“3 Generasi”

 

 

 

 

Rutinitas kerja yang terasa monoton tanpa variasi kadang menjadikan kita mudah dihinggapi stress mulai dari yang ringan sampai yang cukup serius. Hal itu pula yang saya lihat dari beberapa mitra kerja saya yang sedang menggarap project IT di tempat saya kerja. Bayangkan mereka masih cukup muda2 dengan usia 20 -30 tahun hampir semua dari Jakarta. Bekerja bahkan s/d 11 Malam setiap hari termasuk Sabtu dan minggu.  

 

Oleh karena sebagian lahir dan besar di kota Jakarta dan Bandung, maka gaya & bicaranya pun sangat kental gaya orang Metropolis. Tentu saja sebagai Guide yang baik, saya memberikan informasi awal tentang TNK dan route, medan serta waktu tempuh yang akan dijalankan.

Pada 5 meter pertama perjalanan masih ringan, karena kami berjalan diatas papan ulin seperti jembatan kecil. 25 meter pertama memasuki TNK kami harus menyebrangi sungai dengan jembatan gantungbeberapa rekan sepertinya sangat menikmati sekali. Karena selama ini mereka kalau refreshing larinya ke  MAL dan pusat perbelanjaan di Samarinda. Jalan menanjak, menurun, saya mulai mendengar tarikan2 nafas yang mulai tersengal2. Beberapa saat kemudian sampailah kami di lokasi Pohon Ulin terbesar yang pernah di temui di Indonesia.

Kami ber istirahat sejenak sambil ber foto2. Cuaca waktu cukup bagus. Tidak terlalu panas. Sehingga cukup adem. Tapi walau demikian terlihat dari beberapa rekan keringat mengucur deras dari wajah2. Lepas dari Pohon Ulin terbesar, kami mulai memasuki jalur setapak yang kadang licin, menerobos batang pohon besar yang runtuh, serta menelusuri sungai kecil yang berair bening. mereka sangat senang ketika mendapati dan menagkap beberapa ekor udang kecil yang hidup di aliran sungai berbatu2.

Sesekali kami menyebrangi beberapa jembatan gantung yang melintas diatas jurang, serta beberapa jenis jembatan. Kami beristirahat sejenak setelah +/- 1 jam perjalanan yang kebanyakan mendaki punggung bukit. Nafas ter sengal2 makin banyak saja terdengar. Air kemasan 600 Ml yang mereka bawa masing2 terlihat tinggal tersisa sepertiga saja. Setiap kami melintasi jembatan gantung model “V”, saya lebih dahulu melintasinya agar dapat menentukan apakah masih cukup baik dilintasi atau harus ambil alternative lain yaitu menuruni lembah. Syukurlah beberapa jembatan yang kami lewati masih cukup baik untuk dilintasi, walau harus satu persatu dan ini tentu akan memakan waktu lama karena rombongan kami berjumlah 12 orang. Terus terang walau perjalanan ini tidaklah berat, tapi saya pun tidak tahu pasti kemampuan dari semua anggota. Dalam hal ini tentu bukan fisik, tapi mental.

Bisa dibayangkan ketika jembatan gantung bergoyang dan penyebrang berhenti di tengah. saya lihat kakinya bergetar hebat. Beberapa orang saya tanyakan apakah waktu SMP/SMA pernah mengikuti Pramuka atau ikut group Pencinta Alam. Kebanyakan mereka menggelengkan kepala.  Dalam hati saya mengatakan Jaman sudah berubah. Mereka lebih menikmati berkeliaran diantara pusat2 perbelanjaan dan gedung2 tinggi.

Sepenuhnya saya tidak menyalahkan mereka. Tapi saya hanya titip ke mereka bahwa mereka baru saja memasuki sebagian kecil Kawasan Hutan yang masih lestari di Kal-Tim.  Silahkan diterjemahkan sendiri bilamana hutan itu kian lama kian menipis. Saya juga sempat menujukan kerusakan hutan akibat penjarahan dari sifat serakah Manusia.

Jul-2007 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: