.untuk segera di kuburkan. Terus terang waktu itu saya belum mempersiapkan apa seperti kendil tanah untuk menaruh ari2 yang akan dikuburkan. Akhirnya saya hanya menggunakan kaleng bulat bekas biskuit untuk menaruh ari2 tsb. setelah itu saya gali tanah persis di samping kamar tidur saya. kebetulan tanah di pekarangan kami sangat liat dan keras sekali di cangkul. Saya hanya dapat melobangi tanah sedalam sekitar 30 cm saja. setelah itu kaleng biskuit yang berisi ari2 saya pendam. Setelah berdoa apa adanya saya timbun kembali lobang tsb. untuk meyakinkan agar tidak di gali oleh binatang lain seperi biawak, akhirnya saya menaruh sebongkah semetan beton ukuran 30 x 30 cm diatas timbunan tanah. Sayapun tidak pasang lampu dan macem2 lainnya yang biasa saya lihat di tempat lain.

Yang penting ari2 tsb. sudah saya kuburkan dengan baik dan disertai doa.

 

RUMAH BARU DAN MASALAH ANAK2.

Di rumah baru yang permanen dan lebih luas membuat kami harus menggunakan 2 pembantu.  Anak saya pertama, Nita sudah mulai bisa bermain sendiri. Sementara si Kembar tetap dalam penanganan Mamanya. Untuk menidurkan si kembar, Istri saya menggunakan cara tradisional Banjar yang masih menggunakan ayunan dari kain. Jadi disalah satu kamar kami memasang 2 ayunan kain sekaligus. Sesekali saya juga mendapat tugas menidurkan si kembar dengan ayunan tsb. kadang butuh waktu Cuma sebentar kadang lumayan lama juga. Kadang si Dewo sudah tidur, tapi Ari masih ngoceh dengan mempermainkan tangan nya sendiri. Kadang saya kira mereka sudah tidur pulas. Ketika itu ayunan saya berhentikan. Tapi begitu saya lihat kedalam kain, Ternyata Ari tersenyum ke saya. atau kalau tidak, begitu ayunan terhenti, dia segera bangun melongok keluar.

Kalau sudah begitu muncul kesal dan sekaligus tertawa sendiri. Bayangkan waktu yang saya habiskan bisa sekitar 1 jam untuk menidurkan mereka dalam ayunan.

Dalam hal bermain, kami memang sengaja menyingkirkan barang yang mudah pecah dari ruang tamu. Biarlah ruang tamu seperti lapangan kosong. Yang penting anak2 kami aman bermain.

Suatu ketika, kebetulan waktu saya pulang istirahat siang dan sedang asyik2nya makan siang, tiba2 terdengan teriakan dan tangisan Dewo dari arah luar. Saya bergegas menuju pekearang luar. Ternyata saya melihat wajah Dewo berlumuran darah. Ketika saya dekati ternyata dahi kirinya ada luka robek sekitar 4 Cm. Waktu itu usianya sekitar 2 tahun.

Mamanya anak2 waktu itu sangat panik dan langsung menggendong Dewo kedalam. Ternyata Dewo secara tidak sengaja terdorong oleh Nita ke Selokan beton yang dalamnya sekitar 1 meter. Nita waktu itu bukan main takutnya sama saya dan Mamanya. Dia hanya diam membisu di sudut ruang makan. Saya dan mamanya tidak memarahinya. Waktu itu saya bergegas membawa Dewo ke UGD rumah sakit. setelah di periksa oleh perawat, saya di informasikan bahwa luka tsb. harus di jahit. Sayangnya waktu itu sedang istirahat siang, sehingga tidak ada dokter jaga. Seorang perawat beberapa kali tampak mencoba menelpon dokter. Tak lama kemudian munculah seorang dokter, namun dokter yang muncul adalah dokter Expatriat yang biasa menangani para expatriate di perusahaan kami.

Di ruang Emergency, Dewo di usahakan di tidurkan di ranjang yang ada, namun dia terus berontak dan menagis kesakitan. Akhirnya dengan sehelai kain hijau, tubuh dewo dan lenganya di balut dengan kain tsb. agar tidak berontak dan di tidurkan. Dan saat itu saya disuruh oleh perawat untuk memegangi Dewo.

Pilu benar hati ini melihat seorang perawat mulai membersihkan luka terbuka di dahi nya dengan cairan Alkohol dan cairan seperti Yodium. Dewo masih mengerang menangis memanggil2 nama saya. namun saya harus tetap memegang tubuh dan lengannya agar tidak berontak. Seorang perawat tampak menyuntikan beberapa titik di dahi. Saya tidak tahu apakah itu caran bius lokal atau anti tetanus dsb. tak lama kemudian Dokter Expatriat tsb. dengan dibantu perawat mulai menjahit dahi yang robek. Ada sekitar 7 jahitan yang ada di Dahi nya.

Ada sekitar 15 menit Dewo ditangani oleh Dokter dan perawat untuk menjahit luka tsb. dimana akhirnya kami dapat membawa kembali pulang ke rumah.

Lain Dewo lain pula dengan Ari. Kalau tidak salah selang 6 bulan dari kejadian Dewo. Seperti biasanya mereka mandi bersama di kamar mandi depan. Dan mereka asyik bermain air di Bathub. Entah gimana mulainya, tiba2 Ari keluar dari kamar mandi dengan masih bertelanjang. Dia menuju saya sambil menunjukan sesuatu di dagunya. Wah ternyata dagunya robek sekitr 2 Cm. namun tidak banyak darah mengucur. Waktu itu ternyata Ari terpeleset di bak mandi dan dagu nya menghantam ujung bathub. Waktu itu saya segera mengeringkan tubuhnya dan menutup luka nya dengan tensoplas. Aneh memang. Waktu itu Ari tidak merasa kesakitan bahkan tidak menangis. Tak lama kemudian muncul keraguan atas lukanya itu. Saya segera membawanya ke Rumah sakit. Ternyata di rumah sakit perawat memutuskan dagu Ari yang rebek harus segera di jahit. Sesuatu yang sampai sekarang belum bisa terpecahkan oleh saya adalah, dari mulai di kejadian, diplester, di suntik bius sampai dengan di jahit. Ari tidak mengerang kesakitan atau menangis.  Waktu itu saya pikir dia tidak menangis karena rasa bersalah dan takut dimarahin sama saya atau istri saya. tapi dari wajahnya tidak terlihat sama sekali rasa ketakutan dimarahin. Wajahnya kalem banget, waktu di suntik dan di jahit dagunya pun tidak meringis kesakitan. Waktu itu benar2 saya bingung dengan kondisi dan perasaaan dia. Tapi saya yakin banget dia itu tidak menangis bukan karena ketakutan dimarahin oleh saya ataupun istri saya.

 

Lain waktu, saya lupa menurunkan tangga yang saya letakan di belakang rumah. Tangga itu masih terpasang mengarah ke atap paviliun tambahan yang atapnya terpasang asbes gelombang. Waktu itu saya bermaksud membersihkan atap asbes dari kotoran daun2 mangga yang membuat aliran air tidak lancer dan menyebabkan bocor.

Ternyata pulang kantor saya dapati Dewo sedang meringis kesakitan sambil memegani pergelangan tangan kirinya. Dan saya juga melihat atas paviliun bolong. Ternyata dia terjatuh dari atap paviliun ketika menaiki tangga dan menginjak asbes.

Tentu saja saya sedikit panik melihat tanganya yang sedikit membengkak. Saya mencegah istri untuk tidak di urut dan langsung saya bawa ke Rumah sakit sore itu juga. Hasil dari Sinar X mmperlihatkan adanya keretakan di sekitar pergelangan tangan. Dan akhirnya lenganya untuk beberapa saat di beri gibs. Selang 3 hari dia sudah bermain kembali dengan sepeda kecil roda dua nya dengan hanya 1 tangan saja memegang stang sepeda.

 

Se iring berjalanya waktu, saya tetap membawa anak2 saya ke Hutan. Apakah itu ke TNK ataupun Offroad bersama dengan teman2 se hobi.

Pada Awalnya Dewo sangat tidak tahan dengan bau khas Hutan yang berbau tanah humus. Belum lagi masuk hutan dia sudah muntah2.

 

Ada juga kejadian mereka saya bawa ke Kawasan Teluk Kaba di Bontang. Waktu itu mereka masih Play Group sementara Nita kelas 1 SD. Awalnya perjalanan dengan teman2  lancar saja. di Teluk Kaba kami membakar Udang Galah, Ikan dan Cumi. namun ketika hendak

pulang, hujan deras mengguyur jalur tanah yang menjadi lintasan kami.

Jalur itu hanya sekitar 6 Km Saja dari jalur Bontang – Sanggata ke Pantai Teluk Kaba. Kalau dalam kondisi kering hanya butuh waktu sekitar 30 Menit saja.  namun setelah di siram hujan jalur tanah itu menjadi medan offroad yang lumayan menantang. Ada beberapa mobil kawan terjebak lumpur dan tidak bisa keluar. Termasuk mobil saya yang tadinya dipakai untuk menarik mobil2 yang terjebak lumpur akhirnya ikut terjebak di lumpur. Perjalanan sejauh 6 Km akhirnya ditempuh dengan waktu sekitar 8 jam. saya berusaha namun akhirnya sia2 saja. bau sengit Kanvas kopling sangat menusuk hidung. Waktu itu sudah menunjukan jam 02:00 dini hari. Akhirnya mobil saya tinggalkan di hutan karena kanvas kopling sudah terbakar dan saya ikutan numpang mobil lain. Sudah dapat dibayangkan bagaimana perasaan istri saya  karena saya dan anak2 tidak muncul2. Waktu itu belum ada Hand Phone. Tapi saya lihat anak2 enjoy2 saja.

Ada kejadian lain yang membuat saya merasa pilu dan tak kan pernah dilupakan. Waktu itu ada undangan Ulang tahun teman kelas 2 SD yang kebetulan rumahnya jauh dari rumah saya. Ari dan Dewo saya antar. Tapi kebetulan saya dan Istri lupa dan terlambat menjemputnya. hari waktu itu menjelang senja. yang pasti sangat jauh bila mereka berjalan kaki ke rumah. Akhirnya saya dan Istri langsung menuju rumah teman nya yang berulang tahun. Ketika saya sedang menyetir mobil, saya melihat Ari dan Dewo berjalan di tepi trotoar. Mereka bergandengan tangan. Tangan kananya memegang balon, tangan kirinya memegang bungkisan. Saya melihat Dewo menangis sambil berjalan. Namun Arie tidak. Saya perkirakan mereka sudah berjalan sekitar 1 KM dari rumah temanya. Entah kenapa, waktu itu saya seperti berdosa besar dan bersalah. Ingin rasanya mereka segera saya peluk. Setelah di mobil hanya Dewo yang menanyakan kenapa dia tidak di jemput. Maafkan Ayah nak…!

 

BERBEDA PERILAKU DAN SIFAT

Seiring perjalanan waktu akhirnya saya dapat melihat bahwa sifat dan perilaku Ari dan Dewo sangat berbeda satu dengan yang lain. Namun mereka tetap akrab. Sungguh peran Istri tercinta dalam membentuk dan membina kerohanian mereka sangat besar dibanding saya. Kesabaran mengasuh mulai dari Balita. Walau mereka berbeda perangai namun keakraban itu tidak pernah hilang walaupun akhinrya mereka diberikan lagi adik2 laki2.

Kini mereka telah menginjak remaja.

Dan saya sangat beruntung karena masa mereka bayi sampai usia kini sebagian terekam dalam film Video. Begitu juga kakaknya Nita. Mulai bayi saya sudah merekamnya dalam pita Video. Hal itu tentu menjadi dokumentasi yang penting dalam hidupnya. Mereka bisa melihat masa2 mereka bayi, berjalan merangkak, bermain sepeda roda 3 lalu kemudian roda 2.

Dewo yang perfectionist dan Arie yang lebih suka apa adanya.

Mereka itu adalah jagoan2 saya.

 

HASIL DIDIKAN ISTRI TERCINTA

Saya akui dalam hal pendidikan Agama, maka peran terbesar disumbangkan oleh Istri tercinta. Dengan sabar mereka diajari mengaji dan sampai saat ini pun setelah sholat Magrib ataupun Isya, tanpa di suruh mereka tetap membaca beberapa ayat Al-Quran. Kadang justru mengingatkan saya untuk sholat. Kalau sudah begitu saya jadi malu sendiri karena di ingatkan.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: