Membuat Tombak Ulin

Posted in cerita keluarga on Oktober 16, 2008 by suyanto hadimihardjo

(Foto2 tombaPENJEPIT INI MEMBUAT KITA LELUASA MENGUKIR/MEMAHAT k hasil buDengan penjepit ini, pengukir tidak ragu kalau objeknya lari kesana kemariatan lihat tulisan “BlackuliDigunakan untuk mengukir permukaan cekungn”) 

 

T

 

 

Penggunaan tergantuk motif ukiran yang akan dibuatmata pahat pipih lurus dan melengkung, tergantung penggunaan nyabesarnya palu kayu tergantung dalamnya ukiran yg mau dibuatsisi bagian tajam mata pahat dibuat untuk memenuhi kebutuhan bentuk pahatanombak sejauh yang saya tahu adalah salah satu senjata tertua yang dipakai oleh manusia sejak jaman “purba” atau mungkin sejak adanya manusia di muka bumi ini. Hal itu didukung dengan fakta ditemukan nya tombak2 mulai dari yang ujung tombak dari batu sampai dengan mata tombak dari metal. Pada jaman batu ujung tombak berupa batu pipih meruncing. Pada masa jaman perunggu atau besi mata pisau tombak terbuat dari besi atau perunggu. Senjata tombak di pergunakan sebagai senjata untuk membunuh binatang buruan dan juga dipakai sebagai alat atau persenjataan perang. Pada jaman perunggu dan besi dominasi tombak sebagai senjata khususnya untuk berperang sedikit demi sedikit tergeser oleh pedang2  hingga akhirnya pedang atau pisau dari besi lebih mendominasi baik sebagai bagian utama peralatan perang dan berburu. Tentu saja sebelum ditemukannya mesiu sebagai cikal bakal persenjataan perang modern yaitu sejata api. Dalam Olimpiade kuno sampai modern pun tombak masih dipakai sebagai salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan yaitu “Lempar Lembing”. Sedangkan pedang di wakilkan dengan mata cabang olah raga “Anggar”.

 

Berbagai model, bentuk dan bahan baku mata tombak tersebar dimuka bumi. Mulai dari Eropa, Asia, Afrika, Amerika. Sebagian suku di dataran Afrika masih menggunakan tombak sebagai alat untuk mempertahankan diri atau sebagai senjata berburu. Rata2 batang tombaknya lebih panjang dari tubuh mereka dan mata tombaknya pipih melebar seperti bentuk daun.

Sejauh ini yang saya tahu senjata tombak dapat dibagi menjadi 2 dari cara penggunaan. Pertama tombak yang di buat dan di desain serta digunakan dengan cara dilemparkan. Biasanya tombak tsb. digunakan untuk berburu binatang buruan. Bentuk mata tombak biasanya tidak besar, tapi kurus, pipih dan meruncing. Sisi kiri kanan tombak tidaklah terlalu tajam seperti pisau. Efek yang di inginkan dari tombak tsb. adalah ringan, mudah di lemparkan dan dapat dengan mudah menembus sasaran seperti tubuh binatang dsb.

Di Indonesia, beberapa tombak tua yang saya lihat dari daerah Kutai Kertanegara Kaltim adalah tombak untuk berburu rusa (payau) atau mungkin babi hutan. Mata tombak sebagian besar dibuat dari besi “Pamor” yaitu campuran dari 2 atau lebih bahan metal yang berbeda lalu di tempa puluhan bahkan mungkin ratusan kali. kayu tombak terbuat dari kayu ulin yang dibuat bundar dengan diameter tidak lebih dari 1 inchi. Pada ujung bawah tombak juga dibuat merucing. Sehingga tombak dengan mudah dapat di tancapkan ketanah.  Dimuseum Tenggarong juga terdapat beberapa tombak2 peninggalan kerajaan tertua di Nusantara yaitu kerajaan “Kutai Kertanegara”.

Besi “Pamor” yang sebagian orang bilang adalah “Damascus” karena awal mula pembuatan senjata dari bahan metal yang di tempa dan dilipat ratusan kali adalah dari Damaskus Jazirah Arab. Sehingga hasilnya mata pedang itu seperti berserat dan indah dipandang.  

 Selain tombak untuk berburu ada juga tombak yang lebih besar kayu gagangnya. Biasanya ini dipakai untuk berperang oleh prajurit kerajaan. Tombak ini tidak digunakan dengan cara dilemparkan tapi tetap di pegang oleh prajurit.  Di Jawa, senjata tombak masih cukup berperan penting pada masa kejayaan Kerajaan2. Hal itu dapat dilihat pada museum ataupun di Keraton Yogya maupun Solo. Hanya saja senjata tombak kalah pamornya dengan senjata Keris.

 

Awal yang tidak disengaja.

Sebetulnya ide untuk membuat tombak, muncul ketika saya ke bengkel ukiran khas Kaltim yang ada di kota saya untuk mencari souvenir buat tetangga yang akan pindah pensiun di Jawa.

Sudah 20 tahun berada di bumi borneo, saya melihat souvenir khas Kaltim, terutama bentuk senjata2 tradisional seperti Mandau, Sumpit ataupun tombak2 “Tua” yang di jajakan bentuknya dan modelnya tidak banyak berubah. Ya memang senjata itu dari dahulu begitu2 saja bentuknya. Berbeda dengan souvenir khas lainnya yaitu batu2 cincin seperti kecubung dll. Boleh dikatakan hampir semua batu2 cincin adalah hasil kerajinan dari Kalimantan Selatan seperti dari Martapura. Saya melihat bentuk potongan batu2 cincin ataupun giwang dsb. terus mengikuti trend pembeli walau tidak sering sekali berubah. dahulu batu2 kecubung yang berwarna ungu itu dibentuk dan dibuat batu batu cincin lelaki bentuknya lonjong atau bulat pipih sebagai bentuk khas batu cincin. Sekarang ini atau sudah cukup lama muncul model potongan2 baru dari batu kecubung yang mengikuti bentuk pola potongan seperti perhiasan dari baru Berlian.

Kalau dari soal ukiran2 khas dayak, maka ada beberapa bentuk atau corak ukiran. Hal ini bisa menandakan bahwa ukiran2 itu adalah ukiran dari suku dayak tertentu, walau tidak semua suku dayak yang ada di Kal Tim mempunyai bentuk ukiran yang khas masing2.

Salah satu ciri khas utama ukiran dayak adalah bahwa bentuk2 ukiran tsb. tidak terputus tapi menyambung. Kalau di ulas pada tulisan ini tentu saja akan menjadi sangat panjang.

Mengenal Ukiran sejak Kecil.

Sepulangnya dari bengkel ukiran, timbul niat di hati saya untuk mencoba membuat sebuah tombak dari kayu ulin. Niat tsb. sangat meng gebu2 dan bukannya mustahil dapat saya kerjakan karena saya sudah mengenal cara memahat atau mengukir sejak di bangku SD dengan diawali melihat demperhatikan dan mencontoh bapak saya. Orang tua saya secara tidak langsung memberikan inspirasi dan pelajaran berharga tentang ukir2an. Ayah saya yang seorang serdadu ternyata mempunyai banyak bakat seni. Diantaranya adalah seni mengukir. Beberapa  papan kayu jati di ukirnya dengan peralatan sederhana seperti pahat yang biasa di gunakan oleh tukang kayu. Beberapa lemari tua yang terbuat dari kayu jati tak luput dari sasaran untuk di ukir pada daun pintu nya. Saat itu saya mulai tertarik untuk sekedar mencoba juga membuat ukir2an dari potongan kayu2 sisa. Tentu saja motifnya terinspirasi dari motif yang dibuat oleh ayah saya yang akhirnya saya tahu motif ukiran2 ayah saya adalah motif khas ukiran Jepara.

Kayu Ulin pun sudah saya kenal sejak SD karena salah satu jendela kamar tidur utama terbuat dari kayu ulin. Waktu itu lebih popular dinamakan kayu besi. Selain keras, hitam, tidak mudah sebuah paku menembusnya. Kalaupun tembus itu menggunakan paku beton atau justru kayu ulin nya yang pecah.

Seingat saya, kelas 4 SD saya sempat membuat sebuah patung kepala manusia yang sangat sederhana dari sebongkah batu gunung yang empuk. Kelas 5 SD saya sudah mampu mengukir timbul nama saya sendiri di sebuah balok papan jati kecil dengan model yang tidak kaku. Saya juga membuat sebuah tongkat komando dari kayu ulin. Tongkat komando itu ujungnya dipasang selongsong peluru senapan laras panjang. Mungkin saja waktu itu saya ter obsesi dengan tampilan foto sang Presiden pertama Indonesia Soekarno yang gagah berdiri dengan sebuah tongkat kecil yang selalu menyelip dan terkepit antara tangan dan tubuh dan sedikit dibawah ketiak.

Salah satu masa liburan di SMA saya manfaatkan dengan teman2 untuk rekreasi keliling jawa, diantaranya ke rumah orang tua teman di Jepara. Ternyata Orang tua teman itu adalah salah satu saudagar kerajinan ukiran. Saya sempat mendatangi beberapa orang pengerajin yang sedang asyik mengukir ukiran baik untuk meja kursi,lemari dan relief 3 dimensi. Saya melihat banyak sekali mata pahat yang dipakai. Mungkin waktu itu ada sekitar 40 jenis mata pahat. Macam2 saja bentuknya. 

Kembali ke soal ukiran. Ayah saya pun tidak kehilangan akal untuk membuat mata pahat sendiri. Selain memahat, ayah saya juga mengukir dengan menggunakan sebuah pisau kecil yang dibuatnya sendiri dari memotong ujung pisau parang yang ada di rumah. Pisau itu sangat tajam dan memudahkan ayah saya dalam mengukir daun pintu lemari tua yang tidak dicopot terlebih dahulu.

Barang mainan buatan ayah saya yang masih saya ingat betul adalah ketika ayah saya membuatkan sebuah pistol dari kayu. Hanya saja gagang pistol tsb. seperti ulekan (“pasangaannya cobek”) yang terbuat dari kayu. Gagang bawah pistol tsb. bulat. Tentu saja bentuknya menjadi tidak macho/jantan. Saya sendiri akhirnya juga membuat beberapa mainan sendiri seperti senapan2 dari kayu jati belanda (ex kayu peti2 barang).

 Bingung memulainya.

Dari pak Mamat pula saya mendapatkan informasi tentang bengkel bubut kayu yang dapat membuat batang ulin berbentuk bulat panjang. Tentu saja saya sangat kesulitan kalau saya harus mengolah sendiri batang kayu ulin yang berupa balok untuk dibuat bulat. Saking nafsunya untuk membuat tombak dengan bahan kayu tombak dari ulin, saya langsung memesan 10 batang ulin dengan ukuran yang saya inginkan. Padahal untuk menyelesaikan 1 buah tombak saja masih tanda tanya besar buat diri saya. ternyata dari 10 batang pesanan ulin hanya dipenuhi 7 batang saja. Itupun dengan waktu yang ngaret.

Dirumah, istri saya terbingung ketika saya turunkan 7 batang kayu ulin tsb. walau ukurannya sedikit lebih besar dari diameter gagang kayu sapu ijuk, tapi cukup berat untuk dibawa sendirian. Istri saya sempat nyindir, lho wong mau coba2 buat kho pesan kayu nya banyak sekali. Ada benarnya juga sindiran istri saya itu. Tapi saya masa bodoh lah. Kayu itu saya letakan di kamar samping rumah. Satu buah saya ambil dan mulailah saya mencoba untuk mendesain. Tombak yang selama ini saya lihat lebih banyak mengandalkan mata tombaknya sebagai daya tarik utama. Sedangkan gagang tombaknya dibiarkan polos. Keinginan saya tentu saja bukan hanya mata tombaknya yang cantik, tapi gagang nya pun harus di ukir dan diberikan aksesoris tambahan.

 Saya masih tetap bingung bagaimana cara mengukir sebatang kayu ulin yang berbentuk bulat. Saya belum punya pengalaman sama sekali mengukir ataupun memahat kayu bulat. Namun per lahan2 desain pahatan ataupun ukiran mulai tergores di batang kayu itu. Tentu saja sesuai dengan kemampuan menggambar dan dapat dikerjakan oleh saya. Work shop atau tempat kerja saya berada di teras belakang rumah. Peralatan yang ada hanya ada 1 pahat kayu buatan china, martil serta sebuah pisau kecil seperti pisau sol sepatu yang sudah lama saya buat sendiri dari besi per perangkat kopling hardtop saya. waktu itu saya juga membuat beberapa pisau belati berbentuk mini dengan modal grinda tangan serta grinda asah yang saya buat sendiri dari motor listrik yang saya tempelkan batu gerinda.

Setahap demi setahap setiap pulang kantor saya mengerjakan ukiran tombak pertama saya. lumayan ada waktu 1 jam setiap sore nya. Sabtu dan minggu bila tidak malas, waktu seharian saya gunakan untuk terus mengukir tombak. Sekitar 2 minggu akhinya batang tombak berukir yang pertama saya buat selesai. Cukup indah juga. sejalan dengan itu saya pun mencoba mendesain dan membuat sendiri mata tombak yang saya buat dari besi per mobil.

Tentu saja membuat mata tombak dari besi per tanpa di panaskan dan di tempa ternyata tidak mudah juga. Apalagi model mata tombaknya seperti pisau Kujang, senjata khas dari Jawa Barat. Grinda tangan untuk memotong sangat sulit untuk memotong dan menghaluskan sisi2 mata tombak yang melengkung.

Singkatnya akhirnya mata tombak terpasang di kayu tombak yang sudah saya ukir.  Kalau dilihat dari hasilnya, kehalusan mata tombak masih jauh dari yang saya harapkan. Desain ukiran di batang kayu tombak pun campur aduk. Di sebagian sisi bersifat dekoratif, disebagian lainnya berbentuk ulir dan ukiran sisik ular. Pokoknya waktu itu begitu ada ide langsung di gambar di batang kayu. Jadi ukiran yang ada itu tidak langsung selesai di desain, tapi sebagian2.

 Minta Tolong Pak Mamat.

Tentu saja tombak pertama buatan saya adalah karya terindah dikala itu. Saya bersyukur akhirnya mampu membuatnya sendiri. Namun masih ada yang saya tidak tahu ilmunya yaitu membuat kayu tombak itu licin dan mengkilap seperti mebel2 ukiran ulin di bengkel ukiran nya pak Mamat. Akhirnya saya putuskan untuk membawa tombak buatan saya ke tempat pak Mamat untuk dapat dilakukan finishing. padahal waktu itu saya sudah memakai amplas dengan ukuran yang berbeda, tetap saja tombak tsb. belum licin sekali. Saya takut serpihan kayu justru menancap ke tangan.

Melihat hasil buatan saya, awalnya pak Mamat tidak percaya kalau saya yang buat tombak itu. Tentu saja tidak bisa dipungkiri ada sedikit kebanggaan di hati ketika tombak buatan saya itu dipuji oleh desainer ukiran ulin. Pak Mamat tidaklah pelit soal ilmu, apalagi ketika saya menanyakan bagaimana membuat kayu ulin itu menjadi licin dan mengkilap. Pak Mamat akhirnya membawa saya langsung ke belakang bengkelnya yang terletak berseberangan dari toko Souvernirnya. dia bersedia menyelesaikan tombak saya yang pertama untuk di perhalus dan disemir sehingga mengkilap.

Begitulah akhirnya saya sering datang ke bengkel pak Mamat. Ngobrol sama para pengukir yang didatangkan dari jepara. Kadang saya memberikan ide2 masukan tentang motif2 ataupun kehalusan hasil ukiran yang kini sudah banyak dibantu dengan mesin2. Hal itu membuat saya cukup akrab dengan semua pengukir. Serta secara tidak langsung mencoba mengenal lebih jauh tentang karakteristik kayu ulin.

 Perang di Hati sendiri.

Selesainya tombak pertama saya tentu saja membuat tombak itu menjadi barang kesayangan saya. apalagi sudah saya tambahkan beberapa aksesoris seperti saya tempelkan beberapa batu kecubung diantara sisi bagian atas.

Beberapa kali saya ke tempat pak Mamat, akhirnya saya tahu juga kalau bos besar di kantor saya juga sedang memesan beberapa ukiran2 dari ulin yang antara lain ukiran tameng ulin yang besar, serta beberapa lainnya. Entah kenapa tiba2 saja terbesit dihati untuk memberikan sesuatu kepada bos besar tsb. padahal tidak ada hubungan yang istimewa antara saya dan ex bos saya. di sisi lain justru bos say aterkeal sebagai orang yang suka meledak2 dan ucapannya kadang sangat menyakitkan hari bagi orang yang menjadi sasaran amarahnya. Cuma saja tapi  dihati lain mengatakan bahwa itu kan hasil pertama dari karyamu. Sayang kalau diberikan kepada orang. Terus terang akhirnya terjadi perang bathin sendiri di hati selama beberapa hari. Saya pun akhirnya mengungkapkan perasaan itu kepada istri saya. Istri saya sepenuhnya mengembalikan kembali semua keputusan kepada saya. wah… tambah bingung lagi. Istri saya sendiri sebetulnya suka juga akan tombak pertama hasil buatan saya. akhirnya saya memutuskan untuk memberikan tombak pertama buatan saya itu kepada ex Bos saya. kebetulan pada kesempatan tertentu secara tidak sengaja saya bertemu dengan ex bos saya dan saya mengatakan apa adanya untuk memberikan kenang2an secara pribadi. Pada kesempatan tertentu tombak saya bungkus dengan kertas koran dan kertas sampul warna coklat lalu langsung saya bawa ke rumahnya. Dirumah bos saya langsung berikan dan saya bantu untuk membuka bungkusan itu. Awalnya Bos saya tidak percaya kalau tombak itu adalah buatan saya sendiri. Barang tsb. memang tidak dapat ditemui di toko2 souvernir khas di kota saya.  Bos saya tadinya menyarankan agar pemberian ini dilakukan di acara perpisahan resmi saja. Tapi saya menolak. Soalnya ini kan pemberian kenang2an secara pribadi dan saya tidak ingin orang betanya2 dan berpraduga jelek kepada sayakalau say a memberikan dihadapan orang banyak. Soalnya pemberian tsb. sangat tidak lazim di tempat kami. Yang lebih lazim justru bos memberikan kenang2an kepada anak buahnya.

Pemberian balik yang tak diduga.

Oleh karena tempat tinggal Bos saya masih 1 RT dimana saya menjadi Ketua RT, juga sudah menjadi tradisi kalau kami melakukan juga acara perpisahan untuk warga di sebuah taman jogging.

Pagi2 sebelum warga datang untuk berkumpul, bos saya sudah lebih dahulu datang. Tentu saja saya adalah orang pertama yang datang karena harus menyiapkan sound system dsb. ketika saya sedang menyipakan sound system bos tiba2 saja memanggil saya. ketika saya berdiri berhadapan, seketika tangan kanan saya ditariknya dan dari saku celana training, bos saya seperti mengambil sesuatu. Tak lama tangan saya terutama jari manis saya dimasukan sebuah benda berwarna kuning yang tak lain adalah cincin emas. dan langsung menyuruh saya meneruskan pekerjaan. Tentu saja saya kaget dan bingung mau bilang apa. Bos saya hanya mengucapkan “terima kasih atas kenangan2 nya dik. Saya sangat suka. Sudah sana teruskan lagi kerja nya. Akhinya saya hanya bisa mengucapkan terima kasih saja.

Setelah acara selesai, saya sampaikan cerita itu kepada istri saya sambil memberikan sebuah cincin emas model laki2 kurang lebih seberat 5 Gram. Istri saya hanya bilang itu rejeki mas. Akhirnya saya minta istri saya menyimpan cicin emas itu karena saya tidak suka memakai cincin2 apalagi terbuat dari emas.

Karya berikutnya lebih variatif.

Merasa hasil kerja dihargai oleh anak2 dan Istri serta orang lain, maka semangat untuk terus membuat desain baru motif ukiran di kayu tombak kian membara. Namun memang ada kalanya semangat itu menurun. Kalau sedang tidak mod, saya tidak menyentuh tombak2 yang belum selesai saya kerjakan. Saya pernah dengar orang berkata, “kalau buat jangan tanggung2. Sekalian saja yang bagus”.  Oleh karena seperti terbius oleh kata2 itu maka saya pun harus mengeluarkan kocek lebih besar lagi untuk setiap tombak yang dihasilkan, terutama untuk tambahan aksesoris berupa batu2an. Motif ukiran tombak saya buat lebih halus dan bervariasi. namun tetap saya belum mampu untuk membuat ukiran motif dayak. Selain susah di terapkan di kayu yang kecil dan bulat. Saya pun takut salah gambar.  Sesuai dengan pesan istri, maka motif uliran atau pahatan di batang tombak tidak boleh menggambarkan mahluk hidup.

Dalam hal anatomi tombak, terus terang saya yakin pasti ada anatomi dalam membuat tombak seperti halnya membuat keris ataupun sejata lainnya. Terus terang dalam hal ini saya sama sekali buta tentang anatomi tombak. Semua desain dan bentuk dibuat sesuai selera dan kemampuan saya. saya tidak peduli kalau ada orang mengatakan saya tidak mengikuti anatomi atau aturan2 membuat tombak. Bagi saya yang penting terjadi keseimbangan antara mata tombak dan kayu batang tombak.

 Kocek lebih besar terpaksa saya keluarkan, terutama untuk pisau mata tombak dan aksesorisnya. Hasil pesanan saya pada seorang pandai besi lokal di kota saya masih jauh dari harapan. Kalau buat sendiri memakan waktu lama. Akhirnya saya memesan khusus kepada sebuah toko pisau  dengan alamat web  http://www.tokopisau.com/id/index_id.php  yang berlokasi di Bandung. Tentu saja harga yang saya keluarkan untuk pesanan tsb. cukup mahal untuk sebilah mata tombak, namun terasa seimbang ketika melihat hasilnya. Begitu pula dengan aksesroris2 batu2 yang saya akan tempelin dibagian bawah mata tombak.

Beberapa bilah tombak berhasil saya selesaikan. Pada awalnya aksesoris batu2an yang saya tempel terdiri dari batu2 “masakan” berbentuk diamond cut. Namun akhirnya saya copot kembali. Sayang juga kalau ditempeli batu “masakan” walau bentuknya indah, tapi masih kalah pamor dari batu2 asli. Perlahan lahan saya mencoba mulai mengkombinasikan dengan batu2 mulia kelas menengah seperti Blue Saphire, Mirah delima (ruby), cat eyes, Black Stone dan beberapa batu lainnya dari turuannya kecubung seperti kecubung udang berwarna merah bata, kecubung air yang jernih mirip quartz, batu jade (giok)  juga batu2 lainnya yang saya nggak hapal nama2nya.

Saya belum mampu untuk menempelkan batang tombak dengan batu2 mulia seperti Intan/berlian atau Mutiara air laut atau di kombinasikan dengan balutan emas. karena memang belum kelasnya utuk di tempeli batu mulia yang mahal2. saya melihat hasil karya tombak2 saya ini masih belum ada apa2nya dibanding dengan hasil kerajinan yang sama yang mungkin ada di Bali. Atau keris2 berbilah pamor dengan bertahtahkan batu2 mulia di gagang keris ataupun di sarung keris.

Namun demikian saya hanya sedikit mencoba untuk mencari bentuk2 baru dari hasil kerajinan tangan dan nilai seni dari Kalimantan Timur. Kalaupun toh beberapa teman sudah menyuruh saya untuk bisa dilanjutkan dalam bentuk bisnis yang menguntungkan, sejauh ini saya masih belum tertarik menggelutinya. Karena membuat tombak masih dalam bagian kesukaan semata dalam mengisi waktu serta mencoba mengasah kembali kemampuan mengukir atau memahat.

Sejauh ini tidak ada niatan untuk menjual hasil karya saya. Kalaupun akan saya jual maka harga jualnya pun mungkin akan membuat orang akan berfikir untuk membelinya dkarenakan bahan2 dasarnya pun sudah cukup mahal. dengan membuat barang2 itu saya jadi lebih memahami tentang arti hak cipta & kreasi.

Untuk sementara ini tombak2 hasil kreasi saya, hanya sekedar untuk menghiasi pojok ruang tamu, atau paling tidak mungkin nanti sebagai warisan kepada anak2 kelak bahwa bapaknya juga bisa membuat benda seni yang mungkin suatu saat akan mempunyai nilai jual yang tinggi.

 

Btg 13 Oct-08

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hebohnya Buku “Laskar Pelangi”

Posted in pendapat pribadi on Oktober 13, 2008 by suyanto hadimihardjo

Tidak bisa di pungkiri kalau buku hasil tulisan Andrea Hirata “Laskar Pelangi” sudah menjadi fenomena yang sangat menarik. Banyak sudah ulasan baik dari acara nya “Kick Andy’ di Metro TV, demikian juga tulisan2 yang mengulas awal perjalanan buku “Laskar Pelangi” dari berbagai sudut pandang. Bahkan sebuah buku yang menuliskan tentang Fenomena itu pun juga sudah beredar. Bayangkan saja cetakan pertama buku Laskar Pelangi dikeluarkan tahun 2005. tahun 2008 film nya dibuat dan diputar dan sangat laris manis tapi juga bukan film murahan. Semua kalangan usia senang menonton film tsb. 

 

Saya sendiri tidak ingin mengulas tentang buku “Laskar Pelangi” karena memang saya tidak mempunyai kapasitas apalagi kemampuan untuk mengomentarinya.  Tapi dampak buku itu saya rasakan sampai masuk kedalam keluarga saya. yaitu ke salah satu anak saya.  Saya tidak tahu mulainya dari mana. Sebetulnya anak saya itu menurut pendapat saya jarang membaca buku2 seperti itu, kecuali majalah2 Otomotif lokal maupun Ex Import.  Namun ketika dia membeli buku “Laskar Pelangi” akhirnya dia terus memburu buku2 tulisan Andrea Hirata yang lainnya seperti “Sang Pemimpi” dan “Endesor”. Wah jangan tanya kalau dia sudah membaca buku2 itu. Padalah sebelumnya dia nggak seperti itu. Beberapa waktu lalu dia mencoba meminta saya untuk mencarikan buku “Maryamah Karpov” tapi waktu saya cari di toko buku Gramedia Balikpapan. buku itu tidak ada. entah belum terbit atau sedang habis.

 

  Mengenang soal buku novel, yang saya ingat sebelumnya ada juga sebuah novel yang cukup meledak dipasaran. Penulisnya wanita. Kalau tidak salah judul bukunya adalah “Andromeda”. Tapi setelah itu sepertinya saya tidak melihat lagi ada sebuah novel yang meledak di pasaran.

 

  Laskar Pelangi bukan saja sebuah novel tapi merupakan kisah nyata. Demikian kata anak saya.  Terus terang saya sendiri belum pernah membaca nya, tapi pernah sedikit mengikuti acara nya Kick Andy tentang “Laskar Pelangi”. “Laskar Pelangi” begitu menyihir dari mulai anak2 sampai para pejabat Tinggi Negara.  Sambutan dan pujian2  muncul  dari sebagian besar wilayah Indonesia. Andrea Hirata pun sibuk berkeliling karena diminta sebagai pembicara. “Laskar Pelangi” menjadi ladang Inspiratif, dan oase di tengah gurun, pemicu semangat dsb.

Saya sendiri boleh dibilang sangat bersyukur dengan munculnya penulis Andrea Hirata dengan “Laskar Pelangi nya” Paling tidak sebagai motivator khususnya di kalangan anak2 untuk tidak menyerah begitu saja terhadap kekurangan dan hadangan dan rintangan hidup yang ada saat ini.

 

  Kalau boleh dibandingkan jaman saya SMP dan SMA, maka novel2 yang laris manis waktu itu adalah jenis novel roman remaja seperti “Ali Topan anak Jalanan”, “Arjuna Mencari Cinta”. Atau novel2 ex luar dari penulis Agatha Christy. Novel2 begitu laris dan sepertinya menjadi bacaan wajib anak2 ABG dikala itu. Lain lagi ketika jaman SD sekitar tahun 60 sampai 70 an yang ramai adalah komik2 lokal. Baik berupa cerita silat betawi, tokoh2 fiktif heroik seperti “Pangeran mlar”, “Gundala Putra Petir”, “Godam”, termasuk pula yang mendunia seperti “Superman” dan “spiderman”. Kalau komik2 karangan luar ya sudah barang tentu adalah hasil karangan HC Andersen.

 Masa di SD, SMP, membaca dikala bulan puasa di siang hari adalah salah satu kegiatan yang mengasyikan sambil menunggu sore tiba. Yang paling lama terbit dan bersambung dan banyak peminatnya adalah cerita silat Kho Ping Ho yang terus saja muncul berseri dan di cetak di buku2 ukuran tanggung sepertinya tidak pernah akan berakhir ceritanya. Ada juga serial buku cerita, “Api di bukit Menoreh” sebuah cerita berlatang belakang babat jawa sangat digemari. Saya sendiri tidak tertarik membaca ke 2 buku itu. Entahlah jika saja dulu pernah sekali membaca. Mungkin saja saya ikut tersihir untuk terus memburu terbitan terbaru dari serial buku itu.

 Ada yang menarik pada diri anak saya ketika dia mulai menyukai buku bacaan. Padalah dia sudah kelas 2 SMA. minat bacanya sebelumnya bukan tidak ada sama sekali. Tapi lebih ke arah kesukaanya seperti otomotif. Beberapa majalah otomotif terbitan lokal maupun luar sudah berulang kali keluar masuk laci meja. Bahkan kalau saya dinas ke Jakarta mereka selalu nitip belikan majalah2 otomotif terbitan baru. Kalau di urut ke belakang, saya sepertinya turut andil juga kenapa mereka menyukai majalah2 itu. Ketika mereka masih kecil2 mereka ikutan ngoprek mobil tua saya. kalau dari majalah, yang pertama tentu mereka ingin melihat foto motor dan mobil balap.  Nama pembalap F1 dan moto GP beserta motornya pun mereka hafal. Bahkan ketika saya coba menanyakan siapa pembalap itu waktu nonton bareng balapan motor ataupun mobil di TV, mereka dengan cepat menjawab dan benar. Namun terakhir mereka lebih menyukai mobil2 Offroad.

 

Kembali ke Fenomena Buku “Laskar Pelangi” yang sangat bermanfaat positif buat anak saya. paling tidak ada nilai2 positif didalam sisi kehidupan yang dapat meresap di hatinya.  Bahkan ketika kami baru pulang dari Balikpapan menuju Bontang. Anak saya berharap dapat singgah sebentar di Kota Samarinda untuk menonton film “Laskar Pelangi” yang sedang di putar di bioskop jaringan “21”.

Waktu itu sampai di Samarinda sudah cukup sore dan ketika sampai di bioskop 21 yang berada di Mall Central Plaza, maka untuk menontonya kami harus menunggu hampir 2 jam sesuai jam tayangnya. Maklum saja di Balikpapan maupun di Kota kami tidak ada bioskop 21. Bioskop bukan jaringan “21” sudah hampir 10 – 15 tahun tutup karena serbuan film2 video yang dulu dimulai dari kaset video sampai kini dalam bentuk piringan cakram yang dengan mudah didapat bajakannya.

 

  Kembali ke rencana nonton film “Laskar Pelangi” di Samarinda. Di sisi lain saya tidak ingin pulang ke kota saya pada malam hari. Karena saya tidak hafal jalan2 yang jelek dan terlalu capek kalau besok langsung masuk kerja. Jarak tempuh Samarinda ke kota saya sekitar seratusan kilometer dan ditempuh dengan jalan darat selama +/- 2.5 jam. Akhirnya dengan sedikit muka kecut anak saya tidak jadi menonton. Kendaraan bis umum yang ke Kota kami sudah tidak ada setelah jam 6 sore. Padahal film baru berakhir jam 7 malam. Untuk menaiki kendaraan omprengan antar kota, saya tidak tau tempatnya dan kalaupun tahu saya tidak merekomendasikan karena yang ada di benak saya supir2 omprengan itu kalau bawa mobil seperti orang kemasukan setan. Alias ngebut tanpa memperhatikan keselamatan penumpang. Walau belum tentu semuanya begitu tapi saya masih kurang plong kalau anak saya naik omprengan. Lebih bagus naik bis umum.

 

Setelah tidak ada solusi lain, akhirnya kami meninggalkan Mall Central Plaza dimana studio 21 berada untuk melanjutkan pulang ke kota kami. Namun ketika mobil kami melintasi sebuah jalan di pusat kota, saya melihat ada banyak mobil taxi argo sedang parkir di depan sebuah hotel. Taxi itu juga sering saya lihat di Balikpapan maupun Bontang. Saya segera menepikan mobil dan menawarkan kepada anak saya apakah dia berani pulang naik taxi ke Bontang.  Tentu saja tawaran menarik itu disambutnya dengan cepat. Akhirnya anak saya berdua tidak jadi ikut pulang dan memutuskan menonton film “Laskar Pelangi”.

 

  Sebetulnya ada rasa was2 juga meninggalkan anak di Samarinda yang belum begitu mereka kenal betul kota nya. Samarinda bagi kami bukan kota tujuan tapi cuma numpang lewat saja. Kami lebih sering ke Balikpapan. Pulang ke Bontang tinggal saya dan istri saja di mobil. Anak tertua sudah kemarin kembali ke Yogya ke tempat kos nya. Yang satu masih ingin tinggal lebih lama di Balikpapan bersama neneknya. Dua orang yang ikutan pulang pun akhirnya nyangkut di Samarinda. Saya sendiri bingung kenapa anak saya begitu ngotot ingin nonton film “Laskar Pelangi”. Apakah tulisan di buku Laskar Pelangi begitu kuat meresap di hati nya. Entahlah. Tapi kalau di ukur jarak Kota kami ke Samarinda seperti Jakarta – Bandung. Tentu saja transpotasi darat tidak semudah Jakarta Bandung.

 

Waktu terus berlalu. Ketika saya perkirakan film sudah selesai, saya mencoba untuk mengecek anak saya di Samarinda dengan mengirim SMS. Tidak lama SMS muncul yang mengatakan bahwa dia dan adiknya sudah berada di Taxi yang sedang menuju kota kami.  Ada sedikit lega karena sudah dapat kendaraan pulang tapi juga khawatir terhadap daya tahan mereka untuk tidak mabuk di jalan. Maklum jalan ke kota kami tidak terlalu lebar tapi hampir 90% jalan nya naik turun bukit dan berkelok2 dan sebagian kondisi jalan rawan kecelakaan. Waktu pulang saja saya menemui beberapa mobil yang sepertinya baru saja terlibat tabrakan. Penumpangnya juga masih ada di pinggir jalan. Sementara beberapa mobil tampak rusak cukup parah di beberapa bagian body nya.

 

Sekitar jam 21:00 saya mencoba SMS anak saya lagi. Karena seharusnya jam segitu sudah sampai di Bontang. Anak saya menjawab dia tidak tau berada dimana karena suasana malam sangat gelap. 15 menit kemudian anak saya muncul dari pintu ruang tamu. Allhamdulillah mereka sudah sampai. Harga tiket masuk ke bioskop 21 Cuma 20 ribu. Tapi ongkos taxinya sekitar 300 rb. Kalau di hitung2 tentu saja nggak seimbang. Tapi saya melihat raut wajah anak saya seperti sangat puas sekali malam itu, walau dia mengeluh sedikit mabuk. Maklumlah mobil jenis sedan bukan kendaraan yang cocok buat kami sekeluarga bila hendak berpergian ke Samarinda – Balikpapan. Selain tidak dapat dimuati oleh 6 orang. Juga terlalu rendah sehingga isi perut sering terasa tertinggal ketika melibas jalan tanjakan dan tiba2 turunan.

 

Buku “Laskar Pelangi” secara nyata memang telah membuat anak saya terbius dan sangat menikmatinya. Tanpa di tanya kadang dia cerita sendiri tentang isi buku itu. Lalu saya katakan : Kenapa kamu tidak belajar untuk menulis apa saja. Apa yang ada di fikiranmu tuangkan dalam bentuk tulisan. Apakah itu ide, cerita2 kejadian2 kamu yang menurut kamu cukup bagus untuk di tulis… dia hanya ter senyum2 saja. Menurut anak saya tantangannya kalau menulis suka kehilangan ide di tengah dia menulis.

Semoga saja semangat yang dibangun oleh tulisan Andrea Hirata dapat memberikan paling tidak setitik semangat membaca, kemauan dan harapan yang positif terhadap anak saya.  semangat untuk tidak mudah menyerah. Juga semangat saling tolong menolong..

Semoga

 

Maafkan Papa ya  nak, karena tidak dapat nonton bareng film “Laskar Pelangi”

 

 

 

Btg 8 Oct 08

Lebaran hari ke 2 (1429H)

Posted in cerita keluarga on Oktober 3, 2008 by suyanto hadimihardjo
lebaran 1429 H
lebaran 1429 H

Hari masih subuh dan diluar langit masih cukup gelap, Azan Subuh dari Masjid Al-kautsar sudah beberapa saat berlalu. Saya mencoba membuka pintu kamar anak2. Mereka masih tertidur meringkuk dengan selimut terbalut di tubuh masing2. Saya lalu membangunkan mereka untuk sholat Subuh. Satu persatu tirai jendela kamar mulai dari kamar tidur, kamar tamu saya sibakan ke kiri dan kekanan. Lampu2 luar dan beberapa pendingin udara juga sudah saya matikan. Jalan lingkungan dan kondisi diluar tampak masih sangat sepi. Apalagi ditunjang dengan kondisi komplek perumahan Perusahaan yang kami tempati. Selain tidak kopel dan berdiri sendiri2. Juga pekarangan rumah yang cukup luas membuat jarak rumah kami dan tetangga kami terdekat di sebelah kiri dan kanan cukup lumayan renggang. Sementara beberapa tetangga dekat sepertinya mengambil cuti lebaran ke Jawa. Di belakang rumah kami adalah taman tempat bermain anak2 dan Joging track.

Saya bergegas menuju dapur untuk membuat secangkir kopi panas. Hampir 1 bulan saya jarang mengkonsumsi kopi. Puasa membuat nafsu minum kopi menjadi  menurun drastis. Padahal soal rokok tidak demikian. Istri saya sudah lebih dahulu bangun. Dia tidak sholat karena kebetulan sedang datang bulan. Namun demikian waktu sholat Id di Lapangan, Istri saya tetap ikut walau hanya duduk saja ketika Sholat berlangsung.  Dengan secangkir kopi saya menuju teras belakang rumah yang menghadap ke taman.

 

Sungguh pagi itu suasana sangat Indah. Matahari belum lagi muncul. Kicauan burung kutilang ber saut2an sangat mendominasi suara2 pagi. Burung2 itu pula yang selalu membangunkan saya setiap pagi dari atas pohon jambu air yang tumbuh besar di pekarangan depan dekat dengan kamar tidur saya. Setiap jam 4 subuh mereka sudah berisik saling bersahutan. Sesungguhnya sangat bersyukurlah burung2 yang hidup di lingkungan komplek perumahan kami. Mereka tidak terusik bahkan mereka seperti terlindungi dari keserakahan manusia. Beberapa tupai tampak meloncat diantara dahan pohon mangga dan jambu air. Burung terkukur ataupun perkutut dengan bebasnya bernyanyi di dahan2 pohon. Bahkan kadang bergerombol di pinggir jalan dan hanya menghindar terbang ke trotoar jalan bila sebuah mobil melintas. Kalau musim tertentu maka pekarangan rumah dan taman dibelakang didarati burung2 kuntul perak. Kebetulan tempat tinggal kami juga tidak seberapa jauh dari tepi pantai. Mereka juga seperti sangat menikmati lingkungan kami. Bahkan mereka tidak takut mendarat dan mencari kodok di pekarangan2 rumah.

Hari Raya lebaran ke 2 baru saja dimulai. Kemarin hampir seharian setelah sholat Idul Fitri, rumah kami ramai sekali di kunjungi. Hari Raya Idul Fitri 1429 H kali ini memang berbeda dengan tahun2 sebelumnya dimana kami selalu mudik ke tempat Mertua di Balikpapan. Oleh karena permintaan anak kami tertua yang kali ini mudik dari tempat kuliahnya di Yogya, maka kami memutuskan untuk menuruti permintaan agar mudik ke tempat mertua di tunda sampai hari ke 5 setelah lebaran. Tentu saja hal itu dikarenakan masing2 anak kami sudah punya acara yang di susun masing2. Mulai dari mengunjungi rumah guru2 mereka. Juga saling mengunjungi satu dan lainnya.

Hari pertama lebaran, hanya saya dan istri saja berkeliling komplek ke rumah atasan kami. Kami juga harus mensiasati dalam memilih makanan yang di hidangkan. Karena tidak hanya satu rumah saja yang kami datangi. Sedangkan perut kami terbatas dan kami juga ingin menghormati tuan rumah yang kami datangi.

Sudah cukup lama juga kami tidak berlebaran di tempat saya bekerja. Kemarin yang bertandang ke rumah kami bukan didominasi teman2 sejawat ataupun tetangga, tetapi lebih di dominasi oleh teman2 anak kami. Kalau sudah begitu ruang tamu kami sangat ramai. Terutama teman2 dari anak tertua yang baru tahun ini menginjak bangku kuliah. Mereka seperti reuni kembali. Maklumlah komunitas sekolah di lingkungan kami masih dalam lingkungan pagar Perusahaan. Sehingga dari mulai TK s/d SMA kawan2nya ya kurang lebih hanya itu2 saja. Saya dan istri memang cukup terbuka sama teman2 anak saya. tidak terlalu formil. Mungkin hal itu pula yang membuat mereka seperti di rumah sendiri ketika bertandang ke rumah kami. Untung saja rumah perusahaan yang kami tempati cukup luas untuk menampung mereka. Kalau mereka sudah ngumpul dan ngobrol di ruang tamu, maka saya dan istri mau tidak mau harus menyingkir ke teras belakang rumah sambil sesekali melihat tingkah laku mereka. Dan mereka pun sudah pintar memilih hidangan dan kue2 yang tersaji di meja2. Kue2 klasik ala Lebaran sepertinya tidak tersentuh sama sekali, mereka justru mencari yang jarang didapat di rumahnya sendiri. Kami memang memesan beberapa makanan kecil dari Yogya. Dan ternyata makanan itulah yang menjadi favorit mereka.

 

Kali ini dan sudah menjadi kebiasaan setiap tahun, Menu utama yang disediakan oleh Istri tercinta adalah Soto Banjar, Mpek2 Palembang. Kue2 lainnya seperti kue basah dan kue2 kering dibuat sendiri oleh istri dan dibantu oleh Anak kami tertua. Sebetulnya lebih praktis pesan. Tapi sepertinya Anak perempuan saya lebih tertarik untuk membuat sendiri. Mereka yang menentukan dan mencari bahan2. Saya dan Istri hanya membantu meracik adonan.

Waktu Istri akan membuat Mpek2, dia sempat mengeluh tentang mahalnya ikan Tenggiri yang melebihi dari harga daging sapi. Kalau sudah begitu saya hanya bisa senyum2 saja. Akhirnya Mpek2 dibuat dari 2 bahan baku yang berbeda. Ikan tenggiri dan ikan Kerapu. 2 hari menjelang lebaran istri saya cerita kepada saya tentang keluhan dan harga2 di pasar. Seorang teman mengaji nya sempat mengeluh ketika hendak membeli ayam kampung dipasar. Selain stok ayam kampung sudah habis, harga pun melonjak tak terkendali sampai seharga 150 Ribu per Ekor. Itupun tidak ada barangnya. Kalau sudah demikian saya jadi ikut prihatin. Saya hanya berfikir bagaimana dengan tukang kebun dan pembantu lepas kami. Walau sudah mendapat THR dari kami. Harga2 bahan pokok dan penunjuang lebaran naik drastis jauh melebihi harga2 di pulau Jawa. Tapi Insya Allah mereka sabar dan menerima kondisi tsb.

 

Lebaran kali ini memang lebaran nya anak2. Kalau dibandingkan berlebaran di rumah neneknya di Balikpapan, sepertinya mereka lebih Enjoy lebaran di rumah sendiri. Kalau lebaran di rumah Nenek, walau di kota besar dan dekat dengan pusat perbelanjaan, mereka sepertinya kurang bersemangat.

 

Oleh karena pembantu lepas kami ijin 3 hari tidak masuk kerja, maka pagi itu saya dan Istri besepakat untuk membagi tugas. Saya mecuci perangkat makan seperti piring,mangkuk,sendok dll, serta memvacum ruang makan dan tamu. Sedangkan istri saya menata ulang menu lain di hari ke 2. Bersyukurlah menu makanan di hari lebaran tidak banyak mengandung lemak. Hal itu meringankan kerja saya pada saat mencuci piring2 kotor.

 

Jam 07:30 pagi semua tugas saya sudah selesai. Sementara anak2 masih saja belum kelihatan keluar dari kamar tidurnya. Saya sendiri tidak tahu jam berapa semalam mereka pulang ke rumah. Kalau melihat ada tikar lampir yang tergulung tersender di kamar mesin cuci. Bisa jadi semalam mereka lesehan di pekarangan samping rumah.

 

Sebetulnya pagi itu saya malas sekali menonton siaran TV. Tapi karena tidak ada kegiatan lain terpaksa saya menyetel TV. Tidak banyak yang berubah suasa diluar rumah. masih sangat sepi sekali. Kendaraan yang lewat sangat jarang. Hal ini tentu sangat berbeda bila lebaran di rumah Nenek di Balikpapan yang berada di lingkungan Kampung padat penduduk di tengah kota. Deru motor lalu lalang sudah saling bersahutan di pagi hari.

 

Sedang asyiknya saya menonton TV, tiba2 saja bel yang terpasang di pintu masuk berbunyi. Samar2 saya melihat ada beberapa anak lelaki berpakaian rapih berdiri di depan pintu ruang tamu. Setelah saya buka kan pintu, mereka lalu mengucapkan selamat lebaran dan menjulurkan tangan sambil memberikan salam kepada saya.

Mulanya saya agak kaget juga soalnya yang saya tahu tidak ada anak2 di lingkungan kami seumuran anak yang berada di depan pintu serta berpenampilan seperti itu.

AKhirnya mereka mengatakan bahwa mereka dari kampung luar komplek. Tentu saja walau meja makan masih dibereskan oleh istri, anak2 saya persilahkan masuk. Sebuah kesempatan emas di hari yang bahagia yang tidak saya sia2kan. Saya ingin memberikan setitik kebahagiaan buat mereka. Kalau dihitung2 jauhnya mereka berjalan kaki, ada sekitar 2 Km dari pos Penjagaan security masuk ke Komplek.

 

Sekedar info saja bahwa memang di luar komplek perusahaan dan komunitas kami yang dipagari oleh pagar, maka kehidupan di luar komplek kami sebagian masih kurang seberuntung kami. Saya persilahkan mereka untuk menikmati segala kue dan permen2 coklat buatan istri, serta buah2an yang mungkin belum pernah mereka cicipi sebelumnya. Tak lupa angpao saya sisipkan ke saku mereka. Tak lama mereka bertamu di rumah saya untuk selanjutnya mereka keliling ke rumah2 lain. Begitulah akhirnya rumah kami seperti tidak putusnya dikunjungi anak2 dari luar komplek sepanjang hari. Namun ada hal yang membuat saya jadi kurang pas di hati ketika melihat sebuah mobil patrol security perusahaan, sebuah pick up tampak berisi anak2 duduk di belakangnya melintas di samping rumah yang tak lain adalah salah satu jalan utama. Ada kemungkinan mereka dibawa keluar komplek. Entah lah. Menurut saya anak2 itu tidak mengganggu ketentraman warga selama kita tetap mendampingi dan secara tidak mencolok mengawasi mereka. Memang dengar2 sih dulu ada warga yang merasa kehilangan barang2 di hari Lebaran ketika anak dari luar datang kerumahnya. Tapi masa iya mereka mengambil kesempatan dalam hari2 yang penuh berkah. Bagi saya mereka2 itu lebih layak diberikan makanan yang terbaik dari rumah kita, daripada mungkin anak2 dari teman2 anak saya yang lebih mapan lagi ekonominya.

Hari ke 2 lebaran kali ini, membuat saya lebih bahagia dapat memberikan setitik kebahagiaan kepada mereka. 1 minggu sebelum puasa pun kami memberikan bingkisan lebaran kepada sebuah Pesantren yang letaknya terpencil dan cukup jauh dari kota. Hal itu selalu kami lakukan setiap tahun hasil dari kumpul2 teman se kantor. Selain kewajiban Zakat, Infaq dan Sedekah sudah selesai dibayarkan, beberapa proposal surat permintaan zakat dan sedekah dari beberapa Mesdjid dan Pesantren juga sudah diselesaikan oleh istri saya atas kesepakatan bersama.

 

Walau jarum jam belum bergerak sampai jam 09 pagi, namun saya melihat mulai banyak anak2 berjalan bergerombol mendatangi rumah2 tetangga. Sayangnya semua itu laki2. Tidak ada perempuannya. Pakaian yang meraka pakai mungkin adalah pakaian terbaik untuk hari Raya Lebaran. Sebagian celana panjang yang dipakai oleh anak2 laki bergaya celanan “Cangcuter”.

Sementara itu tak lama satu persatu anak2 saya baru muncul dari kamar tidurnya masing2.

Untungnya cuaca hari itu sangat cerah,. Langit Terlihat membiru dengan wan tipis menutupi di sana sini. Langit biru itu sepertinya sudah susah saya dapatkan jika saya berkesempatan ke tempat orang tua di Jakarta. Tapi tidak untuk di daerah kami.

Beberapa kali bunyi nada SMS terdengar dari HP saya yang ternyata dari kawan2 lama.

Hari Raya Lebaran memang hari untuk berbagi kebahagiaan. Bukan saja kepada Orang tua, anak2 maupun saudara dan tetangga.  Tapi tentunya bagi mereka2 yang sepertinya diberikan jalan oleh Allah untuk mencicipi nikmatnya hidangan kue2 yang mungkin jarang dinikmati, serta awal dari Cobaan bagi yang punya untuk dengan Ikhlas dan tersenyum untuk memberi sebagian kenikmatan, membuka lebar2 pintu rumah,menikmati keindahan dan kebersamaan kepada sesama tanpa melihat status sosial, agama dan darimana mereka datang.

Walau lebaran kali ini saya tidak dapat bersimpuh mohon ampun di pangkuan Ibunda tercinta pada Hari yang Indah ini, namun saya merasa bersyukur masih diberi waktu untuk tetap bernafas dan mendengar suara ibunda dari speaker telpon pada hari pertama lebaran, sungguh menjadi pelengkap indahnya lebaran.

 

Allah Hu Akbar 3 X

Taqobalallahu Minna Waminkum,

Taqobalallahu Ya Karim

 

Ya Allah, semoga saja engkau mengabulkan doa saya, istri, anak2 saya serta anak2 asuh yang saya kasihi, begitu juga doa2 anak2 Pesantren yang Insya Allah selalu kami santuni. Bersihkanlah dan kuatkanlah hati ini untuk selalu memberi kepada yang membutuhkan.

Aroma harumnya Mpek2 Palembang membuat saya segera ke Dapur. Padahal saya lebih memilih Tekwan sebagai menu hari ke 2. Tapi akhirnya saya mengalah karena itu permintaan anak2.

Samar terlihat lalat hijau pun seperti hendak membongkar kawat kasa jendela rumah untuk ikut menikmati hidangan Istri tercinta.

 

Btg Oct 08

 

Nurunin bakat Babenya

Posted in cerita keluarga on September 30, 2008 by suyanto hadimihardjo

Sebetulnya harapan saya sih tidak muluk2 dan tidak banyak menuntut ketika anak gadis saya satu2nya mulai menginjakan kakinya di dunia Perkuliahan yang kebetulan juga harus pisah jauh dari Keluarga. hanya Jaga diri dan nikmati dunia yang baru dengan norma2 yang sudah ditanamkan dalam keluarga itupun sudah cukup buat saya.  Ada 2 sisi pandang dan harapan yang berbeda yaitu dari sisi Anak yang ingin mencoba lepas dari keluarga dan mandiri, dan  dari sisi orang tua yang berharap si anak tetap dalam satu rumah, tapi itu seperti tidak mungkin. Kecuali anak tidak melanjutkan kuliah. Hal itu disebabkan karena kota domisili saya tidak ada Universitas Negeri.

 

Bagi saya, Kehidupan dan kebersamaan anak2 dalam Keluarga dalam 1 rumah hanya sampai SMA saja. Artinya hanya sekitar 18 tahun saja bersama orang tua. Oleh karena Saya sangat menyadari hal itu, maka tiada hari tanpa ngobrol & diskusi bareng, kerja bareng di rumah, mengawasi tugas dan tanggung jawab masing2. Tentu saja hari, minggu, bulan dan tahun terus berjalan, terasa pula waktu kebersamaan yang mulai terkikis dikit demi sedikit. Apalagi sudah menginjak kelas 3 SMA. Ada perasaan sedih bercampur bangga. Kalau sudah begitu, pada waktu2 tertentu kadang saya suka menonton rekamam video pada saat mereka masih bayi, terus balita, trus menjadi anak2 bahkan sampai remaja. Nggak sia2 rekaman itu saya buat. Kini menjadi cerita sejarah yang tidak bosan untuk di tonton. Paling tidak oleh saya dan mamanya.

 

Kalau dilihat dari sisi ekonomi keluarga dan kebutuhan untuk hidup, saya termasuk bersyukur karena Insya Allah semua tercukupi. Anak2 tumbuh besar dengan fasilitas yang lebih baik walau mereka tinggal di lingkungan terbatas dan sangat jauh dari kota besar. Dan dengan kondisi lingkungan yang terbatas itulah saya lebih mudah mendidik dan selalu dekat dengan anak2. Waktu saya berinteraksi dengan anak2 relatif lebih banyak daripada anak2 perkotaan pada umumnya.

 

Kembali ke soal anak Gadis saya yang tertua.

Pada awal dia meninggalkan keluarga untuk menuntut ilmu di Jawa, terasa benar ada sesuatu yang hilang. Ternyata diam2 adik2 yang laki2 semua juga mengungkapkan kesedihan kepada mamanya. Oh ternyata mereka sangat sayang sama kakaknya yang perempuan satu2nya.  Hal yang sebaliknya justru tidak diperlihatkan oleh anak gadis saya. Dia begitu pandai menyimpan perasaan hatinya. Memang untuk urusan sedih2, anak gadis saya sepertinya tidak mudah sedih. Atau cukup pandai menyimpan perasaan yang ada dalam hatinya. Saya ingat betul sejak SD sampai SMA sudah beberapa kali mengikuti pesantren kilat, dimana biasanya pada hari terakhir dibuat suasanya sedih yang akhirnya banyak mengucurkan air mata santrinya bahkan kadang pula orang tua yang menunggu turut menangis. Namun sejauh itu anak gadis saya sepertinya tidak mempan untuk dibuat menangis. Tapi justru itulah yang membuat saya jadi sedih. Anak Gadis saya bukanya tidak pernah saya marahin. tapi tentu saja hal tersebut sangat jarang terjadi. Juga terhadap anak2 lainnya. 

 

Sebagian orang bilang, bahwa kehidupan yang lebih dari cukup kadang tidak membuat anak2 tahan banting karena semua kebutuhannya tercukupi dengan mudah. Tapi itu tidak buat saya. Walau kebutuhan anak2 dapat terpenuhi, bukan berarti mereka menjadi manja dan tidak bisa kerja. Kelas 3 SD anak2 laki saya sudah mampu untuk menambal ban dalam sepedanya sendiri dengan lem Aica Aibon dan sepotong karet ban dalam yang sudah di amplas. Saya juga mengenalkan perkakas kerja serta fungsinya masing2. Kelas 5 SD anak2 laki saya menjadi tumpuan teman2 mainya untuk dapat membetulkan sepedanya. Mereka bak montir2 kecil. Yang cukup ahli menangani kerusakan sepeda teman2nya.

Sampai saat ini pun (SMA) anak saya saya masih suka dimintai tolong untuk membetulkan kerusakan2 motor dari teman2nya, walau tidak se aktif waktu masa SMP dimana tiada hari tanpa utak atik motor. Garasi mobil jadi markasnya. Hebatnya bukan dipakai untuk balap tapi motor dibuat se cantik mungkin.

 

Kembali lagi ke Sang Gadis saya, sejak kecil sudah di ajarkan mamanya beberapa tarian2 daerah. Kalau tidak nari paling tidak didandani kostum tarian2. Kelas 5 SD mulai mengenal dan masuk dalam kelompok Drumb Corps Sekolahan. Pada saat itulah terjadi perubahan pergaulan dimana sudah cukup jarang bermain dengan teman2 sebaya. Rata2 teman nya adalah kakak2 kelasnya. Di SMP juga mulai mengenal Dance Group selain tetap aktif di Drumb Corps. Beberapa kali mengikuti kompetisi level nasional di Jawa & Jakarta dan Drumb Corps nya berhasil menyabet beberapa trophy bergengsi. Drumb Corps nya tidak lagi bermain pada level Propinsi tempat dia lahir karena memang sudah bukan levelnya lagi. Masa SMA digeluti dengan berbagai macam kegiatan. Namun kegiatan Dance Group nya yang paling dominan. Dulu ada 2 group tapi kini tinggal 1 group saja. Anak gadis saya juga mulai merekut para junior ketika memasuki kelas 3 SMA. Semacam regenerasi lah. Puncak Prestasi diluar formal belajar adalah menjadi salah satu anggota Paskib Kota Kelahirannya. Walau bukan kota besar seperti Balikpapan atau Samarinda, tapi persaingan siswa sangat Ketat. Penggodokan semi militer pada awal pelatihan sepertinya dilahap tanpa keluhan.

Saya jadi teringat ketika anak2 saya masih kecil. Mereka beberapa kali saya bawa ke hutan untuk jalan2. Bahkan sampai mobil saya bermasalah di hutan, mereka tetap enjoy.

 

Kalau di hitung2, sudah 4 bulan anak gadis saya lepas dari kehidupan keseharian saya dan keluarga. Kamar tidurnya kini di pakai adik laki2nya yang terkecil. Suara music dan foto2 yang sebelumnya banyak tertempel di dinding kamar, kini sudah bersih. Tapi suara music tetap saja sedikit keras terdengar. Kalau dulu suara music muncul dari Kompo atau stereo set, kini dari suara cabikan gitar listrik yang kadang melengking. Memang anak laki2 saya terkecil sangat menyukai bermain gitar elektrik.

 

Pada awalnya saya dan istri ada sedikit kekawatiran, selain kuliah kegiatan apa saya yang akan di lakoni oleh anak gadis saya. Yang pasti kami masih tetap meminta agar setelah sholat selalu membuka dan membaca beberapa ayat al-Quran yang sebelumnya selalu dilakukan di rumah.

 

Belum lama berselang, sebuah SMS dari anak gadis saya muncul di HP saya yang pada intinya meminta ijin untuk dapat mengikuti kegiatan pecinta alam yang waktu itu adalah kegiatan panjat tebing disebuah bukit di pinggir pantai. Saya sedikit terhenyak membaca SMS itu. Berbagai perasaan bercampur baur di hati. Ada rasa khawatir ada rasa bangga. Maklumlah anak saya kan anak perempuan. Tadinya saya pikir, anak saya ingin mengikuti eskul Drumb Corps di Kampusnya, tapi ternyata sampai saat ini belum ada laporan.

Menjelang senja sebuah SMS muncul lagi di hp saya. isinya mengatakan dia bangga dapat menaklukan tebing dan menjadi orang pertama yang sampai puncak. Saya sempat merenung sejenak. Walau masa kecil sering saya bawa ke hutan, tapi anak saya tidak saya didik untuk mengenal olah raga tsb. juga sewaktu di sekolahan SD s/d SMA. Kalaupun ada hanya sekedar outbond saja.

 

Tentu saja saya terharu dan bangga dengan SMS anak saya. saya balas SMS itu dengan pujian dan tawaran untuk mencari dan membeli sleeping bag, backpack, sepatu hiking. Tapi semua itu di tolaknya. Dia juga bercerita bahwa dia juga menjadi Koki masak yang handal. Wah tidak sia2 saya didik waktu kecil untuk mencoba masak2an di dapur. Walau tidak pernah mengenal api dan gas LPG di dapur karena semua peralatan dapur kami bersumber pada energy listrik, namun demikian saya sempat beberapa kali mengajak anak2 kemping di samping rumah dengan sebuah tenda double deck yang besar serta kayu bakar untuk membakar singkong dan jagung. Kala itu tenda double deck itu dapat dimasuki 2 kasur busa ukuran single. Sekarang tenda tsb. sudah jarang dipakai. Warnanya mulai luntur dan ada sedikit sobek sana sini dan teronggok di gudang.

 

Terakhir ternyata anak gadis saya juga mulai belajar Rafting di sebuah danau. Kalau sudah begitu saya sebagai Orang tua tidak dapat lagi melarang. Sepertinya Anak Gadis saya mulai menemukan kehidupan dunia yang baru di Kampusnya. Saat ini saya justru mendorong dan memberi semangat.

Diantaranya adalah tunjukan kemampuan dan jati dirinya. Sebetulnya kamu juga nggak kalah sama anak2 yang tumbuh besar dari kota2 besar di Jawa.  Ada pikiran bahwa bila ada liburan panjang saya akan bawa anak saya untuk menjelajah hutan Borneo dan memasuki Gua2 alam nan indah yang sebagian masih belum terjamah. Mungkin suatu saat bukan saya yang menjaga anak gadis saya, tapi sebaliknya anak gadis saya yang mengajari saya dan menjaga saya. maklumlah sebagian rambut berwarna putih sudah mulai mencoba mendominasi rambut di kepala.

Semoga saja nak kegiatan kamu itu akan berdampak positif kepada pandangan dan fikiranmu tentang NKRI ini.    Walau hanya setitik, berikanlah sumbangsihmu kepada keluarga dan Negara dengan caramu sendiri. Bukankah kamu masih ingat ketika terdengar suara letusan sejata api waktu kita ke makam Eyang akung di Kalibata. Topi baja masih tetap tertempel miring tersender di batu nisan. buatlah Eyang kakung tetap bangga walau kini berada dalam dunia yang berbeda,

Kalau pun kamu menuruni bakat2 ayahmu, saya sebagai ayah hanya berharap, bahwa hanya yang baik2 saja yang menurun di jiwamu. Biarkan yang jelek2 tetap melekat di ayahmu.

 

Saya masih tidak tahu apakah anak laki2 saya ada yang ngikutin bakat babenya apa tidak. Dari hal seni, hanya si Ragil saja yang suka bermain gitar. Dari segi utak atik mesin, salah satu dari kembar saya lebih gesit bongkar pasang mesin2. Tinggal yang satu dari anak kembar saya yang belum saya lihat potensinya turunan bakat bapaknya. Yang pasti dia itu orangnya lumayan perfectionis. Dan apik. Kalau bapaknya mungkin sedikit apik, tapi tidak perfectionis.  

 

Soal Bakat, bukan dominan nurunin dari Bapaknya. Emaknya pun banyak menurunkan bakat ke anak2nya. Yang pasti Emaknya memegang peranan besar dan sangat vital dalam membimbing anak2nya dalam soal Agama.  Biarkan bakat anak2 berkembang sendiri. kita hanya mengawasi dan mengarahkan.

 

 

 

 

 

 

  

Mudik dan kenangan masa kecil.

Posted in pengalaman hidup on September 29, 2008 by suyanto hadimihardjo

Membaca head line news di media cetak nasional terbitan Jakarta tanggal 28-Sep-08 yang menuliskan “Dari Jakarta ke Cirebon 19 Jam” sepertinya tidak berbeda jauh dengan berita2 tahun lalu pada hari2 menjelang Hari Raya Idul Fitri, khususnya fenomena mudik di Pulau Jawa. Kegiatan mudik lebaran adalah sebuah kearifan budaya yang unik ini tidak banyak terdapat di negara2 lain di belahan dunia. Sebuah budaya yang terbalut keagamaan yang mengandung banyak nilai2 kehidupan sebagai bagian dari sifat dan budaya bangsa yang masih terus menghormati para tetua dan sanak saudara di kampung halaman. Kalau dilihat dari perkembangan dunia lain khususnya makin mahalnya BBM (Bahan bakar minyak), jelas hal ini sangat bertentangan dengan semangat hemat BBM. Bisa di bayangkan jarak yang seharusnya dapat di tempuh dengan waktu sekitar 6 jam saja, kini ditempuh dengan waktu 19 jam !. kalau dihitung berapa banyak BBM yang terbuang percuma ketika mesin2 kendaraan harus tetap hidup tapi kendaraan tidak bergerak sama sekali. Sejauh ini saya belum membaca adanya sebuah hasil penelitian, tentang berapa kali lipat  BBM yang di konsumsi terbakar percuma akibat kemacetan dibanding hari2 biasa.

Bagi warga berekonomi kecukupan, kalangan menengah atas tentu lebih melihat dan memilih kenyamanan yang tentunya harus dibayar dengan nilai uang yang sepadan pula. Pesawat udara, carter mobil di tempat tujuan, atau sudah ada mobil lain menunggu di tempat tujuan. plesiran di tempat rekreasi bergensi dll., namun ada juga menggunakan kendaraan mobil oleh karena berbagai alas an pula.

Bagi yang berkantong ekonomi menengah kebawah, perjuangan dimulai dari depan pintu pagar rumah. Mencari transpotasi murah tentu sebanding dengan kondisi apa adanya. Berdesak2an membeli tiket bis, kereta api ataupun kapal laut. Menunggu berjam2 yang kadang tersiram sinar matahari sepanjang hari. Toh tidak menyurutkan niat mudik. Uang saku dan segalanya tidak didapat dari 1 bulan gaji, tapi telah dipersiapkan jauh sebelum Bulan Ramadhan tiba. Dan foto kegiatan tsb. akhir2 ini lebih sering mendominasi media cetak maupun media elektronik nasional.

Kata “Mudik” itu lebih popular dari kata “Pulang Kampung” kalau kata “mudik” dihilangkan huruf pertama (m) maka menjadi udik. Kata “udik” semasa saya SD sering  menjadi kata2 candaan cemohan ke teman2. Yang artinya kurang lebih nggak ngerti banyak hal (bodoh/tertinggal) karena dari udik (desa/ndeso). “Dasar udik lo !”.

Rasanya masih cukup kuat ingatan saya, ketika keluarga juga melakukan tradisi mudik ke Kuningan Jawa Barat puluhan tahun lalu. Waktu saya SD sekitar akhir tahun 60 an, Keluarga juga melakukan mudik ke kampung Ibu di Jawa Barat. Dalam beberapa kali keberangkatan mudik dari Jakarta, saya 7 bersaudara serta kedua orang tua kadang harus menginap dahulu ke tempat saudara disekitar hayam wuruk karena bis yang akan berangkat ke Kuningan mangkal di sana sebagai terminal banyangan dari terminal bis di Lapangan Banteng yang berada di tengah kota Jakarta. Walau bis baru akan berangkat pukul 03:00 pagi namun penumpang tidaklah sepi. Saya masih ingat ketika adik saya terpaksa harus masuk melalui jendela bis karena penumpang cukup banyak dan saling berebutan naik. Kondisi bis pun sesuai dengan jaman nya. Diantar tempat duduk yang dipisahkan dengan gang, dipasang papan tambahan untuk menampung 1 penumpang. Jok bis sepertinya masih berisi serabut kelapa yang kadang sudah ada penumpang lainnya yang lebih dahulu tinggal yaitu kepinding atau kutu busuk. Bis pun waktu itu masih di dominasi merk Dodge. Sebagian barang bawaan ditaruh di atas bis yang telah dipasang rak besar dan ditutup terpal. Kalaupun sekarang masih ada bis yang membawa barang bawaan diatas kap yang model begitu mungkin hanya ada di Afganistan, Pakistan maupun India, atau di Mekah dan Madinah pada saat musim haji tiba. Kalau mau desak2an lagi ya terminal bis Lapangan Banteng lah tempatnya. Kalau sekarang ini mungkin mirip seperti Terminal Pulo Gadung atau Kampung Rambutan.

Pulang dari mudik, boleh dirasa lebih nyaman sedikit karena kebetulan rumah Nenek berada persis di pinggir jalan besar dan ada saudara yang menjadi supir bis. Hanya saja semua bis yang kembali masuk ke Jakarta harus masuk ke terminal bis Lapangan Banteng. Waktu itu yang saya tahu hanya Lapangan Banteng sebagai pusat terminal bis antar kota maupun dalam kota.

Selang beberapa tahun Acara mudik tetap berlangsung. Kali ini menggunakan sebuah kendaraan pick up merk Honda. Bak belakang di tutup terpal dan dipasang kursi memanjang. Kend. itu adalah kendaraan operasional kantor ayah saya. Bisa dibayangkan kendaraan kecil berkapasitas hanya sekitar 500 Cc harus dimuati 9 orang, + barang bawaan. Bahkan pernah juga memuat sebuah vespa punya kakak tertua yang katanya ingin mencoba naik vespa dari Kuningan ke Jakarta. Jarak tempuh Jakarta ke Kuningan Jawa Barat sekitar 6 – 7 jam. Jalur jalan pun masih menggunakan jalurnya hasil kerja rodi oleh Dandels. Jatinegara – Bekasi – Kerawang – Cikampek terus biasanya berhenti sejenak di Sukamandi. Di setiap perlintasan kereta dimana bis berjalan perlahan, maka pedagang asongan mulai dari telur asin sampai air teh yang di jajakan dalam gelas besar, merangsek masuk kedalam bis. Tentu saja kondisi itu membuat suasana bis kian kusut dan bising. Kondisi jalan Jakarta Cirebon masih lumayan bagus. Boleh dikata tidak ada kemacetan parah seperti sekarang ini. Paling2 sedikit macet ketika melintasi jembatan2. Karena memang waktu itu prasarana jalan yang masih terus di benahi adalah jembatan2 yang melintasi sungai.

Suasana di Rumah Nenek pun waktu itu terasa ramai. Beberapa keluarga dari Adik Ibu pun ikutan bergabung. Walau berada di pinggir jalan besar yang menghubungi jalur ke Ciawi Gebang yang kini menjadi salah satu jalur alternatif, dan hanya 5 Km dari kota, tapi waktu itu desa nenek belum ada listrik. Menjelang malam Kakek selalu mempersiapkan lampu patromak. Suhu udara malam cukup dingin. Sehingga anak2 dan orang tua yang jalan keluar selalu membawa sarung untuk menahan dinginnya malam.  Suara dentuman Meriam bambu biasanya bersahut2an setelah sholat Tarawih selesai. Kebetulan rumah Nenek saling berhadap hadapan dengan alun2 Desa dan Mesjid.  Saya pun sangat menikmati bermain pada malam hari sekedar jalan2 dengan teman2 baru dengan menggunakan obor. Pagi dan siang saya selalu membawa air tajin hasil cucian beras untuk dibawa ke balong ikan yang letaknya tidak jauh dari rumah nenek. Kata Nenek air cucian beras itu bagus untuk ikan2 di balong  (Kolam ikan). Pada hari tertentu sebelum lebaran tiba, Kakek seperti tahun2 sebelumnya melakukan kegiatan “Bedah Balong” yaitu memanen ikan di Balong. Itulah waktu yang saya tunggu2. Karena saya bisa nyemplung kedalam balong bersama dengan kakak2 dan orang suruhan kakek. Seperti biasa sebelum memanen ikan di balong, air dibalong di kosongkan dengan cara membuka saluran buang. Dibalong Kakek juga terdapat jamban yang berada di pojok. Pada umumnya bila air di balong mulai surut maka ikan2 akan mulai berkumpul di tengah balong dimana terdapat seperti sumur yangmasih cukup air. Kalau sudah demikian maka sangat mudah untuk mengambil ikan terutama ikan Gurame yang sangat besar2. Selain gurame juga ada ikan nila dan mujair. Di balong Kakek ada beberapa ikan gurame yang menurut cerita kakek umurnya sudah mencapai 25 tahun. Sangat besar sekali tapi tidak pernah diambil. Terakhir saya dapat khabar ikan tertua itu akhirnya mati karena balongnya di racun orang.  Setiap sore saya jarang mandi di rumah. Selain karena harus menimba air sumur yang cukup dingin, saya lebih tertarik mandi disebuah sendang dengan berjalan sekitar 15 menit dari rumah kakek. Sendang itu terletak dipinggir desa dibawah sebuah pohon beringin yang sangat besar dan rindang. Di Sendang tsb. memang sudah di buatkan bak besar. Airnya sangat jernih dan dingin. Banyak warga yang bukan saja mandi tapi membawa pakaian kotor untuk di cuci. Walau saya masih SD tapi mata saya selalu sedikit nakal untuk sekedar mengintip perempuan2 sebaya saya ataupun yang lebih besar yang kebetulan mandi di situ yangkebetulan mandi dengan memakai selembar kain batik untuk sekedar menutupi tubuhnya yang rata2 berkulit putih. Selesai mandi badan terasa segar sekali. ada 2 pilihan jalan menuju ke sendang. Jalan pertama melalui jalan umum tapi lebih jauh. Jalan ke 2 lebih pendek tapi harus melintasi kuburan yang terletak di pinggir Desa. Di kuburan situ pula Uyut saya di kubur. Kuburan tsb. terlihat cukup tua usianya hal ii terlihat dengan banyaknya nisan2 lusuh serta pohon2 semboja yang besar dan sudah tua. Saya sendiri merasa tidak takut melintasi kuburan tsb. tentu saja tidak di malam hari.

Rumah Nenek mempunyai 2 dapur. Dapur utama menggunakan kompor minyak tanah dan dapur ke 2 yang lebih kecil dan berdinding bilik ber alas kan tanah menggunakan kayu bakar. Saya lebih tertarik membantu nenek menanak nasi di dapur bertungku tanah dengan kayu bakar. Tumpukan kayu bakar di simpan di rak atas. Entah siapa yang membelah kayu bakar dan darimana kayu tsb. didapat. Kalau sudah demikian saya sudah asyik dengan sepotong bambu kecil untuk meniup kayu bakar yang berada di tungku. Kadang Nenek sedikit memarahi saya karena saya terus saja meniup tungku tsb. padalah api sudah menyala besar.  Dari dapur utama tercium aroma minyak kelapa yang jarang saya temui di rumah Ibu Jakarta.

Bermain di Kebun Kakek juga boleh dianggap rekreasi yang menarik, selain memancing ikan dibalong. Kalau pun saya di perbolehkan memancing ikan di balong, tapi nenek selalu mewanti2 agar ikan kecil yang terpancing harus di masukan kembali ke balong.  Kebun Kakek berada rada jauh dari rumah dan cenderung berada di pinggir Desa. Banyak sekali pohon2 buah2an. Di kebun juga ada balong besar. Biasanya yang diambil hanya kelapa muda saja. Dibelakang rumah juga ada sebidang tanah kebun persis dibelakang dapur. Biasanya yang diambil dari kebun belakang rumah adalah pisang, mangga serta petai.

Bila malam tiba dan kepingin ke Kota bersama kakak. Maka ada 2 tranpotasi yang ada. Pertama adalah angkot yang waktu itu adalah kendaraan Mitsubishi colt yang cukup legendaris di jamanya. Kalau tidak ada angkot maka yang ada hanya Delman. Hanya saja kalau pake Delman tentu saja akan menjadi lama waktu tempuhnya.

Salah satu makanan faforit saya hasil buatan nenek adalah tape yang dibungkus daun jambu air. Sungguh tape buatan nenek sangat enak dan sampai sekarang rasanya saya masih bisa merasakan manisnya tape buatan nenek. Kata nenek kalau  sedang buat tape, tidak boleh cemberut apalagi marah2. Bakal dipastikan hasilnya akan tidak akan enak alias asem. Ada juga pantangan lainnya yaitu kalau berpergian jauh tidak boleh pada hari Sabtu dan kalau sudah keluar dari rumah dalam rangka berpergian jauh namun tiba2 ada yang tertinggal di rumah, maka mobil tidak boleh kembali ke rumah. Barang tsb. harus diambil oleh kakak saya. Hmmm kalau dipikir2 aneh juga ya. Tapi entah kebetulan atau tidak, pernah sekali keluarga pergi mudik pada hari sabtu. Ternyata di Banyak gangguan di jalan. Mesin mobil beberapa kali mogok, serta ada saja halangan2 di jalan. Hmmmm… saya sendiri nggak pernah peduli akan hal2 tsb. terutama yang bersifat takhayul.

Hari ke 3 setelah sholat Idul fitri, biasanya Ayah mengajak kami rekreasi ke tempat2 disekitaran Kuningan. Kebetulan saja tempat rekeasi alam di sekitar kuningan tidaklah seberapa jauh dari pusat kota. Sebut saja Pemandian Cibulan, pemandian air panas Sangka Nurip, Cigugur Waduk Darma, Linggar Jati serta bekas2 peninggalan penganut aliran Madrais.  Di pemandian Cibulan kami berenang di kolam bersama ikan2 yang konon dikeramatkan. Ikan2 itu seperti menghilang manakala kolam dibersihkan dengan cara dikuras airnya.

Setelah Kakek meninggal dunia dan akhirnya Nenek juga meninggal dunia maka kami sudah jarang lagi ke Kuningan. Walau sesekali ke sana, sifatnya hanya Nyekar saja ke makam. Dan itupun tidak dilakukan pada bulan Ramadhan.

Kini sudah hampir belasan tahun saya tidak menyambangi desa Nenek, sudah banyak sekali perubahan2. Dulu antara desa nenek dan desa sebelumnya terhampar luas sawah2 dan sangat jelas memandang Gunung Ciremai. Kini tidak ada lagi sawah2. yang ada adalah perkantoran2 Pemda. Balong nenek yang dulu masih asri dikelilingi pohon2, kini seakan terjepit oleh rumah2 yang berdiri di kiri kanan. Sebagian sawah warisan dari nenek juga sudah Ibu wakafkan buat kepentingan mesjid. Tidak ada lagi kayu bakar. Dinding dapur yang terbuat dari bilik sudah dibongkar. Gudang yang berisi padi2 kini sudah menjadi ruang tidur. Rumah nenek kini sudah dibagi menjadi 3 bagian yang diwariskan kepada anak2nya. Ruang tengah ke depan diwariskan ke Adik Ibu, ruang Tengah ke Belakang sampai dapur diwariskan ke pada Adik ibu yang terkecil yang akhirnya ditempati oleh anaknya. Ibu saya sendiri mendapat sebidang tanah yang terletak dibelakang rumah. Silaturahim terakhir saya ke Kuningan, ketika anak saya berusia 1 tahun. Kini anak saya sudah kuliah.

Mudik bagi saya, tujuannya bukan lagi ke Kuningan tapi ke Rumah Orang tua sendiri dimana Ibu saya tinggal sendirian setelah ditinggal wafat bapak sekitar tahun 2000.  Kenangan2 indah masa mudik ketika saya kecil itu kadang saya ceritakan kepada anak2 saya yang masih belum tahu dimana letaknya Kuningan itu. Maklum saja anak2 saya mudiknya justru ke kota besar seperti Balikapan atau Jakarta. Mereka agak sedikit susah membayangkan mudik ke desa seperti banyak di tayangkan dalam sinetron2 di televise. Mudik ke rumah Orang tua sayapun tidak saya lakoni setiap tahun. Saya lebih sering pulang ke Rumah Mertua yang berada di Balikpapan. Anak2 lebih mengenal Nenek & Kakek dari Orang tua Istri daripada orang tua saya, dan terutama Ibu saya yang masih hidup.

Mudik ke Jakarta bukannya mudik yang mudah. Selain mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, terutama untuk transpotasi udara yang harga tiketnya menjelang hari Idul Fitri selain agak susah didapat juga harganya menjadi tidak terkontrol. Sekitar 4 tahun lalu saya mudik ke Jakarta menghabiskan dana sekitar 30 Juta. Sebetulnya bukan masalah dana yang menjadi kendala mudik ke Jakarta. Karena kalau mau setiap tahun pun saya mampu untuk mudik. Hanya saja Kalau ke Jakarta Anak2 lebih suka tinggal di rumah adik Istri yang tinggal di sekitaran Radio Dalam. Selain dekat dengan pusat perbelanjaan juga tersedia kendaraan mobil kapanpun mau dipakai. Bila tinggal di tempat Nenek, selain jauh di pinggir kota Jakarta. Untuk mendapatkan kendaraan umum pun harus menggunakan becak atau ojek. Kalau naik taxi harus 2 taksi. Sementara saudara2 saya bertempat tinggal saling berjauhan. Ada yang di pondok Gede, Cimanggis Depok. Dan bila sudah dirumah nenek mereka seperti terkurung dalam kerangkeng. Tidak bisa kemana2. Pulangnya ke Bontang pun cukup merepotkan.jika tidak dapat seat dari pesawat charter perusahaan, maka kami harus menempuh jalur darat selama +/- 5 Jam. Betul2 perjalanan yang membosankan bila di banding dengan perjalanan di Jawa.

Pulang mudik pakai Vespa dari Kuningan ke Jakarta pun pernah saya lakoni bersama kakak tertua. Waktu itu kakak ngotot sama bapak untuk mencoba memakai Vespa. Alhasil waktu berangkat ke Kuningan Vespa terpaksa dinaikan kedalam kendaraaan Pick up Honda TN. Bukan main beratnya beban Honda TN pick up tsb. yang hanya berkapasitas 500 CC. pulang dari Kuningan naik Vespa, sebelum pulang ke Jakarta sang Vespa pun sempat dibawa rekreasi dulu ke Tasikmalaya, dan pantai selatan. tidak lama Vespa harus turun mesin karena ring piston nya patah akibat campuran oli di bahan bakar tidak seimbang.

Kini kebersamaan dan kehangatan Lebaran bersama Orang tua dan sanak saudara seperti di usik oleh kemajuan jaman. Walau duduk ramai2, namun masing2 seperti asyik dengan HP dengan ber SMS yang tidak putus2nya. Disisi lain dengan kemajuan teknologi pula walau tidak pulang mudik, masih bisa melihat wajah2 saudara ataupun orang tua yang disayangi dengan teknologi 3G yang bisa menampilkan gambar visual dari sebuah HP. Atau bisa juga menggunakan seperangkat Laptop yang mempunyai fasilitas web Cam.

Kearifan budaya mudik juga secara tidak langsung memberikan berkah buat daerah2 yang menjadi sasaran mudik. Uang kwartal yang beredar seperti tercurah ber miliar2 ke daerah. Mobil2 sedan juga banyak diparkir di dusun2 yang jauh dari keramaian. Hal itu untuk secara tidak langsung menunjukan keberhasilan hidup di kota besar. Entahlah apakah mobil itu masih belum lunas cicilannya ataupun mobil sewaan. Makanan dan pakaian yang berada di kardus2 di tenteng kesana kemari bukanya tidak ada dijual di kota tujuan mudik. Tapi lebih memperlihatkan “ini lho aku bawa oleh2”. Dengan kemajuan teknologi komunikasi pula, orang2 yang menunggu sanak saudara yang mudik bisa memantau perkembangan perjalanan mudik lewat SMS dengan mengabari kemacetan2 dan lokasi saat itu. Fenomena mudik dengan kendaraan bermotor yang kadang membuat saya kadang trenyuh melihat berita2 kecelakaan di jalan raya, tidak sepenuhnya bisa disalahkan kepada pemudik berkendaraan roda dua. Sejak saya SD, SMP, SMA bahkan sampai sekarang pun kalimat2 yang sama dari pengelola dan pihak yang bertanggung jawab selalu mengatakan bahwa akan terus meningkatkan prasarana dan keyamanan mudik. Dari jaman saya SD sampai sekarang sepertinya tidak ada perkembangan yang berarti untuk transpotasi kereta api, khususnya untuk kelas Ekonomi. Mungkin yang sedikit berbeda waktu itu hanyalah jok yang dulu dari anyaman rotan kini sudah berganti dengan jok busa. Tapi kepadatan penumpangnya tetap saja sama. Apalagi beberapa tahun terakhir kecelakaan kereta sepertinya lebih sering muncul. Bahkah terakhir kereta yang ditumpangi anggota Dewan dalam rangka melihat kesiapan PT. KA dalam rangka pengangkutan lebaran, tidak luput dari kecelakaan. Begitu pula kereta kelas utama kalau tidak salah “Argo Bromo” yang anjlok, membuat jadwal keberangkatan kereta dari Jakarta sedikit kacau dan terlambat beberapa jam. Sejujurnya 1 tahun lalu ketika saya dan keluarga mencoba transpotasi kereta api dari Yogya ke Bandung, walau kereta yang saya tumpangi adalah kereta kelas utama Executif, saya merasa tidak merasa aman dan selalu was2 sepanjang perjalanan. Tru steran ghal itu lebih banyak dikarenakan saya membaca banyaknya berita musibah kereta api. Apalagi saya mendapat khabar bahwa kereta Jakarta Bandung sempat anjlok di sekitaran jalur Cipularang, 1 hari sebelum keberangkatan saya & keluarga ke Bandung. Sepertinya saya memilih kendaraan travel atau transpotasi lain bila ada pilihan kelak suatu saat plesiran dengan keluarga di Jawa. Untuk moda kereta api sepertinya sudah cukup dulu lah.

Kembali ke soal Mudik. Adanya fasilitas Jalan tol memang banyak membantu arus mudik, walau akhinrya pun harus sabar dengan berjalan merayap setelah keluar dari Jalan Tol. Tidak di pungkiri bukannya semua pemudik itu tidak tahu kalau pun akhirnya mereka akan terjebak kemacetan yang terus terjadi setiap tahun pada hari2 mudik menjelang hari Raya Idul Fitri. Tapi itulah kondisi yang mirip dan terjadi hampir setiap tahun. Mereka seakan lupa dengan harga BBM yang terus melonjak dan himbauan penghematan2 dari berbagai kalangan termasuk dari Pemerintah. Sejauh pemerintah tidak bisa memberikan mode transpotasi yang nyaman dan aman maka pada periode mudik lebaran untuk sementara himbauan penghematan BBM seperti tidak ada artinya. Kalau dihitung pemborosan BBM dengan adanya kemacetan2 selama mudik, mungkin bisa triyunan rupiah. Belum lagi kemacetan yang sehari2 di kota besar seperti Jakarta.

Mudik Lebaran memang sebuah phenomena kearifan budaya yang terbalut sendi agama dan ikatan keluarga yang susah ditemui di Negara lain di dunia ini.  Menabung uang dari hasil kerja keras yang tidak mudah untuk mendapatkanya, namun akhirnya semua itu kembali lagi ke hati masing untuk saling member dan menerima kepada orang tua dan sanak saudara di kampung halaman. Lebaran juga bisa jadi menjadi barometer keberhasilan menjalani hidup di kota besar. Entah apakah itu semu ataupun betul adanya. Tidak dipungkiri pula Lebaran pun seperti ajang pamer keberhasilan seseorang di kampung halaman nya. Mobil yang selalu berganti setiap tahun pulang kampung. Perhiasan2 emas yang menggelayuti leher dan lengan. Entah pantas entah tidak, serta cerita2 seru dari kota besar. Sanak keluarga di desa hanya bisa manggut2 saja mendengarkan. Padahal bukannya mereka tidak tahu cerita2 itu. Karena media TV, Internet sudah menjalar jauh ke kota2 kecil bahkan pedesaan.

Semoga saja kearifan hidup sanak2 saudara yang masih setia merawat tata karma dan saling membantu, walau mungkin kini hal itu sepertinya juga sudah mulai luntur, dapat menjadikan oleh2 bagi pemudik untuk bisa diterapkan dalam kehidupan di kota2 besar paling tidak untuk diri sendiri.

Lebaran kali ini, ketupat dan Soto Banjar masih menjadi menu utama di rumah Nenek di Balikpapan. Semoga Lebaran Kali ini dapat memberikan lebih dari setitik nilai2 kehidupan yang lebih baik.melunturkan dosa2 menunuai harkat dan kebesaran jiwa menuju ketakwaan yang lebih tinggi lagi di hari2 mendatang, Insya Allah.

 

Alit Btg 2008

Antara Balikapan – Bontang

Posted in catatan perjalanan on September 18, 2008 by suyanto hadimihardjo

Hal yang paling saya nikmati dalam setiap perjalanan pergi pulang dari Balikpapan Bontang dengan fligh charter adalah memejamkan mata untuk sekedar tidur sebentar. Perjalanan udara dengan pesawat buatan Kanada dengan kapasitas 48 seat sebetulnya tidak terlalu lama. Hanya sekitar 35 menit saja bila dibandingkan jalan darat yang memakan waktu sekitar 5 Jam dalam menempuh jarak sekitar 200 Km an.

Sebetulnya waktu 35 menit itu bagi saya sudah cukup lama, kecuali ada teman ngobrol sesame pekerja yang akan dinas atau pulang dinas.

Dari Jalur penerbangan Bontang – Balikpapan maka pesawat fligh charter sepertinya menggunakan jalur dengan terbang diatas daerah Kutai Kartanegara.

Pada kesempatan lain saya mencoba untuk memotret landscape dataran di wilayah Kutai Kertanegara dari. Di beberapa titik terutama disekitaran sepanjang sungai Mahakam terlihat banyak tambang batubara dalam sekala2 sedang. Lorong2 ex galian batubara terlihat disebagian titik cukup dalam dan ada yang tergenang air. Ada yang terlihat seperti bentuk sarang laba2.  Pada umumnya sesuai kontrak karya yang saya tahu, setelah habis masa tambanganya maka kolom2 kubangan harus di timbun lagi dengan tanah dan di atasnya ditanami tumbuhan2. Emas Hitam memang sedang naik daun dengan harga yang cukup menggiurkan investor untuk mengeruk keuntungan. Namun ada sedikit kekawatiran dihati ini. Apakah selesai masa penambangan tanah yang bolong dan terbentuk kubangan besar itu akan di reklamasi kembali atau di tinggalkan begitu saja….  Secara hukum dan aturan Amdal ex tambang batubara harus di tutup kembali dengan tanah yang  pernah dikupas. 

Mudah2an saja…

Perjalanan Trans Kal-Tim 95

Posted in catatan perjalanan on September 16, 2008 by suyanto hadimihardjo

Sebetulnya ingin sekali membawa TLC kesayangan untuk menjelajah lebih jauh ke tempat lain di Kaltim. hanya saja kendala yang ada yaitu tidak ada teman sekantor yang mempunyai keinginan yang sama dengan saya, sampai akhirnya ada undangan dari teman2 penggemar dari Jip Pupuk Kaltim untuk melakukan perjalanan darat ke Tg. Redeb. Dan di lanjutkan ke Derawan. Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia2kan untuk menguji coba kemampuan Toyota Land Cruiser 81. Dan pada kesempatan itu pula saya pertama kali bergaul dan berkenalan dengan teman2 penggemar jip dari Pupuk Kaltim. Sebut saja ada pak Oom, ada pak Bambang Wikanto, ada pak Rusli dan banyak lagi yang lain. Kebetulan di Kalender ada hari libur di jum’at. Jadi istilahnya Long Week End. Sebelum hari H, saya mempersiapkan Kendaraan sebaik mungkin. Saya bawa ke seorang montir yang memang peganganya Toyota Land Cruiser. Namanya Denny. Dia warga keturunan dan pindahan dari Balikpapan. Denny bilang mobil saya cukup sehat dan mampu untuk menembus s/d Ke T. Redep. Tapi Denny masih bimbang dengan sebuah mobil CJ-7 yang ada di bengkelnya yang katanya juga ingin ikutan ikut. Saya sendiri tidak mengenal orangnya. Dan terakhir baru saya tahu bahwa yang punya mobil TLC itu kerjanya di BPR. Dia ngotot mau bawa mobilnya beserta istri dan 2 orang anaknya yang masih kecil2. Sementara saya hanya bertiga dengan teman se kantor. Kondisi mobil tidak ada Winch, tapi waktu itu kondisi mesin lagi bagus2 nya. Soalnya mesin sudah saya rapihkan dan pengapiannya sudah saya upgrade. Sudah pake CDI, Header 6-1, Coil Mallory Pro Master. Pokoknya tarikannya ringan dan enak banget di bejek gasnya. Knalpot saya pake yang type free-flow. Wah kalau pas gas di lepas suara knalpot mengaum garang.

 

Dicegat Banjir di Sanggata.

Sesuai jadwal, kami berkumpul di Koperasi PKT. Ada sekitar 8 mobil yang ikut serta dalam perjalanan itu. Jenis mobilnya macem2. Selain TLC, ada Nisan Patrol, CJ-7, Daihatsu Taft. Selain perbekalan BBM yang saya simpan dalam Jerican juga tentunya makanan kecil.

Lepas Isya akhirnya kami berangkat menuju Sanggata. Waktu itu jalan Bontang – Sanggata belum aspal dan masih pasir batu yang dikeraskan. Perjalanan konvoi tidak bisa membuat kami melaju sesuka hati. Apalagi waktu itu mobil saya belum di lengkapi AC. Jadi debu2 masuk dengan bebasnya ke dalam kabin.

Ketika perjalanan baru berjalan sekitar 30 Km dari pertigaan Bontang – Samarinda – Sanggata sekitar pukul 09 malam, tiba2 di depan tampak banyak sekali kendaraan berhenti. Ada kendaraan Box, pick-up dan truk. Kami pun mau tidak mau harus ikutan berhenti dan turun untuk mencari tahu ada apa. Ah Ternyata jalan yang akan kami lalui sedang terendam arus banjir yang cukup kuat. Padahal malam itu tidak hujan sama sekali.  Kalau dilihat derasnya dan tingginya arus air yang memotong jalan kira2 se paha saya dan sepanjang kitar 100 Meter. Akhirnya kami diskusi sejenak dengan teman. Kalau menunggu air surut, target perjalanan bakalan tidak akan tercapai, kalau maksa menerobos, kami tidak tau mana badan jalan mana pinggir jalan. Akhirnya diputuskan beberapa rekan berdiri di kanan kiri jalan sebagai tanda. Itupun kita belum tahu apakah jalan yang akan dilalui mulus tanpa lobang. Atau kalau ada lobang sedalam apa ?.  akhirnya di putuskan Mobil yang ground Clearance nya tinggi mencoba lebih dahulu. Beberapa buah mobil berhasil lolos. Mobil saya sendiri tidak mempunyai cukup ground clearance sehingga dek supir, lobang knalpot tertutup air. Air juga sempat masuk di atas permukaan kipas radiator, sehingga air muncrat lewat sela2 lobang angin kap mesin. Beruntung mobil saya selamat.  Ada beberapa mobil terjebak dan mati mesin di tengah banjir karena pengemudi sedikit panic ketika memasuki jalan yang berlobang dan kurang pandai memainkan RPM mesin. Untunglah ada Mobil CJ-7 kepunyaan teman yang kerja di BPR. Mobil CJ-7 itulah yang menarik beberapa mobil yang mati di jalan.

Lepas hadangan banjir di  dan mampu menolong beberap amobil yang mati terjebak arus air, membuat teman saya yang membawa CJ-7 itu kian percaya diri. Padahal Deny sang montor sudah me wanti2 agar CJ-7 cukup sampai di Muara Wahau saja.

Sampai di Sanggata mungkin sekitar pukul 11 Malam. Kami istirahat sejenak. Kebetulan ada yang masih jual BBM eceran, akhirnya kami penuhi lagi tangki bensin kami. Waktu itu saya yakin bensin tidak lagi murni tapi sudah dicampur minyak tanah.

Waktu itu say abetul2 tidak mengenal medan Jalan Sanggata. Yang pasti ketika melanjutkan perjalanan seolah2 kami masuk dalam komplek Batu bara KPC. Benar juga entah kami salah jalan entah memang itu jalurnya. Yang pasti saya sempat kaget dan banting setir ketika di mobil saya berhadapan dengan Giant Truk batu bara. Saya rasanya Giant truk itu sedang tidak operasi.  Akhirnya kami menemukan jalan menuju ke Pertigaan Bengalon – Sangkulirang. Jalan aspal yang kami rasakan hanya ada di Kota Sanggata saja.

 

Masuk Pertigaan Bengalon – Sangkulirang kami berhenti dan istirahat sejenak. Waktu itu menunjukan sekitar pukul 03 dini hari.  Kanan kiri memang gelap gulita karena memang tidak ada rumah penduduk.

Ada sekitar 40 menit kami istirahat sambil mengecek kondisi kendaraan masing2. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kea rah Bengalon.  Jalur yang kami lalui sangat bervariasi. Mulai tanah keras sampai kubangan lumpur. Dalam perjalanan, kami beberapa kali bertemu dengan beberapa kend. Kijang yang sepertinya di jadikan taxi antar kota. Juga beberapa truk bahkan sebuah Ambulance. Mereka menunggu pagi tiba, karena medan yang dilalui sangat licin dan berlumpur.

 

Patah As Roda

Waktu berangsur2 pagi. Mata ini belum pernah dipejamkan untuk istirahat. Kebetulan cuaca cerah dan kondisi jalan sudah agak mendingan. Walau ber kelok2 naik turun tapi kondisi jalan sudah tanah yang di keras dengan kerikil. Beberapa jembatan beton juga sudah jadi sebelumnya.  Entah bagaimana mulainya, tapi yang saya lihat tiba2 CJ-7 yang berada di depan saya sudah berada di sisi jalan dengan kondisi miring dan salah satu ban belakang kirinya tidak terlihat. Ternyata teman saya yang orang BPR itu keasyikan menggenjot CJ-7 hingga ketika memasuki jembatan tidak memperhatikan adanya perbedaan tinggi bibir jembatan dengan tanah. Hal itu yang membuat hentakan keras dan akhirnya mematahkan as roda kiri belakang. Padahal dia itu membawa istri dan 2 anak yang masih kecil2.  Akhirnya kami putuskan mobil CJ-7 ditinggal dan kami meneruskan sampai ke Muara Wahau untuk mencari hotel buat teman saya. Artinya mereka hanya sampai di Muara Wahau saja.

Di muara Wahau waktu sudah pagi menjelang tengah hari. Tidak ada hotel yang ada penginapan. Waktu istirahat tidak saya sia2 kan untuk basuh2 badan dulu. Ternyata air untuk mandi di penginapan diambil dari air sungai yang berada tepat di belakang. Tentu saja warna nya coklat.

Ada sekitar 2 jam kami istirahat sekaligus mengisi perut.  Lepas dari Wahau jalur jalan darat cenderung lebih datar. Beberapa kali kami menemui per empatan jalan dan terpaksa bertanya kepada orang arah ke Tg. Redeb. Kadang pula kami melalui komplek HPH dimana masih ada tumpukan Log2 kayu.  Ada juga kami melintasi jalur HPH dan kami harus ikuti petunjuk2 rambu jalan yang baru sekali saya temui. Ada rambu dimana mobil harus ke kiri, atau sebaliknya. Hal ini dimaksud agar bila ada lory (trailer pengangkut kayu log) kend lain tidak tersenggol atau kena pantat truk yang panjang.

Diantara jalur HPH yang mulai maik turun, akhirnya kami berhenti sejenak di sebuah titik dimana didepan terlihat jalan menurun tajam dan kemudian naik cukup panjang.  Akhirnya di putuskan mobil harus turun satu persatu sampai mobil tsb. selamat sampai di titik paling atas. Kebetulan saya dapat giliran terakhir. Jadi saya masih bisa mengamati bagaimana setiap mobil meluncur turun dan kemudian bejek gas untuk menembus tanjakan panjang. Ingat jalanya adalah jalan tanah. Jadi harus dengan perhitungan. Kalau tidak mobil bisa terperosok ke kiri ataupun kanan.

Ketika tinggal 2 mobil, cukup lama saya menunggu mobil yang di depan saya meluncur. Pengemudinya dari tadi hanya berdiri di samping depan mobil sambil memandang ke jalan yang menurun tanjam. Cukup lama saya bersabar. Tapi akhirnya saya turun dari mobil da menghampirinya.

Kenapa pak ?. Tanya saya.

Saya tidak berani bawa mobil ini turun kebawah. Jawabnya kalem.

Gantian saya yang kelabakan. Bagaimana ini. Bapak ini kan nggak mungkin ditinggal sendirian. Teman2 saya yang satu mobil juga belum familiar dengan Daihatsu taft. Saya sebetulnya pernah bawa Daihatsu Taft. Tapi siapa yang akan bawa mobil saya. Akhirnya kami Cuma menuggu saja. Saya nggak bisamaksa bapak itu untuk meluncur turun dengan Taft nya. Takut muncul kendala lain. Nggak lama ada mobil lain muncul di belakang saya. Entahlah dari mana, tapi yang pasti salah satu penumpang mobil tsb. mau membantu membawa Daihatsu taft turun dan menaiki jalur terjal. Aman deh saya.

 

Saya sendiri lupa jam berapa ketika suatu saat menemukan jalan aspal mulus di tengah hutan. Ternyata tanda2 mau sampai tg. Redeb. Betul juga sekitarjam 19:00 Rombongan masuk Kota Tg. Redeb dengan terlebih dahulu mampir di kantor polisi. Lalu langsung ke penginapan. Benar2 perjalanan yang melelahkan.

 

Ke Pulau Derawan

Pagi2 kami sudah bangun dan sarapan. Sekitar pukul 08:30 kami berjalan kami menuju pinggiran sungai besar yang membelah kota Tg. Redep. Saya sendiri tidak tahu sungai apa namanya. Yang pasti kami menunggu speed boat kepunyaan Pemda setempat yang akan membawa kami ke Pulau Derawan.

Perjalanan ke Pulau Derawan +/- 1 jam lebih dengan speed boat. Perjalanan menyusuri sungai sampai ke muara lalu menuju pulau Derawan.  Di Pulau Derawan ternyata seperti di bagi 2. Sebagian sisi adalah perkampungan penduduk sebelah sisinya ada resort yang dikelola oleh swasta. Rate kamar waktu itu memakai dolar amrik. Ada sarana telp. Saya sendiri mencoba di menenlpon ke Rumah. Di derawan kami hanya berenang disekitar dermaga dan dan makan siang di tempat penduduk. Benar2 indah taman air di sekitar dermaga. Sayang saya nggak sempat bertemu dengan kura2 besar yang menjadi ciri2 khas pulau Derawan.

Kami menghabiskan waktu di pulau derawan Cuma sekitar 2 jam saja. Untuk kemudian kembali lagi ke Tg. Redeb. Pada perjalanan pulang gelombang laut lumayan besar. Beberapa anggota tampak pucat ketika speed boat terpaksa menerjang ombak.

 

Jam Buka SPBU

Lepas dari Derawan dan kembali ke Hotel, kami langsung bersiap2 untuk segera kembali pulang ke Bontang. Oleh karena persiapan yang sedikit lelet, akhirnya kami baru bisa keluar dari Tg. Redeb menjelang Magrib. Yang membuat kami kaget adalah ketika iring2an mobil kami menuju ke SPBU ternyata SPBU sudah tutup. Ternyata di Tg. Redep SPBU tutup sekitar jam 6 sore. Wah… kami semua betul2 tiadak ada yang tahu soal itu. Al hasil kami terpaksa beli bensin di pengecer. Selain harganya lebih mahal, bensin pun sudah hakul yakin dicampur sama minyak tanah.

 

Ketemu Hantu Dayak

Perjalanan pulang sempat nyasar masuk ke areal HPH dan berputar2.  Sampai akhinrya salah satu mobil CJ-7 Diesel yang berada di depan saya mogok. Waktu kalau tidak salah jam 03 subuh persis di tengah hutan. Entah dimana. Waktu itu mobil saya sudah berada di atas. Entah bagaimana waktu saya turun dari mobil untuk mencoba membantu mobil yang problem di busi pemanasnya, tiba2 saja bulu kuduk saya berdiri. Saat itu saya rasanya hendak kembali ke mobil lagi. Tapi kho langkah kaki ini terasa berat. Jarak mobil yang mogok dengan mobil saya Cuma sekitar 25 meter saja. Hanya mobil saya berada di atas. Entah karena capai atau halusinasi, di depan saya terlihat siluhet seperti seorang dayak berdiri gagah memandang saya dari pinggir jalan. Tingginya sekitar 2 meter. Tampilan itu begitu jelas karena mobil saya arahkan balik dengan lampu besar yang menyala. Maksudnya membantu menyinari mobil teman yang sedang mogok.  Entah kekuatan apa, akhirnya saya bisa lari secepatnya dan langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil saya hanya bisa diam tanpa mampu untuk mencoba melihat ke arah banyangan sosok dayak tadi.

Tidak berapa lama mobil yang bermasalah sudah selesai. Dan kami melanjutkan perjalanan kembali.

 

Mobil saya mulai ngambek

Belum lama mobil berjalan, tiba2 lampu besar sebelah kiri putus, baik lampu jauh maupun dekat.  Terpaksa teman yang duduk bangku depan membantu menyorot jalan dengan lampu senter,  Selama perjalanan pagi dan siang mobil saya beberapa kali kepater di lumpur. Sekedai diketahui bahwa kami tidak lagi berjalan full rombongan, Karena sebagian sudah jalan lebih dahulu. Saya sendiri tinggal 3 mobil yang terus ber iring2an jalan. Sesekali berhenti memeriksa kondisi ban, ternyata beberapa baut roda belakang saya hilang dan sisanya kendor. Knalpot freeflow yang pemasanganya kurang sempurnya akhirnya lepas tekena benturan dengan ban. Kebetulan saya tidak menyadari betul kondisi tsb. sadar ketika tenaga mesin berkurang dan suara di luar seperti kapal klotok.  Akhirnya mobil saya memang berjalan tanpa muffler. Untungnya waktu itu sudah mau dekat Sanggata. Siang sore kami benar2 kehabisan air minum.  Dan tidak bisa berjalan ngebut. Soalnya saya takut mesin saya jebol karena tidak pake Muffler.

 

Kembali ke Bontang sekitar jam 12 Minggu Malam. Padahal senin nya kami harus segera bekerja kembali. Petugas sekuriti sempat bingung melihat mobil kami yang berlumuran lumpur kering dan bersuara keras masuk ke Komplek. Akhirnya saya bisa tidur pulas dan mobil tidak mengalami kerusakan yang berarti. Saya Butuh waktu 3 hari untuk mencuci dan melunturkan lumpur dari body dan sasis mobil. Tapi terus terang perjalanan itu selain terpanjang, melelahkan tapi juga sangat mengasyikan. Saat ini jalan yang dahulu tanah memang sudah beraspal, walau kadang masih ada jalur2 tanah becek dan berlumpur. Say amaklum deh. Justru kalau mulus semua itu surprise buat saya.

 

Mobil CJ-7 teman yang as rodanya patah sempat tertahan sekitar 1 bulan untuk akhirnya dinaikan keatas truk untuk dibawa ke Bontang.  Ada hal yang cukup unik menurut saya  waktu itu. Khususnya di pasar Muara Wahau. Mereka tidak menjual daging sapi tapi yang di jual adalah daging Payau (Kijang). Saya sendiri sempat ditawarkan untuk membeli kepala payau yang sedang di awetkan dengan di lumuri Garam.  Juga bertemu dengan suku dayak peladang. Waktu itu yang saya incar adalah Mandau yang dipakai sehari2. Bukan main tajamnya.

kalau dihitung total perjalanan pergi pulang sekitar 1000 Km.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.