Membuat Tombak Ulin

(Foto2 tombaPENJEPIT INI MEMBUAT KITA LELUASA MENGUKIR/MEMAHAT k hasil buDengan penjepit ini, pengukir tidak ragu kalau objeknya lari kesana kemariatan lihat tulisan “BlackuliDigunakan untuk mengukir permukaan cekungn”) 

 

T

 

 

Penggunaan tergantuk motif ukiran yang akan dibuatmata pahat pipih lurus dan melengkung, tergantung penggunaan nyabesarnya palu kayu tergantung dalamnya ukiran yg mau dibuatsisi bagian tajam mata pahat dibuat untuk memenuhi kebutuhan bentuk pahatanombak sejauh yang saya tahu adalah salah satu senjata tertua yang dipakai oleh manusia sejak jaman “purba” atau mungkin sejak adanya manusia di muka bumi ini. Hal itu didukung dengan fakta ditemukan nya tombak2 mulai dari yang ujung tombak dari batu sampai dengan mata tombak dari metal. Pada jaman batu ujung tombak berupa batu pipih meruncing. Pada masa jaman perunggu atau besi mata pisau tombak terbuat dari besi atau perunggu. Senjata tombak di pergunakan sebagai senjata untuk membunuh binatang buruan dan juga dipakai sebagai alat atau persenjataan perang. Pada jaman perunggu dan besi dominasi tombak sebagai senjata khususnya untuk berperang sedikit demi sedikit tergeser oleh pedang2  hingga akhirnya pedang atau pisau dari besi lebih mendominasi baik sebagai bagian utama peralatan perang dan berburu. Tentu saja sebelum ditemukannya mesiu sebagai cikal bakal persenjataan perang modern yaitu sejata api. Dalam Olimpiade kuno sampai modern pun tombak masih dipakai sebagai salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan yaitu “Lempar Lembing”. Sedangkan pedang di wakilkan dengan mata cabang olah raga “Anggar”.

 

Berbagai model, bentuk dan bahan baku mata tombak tersebar dimuka bumi. Mulai dari Eropa, Asia, Afrika, Amerika. Sebagian suku di dataran Afrika masih menggunakan tombak sebagai alat untuk mempertahankan diri atau sebagai senjata berburu. Rata2 batang tombaknya lebih panjang dari tubuh mereka dan mata tombaknya pipih melebar seperti bentuk daun.

Sejauh ini yang saya tahu senjata tombak dapat dibagi menjadi 2 dari cara penggunaan. Pertama tombak yang di buat dan di desain serta digunakan dengan cara dilemparkan. Biasanya tombak tsb. digunakan untuk berburu binatang buruan. Bentuk mata tombak biasanya tidak besar, tapi kurus, pipih dan meruncing. Sisi kiri kanan tombak tidaklah terlalu tajam seperti pisau. Efek yang di inginkan dari tombak tsb. adalah ringan, mudah di lemparkan dan dapat dengan mudah menembus sasaran seperti tubuh binatang dsb.

Di Indonesia, beberapa tombak tua yang saya lihat dari daerah Kutai Kertanegara Kaltim adalah tombak untuk berburu rusa (payau) atau mungkin babi hutan. Mata tombak sebagian besar dibuat dari besi “Pamor” yaitu campuran dari 2 atau lebih bahan metal yang berbeda lalu di tempa puluhan bahkan mungkin ratusan kali. kayu tombak terbuat dari kayu ulin yang dibuat bundar dengan diameter tidak lebih dari 1 inchi. Pada ujung bawah tombak juga dibuat merucing. Sehingga tombak dengan mudah dapat di tancapkan ketanah.  Dimuseum Tenggarong juga terdapat beberapa tombak2 peninggalan kerajaan tertua di Nusantara yaitu kerajaan “Kutai Kertanegara”.

Besi “Pamor” yang sebagian orang bilang adalah “Damascus” karena awal mula pembuatan senjata dari bahan metal yang di tempa dan dilipat ratusan kali adalah dari Damaskus Jazirah Arab. Sehingga hasilnya mata pedang itu seperti berserat dan indah dipandang.  

 Selain tombak untuk berburu ada juga tombak yang lebih besar kayu gagangnya. Biasanya ini dipakai untuk berperang oleh prajurit kerajaan. Tombak ini tidak digunakan dengan cara dilemparkan tapi tetap di pegang oleh prajurit.  Di Jawa, senjata tombak masih cukup berperan penting pada masa kejayaan Kerajaan2. Hal itu dapat dilihat pada museum ataupun di Keraton Yogya maupun Solo. Hanya saja senjata tombak kalah pamornya dengan senjata Keris.

 

Awal yang tidak disengaja.

Sebetulnya ide untuk membuat tombak, muncul ketika saya ke bengkel ukiran khas Kaltim yang ada di kota saya untuk mencari souvenir buat tetangga yang akan pindah pensiun di Jawa.

Sudah 20 tahun berada di bumi borneo, saya melihat souvenir khas Kaltim, terutama bentuk senjata2 tradisional seperti Mandau, Sumpit ataupun tombak2 “Tua” yang di jajakan bentuknya dan modelnya tidak banyak berubah. Ya memang senjata itu dari dahulu begitu2 saja bentuknya. Berbeda dengan souvenir khas lainnya yaitu batu2 cincin seperti kecubung dll. Boleh dikatakan hampir semua batu2 cincin adalah hasil kerajinan dari Kalimantan Selatan seperti dari Martapura. Saya melihat bentuk potongan batu2 cincin ataupun giwang dsb. terus mengikuti trend pembeli walau tidak sering sekali berubah. dahulu batu2 kecubung yang berwarna ungu itu dibentuk dan dibuat batu batu cincin lelaki bentuknya lonjong atau bulat pipih sebagai bentuk khas batu cincin. Sekarang ini atau sudah cukup lama muncul model potongan2 baru dari batu kecubung yang mengikuti bentuk pola potongan seperti perhiasan dari baru Berlian.

Kalau dari soal ukiran2 khas dayak, maka ada beberapa bentuk atau corak ukiran. Hal ini bisa menandakan bahwa ukiran2 itu adalah ukiran dari suku dayak tertentu, walau tidak semua suku dayak yang ada di Kal Tim mempunyai bentuk ukiran yang khas masing2.

Salah satu ciri khas utama ukiran dayak adalah bahwa bentuk2 ukiran tsb. tidak terputus tapi menyambung. Kalau di ulas pada tulisan ini tentu saja akan menjadi sangat panjang.

Mengenal Ukiran sejak Kecil.

Sepulangnya dari bengkel ukiran, timbul niat di hati saya untuk mencoba membuat sebuah tombak dari kayu ulin. Niat tsb. sangat meng gebu2 dan bukannya mustahil dapat saya kerjakan karena saya sudah mengenal cara memahat atau mengukir sejak di bangku SD dengan diawali melihat demperhatikan dan mencontoh bapak saya. Orang tua saya secara tidak langsung memberikan inspirasi dan pelajaran berharga tentang ukir2an. Ayah saya yang seorang serdadu ternyata mempunyai banyak bakat seni. Diantaranya adalah seni mengukir. Beberapa  papan kayu jati di ukirnya dengan peralatan sederhana seperti pahat yang biasa di gunakan oleh tukang kayu. Beberapa lemari tua yang terbuat dari kayu jati tak luput dari sasaran untuk di ukir pada daun pintu nya. Saat itu saya mulai tertarik untuk sekedar mencoba juga membuat ukir2an dari potongan kayu2 sisa. Tentu saja motifnya terinspirasi dari motif yang dibuat oleh ayah saya yang akhirnya saya tahu motif ukiran2 ayah saya adalah motif khas ukiran Jepara.

Kayu Ulin pun sudah saya kenal sejak SD karena salah satu jendela kamar tidur utama terbuat dari kayu ulin. Waktu itu lebih popular dinamakan kayu besi. Selain keras, hitam, tidak mudah sebuah paku menembusnya. Kalaupun tembus itu menggunakan paku beton atau justru kayu ulin nya yang pecah.

Seingat saya, kelas 4 SD saya sempat membuat sebuah patung kepala manusia yang sangat sederhana dari sebongkah batu gunung yang empuk. Kelas 5 SD saya sudah mampu mengukir timbul nama saya sendiri di sebuah balok papan jati kecil dengan model yang tidak kaku. Saya juga membuat sebuah tongkat komando dari kayu ulin. Tongkat komando itu ujungnya dipasang selongsong peluru senapan laras panjang. Mungkin saja waktu itu saya ter obsesi dengan tampilan foto sang Presiden pertama Indonesia Soekarno yang gagah berdiri dengan sebuah tongkat kecil yang selalu menyelip dan terkepit antara tangan dan tubuh dan sedikit dibawah ketiak.

Salah satu masa liburan di SMA saya manfaatkan dengan teman2 untuk rekreasi keliling jawa, diantaranya ke rumah orang tua teman di Jepara. Ternyata Orang tua teman itu adalah salah satu saudagar kerajinan ukiran. Saya sempat mendatangi beberapa orang pengerajin yang sedang asyik mengukir ukiran baik untuk meja kursi,lemari dan relief 3 dimensi. Saya melihat banyak sekali mata pahat yang dipakai. Mungkin waktu itu ada sekitar 40 jenis mata pahat. Macam2 saja bentuknya. 

Kembali ke soal ukiran. Ayah saya pun tidak kehilangan akal untuk membuat mata pahat sendiri. Selain memahat, ayah saya juga mengukir dengan menggunakan sebuah pisau kecil yang dibuatnya sendiri dari memotong ujung pisau parang yang ada di rumah. Pisau itu sangat tajam dan memudahkan ayah saya dalam mengukir daun pintu lemari tua yang tidak dicopot terlebih dahulu.

Barang mainan buatan ayah saya yang masih saya ingat betul adalah ketika ayah saya membuatkan sebuah pistol dari kayu. Hanya saja gagang pistol tsb. seperti ulekan (“pasangaannya cobek”) yang terbuat dari kayu. Gagang bawah pistol tsb. bulat. Tentu saja bentuknya menjadi tidak macho/jantan. Saya sendiri akhirnya juga membuat beberapa mainan sendiri seperti senapan2 dari kayu jati belanda (ex kayu peti2 barang).

 Bingung memulainya.

Dari pak Mamat pula saya mendapatkan informasi tentang bengkel bubut kayu yang dapat membuat batang ulin berbentuk bulat panjang. Tentu saja saya sangat kesulitan kalau saya harus mengolah sendiri batang kayu ulin yang berupa balok untuk dibuat bulat. Saking nafsunya untuk membuat tombak dengan bahan kayu tombak dari ulin, saya langsung memesan 10 batang ulin dengan ukuran yang saya inginkan. Padahal untuk menyelesaikan 1 buah tombak saja masih tanda tanya besar buat diri saya. ternyata dari 10 batang pesanan ulin hanya dipenuhi 7 batang saja. Itupun dengan waktu yang ngaret.

Dirumah, istri saya terbingung ketika saya turunkan 7 batang kayu ulin tsb. walau ukurannya sedikit lebih besar dari diameter gagang kayu sapu ijuk, tapi cukup berat untuk dibawa sendirian. Istri saya sempat nyindir, lho wong mau coba2 buat kho pesan kayu nya banyak sekali. Ada benarnya juga sindiran istri saya itu. Tapi saya masa bodoh lah. Kayu itu saya letakan di kamar samping rumah. Satu buah saya ambil dan mulailah saya mencoba untuk mendesain. Tombak yang selama ini saya lihat lebih banyak mengandalkan mata tombaknya sebagai daya tarik utama. Sedangkan gagang tombaknya dibiarkan polos. Keinginan saya tentu saja bukan hanya mata tombaknya yang cantik, tapi gagang nya pun harus di ukir dan diberikan aksesoris tambahan.

 Saya masih tetap bingung bagaimana cara mengukir sebatang kayu ulin yang berbentuk bulat. Saya belum punya pengalaman sama sekali mengukir ataupun memahat kayu bulat. Namun per lahan2 desain pahatan ataupun ukiran mulai tergores di batang kayu itu. Tentu saja sesuai dengan kemampuan menggambar dan dapat dikerjakan oleh saya. Work shop atau tempat kerja saya berada di teras belakang rumah. Peralatan yang ada hanya ada 1 pahat kayu buatan china, martil serta sebuah pisau kecil seperti pisau sol sepatu yang sudah lama saya buat sendiri dari besi per perangkat kopling hardtop saya. waktu itu saya juga membuat beberapa pisau belati berbentuk mini dengan modal grinda tangan serta grinda asah yang saya buat sendiri dari motor listrik yang saya tempelkan batu gerinda.

Setahap demi setahap setiap pulang kantor saya mengerjakan ukiran tombak pertama saya. lumayan ada waktu 1 jam setiap sore nya. Sabtu dan minggu bila tidak malas, waktu seharian saya gunakan untuk terus mengukir tombak. Sekitar 2 minggu akhinya batang tombak berukir yang pertama saya buat selesai. Cukup indah juga. sejalan dengan itu saya pun mencoba mendesain dan membuat sendiri mata tombak yang saya buat dari besi per mobil.

Tentu saja membuat mata tombak dari besi per tanpa di panaskan dan di tempa ternyata tidak mudah juga. Apalagi model mata tombaknya seperti pisau Kujang, senjata khas dari Jawa Barat. Grinda tangan untuk memotong sangat sulit untuk memotong dan menghaluskan sisi2 mata tombak yang melengkung.

Singkatnya akhirnya mata tombak terpasang di kayu tombak yang sudah saya ukir.  Kalau dilihat dari hasilnya, kehalusan mata tombak masih jauh dari yang saya harapkan. Desain ukiran di batang kayu tombak pun campur aduk. Di sebagian sisi bersifat dekoratif, disebagian lainnya berbentuk ulir dan ukiran sisik ular. Pokoknya waktu itu begitu ada ide langsung di gambar di batang kayu. Jadi ukiran yang ada itu tidak langsung selesai di desain, tapi sebagian2.

 Minta Tolong Pak Mamat.

Tentu saja tombak pertama buatan saya adalah karya terindah dikala itu. Saya bersyukur akhirnya mampu membuatnya sendiri. Namun masih ada yang saya tidak tahu ilmunya yaitu membuat kayu tombak itu licin dan mengkilap seperti mebel2 ukiran ulin di bengkel ukiran nya pak Mamat. Akhirnya saya putuskan untuk membawa tombak buatan saya ke tempat pak Mamat untuk dapat dilakukan finishing. padahal waktu itu saya sudah memakai amplas dengan ukuran yang berbeda, tetap saja tombak tsb. belum licin sekali. Saya takut serpihan kayu justru menancap ke tangan.

Melihat hasil buatan saya, awalnya pak Mamat tidak percaya kalau saya yang buat tombak itu. Tentu saja tidak bisa dipungkiri ada sedikit kebanggaan di hati ketika tombak buatan saya itu dipuji oleh desainer ukiran ulin. Pak Mamat tidaklah pelit soal ilmu, apalagi ketika saya menanyakan bagaimana membuat kayu ulin itu menjadi licin dan mengkilap. Pak Mamat akhirnya membawa saya langsung ke belakang bengkelnya yang terletak berseberangan dari toko Souvernirnya. dia bersedia menyelesaikan tombak saya yang pertama untuk di perhalus dan disemir sehingga mengkilap.

Begitulah akhirnya saya sering datang ke bengkel pak Mamat. Ngobrol sama para pengukir yang didatangkan dari jepara. Kadang saya memberikan ide2 masukan tentang motif2 ataupun kehalusan hasil ukiran yang kini sudah banyak dibantu dengan mesin2. Hal itu membuat saya cukup akrab dengan semua pengukir. Serta secara tidak langsung mencoba mengenal lebih jauh tentang karakteristik kayu ulin.

 Perang di Hati sendiri.

Selesainya tombak pertama saya tentu saja membuat tombak itu menjadi barang kesayangan saya. apalagi sudah saya tambahkan beberapa aksesoris seperti saya tempelkan beberapa batu kecubung diantara sisi bagian atas.

Beberapa kali saya ke tempat pak Mamat, akhirnya saya tahu juga kalau bos besar di kantor saya juga sedang memesan beberapa ukiran2 dari ulin yang antara lain ukiran tameng ulin yang besar, serta beberapa lainnya. Entah kenapa tiba2 saja terbesit dihati untuk memberikan sesuatu kepada bos besar tsb. padahal tidak ada hubungan yang istimewa antara saya dan ex bos saya. di sisi lain justru bos say aterkeal sebagai orang yang suka meledak2 dan ucapannya kadang sangat menyakitkan hari bagi orang yang menjadi sasaran amarahnya. Cuma saja tapi  dihati lain mengatakan bahwa itu kan hasil pertama dari karyamu. Sayang kalau diberikan kepada orang. Terus terang akhirnya terjadi perang bathin sendiri di hati selama beberapa hari. Saya pun akhirnya mengungkapkan perasaan itu kepada istri saya. Istri saya sepenuhnya mengembalikan kembali semua keputusan kepada saya. wah… tambah bingung lagi. Istri saya sendiri sebetulnya suka juga akan tombak pertama hasil buatan saya. akhirnya saya memutuskan untuk memberikan tombak pertama buatan saya itu kepada ex Bos saya. kebetulan pada kesempatan tertentu secara tidak sengaja saya bertemu dengan ex bos saya dan saya mengatakan apa adanya untuk memberikan kenang2an secara pribadi. Pada kesempatan tertentu tombak saya bungkus dengan kertas koran dan kertas sampul warna coklat lalu langsung saya bawa ke rumahnya. Dirumah bos saya langsung berikan dan saya bantu untuk membuka bungkusan itu. Awalnya Bos saya tidak percaya kalau tombak itu adalah buatan saya sendiri. Barang tsb. memang tidak dapat ditemui di toko2 souvernir khas di kota saya.  Bos saya tadinya menyarankan agar pemberian ini dilakukan di acara perpisahan resmi saja. Tapi saya menolak. Soalnya ini kan pemberian kenang2an secara pribadi dan saya tidak ingin orang betanya2 dan berpraduga jelek kepada sayakalau say a memberikan dihadapan orang banyak. Soalnya pemberian tsb. sangat tidak lazim di tempat kami. Yang lebih lazim justru bos memberikan kenang2an kepada anak buahnya.

Pemberian balik yang tak diduga.

Oleh karena tempat tinggal Bos saya masih 1 RT dimana saya menjadi Ketua RT, juga sudah menjadi tradisi kalau kami melakukan juga acara perpisahan untuk warga di sebuah taman jogging.

Pagi2 sebelum warga datang untuk berkumpul, bos saya sudah lebih dahulu datang. Tentu saja saya adalah orang pertama yang datang karena harus menyiapkan sound system dsb. ketika saya sedang menyipakan sound system bos tiba2 saja memanggil saya. ketika saya berdiri berhadapan, seketika tangan kanan saya ditariknya dan dari saku celana training, bos saya seperti mengambil sesuatu. Tak lama tangan saya terutama jari manis saya dimasukan sebuah benda berwarna kuning yang tak lain adalah cincin emas. dan langsung menyuruh saya meneruskan pekerjaan. Tentu saja saya kaget dan bingung mau bilang apa. Bos saya hanya mengucapkan “terima kasih atas kenangan2 nya dik. Saya sangat suka. Sudah sana teruskan lagi kerja nya. Akhinya saya hanya bisa mengucapkan terima kasih saja.

Setelah acara selesai, saya sampaikan cerita itu kepada istri saya sambil memberikan sebuah cincin emas model laki2 kurang lebih seberat 5 Gram. Istri saya hanya bilang itu rejeki mas. Akhirnya saya minta istri saya menyimpan cicin emas itu karena saya tidak suka memakai cincin2 apalagi terbuat dari emas.

Karya berikutnya lebih variatif.

Merasa hasil kerja dihargai oleh anak2 dan Istri serta orang lain, maka semangat untuk terus membuat desain baru motif ukiran di kayu tombak kian membara. Namun memang ada kalanya semangat itu menurun. Kalau sedang tidak mod, saya tidak menyentuh tombak2 yang belum selesai saya kerjakan. Saya pernah dengar orang berkata, “kalau buat jangan tanggung2. Sekalian saja yang bagus”.  Oleh karena seperti terbius oleh kata2 itu maka saya pun harus mengeluarkan kocek lebih besar lagi untuk setiap tombak yang dihasilkan, terutama untuk tambahan aksesoris berupa batu2an. Motif ukiran tombak saya buat lebih halus dan bervariasi. namun tetap saya belum mampu untuk membuat ukiran motif dayak. Selain susah di terapkan di kayu yang kecil dan bulat. Saya pun takut salah gambar.  Sesuai dengan pesan istri, maka motif uliran atau pahatan di batang tombak tidak boleh menggambarkan mahluk hidup.

Dalam hal anatomi tombak, terus terang saya yakin pasti ada anatomi dalam membuat tombak seperti halnya membuat keris ataupun sejata lainnya. Terus terang dalam hal ini saya sama sekali buta tentang anatomi tombak. Semua desain dan bentuk dibuat sesuai selera dan kemampuan saya. saya tidak peduli kalau ada orang mengatakan saya tidak mengikuti anatomi atau aturan2 membuat tombak. Bagi saya yang penting terjadi keseimbangan antara mata tombak dan kayu batang tombak.

 Kocek lebih besar terpaksa saya keluarkan, terutama untuk pisau mata tombak dan aksesorisnya. Hasil pesanan saya pada seorang pandai besi lokal di kota saya masih jauh dari harapan. Kalau buat sendiri memakan waktu lama. Akhirnya saya memesan khusus kepada sebuah toko pisau  dengan alamat web  http://www.tokopisau.com/id/index_id.php  yang berlokasi di Bandung. Tentu saja harga yang saya keluarkan untuk pesanan tsb. cukup mahal untuk sebilah mata tombak, namun terasa seimbang ketika melihat hasilnya. Begitu pula dengan aksesroris2 batu2 yang saya akan tempelin dibagian bawah mata tombak.

Beberapa bilah tombak berhasil saya selesaikan. Pada awalnya aksesoris batu2an yang saya tempel terdiri dari batu2 “masakan” berbentuk diamond cut. Namun akhirnya saya copot kembali. Sayang juga kalau ditempeli batu “masakan” walau bentuknya indah, tapi masih kalah pamor dari batu2 asli. Perlahan lahan saya mencoba mulai mengkombinasikan dengan batu2 mulia kelas menengah seperti Blue Saphire, Mirah delima (ruby), cat eyes, Black Stone dan beberapa batu lainnya dari turuannya kecubung seperti kecubung udang berwarna merah bata, kecubung air yang jernih mirip quartz, batu jade (giok)  juga batu2 lainnya yang saya nggak hapal nama2nya.

Saya belum mampu untuk menempelkan batang tombak dengan batu2 mulia seperti Intan/berlian atau Mutiara air laut atau di kombinasikan dengan balutan emas. karena memang belum kelasnya utuk di tempeli batu mulia yang mahal2. saya melihat hasil karya tombak2 saya ini masih belum ada apa2nya dibanding dengan hasil kerajinan yang sama yang mungkin ada di Bali. Atau keris2 berbilah pamor dengan bertahtahkan batu2 mulia di gagang keris ataupun di sarung keris.

Namun demikian saya hanya sedikit mencoba untuk mencari bentuk2 baru dari hasil kerajinan tangan dan nilai seni dari Kalimantan Timur. Kalaupun toh beberapa teman sudah menyuruh saya untuk bisa dilanjutkan dalam bentuk bisnis yang menguntungkan, sejauh ini saya masih belum tertarik menggelutinya. Karena membuat tombak masih dalam bagian kesukaan semata dalam mengisi waktu serta mencoba mengasah kembali kemampuan mengukir atau memahat.

Sejauh ini tidak ada niatan untuk menjual hasil karya saya. Kalaupun akan saya jual maka harga jualnya pun mungkin akan membuat orang akan berfikir untuk membelinya dkarenakan bahan2 dasarnya pun sudah cukup mahal. dengan membuat barang2 itu saya jadi lebih memahami tentang arti hak cipta & kreasi.

Untuk sementara ini tombak2 hasil kreasi saya, hanya sekedar untuk menghiasi pojok ruang tamu, atau paling tidak mungkin nanti sebagai warisan kepada anak2 kelak bahwa bapaknya juga bisa membuat benda seni yang mungkin suatu saat akan mempunyai nilai jual yang tinggi.

 

Btg 13 Oct-08

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

13 Tanggapan to “Membuat Tombak Ulin”

  1. saya senang bisa ketemu dng situs ini.kira2 kalau saya pengen bikin hande keris dan sarung keris yg baru bisa?tentunya dng design saya sndiri.thx

    • suyanto hadimihardjo Berkata

      Pak Andri W.
      Mohon maaf pak ilmu saya belum sampai ke situ. saya tidak bisa membuat handle keris apalagi buat keris. mungkin bapak bisa pesan ke Yogya. ada salah satu web tentang pembuat keris yang bisa pesan. mohon maaf sekali lagi.

      Salam

  2. Irvan Alamsyah Berkata

    pa kalo alat pahatnya satu set berapa ya,,,saya sedang belajar membuat kerajinan dari bambu,,terima kasih pa,,

    • suyanto hadimihardjo Berkata

      Mas Irvan,
      kebetulan alat tsb. saya minta pesankan sama teman lama saya yg berdomisili di Jepara. waktu itu harga nya sekitar 200 rb terdiri 30 mata pahat berbagai ukuran dan bentuk. saya sedang meminta kepada teman saya alamat pembuat pahat tsb. sehingga suatu saat Mas Irvan dapat langsung memesan. menurut info teman saya, bahwa di jepara dia beli di kios2 kecil. hal ini mungkin menjadi kendala jika ada pesanan dari luar, seperti kita2 ini. namun mundah2an teman saya bisa memberikan solusi yang terbaik.
      nanti bila ada info terbaru saya akan informasikan kembali di blog ini.

      Salam

      • kalau tempat pemesanan tombak dimana ya kira2?

      • suyanto hadimihardjo Berkata

        Mas Arik, tombak2 yg saya buat adalah koleksi pribadi dan tidak dibuat untuk di jual. saya sendiri belum pernah tau dimana bisa pesan senjata tombak. sejuah ini yg banyak dibuat di Jawa maupun di pandai besi atau pusat kerajinan senjata tajam adalah pisau2 atau keris. mungkin pamor tombak tidak sepopuler pisau atau keris ya.

        Salam

  3. alamat bengkel bubut kayunya dimana….! saya juga lagi belajar membuar handle (hulu, pulang) mandau dari tanduk rusa.

    • suyanto hadimihardjo Berkata

      Mas Yudi, kalau di Bontang dulu pernah ada yg bisa bubut kayu karena saya lihat sendiri hanya alatnya sangat sederhana. setelah itu saya nggak pernah menggunakan jasa tukan bubut kayu nya. saya juga nggak tahu apakah masih ada bengkel bubut tsb. kalau di Samarinda saya nggak tau dimana. tapi paling tidak bapak bisa menanyakan ke toko bahan bangunan / kayu atau sawmill.

      Salam

  4. bs nggak pesan ulekan dr kayu ulin?????

    • suyanto hadimihardjo Berkata

      Mbak Suryani,
      Mohon maaf saya bukan perajin kerajinan ulin. jadi nggak bisa memenuhi permintaan ibu.
      Menurut saya ulekan maupun cobek dari kayu ulin tidaklah terlalu susah untuk dibuat, mungkin kalau jalan2 ke Balikpapan Kaltim, silahkan mampir ke pusar Souvernir khas Kaltim di pasar dikebun sayur
      Salam

  5. eddyjoenarko Berkata

    Bontangnya mana mas Suyanto hadimihardjo..? saya juga dari Bontang, pingin pesan gagang tombak ,saya sudah punya bilahnya..suwun.

    • suyanto hadimihardjo Berkata

      Mas Eddy, saya di PTB.
      Soal batang/gagang tombaknya, saya sdh cukup lama tidak beraktivitas mengukir. dulu ada toko material kayu sekaligus ada bengkel bubut kayu di Bontang. tapi sekarang saya sdh tidak melihat lagi. batang tombak dari ulin memang harus pesan dan di bubut dengan mesin.

  6. hermawan harianto Berkata

    buat saudara semua,kalau mau pesan alat ukir khas jepara satu set atau pesan tombak,keris,pedang saya stock banyak,hubungi nomer telp.085731100569/081298768866 atas nama hermawawan harianto,saya tinggal di persil desa bondo kec.bangsri kabupaten jepara,jawa tengah,rahayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: